Aha.... ternyata RW berjuang secara dinamis didalam front
marhaenis.
Tetapi semalam saya melihat pidato Soekarno didepan parlemen yang
sangat konstekstual dengan situasi saat ini. Intinya, sebuah
penegasan mengenai kepada siapa sebenarnya seluruh potensi
parlemen dan pemerintah hendaknya diarahkan.
Saya tertarik untuk mengkoleksi momentum sejarah yang berkaitan
dengan aktifitas Soekarno melalui film-film dokumenter di itu.
Apakah Mas Pop bisa membantu dari mana saya bisa memulai untuk
mendapatkannya. Akan saya transfer ke VCD agar menjadi bahan
pelajaran anak-anak saya.
salam
----- Original Message -----
From: My Populis <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, June 09, 2001 1:29 AM
Subject: [Kuli Tinta] SOEKARNOISM IS TO KILL SOEKARNO
SOEKARNOISM IS TO KILL SOEKARNO
OLEH RACHMAWATI SOEKARNOPUTRI
MENJELANG akhir April 2001, lewat surat yang saya terima di
Cilandak, harian
Kompas meminta saya menulis mengenai anak-anak Soekarno, Bung
Karno. Saya
memilih mengetengahkan pandangan dan harapan saya mengenai
saudara-saudara
saya, bukan deskripsi profil mereka. Untuk itu saya lebih banyak
membeberkan
cita-cita dan usaha saya melawan desoekarnoisasi dan melanjutkan
ajaran Bung
Karno.
Tahun 1987, suatu hari, saya dipanggil Direktorat Jenderal Sosial
Politik
Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Saya diminta mengklarifikasi
dasar
Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) yang saya dirikan. Mereka bertanya,
GPM
menggunakan ajaran Bung Karno yang mana? Yang disodorkan pada saya
ada tujuh
tafsir ajaran Bung Karno. Semuanya saya tolak. Saya tidakmengikuti
tafsir
orang.
Saya lebih berpijak pada pemikiran orisinal Bung Karno. Kepada
pejabat
Depdagri itu saya katakan, "Kalau bapak mau bertanya mana ajaran
Bung Karno
yang betul, saya akan berikan buku tulisan Bung Karno." Yang
orisinal itu
yang diucapkan dan ditulis Bung Karno, jadi bukan yang ditafsirkan
orang-orang.
Bung Karno-masa pengabdiannya sejak tahun 1918, masa muda, hingga
wafatnya
21 Juni 1970-sudah memformulasikan pikiran-pikiran brilyan.
Pikiran-pikiran
itu lalu menjadi kesaksian sejarah perjalanan kemanusiaan. Pikiran
Bung
Karno yang kemudian meluncur melalui tulisan, ucapan, dan
tindakan, bahkan
diamnya itu yang olehnya lalu dikatakan sebagai ajaran Bung Karno
dalam
pidato tanggal 17 Agustus 1965.
Bung Karno membakukan pidato itu dengan formulasi Panca Azimat
Revolusi.
Kelima formulasi itu adalah,
(1) Nasakom (sejak tahun 1926 dalam tulisan nasionalisme,
Islamisme,
marxisme).
(2) Pancasila yang lahir tahun 1945.
(3) Manipol/USDEK lahir tahun 1959,
(4) Trisakti (berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang
ekonomi, dan
berkepribadian di bidang kebudayaan) tahun 1964, dan
(5) Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) lahir tahun 1965.
Kelima tonggak Panca Azimat Revolusi merupakan kesaksian sejarah
kemanusiaan. Sebab keseluruhannya berisi amanat penderitaan rakyat
di
seluruh dunia. Ajaran Panca Azimat Revolusi (soekarnoisme),
seluruhnya
berisi membangun kemerdekaan bangsa-bangsa, sosialisme perdamaian
dunia yang
adil dan beradab.
Pada pidato 17 Agustus 1965, Bung Karno antara lain berdoa semoga
gagasan-gagasan dan ajaran-ajarannya hidup seribu tahun lagi. Doa
bapak itu
adalah amanah bagi bangsa dan kami anak-anaknya.
***
BUNG Karno mencurahkan seluruh daya upaya untuk membangun
kekuatan nasional
dan internasional dalam rangka memutus garis hidup kolonialisme,
neokolonialisme, dan neo-imperialisme yang berusaha mempertahankan
cengkeramannya dalam kehidupan bangsa-bangsa. Perjuangan Bung
Karno bukan
hanya untuk Indonesia, tetapi untuk seluruh umat manusia. Untuk
itu Bung
Karno menjalankan strategi global guna
melakukan perubahan dunia menuju keadilan sosial, kemerdekaan
bangsa, dan
tata susunan dunia baru. Sehingga, Bung Karno menjadikan dirinya
sebagai
anak zaman dan ikut mengarahkan jalannya sejarah kemanusiaan.
