---------------------------------------------------------------------
WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia
---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Senin 30 Juli 2001 14:00 UTC


* MEGAWATI MULAI BERPIKIR SISTEMATIK DAN MENIRU CARA PEMERINTAHAN
SOEHARTO

Perlawatan luar negeri pertama Presiden Megawati adalah ke
negara-negara ASEAN. Demikian dikemukakan oleh Bambang Kesowo,
jurubicaranya. Dengan rencana ini, paling sedikit dalam kebijakan
luar negerinya, kelihatan Mega berpikir secara sistematik, seperti di
jaman Soeharto dulu. Menurut Indria Samego, pakar politik Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI, cara ini tidak salah, tetapi Mega
juga harus menunjukkan agenda pemerintah yang konkrit, sehingga
rakyat tahu apa saja target yang akan dan telah dicapai pemerintah.
Ikuti wawancara Indira Samego dengan Radio Nederland:

Indria Samego [IS]: Ya, saya kira langkah konkret Presiden Megawati
untuk mengembalikan posisi Indonesia di dalam kerja sama regional,
karena selama ini tidak sistematis seperti jaman Soeharto dulu. Kalau
kita ingin membangun dunia, kita harus membangun dulu rezim. Kalau
memang Megawati mau pergi ke negara ASEAN dia berfikir di dalam
kerangka yang paling mungkin dilakukan, adalah mendekati tetangga.

Radio Nederland [RN]: Jadi menurut Bapak sekarang Ibu Mega berpikir
secara sistematis. Tetapi apakah ia meniru caranya Pak Harto dulu?

IS: Kalau meniru di dalam kerangka tahapan berfikir itu tidak ada
salahnya. Sekarang Indonesia kan secara ekonomis belum bangkit. Jadi
barangkali ada baiknya kalau sebelum minta bantuan kepada
negara-negara di luar ASEAN, Megawati sounding dulu dengan
tetangga-tetangganya.

Sikap saya terhadap pemerintah, kita tidak mungkin menyelesaikan
semua persoalan di Indonesia ini dalam waktu yang singkat. Tetapi
harus ada agenda yang jelas. Mana yang paling the most possible untuk
bisa dicapai. Nah, untuk itu kan harus ada ukuran-ukuran dan
agenda-agenda yang jelas.

Saya meminta sekarang, karena Megawati sudah memimpin, dia harus
menunjukkan komitmennya terhadap agenda-agenda konkret itu. Seratus
hari pertama, tiga bulan pertama, enam bulan dan seterusnya. Jadi
setahun itu sudah kelihatan mana yang sudah di-cover, mana yang
belum.

RN: Menurut berita terakhir Megawati akan mempertahankan struktur
kabinet seperti struktur kabinetnya Wahid. Tetapi mungkin jumlah
menteri dari 26 menjadi 35. Bagaimana ini?

IS: Sebaiknya memang kabinet itu ramping, kalau kita bicara mengenai
penghematan. Tetapi kalau ada alasan-alasan yang konkret yang bisa
diterima untuk membiarkan kabinet itu agak gemuk, nanti harus ada
akuntabilitas untuk itu. Struktur kabinet masa Wahid, misalnya ada
menko-menko di situ, itu baik saja. Tetapi misalnya menteri muda
urusan Indonesia Timur dan segala macam itu mungkin harus dilihat
kembali, efisiensi-lah.

RN: Ada juga desas-desus bahwa Megawati akan menghidupkan kembali
Departemen Penerangan?

IS: Iya, itu juga termasuk hal yang kontroversial, kalau mau disebut
kontroversial. Tetapi kalau Departemen Penerangan yang akan dibentuk
ini fungsinya sama dengan Departemen Penerangan di masa Orde Baru,
jelas itu tidak selesai lagi mengatasi persoalan-persoalan
kepegawaian yang ada sekarang. Secara politis mungkin bisa diterima.
Jadi bagaimana pun juga Abdurrahman Wahid sudah membubarkan
Departemen Penerangan. Dia bisa membubarkan Departemennya, tetapi
manusianya kan tidak bubar.

Ini sesuatu yang tidak memberikan image yang baik terhadap
pemerintah. Saya kira upaya Megawati ini akan hanya untuk
menghidupkan suatu institusi yang dulu ada, nggak tahu namanya,
barangkali tidak Departemen Penerangan seperti dulu. Tetapi, apalah,
yang pasti pemerintah masih harus bertanggung jawab terhadap sekian
100.000 orang yang sampai sekarang nasibnya tidak jelas, yaitu
Departemen Sosial, Departemen Penerangan dan dulu ada BP-7.

RN: Kemungkinan besar Menteri Pertahanan akan kembali ke tangan
militer setelah beberapa kali dipimpin oleh orang sipil. Apakah ini
merupakan satu langkah maju atau mundur?

IS: Ya, kalau kita mendefinisikan maju itu adalah sipilisasi, maka
itu mundur kan. Tapi kalau maju dalam arti fungsional, saya akan
melihat lain. Sipil militer itu tidak relevan. Yang penting asal
anggota kabinet yaitu bertanggung jawab terhadap Presiden. Dan
berarti dia dalam posisi sebagai sipil.

Demikian, Indria Samego, pakar politik Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia, LIPI.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<- 
->  FREE email !! [EMAIL PROTECTED] ... http://www.kulitinta.com  <-

Kirim email ke