Saya ingin menanggapi penjelasan pihak BCA berkaitan dengan kasus yang
menimpa Hiasintus Chandra di detik.com, Jumat, 08 Juni 2001
(http://www.detik.com/peristiwa/2001/06/08/200168-174127.shtml). Pihak BCA
telah bersikukuh bahwa kasus transaksi Rp 90 juta tersebut sebagai penipuan
dan kriminal murni, dengan poin-poin sebagai berikut:
- transaksi tidak pernah terjadi di teller BCA, tetapi merupakan suatu
komplotan penjahat;
- setelah diteliti, kode-kode transaksinya salah. Transaksi dilakukan di
cabang Kramat Jati, tapi kodenya cabang Kelapa Gading;
- transaksinya mesti setoran, tetapi kodenya cek saldo;
- modus operandi kejahatan ini adalah 'pembeli' pura-pura melakukan
tarik-setor dengan antri di teller BCA dengan memegang buku penjual (Sdr.
Hiasintus Chandra) untuk dicetak setelah disetor sebagai bukti uangnya telah
masuk ke rekening Sdr. Hiasintus. Tetapi, yang terjadi sebenarnya diam-diam
'pembeli' yang antri ini memberi buku tabungan tersebut ke temannya.
Temannya itu yang mencetak Rp. 90 juta ke dalam buku Chandra. Tetapi,
percetakannya bukan di teller BCA, melainkan di tempat lain. Sehingga
seolah-olah telah dibayar.
- bukti bahwa transaksi di buku tersebut tidak dilakukan di BCA adalah
setelah di-scanning, print out-nya tidak menunjukkan print out standar BCA.
- pihak BCA dengan tegas membantah keterlibatan orang dalam.

Pernyataan pihak BCA, yang diwakili  oleh Chief Manager Consumer Banking BCA
Kostaman Thayib dan wakilnya, Laksono, tersebut masih memerlukan penjelasan
lebih lanjut. Karena di dalam penjelasan tadi ada kesan kontradiksi dan
terlalu sepihak. Poin-poin yang perlu diperjelas BCA adalah:
- pihak BCA tidak bisa dengan begitu gampang menyatakan bahwa kasus tersebut
adalah kasus penipuan dan kriminal murni. Karena kesimpulan tersebut lebih
tepat merupakan wewenang kepolisian;
- dinyatakan bahwa transaksi tersebut tidak pernah dilakukan di teller BCA.
Tetapi, pada pernyataan berikutnya, dikatakan bahwa dari kode transaksi
diketahui bahwa itu  kode cabang  Kelapa Gading. Jadi, bisa berarti telah
terjadi percetakan di cabang tersebut, yang berarti memang di cetak di BCA
juga (walaupun seharusnya kode Kramat Jati). Kecurigaanya adalah:
Jangan-jangan orang dalam di cabang Kelapa Gading terlibat?;
- pada gambar isi buku tabungan Sdr. Chandra, yang ditampilkan di detik.com,
terlihat jelas bahwa sandi transaksinya adalah PBK. Yang menurut keterangan
pada buku tabungan BCA, PBK = Setoran/Tarikan pemindahan. Sedangkan sandi
"cek saldo" tidak ada pada daftar sandi di buku tabungan. Kode angka 0900
tidak saya mengerti, tetapi kode ini terdapat transaksi-transaksi lain
(bukan 'cek saldo');
- bukti setoran tidak hanya tercetak pada buku tabungan Sdr. Chandra, tetapi
juga terdapat pada kopi slip Bukti Setoran yang ada pada Sdr. Chandra, di
situ terlihat juga tercetak dengan komputer bahwa ada transaksi setoran
tersebut. Bagaimana BCA menjelaskan tentang keberadaan kopi slip Bukti
Setoran tersebut?;
- dugaan modus operandi yang dipaparkan BCA bahwa 'pembeli' pura-pura antri,
tetapi kemudian menyerahkan buku tabungan Sdr. Chandra kepada temannya, dan
temannya ini yang mencetak. Menimbulkan tanda tanya: apakah benar Sdr.
Chandra telah menyerahkan buku tabungannya kepada 'si pembeli' itu untuk
dicetak? Selama proses itu terjadi, di mana Sdr. Chandra berada, apakah dia
sama sekali tidak melihat/mengawasi lagi 'si pembeli' yang sedang melakukan
antrian tersebut sehingga mereka leluasa melakukan kejahatan tersebut?
Apakah cukup waktu bagi komplotan penjahat itu untuk melakukan percetakan
palsu tersebut sementara waktu antrian di teller relatif tidak lama?
Mengingat, untuk mencetak seperti itu tentu dibutuhkan suatu perangkat
(komputer) tertentu, di mana perangkat tersebut diletakkan untuk melakukan
percetakan palsu itu? Mungkinkah (cukup waktu) temannya itu membawa ke
cabang Kelapang Gading untuk dicetak orang dalam BCA di sana kemudian di
bawa kembali ke Kramat Jati?;
- pembuktian palsunya hasil cetakan tidak cukup dengan scanning yang
dilakukan oleh BCA saja, tetapi masih memerlukan hasil pemeriksaan
laboratorium kepolisian;
- bagaimana BCA bisa begitu yakin bahwa kejahatan itu sama sekali tidak
melibatkan orang dalam?

Selain itu, seperti juga yang diakui pihak BCA, dan sering kita dengar
adalah kejahatan penipuan dengan modus operandi undian berhadiah sering
terjadi dengan menggunakan sarana rekening bank di BCA. Penipu menghubungi
korbannya lewat telepon dengan mengatakan bahwa korban telah memenang suatu
hadiah tertentu (misalnya 1 unit mobil Toyota Kijang). Untuk persyaratan
pengiriman hadiahnya korban diminta melakukan transfer sejumlah uang
tertentu ke rekening dengan nama tertentu di bank BCA dengan nomor rekening
lengkap. Umumnya setelah telanjur melakukan transaksi tersebut barulah
korban menyadari dia telah menjadi korban penipuan. Ironisnya kita belum
pernah mendengar bahwa pelakunya telah ditangkap. Padahal untuk mengusutnya
relatif tidak terlalu sulit. Bukankah ada nomor rekening si penipu? Bukankah
dari nomor rekeningnya itu bisa diketahui identitasnya? Kalau tidak salah
BCA pernah menolak pembukaan identitas pemegang rekening dengan alasan
rahasia bank. Bagaimana ini?




Salam Sejahtera

  DANIEL HT


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke