Aha, ada alasan buat ngegleng Minggu pagi nih....
Sebab semalam aku nonton wayang Banyumasan
oleh Ki Swarjono dengan lakon Romo Nitik. Cerita
tua tentang Sri Rama yang hendak menyudahi tugasnya
sebagai Wisnu, namun tugas Wisnu harus berlanjut
maka perlu 'kurungan' baru. Nitik berarti meneliti kurungan
mana yang cocok.
Rama beranggapan, kurungan yang paling pas ada-
lah Puntadewa, raja tanpa greget dan serba 'iya' dari
Amarta. Lupa bahwa Puntadewa sudah menjadi
kurungan Dharma. Dan yang telah disiapkan oleh
penjilmaan Wisnu (Begawan Padmanaba) tak lain
adalah Kresna, raja culas dan sangat pandai ber-
siasat. Dengan memoles perkataan serba diplomatis,
Kresna mempersiapkan diri menerima 'titisan' Wisnu.
(Menitis adalah jalan darma para dewa dalam berperan
langsung pada kehidupan dunia manusia). Kresna ber-
lindung pada keserba-iya-nya Puntadewa yang memiliki
pengawal serba 'harus', Bhima dan Arjuna dengan anak-
anaknya. Inti masalahnya adalah 'manunggalnya' pusaka 'Cakrabaskara' dengan pusaka
'Guwawijaya'. Hakekat
waktu dan kemuliaan raga.
Kresna telah memiliki Cakrabaskara yang
dilengkapi Wijaya Kusuma (kembang keabadian).
Maka perlu menghadapkan senjata itu dengan Guwa-
wijaya milik Rama. Provokasi kepada darah tingginya
Sugriwa, kewaskithaan Gunawan, Kesombongan
Jaya Anggada. Mengkadali semua petinggi Poncowati
dengan memasukkan 'Antasena' kedalam kendaga
yang diakukan sebagai 'Payung Tunggul Naga' lambang
daulah negeri Amarta. Payung pusaka ini dijadikan
'test-case' bagi Rama untuk Puntadewa. Rama mengutus
Anggada untuk meminjam Payung itu dengan alasan
sebagai 'penangkal' pageblug di Poncowati, yang
sebenarnya tidak ada. Hanya sayang akal-akalan
Rama kalah canggih dibandingkan 'kelicinan' Kresna.
Antasena berhasil diselundupkan ke Poncowati dengan
tugas pokok intelijen, menakar kekuatan Poncowati,
yang sebenarnya hanya dalih untuk mengobarkan
kemarahan Rama sehingga melepas Guwawijaya.
Dasar Antasena anak denggleng, tak sadar diman-
faatkan oleh Uwak-nya yang canggih keculasan
dan (sayang dianggap sebagai) kebijaksanaannya.
Al hasil, Guwawijaya dilepas dari tali busur yang
segera dilawan (ditabrak) dengan Cakarabaskara.
Guwawijaya menyatu dengan Cakrabaskara, menandakan
bagi Rama bahwa pemilik Cakra itulah calon kurungan
Wisnu yang selama itu disandangnya.
Betul-betul pelajaran politik tipu-muslihat, agitasi,
provokasi supercanggih dalam kemasan Jawa
Banyumasan. Betapa untuk mempersiapkan diri
Rama yang titisan Wisnu mengkadali Sinta agar
membuktikan diri masih suci dengan mencebur
ke ancala (api). Yang membuahkan kesetiaan
Sinta (titisan Widowati) untuk tetap ikut menitis
kepada salah satu 'pasangan' saudara Pandawa
(Subadra) karena dia bersumpah akan menjadi
saudara kembar titisan Wisnu, yang membuahkan
kebijaksanaan para dewa, membelah kekuatan
Wisnu menjadi 2, satu Kresna dan satu lagi Arjuna.
Betapa Rama membikin provokasi dengan meman-
faatkan 'kesombongan' Anggada untuk mengobarkan
perang fisik yang membawa pada 'pemusnahan' negeri
Poncowati. Negeri yang dibangunnya sendiri demi
melgitimasi kuasa 'raja'-nya untuk mengimbangi
Rahwana.
Demikian pula di pihak Kresna dengan segala
diplomasinya sehingga berhasil diangkat menjadi
penasihat, pelindung dan bahkan 'pengawak' (
kerangka) Pandawa. Memudahkannya untuk
mencapai kesiapan penitisan Wisnu, lambang
kesejahteraan duniawi, melawan sifat 'candala'.
