Kalau dibilang pemilu 1999 adalah demokratis dan paling luber, tentu banyak yang menyatakan 'Yak Betul!' Tetapi kalau orang menyatakan, hasil pemilu 1999 adalah penuh manipulasi dan 'kepandiran' demokrasi adakah yang menyatakan 'Yak Betul!' ? Kalau ada yang mengatakan pemilu di Indonesia adalah untuk memilih pimpinan nasional, apakah juga akan disambut dengan 'Yak Betul!' ? Buktinya PDI-P yang ketua umum partainya membawa amanah kongres tak mampu menduduki kursi presiden. Bahkan cuman wapres yang kini ketika kondisi ruwet, 'mangkir' dari sidang kabinet dibela-belain. Alasan- nya pemberitahuan sidang kabinet adalah malam harinya, sehingga wapres sudah punya acara-acara sendiri. Buktinya PAN yang ketua umumnya juga mencalonkan diri sebagai presiden bahkan sempat berdebat calon presiden dengan ketua umum PBB, juga tidak jadi tampil 'mresiden' karena hanya menduduki 35 kursi DPR. Lucunya malah menjadi ketua MPR yang unsur hasil pemilunya adalah 71.4% sahaja (PAN cuman menduduki 5%) dengan permainan cantiknya. Ketua umum PPP sebagai pemenang ke-3 pemilu malah hanya sempat bertanding sebagai calon wapres dan kemudian mau tapi ogah menjadi menteri.. Ketua umum PBB juga demikian, bahkan hanya jadi seorang menteri yang kemudian 'ngambek-ngambekan' dan kini 'ngubek-ngubekan'. Jadi hasil pemilu paling demokratis itu apa? Hasilnya adalah sekedar mendudukkan seorang wakil utusan golongan menjadi presiden. Aneh bukan? Apalagi si tokoh itu sudah 'cacat' fisik sejak sebelum masuk gedung MPR/DPR. Hasil yang lain? Ah, hasil yang lain tentu saja permainan-permainan cantik tokoh-tokoh politik, tokoh-tokoh muda parlemen yang sekaligus rangkap jabatan menjadi anggota DPR plus MPR. Yah, seperti kelompok sandiwara para artis-artis KAYA dalam suatu sandiwara tahunan dan bahkan limatahunan dengan honor pokok pemain Rp 14.000.000,- sebulan atau Rp168.000.000,- setahun atau Rp 840.000.000,- selama 'periode main' sandiwara 5 tahun. Honor pemain pokok artis itu dibayar oleh siapa? Tentunya oleh bangsa Indonesia, oleh hutang bangsa, oleh keringat rakyat, oleh pajak rakyat dan lain-lain pokoknya pemerintah dan penyelenggaranya dapat membayar Honor Pokok artis DPR itu. Karena jumlah artisnya adalah 500 orang, itu pun banyak yang mangkir (kayak wapres), total honor pokok sandiwara itu mencapai: 1. Rp 7.000.000.000,- sebulan 2. Rp 84.000.000.000,- setahun 3. Rp 420.000.000.000,- selama masa kontrak 5 tahun. ---> honor pokok panggung MPR berapa ya? ----> bandingkan dengan ribut-ribut kenaikan gaji PNS kemarin yang kira-kira cuman 5% praktisnya. Honor pokok DPR itu dapat mewakili gaji pokok hampir 10 PNS dengan golongan IVe (hampir pensiun nih), atau sekitar 28 PNS golongan Ia. Potong kepala mampu menghonori 19 PNS rata-rata. Satu opera DPR sebulan itu berarti sama dengan 9.500 PNS. Peran artis DPR juga enak. Semutu apapun isi OTAK-nya boleh dan syah berbicara apa saja. Boleh mencaci maki presiden. Boleh memicek- micekkan presiden, boleh menggoblog-goblogkan presiden, namun boleh marah dan mutung ketika disebut anak TK. Sungguh pekerjaan mudah dan bergengsi. Pantas pada rela bayar banyak ketika harus naik menjadi CALEG. Pantas yang bisa masuk yang kaya-kaya dan kaya. Kerja rapat dapat tambahan honor ngobrol, honor 'mejeng' pakai Ponsel, termasuk 'badogan'. Syaratnya mudah. Cukup lah kenal dengan istilah Voting, Quorum, Interupsi, Loby dan beberapa istilah ndak penting lainnya. Selebihnya setiap sidang atau rapat boleh mangkir, boleh sambil ngantuk, boleh sambil baca koran dll. Uenak tenaaaaan! Sedihnya lagi DPR yang hasil pemilu itu hanya menjadi unsur MPR. Sayang MPR itu yang harusnya bertugas menentukan UUD dan memilih presiden dan wakil presiden, kerjaannya tak lain hanyalah menjadi pengobok nasional. Sidang Istimewa yang masih 1 Agustus, sekarang para pimpinan terutama ketua-nya (pembawa 5% kursi itu) sudah sibuk bikin Rancangan Ketetapan SI. Apakah seluruh anggota MPR sudah dimintai pendapat? sila 'Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijak- sanaan dalam permusyawaratan/perwakilan' menjadi bermakna permusyawaratan wakil-wakil.... MPR yang harusnya memegang kedaulatan rakyat, hanya menghasilak SiTA SUSI.... Sidang Tahunan, Sidang Umum dan Sidang Istimewa. Kenapa? Karena para anggotanya yang juga adalah anggota DPR, hanya mementingkan kursi. Baik kursi parlemen (3 menteri pindah tempat seperti bintang meteor antara parlemen - kabinet - parlemen), maupun kursi kabinet (ingat saja kasus Laks, Kalla, Yusril, Yahya, menteri PAN, Kwik..). Inilah pemilu DEMIKORSI... Ki Denggleng Pagelaran -------------------------- bercita-cita jadi anggota DPR ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