Hal itu juga yang menimbulkan ketidakpahaman sebagian besar
komponen bangsa
Indonesia terhadap Bung Karno. Kondisi itu ditambah usaha-usaha
kekuatan
neokolonialisme, neo-imperialisme internasional yang sudah lama
berobsesi
akan menorpedo seluruh kerja besar Bung Karno. Situasi itu
bermuara dalam
Gerakan 1 Oktober 1965 (Gestok) yang menggulingkan kekuatan Bung
Karno
secara nasional maupun internasional.
Sebagai seorang patriot, Bung Karno tidak gentar menghadapi usaha
itu, sebab
sudah menyadari, pengabdiannya tidak berhenti karena diputus
kematian
sekalipun. Karena itu dengan tegar dan teguh dia menerima Wisma
Yaso yang
mengubur fisiknya (pengucilan oleh rezim yang menggulingkan).
Peristiwa ini
merupakan saksi bahwa Bung Karno rela mengorbankan dirinya untuk
satu
cita-cita agung. Dan ia menyerukan kepada seluruh rakyat untuk
diam.
Itulah yang menyebabkan Bung Karno dengan seluruh ajarannya yang
tersimpul
dalam Panca Azimat Revolusi tidak pernah mengenal out of date.
Bung Karno
dan ajarannya sudah bersenyawa dalam jeritan amanat penderitaan
rakyat dan
sudah terpateri dalam hati sanubari rakyat Indonesia dan
rakyat-rakyat yang
mendambakan keadilan sosial dan perdamaian dunia.
Ajaran Bung Karno adalah satu paket. Tidak bisa dipisahkan satu
sama lain,
tidak bisa ditambah dan dikurangi, bahkan tidak bisa ditafsirkan
begitu
saja. Saya yakin ajaran Bung Karno bukan hanya relevan atau hanya
alternatif
untuk menghadapi situasi Indonesia dan dunia saat ini, tetapi
suatu
keharusan untuk dilaksanakan sekarang dan mendatang. Itu keyakinan
saya yang
tidak ingin hanya disebut anak biologis tetapi juga sebagai anak
ideologis
Bung Karno.
Sementara itu kakak saya, Guntur Soekarnoputra memilih jalan
hidupnya
sendiri untuk tidak ikut dunia politik. Kakak perempuan saya,
Megawati
Soekarnoputri memimpin partai politik dan jadi Wakil Presiden.
Guruh
Soekarnoputra juga menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan.
Sementara itu Sukmawati Soekarnoputri, adik saya, juga menjadi
pimpinan
Partai Nasional Indonesia (PNI) yang ingin melanjutkan cita-cita
dan ajaran
Bung Karno secara murni serta menentang desoekarnoisasi yang
berlangsung di
masa
pemerintahan Soeharto 32 tahun terakhir ini.
Saya menyayangi semua adik dan kakak saya, termasuk Mbak Ega
(panggilan
keluarga untuk Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri). Saling
menyayangi di
antara kami, bukan berarti tanpa ada perbedaan pendapat. Di antara
kami juga
saling meluruskan pendapat demi bangsa dan negara.
Sukmawati memimpin PNI sesuai harapan saya, karena PNI yang
dipimpinnya
adalah bersatunya tiga atau empat faksi PNI yang masing-masing
menjadi
peserta Pemilu 1999. Sukmawati berhasil menyatukan faksi-faksi
PNI, dan ini
sesuai keinginan serta usul saya. Saya yakin Sukmawati dengan
PNI-nya bisa
melanjutkan ajaran Bung Karno.
Tidak saya sebutkan saudara-saudara saya lainnya. Tetapi, mereka
juga telah
memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri, seperti misalnya Bayu dan
Karina.
***
SAYA selalu ingat yang pernah dilakukan Bung Karno pada tahun
1960-an.
Beliau membubarkan Badan Pendukung Soekarno (BPS). Badan itu
dibubarkan
karena mengumandangkan ajaran Bung Karno yang ditafsirkan banyak
orang yang
mengklaim sebagai pengikut atau penganut ajaran Bung Karno.
PNI sendiri saat itu juga diberi peringatan oleh Bung Karno, sebab
dalam
partai itu sendiri juga ada banyak tafsir tentang ajaran Bung
Karno.
Bayangkan mana yang bisa dipakai bila masing-masing orang punya
tafsir
sendiri-sendiri mengenai ajaran Bung Karno.
