Kemarin sebagai acara Rabuan Jurusan, terjadi ga-
bungan acara Rabuan seluruh Fakultas, karena diisi
studium generale 'Agroekoteknologi untuk Menciptakan
Pertanian Ramah Lingkungan', oleh seorang Dirjen
Bina Produksi jajaran Departemen Pertanian.
Pemberi kuliah menyampaikan potensi pertanian Indo-
nesia yang sangat 'miskin', dengan menyebut bahwa
lahan pertanian rata-rata hanya 250 m2 perkapita.
Untuk justifikasinya dikemukakan contoh 'kongkrit'
untuk kabupaten Bantul ada petani yang hanya memiliki
200 - 400 m2. Entah mengapa para guru-besar dan
doktor-doktor mengiyakan [terbukti dari pertanyaan-2
yang tidak sama sekali mempermasalahkan 'statistik'
lahan pertanian versi Pak Dirjen]. Padahal terjadi ke-
salahan fatal dalam menghitung luas lahan ini dengan
membagi luasan lahan pertanian produktif dengan jum-
lah penduduk. Seorang profesor malah mempertegas
lagi kekeliruan pandang itu dengan mempertanyakan
bila pertumbuhan penduduk 2% saja, berarti akan se-
makin susut lahan pertanian itu. Isi ceramah sangat
klasik, mengangkat 'keburukan' pertanian Indonesia,
padahal seharusnya beliau ikut memberesinya, kemu-
dian mengemukakan konsep 'Agroekoteknologi'.
Sayang antara point-pointnya saling antagonis dan
kontroversi. Misalnya dengan lahan yang rata-rata
hanya 250 m2, kok tiba-tiba mengemukakan masalah
yang harus diatasi adalah 'cemaran pestisida' yang
parah? Sungguh ironis dan borosnya petani 'super
gurem' kita. Ingin mengejar produktivitas, kok malah
kembali ke teknologi serba organik yang konserva-
tif yang jelas-jelas tidak cocok dengan substansi
usaha mencapai produktivitas tinggi. High Yielding
Cultivation.
Ya salahku sendiri waktu kuliah itu duduk di belakang,
hanya karena ingin lebih bebas 'ngobrol pelan-pelan'.
Jadi ndak bisa ikut bertanya. Tapi seandainya duduk
paling depan, apa bisa bertanya dalam forum begitu,
yang dihadiri beberapa guru besar dan moderatornya
pun guru besar? Kan biasanya yang diterima 'acungan
tangannya' untuk bertanya juga para guru besar?
[haha, mirip dengan prof. Ismail Sunny yang tidak mau
bicara dengan Kroco itu lho... artinya bukan guru besar].
Habis kuliah umum itu ada rapat Portofolio Jurusan da-
lam rangka realisasi pelaksanaan IPB sebagai Pergu-
ruan Tinggi Berbadan Hukum Milik Negara (PTBHMN).
Aku hanya dapat ikut 'makan siangnya' saja, hehe. Ka-
rena harus nungguin seorang tamu yang akan kasih
Speech juga kepada mahasiswa (bukan guru besar).
Aku harus nunggu, karena Beliau ini adalah 'contact
person' dari sebuah 'Agribussiness Cooperative' yang
terutama bergerak pada usaha sinergis antara kapasi-
tas dan potensi yang dimiliki oleh anggotanya mulai
dari 'production, management, and market' untuk (u-
tamanya) vegetable crops.
Itupun aku hanya dapat bertemu saja kemudian menye-
rahkannya kepada guru-besar senior untuk membawa
dan memandu acara speech Beliau dalam wacana
'kewirausahaan hortikultura'. Karena, ya harus kembali
ikut periode 'ekor' rapat portofolio.
