Kemarin ada beberapa kejadian menarik yang bisa menjadi indikator mengenai konstelasi 
politik nasional.

Pertama, pembangkangan Bimantoro untuk menyerahkan tongkat komando dan atribut 
kepolisisan dengan dalih konstitusi. Bimantoro dengan jubir Dikdik berani bersikap 
seperti itu jelas bukan hanya karena semata-mata alasan konstitusi melainkan karena 
backup politik dari DPR/MPR yang lagi berusaha untuk menjungkalkan Presiden melalui 
mekanisme SI Agustus 2001.

Ke dua, terjadi insiden kecil di pertemuan Pamen Polric yang menyikapi reaksi 
Bimantoro karena tidak menyerahkan tongkat komando dan atribut kepolisian. Intinya, 
seperti pernah dikatakan oleh Agum Gumelar, garis komando harus dipatuhi. Insiden itu 
terjadi karena kehadiran Irjen.

Ke tiga, Bimantoro dengan berpakaian sipil bertemu dengan Pangab dan Menko Polsoskam. 
Tidak ada penjelasan mengenai pertemuan tersebut namun jelas sekali tidak mungkin 
tidak berhubungan dengan masalah penyerahan tongkat komando dan atribut kepolisian 
tersebut. Hal ini tersirat pada dialog di SCTV sore antara Rosi dengan Agum:

Ke lima, dari dialog antara Rosi dan Agum di liputan 6 biusa disimpulkan bahwa tongkat 
komando dan atribut kepolisian harus diserahkan kepada atasan yang lebih tinggi ketika 
pejabat pengganti belum definitif seperti Agum memberi contohnya dirinya ketika 
bertugas di Lampung. Jelas, sekali atasan langsung itu adalah Presiden yang aka 
menyerahkan tongkat komando dan atribut kepolisian tersebut pada serah terima denga 
pejabat kapolri yang baru. Jelas sekali pula bahwa Agum Menkopolsoskam sangat jelas 
sikapnya  dalam masalah tersebut yaitu meminta Bimantoro untuk segera menyerahkan 
tongkat komando dan atribut kepolisian yang disertai dengan sangsi tentunya (diduga 
telah dibicarakan di kantor Pangab bertiga) agar hal tersebut tidak menjadi polemik 
berkepanjangan dan menjadi beban polsoskam. Sikap ini tercermin jua pada bahasa gerak 
tubuh Agum yang mengubah posisi duduknya dari posisi miring terhadap kamrea karena 
berhadapan dengan Rosi menjadi tegak lurus terhadap meja dengan posisi kepala agak 
miring menghadap lurus ke kamera sambil berucap "Polri harus tetap solid dan sekali 
lagi saya mengucapkan agar Polri tetap solid" Ucapan itu dikatakan dengan nada suara 
berat dan tegas. tersirat sebuah ancaman bagi yang bisa merasakan.

Di sisi yang lain, Agum sebagai Menkopolsoskam masih pada sikapnya untuk tidak setuju 
dengan rencana Presden yang hendak membekukan DPR dan MPR serta pemilu dipercepat 
tahun depan  dengan mengatakan berkali-kali "yah ... kita masih punya waktu..." Namun, 
bagaimana kalau usaha Agum gagal untuk membangun kompromi politik ideal bagi 
kepentingan bangsa yang lebih besar? Tampaknya. Menkopolsoskam dan jajaran TNI-Polri 
telah mempunyai berbagai scenario termasuk scenario yang terjelek. Namun, saya percaya 
bahwa duet Widodo dan Agum pasti tidak akan memasukkan scenario pengambil alihan 
kekuasaan oleh militer karena komitmen mereka atas nasib bangsa ini termasuk tidak 
memasukkan scenario Daniel Saparinga mengenai Presiden kembar. Sikap Menkopolsoskam 
dalam hal tongkat komando dan atribut Polri telah menjadi indikator awal.

 

  




...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--

Kirim email ke