----------
Hehehehe, akhirnya aku bertanya-tanya bagaimana
naiknya GD jadi RI-1? Apakah dia menempuh cara
Kresna? Mengkadali pemuda gebleg Antasena yang
nurat-nurut saja jadi tenaga intelijen yang berfungsi
untuk mengobarkan emosi Sugriwa? Ahahahaa,
kalau begitu, GD berhasil mengobarkan emosi
raja kera Sugriwa (AR) untuk berhadapan dengan
anak gebleg Antasena (kabinet)
Atau berkombinasi dengan jalan pemusnahan
diri ala Rama? Menyuruh Mega 'Sinta' Wati masuk
api? Mengibarkan kesombongan Anggada yang
gila penghargaan, untuk memancing kemarahan Bima
dan Arjuna sak anak-anak Pandawa? Aha kalau gitu,
GD menguji kesucian MW dengan memberikan
dukungan sampai detik terakhir menjelang pencalonan
RI-1 lewat PKB bikinannya. Yang berhasil membuahkan
MW menjadi RI-2, suatu kedudukan yang kontroversial
karena juga punya kaki di PDI-P (Arjuna). Termasuk
memendam emosi kekuatan Bima (TNI/Polri) sehingga
bingung-bingung mantap mendukungnya jadi RI-1.
Dan karena sebelumnya GD adalah darah Pandita,
maka kalau memang begitu berarti memenuhi bait
pertama dari rumusan KALASENGKALA karya
Ranggawarsita 'Pandita Hambuka Wirananing
Naraka' (Pendeta membuka pintu nerakanya),
yang akan segera disambut bait kedua,
'Jago Adon Nunggal Kurungan' (Ayam aduan
bersatu dalam kurungan).
Dan kalau unsur itu dipenuhi pada diri GD (Kresna
dan Rama), MW, AR dan AT benar-benar masuk
satu kurungan... Termasuk para wadyabala wanara
(bedes-2 ) DPR ikutan perang-perang kembang
di kurungan itu. Dan karena eksekutif dan legislatif
ibaratnya adalah dalang dan anak wayang dari
pewayangan NKRI, maka memenuhi pula bait ketiga
'Dalang Wayang Mungkur Pakeliran' (Dalang
dan wayangnya membelakangi pagelaran wayang)
yang mehasilkan duka nestapa (lucu-lucu ngenes)
di bait keempat 'Kang Nonton Udan Tangis Banjir
Prihatin' (Yang menonton dalam keadaan hujan
tangis dan banjir penderitaan), tak lain adalah
rakyat negeri ini.
Hanya kalau bukan begitu, artinya GD memang
benar-benar naik karena dipilih dan dimintakan
restu kepada para Pendeta maka dia memang
benar-benar menyediakan diri sebagai 'tumbal'
dari pagelaran ROMO NITIK. Artinya dengan
keculasan dan kelicinannya, berhasil menelanjangi
kurungan-kurungan 'bobrok'. Dan dengan resiko,
diapun akan ditelanjangi dan bertelanjang bulat
memerankan pagelaran yang 'lucu-lucu ngenes'.
[catatan: hanya ada satu perwira pinandita
yang memahami adegan culas diplomatis Romo
Nitik itu, tak lain adalah Hanuman. Perwira kera
yang dengan bijak berpesan kepada Antasena,
"Aku tidak akan mengganggu kamu, hanya
pesanku sebagai Uwak spiritualmu, 'hati-hatilah
Nak', ini pekerjaan berat dan harus berlangsung
maka bila kamu merasa mampu sanggalah
bersama sanak saudaramu, kalau terlampau
berat letakkan dan serahkan kembali kepada
yang menyuruhmu. Aku akan menyaksikan dari
kejauhan...dengan tidak berpihak']
Salam Nitik,
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?
----- Original Message -----
From: "babat" <[EMAIL PROTECTED]>
Seperti dari dulu, repotnya sama GD ini adalah tidak memadainya modal
dengan karep.. jika dipaksakan terus, dia terpaksa harus ngawur.
Kalau GD sampai ngawur, jelas lebih enak AT - golkar yang jagonya
ngawur. Jadi GD akan ngawur, tetap saja kalah dan dikurangajari ...
Kasihan dianya, lebih kasihan lagi demokrasi Indonesia - karena adu
ngawur gitu maka orbaniyah akan menang lagi - baik langsung atau
tidak langsung - GD selain kalah (dan mungkin dituduh macam2 kalau
sudah turun) juga dikurangajari - di kuya2.....
Itu tragedi-komedinya (lucu-lucu ngenes!)
AT - golkar - jenderal2 tni - semua jelas kewalik2 - tapi walau
maling kalau menang ya menang , dik. Ini justru tragedinya !
Kita justru tidak boleh mikir selalu dikotomis - ini atau itu, gak
item ya putih, salah itu!
GD tidak jalan, roboh, bukan berarti lawannya yang baik.
Logika tradisional sulit sekali dilepas, dan dimainkan oleh orang2
jahat - AT golkar -. Komedinya adalah sekelas GD kok njalani kayak
gini ... komedi ngenes.
udah ah,
tawar-menawar yang sekarang sedang terjadi ini lebih mirip orang mau
jual mobil bekas - adu debat kusir - soal2 "apa yang harus dilakukan
untuk Indonesia" yang daridulu menjadi topik kita FID ini , tetap
saja tidak pernah disinggung. paling benar saat ini memang tidak usah
berpihak ...
bb
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--