Dalam pertemuan yang pendek dan obrolan singkat itu,
ada terbetik 'wacana' bahwa kondisi pertanian khusus-
nya hortikultura rupanya mandeg sejak 18 tahun yang
lalu, ketika Beliau menyelesaikan studinya di IPB. Ti-
dak ada peningkatan riil yang berarti, dan itu sangat
jauh berbeda dengan capaian-capaian IPTEKS per-
tanian (Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni) yang
sudaha meroket merambah dunia genetik yang serba
mikro dan rumit.
Pemerintah sendiri bagaimana? Wah sudah tak terkira
dana yang dihamburkan. Ada RUT, RUK, ARMP, HB,
dan lain-lain proyek Litbang. Sayang bahwa hasilnya
masih terutama berupa LAPORAN. Dalam kegiatannya
itupun peran swasta dan wirausaha boleh dikatakan
NOL. Bahkan Tamu kami kemarin sempat menyatakan
kesebelannya. Sebel dengan sikap pemerintah yang
sepertinya menghambat benar pengembangan kewi-
rausahaan hortikultura. Dia menyatakan, "Kami ini
kan sebenarnya ingin berkembang bersama, dan
kami ingin memberikan sesuatu kepada Pemerintah.
Tapi mau memberi saja sulit, ya sudah kami bergerak
sendiri".
Yang ditimpali oleh 'guru-besar' senior, "Yo wis,
kalau gitu minimal Oktober kita ketemu-2 resmi menyu-
sun Net-work Hortikultura, sebelum aku pensiun nih..
Biar itu para angkatan Denggleng itu ndak kemana-
mana. Dapat bergaul dengan para wirausahawan..."
Ayoh, siapa mau ikut?
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
----- Original Message -----
From: "prameshi" <[EMAIL PROTECTED]
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Selamat mas Atmo, selamat berkarya nyata.
----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Saya mengamini posting2 ini. FYI, karena di Jakarta
sudah "jenuh" saya dan beberapa aktivis mendirikan
sebuah LSM di daerah. Berawal di Purwakarta - Jabar, tidak muluk2. Mencoba kooperatif
dengan Pemda
tanpa harus kehilangan independensinya, tapi justru
Pemdanya yg "nggan" berhubungan dgn kami, ya ndak
apa2, wong untuk kesinambungan kegiatan kami
memang tidak perlu bantuan Pemda.
Program yang berjalan sekarang baru 2.
Pertama kegiatan semacam SEAD (Small Economic
Activities Development). Dari mana uangnya ? swadana
mas/mbak ! kami menyisihkan 100-200 rupiah dari
gaji/pendapatan profesional. Uang "sekecil" itu - yang
kalau dispent di Cafe habis sekali datang - ternyata
sangat berharga bagi penguatan ekonomi keluarga di
daerah2. Dalam pelaksanaannya, agar tidak terjadi
pemanjaan nasional, maka diterapkan pola semacam
SEAD / Grameen Bank. Setelah setahun lebih berjalan,
rasa-rasanya nih, kalau ada pemilihan bupati dengan cara pemilihan langsung (direct
vote), dan aku mencalonkan diri, bakal kepilih lho... why ? karena
masyarakat marginal (katakanlah menengah ke bawah)
yg jumlahnya mayoritas bakal ada dgn kami, :). Ini bukan
ambisi, sekedar memberi gambaran bahwa tidak
semua LSM "ngawur".
Kalau kegiatan pertama menyentuh grass root, maka kegiatan kedua mencoba berada pada
tataran konsep
dan policy. Nama kegiatannya PERCAYA (Public
Evaluation for Changes Activities and Policy Analysis).
Kami mencoba ndak muluk2 dalam kegiatan yg dilaksanakan, bukan apa2, karena swadana
itu tadi.
Kalau ada yg tertarik berkooperasi atau perlu bantuan di Purwakarta (dsk),
sila kontak :
CERDAS Indonesia
(Community Empowerment and Development Activities)
email : [EMAIL PROTECTED]
Salam,
Bambang Priatmono
( ki@tmo )
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--