Sedikit ngeritik AJI ah, saya lihat dimilis ini banyak pengamat
pers saya kenal beberapa nama. Tetapi sayangnya mereka
juga terjebak dengan analisa media watch mereka sendiri.

1. Mereka hilang sikap berpihak pada sikap berita berimbang
2. Mereka Idialis ditengah kondisi sosial dan budaya yang
bergerak kearah Industri yang pada intinya semua
memungkinkan terjadinya kontradiktif.
3. Yang terakhir adalah mereka tidak militan semilitan "wartawan
amplop". Karena sudah ternina bobo oleh keidialismean
"abstrak" mereka sendiri. Akibatnya AJI kalah pamor dan kalah
saing dan terjebak pada kepompongnya sendiri, sehingga
sering kali kalah dalam bersaing.

Dalam budaya kapitalisme pers sekarang ini tidak bisa lagi
wartawan "Idialis" tidak menempatkan keterpihakannya.
Butir-butir keterpihakan juga tidak mengharuskan wartawan itu
menjadi partisan atau penghamba modal. Inilah kritik saya
kepada kawan-kawan pengamat pers dibeberapa media Watch
dan teman-teman saya di PANTAU.

Karena keterpihakan banyak; keterpihakan juga berhubungan
dengan sikap politik. Karena menurut saya ketika manusia
sudah tahu ini baik dan itu buruk; ini enak dan itu tidak enak dia sudah
punya sikap politik.

Bentuk sikap politik pers itu antara lain;
1. Pencerdasan bangsa;  menyuguhkan berita yang informatif
mencerdaskan pembaca (karena banyak data kongkrit) dan
tidak berekor atau dapat mis-informasi. Kondisi sekarang media
lebih enak dibaca kalau berita itu mengambang artinya
pembaca sendiri yang beropini. Hal ini memang terlihat tidak
kaku tetapi sangat-sangat berbahaya. Dan salahnya berita yang
berekor ini lebih disukai pembaca (penasaran). Sehingga kalau
perlu bersambung. Kelemahan media (pasar) adalah disini
berita berimbang adalah lebih baik ketimbang berita yang
mengungkap tuntas (investigasi). Contoh berita berimbang
adalah kasus Bulog gade dan Brunai Gade. Menurut saya poin
utama kasus ini mengambang dan diopinikan terus-menerus
tanpa dimengerti oleh wartawan itu sendiri hal ini di pergunakan
oleh para politisi yang mengerti benar kekurangan media
Berimbang ini sehingga menjadi ratusan atau ribuan
penyimpangan. Padahal menurut ilmu jurnalistik dasar
penulisan pers yang baik itu menyangkut 5w + 1H  yang
memakai kerangka tulisan piramida terbalik bukan pembiasan.
(yang sekarang sudah ditinggalkan terutama rekan-rekan saya
di TEMPO, ISAI dan AJI yang berpegang pada tulisan indah
dan enak dibaca/kader gunawan muhammad)

2. Keterpihakan pada pesakitan. Hal ini sangat di tentang para
pelaku media dan organisasi wartawanpun termasuk yang
terjebak. OK, sebagai pengelola anda boleh tidak punya
keberpihakan tetapi sebagai wartawan harus jelas anda menjadi
corong siapa? Maka keterpihakan menurut saya bukan pada
klas sosial seperti analisa kekuatan politik sosial (walaupun
boleh-boleh saja) tetapi seharusnya anda membuat tulisan
keterpihakan kepada Pesakitan entah ORBA entah Orde
Reformasi. Sehingga jelas news yang akan digambarkan
tentang perlawanan siapa. (harus diketahui media adalah
corong opini publik yang paling efektif)

3. Terjadi perubahan penafsiran dalam dunia pers industri/pasar
sekarang ini antara Pekerja Pers dengan pengelola pers. Maka
menurut saya ketika dia memakai perjuangan idialisme pers
yang menempatkan pers pada tempatnya dia harus berani
memperjuangkan DIRINYA SENDIRI kepada pengelola media
dimana dia sendiri menetap. Banyak saya temui kawan-kawan
wartawan yang duduk di organisasi pers entah PWI, AJI, dll
yang banyak berjamur sekarang ini masih terjebak pada kriteria
itu; mereka bekerja di dalam media yang buruk tetapi takut untuk
menuntutnya dengan alasan periuk nasinya akan ditutup alias di
PHK. Contoh; ketika PWI berkata terima saja uang pemberian
itu selama tidak didikte dengan alasan upah wartawan yang kecil
lalu ditentang habis-habisan oleh AJI bahwa wartawan tidak
boleh menerima uang dalam bentuk apapun (sikap idialisme
yang tidak berakar). Keduanya tidak melihat ada kepentingan
dalam sebuah mesin industri yang disebut pengelola PERS.