Kini ada partai yang sering menggunakan gambar Bung Karno untuk
mengonsolidasi pengikutnya. Penggunaan simbol-simbol Bung Karno
itu cukup
efektif untuk menarik massa. Tetapi, betapa menyedihkan bila di
antara
partai-partai itu ada yang hanya memanfaatkan nama Soekarno tanpa
memperjuangkan ajaran atau menyosialisasikan cita-cita Bung Karno
yang
orisinal. Berkaitan dengan partai dan simbol Soekarno itu, ada di
antaranya yang anggotanya sering mengetengahkan ajaran
kapitalisme, yang
justru berarti membunuh Bung Karno. Di sini terjadi penyelewengan
ajaran
Bung Karno.
Inti ajaran Bung Karno mengenai marhaenisme adalah
antibentuk-bentuk
penindasan seperti terjadi dalam sistem kapitalisme. Kita perlu
memahami,
marhaen, marhaenis, dan marhaenisme.
Marhaen adalah kaum yang dimelaratkan oleh sistem. Jadi dia hanya
mempunyai
alat-alat produksi yang serba minim, seperti cangkul, sawah
sepetak, dan
seterusnya. Ini jauh berbeda dengan terminologi proletar. Proletar
hanya
menjual jasa, dan tidak punya alat produksi. Proletar adalah basis
untuk
gerakan komunisme. Komunisme menggunakan teori klassenstrijd
(pertentangan
kelas).
Sedangkan marhaenisme adalah asas pergerakan dan perjuangan guna
mengangkat
kaum marhaen. Marhaenis adalah kaum yang memperjuangkan rakyat
kecil atau si
marhaen guna mengangkat derajatnya. Marhaenisme mengetengahkan
klassen
bewust (kesadaran kelas si miskin dan si kaya bersama berjuang
menuju
sosialisme atau masyarakat adil makmur berkesejahteraan).
Jadi, kalau saya kembali kepada harapan saya terhadap anak-anak
Bung Karno,
seharusnya kami memakai, melaksanakan warisan ajaran bapak.
Anak-anak Bung
Karno akan bermanfaat bila melakukan hal itu. Manakala kami
ditakdirkan
menjadi turunan Bung Karno, maka kami harus melaksanakan ajaran
bapak. Kalau
tidak, ya harus bisa dimengerti bila hanya mendapat julukan anak
biologis
Bung Karno.
Memang, hal ini menjadi beban mental dan moral cukup berat bagi
anak-anak
Bung Karno. Anak-anak biologis Bung Karno punya pesan dan amanah,
karena
kami adalah keturunan langsung dari orang yang membawa ajaran.
Lain halnya
bila bapak tidak membawa suatu ajaran atau bukan sebagai ideolog.
Banyak kepala negara atau pemerintahan yang bukan ideolog. Bagi
anak-anak
dari kepala negara atau pemerintah seperti itu, beban moralnya
lain.
***
BELUM lama ini, beberapa kali saya diwawancara wartawan mengenai
sikap saya
terhadap Mbak Ega. Saya selalu menekankan agar Mbak Ega jangan
bersikap
ambivalen atau dualistis. Ada yang menulis hanya sebagian
pernyataan saya,
yakni agar Megawati mundur. Ada pula yang menulis lengkap, agar
dia mundur
bila bersikap ambivalen yang bisa menimbulkan kesan ia ingin lepas
tanggung
jawab sebagai bagian pemerintahan sekarang.
Saya hanya ingin menekankan, agar Mbak Ega bijaksana dan arif dan
tidak lupa
pada sejarah yang telah dilalui para bapak bangsa kita. Dalam
sejarah,
ketika merasa tidak sependapat lagi dengan Bung Karno, Bung Hatta
mengambil
sikap tidak ingin mengganggu Presiden yang dibantunya berdasarkan
sumpah
jabatannya sebagai wapres. Konsekuensi logis dari sikap itu adalah
mundur.
Saya tidak ingin Mbak Mega mundur begitu saja. Saya ingin agar
duet Presiden
KH Abdurrahman Wahid dengan Megawati dipertahankan sebagaimana
yang telah
diputuskan Sidang Umum MPR 1999 untuk lima tahun. Tetapi, saya
ingin
Megawati mencontoh jiwa besarnya Bung Hatta. Artinya, bila tidak
mundur,
harus berani mengambil risiko melaksanakan sumpah jabatan sebagai
wapres,
yaitu membantu Presiden, tidak mengganggu dengan sikapnya yang
mendua,
antara partainya di DPR dan posisinya sebagai bagian eksekutif.
Sekali lagi, dalam hal ini saya ingin mengingatkan kepada Mbak Ega
dan
generasi muda atas ajaran Bung Karno, agar jangan sekali-kali
meninggalkan
sejarah.