4. Rekan-rekan saya yang kebablasan ini berkata bahwa
wartawan di LN  itu punya idialisme (tepatnya profesionalisme)
tetapi mereka tidak belajar mengapa wartawan asing itu begitu
sangat mencitai dunia kerjanya tersebut? Hal yang menurut
saya yang kurang mendapat kajian adalah;
a. Upah mereka mayoritas berimbang antara wartawan senior
dan tidak senior. Pemred, redaktur dan wartawannya sendiri.
Sehingga jenjang karir inilah yang banyak menyebabkan konflik
kepentingan (seperti di kita). Contoh; ada media yang melarang
wartawan untuk menerima uang tanpa sepengetahuan "redaksi"
entah redaktur ataupun Pimred, sehingga money politic bisa
terjadi ditingkatan redaksi sendiri. Ada yang tidak boleh
menerima uang sama sekali, tetapi ada  catatan (dari pengelola
pers/redaksi) seperti berita tentang berita-berita "sensitif"
tertentu tidak boleh dimuat, walaupun sudah sesuai dengan visi
dan misi penerbit.
Contoh sebuah media umum; ingin mengangkat Kasus G30S
tetapi, karena ada catatan dari pemimpin redaksi dan pengelola
untuk tidak memberitakan berita PKI/marxis maka berita
tersebut ditolak oleh radaksi karena ada kata-kata marx/PKInya
tanpa mau mengkajinya lebih dalam.

Repotnya malah ada media yang sama sekali tidak punya fisi
dan misi sehingga menyebabkan kebingungan wartawannya
sendiri. Sehingga mayorits berita dari industri pers itu juga
terbalik bukan dari bawah tetapi tari atas kebawah. Jadi masalah
pers di kitapun juga konflikasinya banyak betul.

b. Karya mereka baru diakui ketika dia menghasilkan berita yang
baik (dengan pertimbangan-pertimbangan obyektif dari
masyarakat). Tidak seperti sekarang Data pusat statistik media
hampir ditinggalkan oleh 50% pembacanya di Indonesia.

Di Luar Negeri dikembangkan penghargaan
liputannya/tulisannya  kepada para wartawan dengan harga yang
hampir sama dengan harga "nyawanya sendiri". Diluar negeri
ada wartawan yang tidak pernah mau diangkat masuk dalam
jajaran redaksi karena merasa kesanggupannya adalah
dilapangan (terutama wartawan investigatif dan mempunyai
akses luas) sehingga ketika ditawarkan menjadi redaksi
(redaktur) mereka tidak mau walaupun di iming-iming uang.
Berbeda dengan kita, wartawan akan bangga karena ada
jenjang karir seperti dalam dunia bisnis industri pada umumnya.
Dari wartawan dilapangan melompat jadi editor, redaktur malah
pemred. Dikita lebih disuguhkan tokoh Pemimpin redaksi
TEMPO ketimbang wartawan Senior di KOMPAS atau di
TEMPO misalnya. Berani potong kuping kemampuan seorang
Pemred akan jauh dengan keidialismean seorang wartawan
Senior yang punya akses luas seperti di LN tersebut.

c. Kesadaran klass sosial sudah dimiliki oleh wartawan di luar
negeri sebagai kelas pekerja pers (buruh). Sehingga mereka
menjadi kritis terhadap media mereka sendiri. Sehingga dalam
menentukan sekmen pasar para peneliti para ekonom mudah
dalam menentukan kualitas wartawan dan medianya. Mana yang
koran kuning mana yang koran merah dan lainnya. Tidak seperti
kita, banyak teman saya baik di AJI, PWI dll yang menyebar di
seluruh media merah dan kuning dll. Belum tentu wartawan
tersebut buruk? yang tidak dimiliki dari kita adalah
profesionalitas. Berita KOMPAS mungkin baik untuk kalangan
tertentu dalam analisa jurnalistik, tetapi belum tentu Pos kota
dan Sinar Pagi itu buruk. Karena terbukti mereka lebih di gemari
dan laku seperti pisang goreng, seperti Pos kota dari
keuntungannya dapat membuat Majalah LUX untuk konsumsi
klas menengah keatas. Dua-dua tipe media ini punya kelebihan
dan kekurangan yang harus dievaluasi oleh kedua tipe media
tersebut. Targetnya bukan pengelola yang merubah, tetapi
wartawan yang menuntut. Bagaimana pembaca Pos kota atau
Sinar pagi dengan sekmen yang mereka tembak tersebut bisa
sampai (terdidik) kearah pembacaan media sekualitas
KOMPAS misalnya. Peran itu adalah di Organisasi PERS itu
sendiri dan pesan pendidikan dan moral sampai kepada
pendidik yang tingkat pemahamannya yang beragam.