Ingin pula saya katakan tentang apa yang pernah diingatkan Bung
Karno ketika
membubarkan BPS. Ketika itu Bung Karno mengingatkan kemungkinan
terjadinya
Soekarnoism is to Kill Soekarno. Artinya, bisa terjadi orang atau
partai
yang mengumandangkan sebagai pengikutnya Soekarno, tetapi
melakukan
desoekarnoisasi secara langsung atau tidak langsung, sadar atau
tidak sadar,
terselubung atau terus terang. Anak-anak Bung Karno bisa terjebak
dalam hal
ini.
Di lain pihak saya mencatat, dan ini menggembirakan, sampai kini
masih
tampak sebagian besar warga dan tokoh Nahdlatul Ulama, masih amat
menghayati
ajaran Bung Karno.
Cukup menyedihkan, bila ada partai politik yang sering mengibarkan
foto
besar Bung Karno, tetapi anggotanya dengan lantang mengatakan
ajaran Bung
Karno tidak relevan lagi.
***
ANAK-anak biologis Bung Karno bukan jaminan terlaksananya kembali
ajaran
Bung Karno setelah terjadi usaha desoekarnoisasi secara sistematis
selama 32
tahun. Anak-anak biologis Bung Karno punya lingkungan
masing-masing, dan
menjadi faktor yang bisa menentukan mereka melanjutkan ajaran Bung
Karno
atau tidak.
Untuk melanjutkan cita-cita Bung Karno dan menyosialisasikan usaha
yang saya
lakukan sejak pemerintahan Soeharto adalah mendirikan Yayasan
Pendidikan
Soekarno (YPS) di awal tahun 1980-an. Dari bidang pendidikan ini
saya rasa
usaha itu akan efektif. Saya juga memilih jalan nonpartisan.
Lewat YPS itulah saya bersama rekan-rekan pengagum Bung Karno
secara rutin
menyelenggarakan haul Bung Karno di Blitar (makam Bung Karno) dan
memperingati HUT Bung Karno di Jakarta. Penyelenggaraan haul Bung
Karno juga
antara lain mendapat dorongan dan inspirasi para tokoh Nahdlatul
Ulama,
misalnya almarhum Pak Mahbub Djunaidi. Dengan haul Bung Karno,
menurut
almarhum Mahbub Djunaidi, persahabatan antara
pengikut dan pengagum Bung Karno dari kaum nasionalis dengan
orang-orang NU
terus terbina. Acara haul Bung Karno itu lalu menjadi tradisi
hingga kini.
Bulan Juni 2001 kami dari YPS, Universitas Bung Karno, Gerakan
Pemuda
Marhaenis, Forum Komunikasi Front Marhaenis, serta anggota warga
negara
lainnya akan mengadakan haul Bung Karno di Blitar.
YPS juga mendirikan sekolah, dari TK, SD, dan SMTA di berbagai
tempat di
Indonesia. Tahun 1983, saya bersama pengurus YPS minta izin
pemerintah
mendirikan Universitas Bung Karno (UBK), namun ditolak. Tahun
1999,
Presiden BJ Habibie memberikan izin pendirian UBK. Menanggapi
beberapa
suara yang mengatakan untuk mendirikan UBK saya mendapat bantuan
materi dari
Pak Habibie, dengan ini saya katakan,
tuduhan itu tidak betul.
Untuk mewujudkan cita-cita Bung Karno, saya bersedia memenuhi
permintaan
memimpin Gerakan Pemuda Marhaenis serta Forum Komunikasi Front
Marhaenis
(gerakan gabungan organisasi-organisasi pemuda, mahasiswa, dan
pelajar yang
dulu punya kaitan dengan PNI atau gerakan kaum marhaenis).
YPS dan UBK dalam menyambut 100 tahun Bung Karno tanggal 6 Juni
2001 ini
menyelenggarakan pementasan drama opera kolosal Langen Gita Putra
Sang Fajar
di Balai Sidang, Senayan, Jakarta. Drama ini akan dimainkan oleh
Anjasmara,
Rachmat Kartolo serta sekitar 400 orang pemain lainnya. Addie MS
juga akan
memberi ilustrasi musik untuk drama ini. Selain itu paduan suara
Gema Suara
UBK juga akan memberi warna pada pergelaran. Pergelaran ini kami
suguhkan
untuk menghormati Bung Karno sebagai Bapak rakyat Indonesia.
* Hj Rachmawati Soekarnoputri, Ketua Umum Yayasan Pendidikan
Soekarno/Ketua Umum Gerakan Pemuda Marhaenis/Ketua Umum
Forum Komunikasi Front Marhaenis.
Kompas, Rabu, 6 Juni 2001
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--