Pesan saya kepada kawan-kawan AJI masih banyak rekan-
rekan wartawan baik di dalam AJI, maupun di luar AJI ataupun
tidak berorganisasi sendiri yang punya idialisme Pers tetapi
tidak bisa bersuara melihat pengelola media mereka, mereka
frustasi dan kecewa. Yang seperti ini banyak dan tidak bisa
berbuat apa-apa selain karena mereka merasa belum ada
organisasi pers yang benar-benar memperjuangkan wartawan
secara tuntas. Memang tugas berat AJI untuk
memformulasikannya kedepan. Setahu saya rekan-rekan AJI
adalah wartawan yang tergabung dalam kasus pembredelan
TEMPO, EDITOR dan DETIK. Ketiga media tersebut yang
berusaha menyugukan berita berimbang atau berita yang
memperjuangkan Demokrasi menjadi tolak ukur bagi
pembacanya. Tetapi sekarang tidak terdengar karena mereka
tidak lagi bicara pada tataran yang lebih jauh; yaitu "pendidikan
berfikir kreatif bukan beropini dan informatif disertai data-data
investigatif."

Jika AJI sadar akan posisi klas atau tugasnya tidak sepantasnya
perbedaan sesama organisasi wartawan di perdebatkan secara
tajam tanpa ada hubungan diantara organisasi untuk mencari
perbedaan diantara persamaan saling menjual program dan
yang terpenting memperjuangkan anggotanya. PWI tidak
seperti AJI sampai ada wartawan yang mati. UDIN layaknya
seperti Marsinah anggota SPSI (yang terpaksa menjadi
anggotanya) tetapi bukan berarti Marsinah  mendukung
kebijakan politik  SPSI yang mengorbankan buruh yang menjadi
anggota SPSI. Begitupula dengan UDIN kalau tidak salah
anggota PWI dia korban dari sistem yang diberlakukan oleh
PWI yang menghamba pada kepentingan uang pula pada
sistem yang buruk. Maka bagi AJI kesadaran profesionalitas
kerja dari komunitas sosial mereka harus di sampaikan juga
pemahaman tersebut kepada PWI, jika ada rasa senasib
sepenangungan sebagai sesama pekerja Pers.


-------
Sebagai Informasi untuk yang bukan wartawan tetapi mau
mendapatkan berita yang sedikit baik ini sedikit masukan
menurut saya;

Kriteria Pertama;
1. Koran Partisan misalnya Koran PDIP dan PAN
2. Koran yang secara jujur mengakui visinya kepasar atau
kepentingan pasar seperti Media Indonesia dan grubnya.
3. Koran yang Informatif dan komunikatif bagi pembaca kelas
menegah keatas (terdidik) seperti KOMPAS.

Kriteria kedua;
1. Koran yang punya visi politik tetapi malu-malu seperti
koran REPUBLIKA
2. Koran yang tergabung dalam kepentingan Pasar seperti
Jawa POST.
3. Koran yang tidak ada isinya tetapi digemari oleh rakyat kecil seperti
Rakyat merdeka, Sinar Pagi dan Pos Kota.

Jika anda mau mendapat berita yang lengkap tentang kondisi
indonesia; pilihlah kriteria pertama dan kedua yang no. 3. Itulah
gambaran nyata kondisi di Indonesia ditengah perdebatan
politik, perdebatan ilmiah tetapi ada kesenjangan ada konflik
dan keresahan dirakyat seperti  yang diberitakan oleh koran-
koran seperti Pos kota, Sinar Pagi dan mungkin Rakyat
merdeka. Ada perampokan, ada pembunuhan, perkosaan
(isinya darah/kriminal) dll, ada investigasi yang berat bagi
wartawan di lapangan. Biar tidak jenuh bolehlah sekali-sekali
carilah media yang lebih sekmentit kedalam bidang yang anda
senangi/hobby, misalnya hiburan/musik, olah raga, gaya hidup
dll.

Jika melihat media Televisi saya menyarankan tontonlah pilihan berikut;
1. SCTV (liputan 6)
2. TVRI
3. Lintas Lima TPI

Selebihnya anda akan mendapatkan berita yang kabur atau
dibelokan. Walaupun diluar invormasi diatas AN TV lumayan jika
memberitakan liputan Internasionalnya terutama.

MYP
Yang belum mau masuk organisasi kewartawan.
Tidak pernah sekolah Jurnalistik apalagi FISIP.
Seperti keinginan kalangan "Idialis" atau AJI dimana kecakapan
hanya dilihat pada jejang pendidikan semata; yang terbukti
dilapangan orang-orang seperti inilah yang tidak gigih, manja
dan hanya maunya mendapat menerima berita matang saja
tanpa mau bersusah-susah melakukan investigasi dan
perimbangan berita. Sehingga hasilnya  sebenarnya berita
setengah matang atau opini nara sumber tanpa ada bantahan
dari sumber lainnya. Sehingga kritik "koar setuju - satu suara di
DPR sekarang ini berpindah ke koar satu suara di PERS".
Makna Demokratisasi/perbedaan sebagai pendidikan dasar
politik sudah tidak dipegang sebagai senjata utama dari
idialisme pers itu sendiri.



----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 16 Juni 2001 17:02
Subject: Re: [Kuli Tinta] Lagi Kapolri


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke