Bung Daniel, sudah lama kita tidak diskusi lagi.
Maaf saya baru bisa nge-email lagi dan email
yang masuk sangat banyak.
Mendiskusikan perkatan kabur dengan kata keturunan ini
saya hanya menganalisanya dari makna komunikasinya
saja bukan pada tata bahasa yang memang saya kurang
begitu pahami.
Sebenarnya kata yang mengikuti dari kata kabur itu tidak
begitu "menyeramkan" atau "negatif" setelah saya
membaca keseluruhan isi dari berita tersebut. Hal yang sama untuk
menjelaskan migrasi, picnik, mencari suaka, lari atau kata-kata lain untuk
menjelaskan perpindahan atau meleyapnya seseorang dari tempat satu ketempat
yang lain.
Seperti layaknya Asu dalam bahasa keseharian di SURABAYA jelas akan
berbeda dengan bahasa keseharian di JOGJA.
Tetapi banyak dari kita khususnya orang indonesia yang
masih "muda" dalam menganalisa ruang "kebebasan"
berbicara sekarang ini.
Asosiasi dari analisa tulisan tersebut tetap saya melihat
"berusaha" disuguhkan secara populis atau ngepop artinya
jauh dari usaha kepriyaian dan tata krama "intelektual" yang
tidak perlu. Yang jika dilihat dahulu sangat sulit untuk
dibaca sekarang ini.
Bagi saya kata KABUR disini asosiasinya bisa negatif
dan positif bagi pembacanya. Saya contohkan beberapa
kata kabur yang lebih spesifik yang memperlihatkan
ketertindasan dalam makna positif.
1. Budiman sudjadmiko dituduh mendalangi serangkaian
demonstrasi penentangan pemerintah dan usaha memprofokasi peristiwa 27 juli.
Budiman yang baru saja
mendeklarasikan partainya terpaksa memilih KABUR bersama pimpinan PRD
lainnya karena menghindari tuduhan tersebut.
atau contoh lainnya yang negatif;
2. Tommy yang sekarang ini berubah nama menjadi Ibrahim itu memilih KABUR
dan tidak menyerahkan diri ke POLRI karena dirinya merasa tidak merasa
mendalangi serangkaian peledakan di Jakarta.
TOMMY dan BUDIMAN seperti juga Etnis Tionghoa adalah subjek "yang merasa
dirinya dirugikan".
Dalam pemilihan kata saya pribadi tidak pernah memaksakan diri untuk memilih
bahasa yang abstrak untuk
memaksakan norma-norma dalam kalangan komunitas tertentu saja. Sudah pasti
pencarian kata populis diatas sudah pasti ada kepentingannya dalam kerangka
penyampaian informasi yang lebih luas dan tidak tersekat pada batasan kelas
sosial tertentu saja.
Dalam mencontohkan sebuah "hinaan" saja sulit untuk mengambarkannya karena
dibawah alam sadar keintelektual kita sendiri sudah tekooptasi. Sehingga
yang muncul adalah budaya hayal dan kemunafikan.
Contoh; Grub band dari Amerika itu (MEGADETH) yang baru saja melakukan
konser di Medan mengacungkan jari tengah kearah penonton sambil meneriakan
kata F... dan tanpa sadar penonton itu di hina oleh vokalis MEGADETH itu
menimpali teriakan yang sama F...
Asosiasi pembaca membaca kalimat ini jelas tidak dibuat-buat dan informasi
yang disampaikan kepada pembaca apa adanya tergambar dalam realita situasi
yang berkembang dalam konser tersebut. Inilah yang membedakan KOMPAS dan
TEMPO dalam penyuguhan penulisannya. TEMPO memilih kata-kata yang Puitis
tetapi KOMPAS lebih memilih bahasa yang infestigatif apa adanya yang terjadi
di dalam masyarakatnya walaupun sulit untuk dikemukakan, seperti beberapa
tulisan almarhum wartawati senior KOMPAS yaitu THREES NIO dalam buku
biografinya "Laporan dari lapangan".
Kekurangan pencita informasi dan pembaca atau kalangan konserpatif lainnya
adalah hanya terjebak pada kata-perkata saja bukan keseluruhan berita atau
informasi tersebut. Setelah saya membaca tulisan dibawah saya dapat
menyimpulkan kata KABUR di bawah adalah menjelaskan ketakutan para Etnis
Tionghoa akan terjadinya kerusuhan etnis akibat sistem sosial yang tidak
adil selalu saja menimpa minoritas Cina (budaya rasis) sadar atau tidak
sadar. Bukan sebaliknya (asosiasi) yang mengatakan kata KABUR sebagai
seorang KRIMINAL atau PENJAHAT yang sudah menjadi atmosfir di kepala
sebagian rakyat Indonesia.
Contoh lain agar terlihat kata kabur bisa tidak Negatif. TNI terpakasa kabur
dari kepungan geriliawan GAM misalnya.
Contoh lain lagi; Millis kuli tinta makin kabur diskusinya karena terjebak
pada perdebatan politik elit. Jadi tidak ada yang salah dalam pengambilan
kata kabur, memang terlihat "kasar". Karena kasar itu NEWS itu ada
(profokatif). Sehingga orang tertarik untuk membacanya dan otomatis
membelinya.
Mengenai kata KETURUNAN disini KOMPAS yang masih memakai konsep
"Opertunistik" berpihak pada pasar. terlihat dalam (kebetulan dikamar saya
ada biografi Thress Nio) saya sangat tertarik tulisan Ashadi Siregar dalam
meneropong peran sosial pers dalam waktu kewaktu dan peran serta etnis
Tionghoa di Indonesia. Walaupun dalam buku tersebut yang ditebitkan dalam
masa orde baru jelas hanya satu organisasi wartawan pada saat itu. Tetapi
yang menarik dari analisa tersebut adalah peran sosial masyarakat dan
kelompok sosial masyarakat dari waktu kewaktu yang mewarnai peran pers di
Indonesia. Maka kacamata pers seperti juga sekarang ini pasti terpengaruh
situasi politik global yang berkembang belakangan ini.
Seperti contoh koran etnis tionghoa (pedagang/pelarian/Kapitalis), koran
etnis Tionghoa Nasionalis pro kemerdekaan pergerakan, Koran yang pro rakyat
kecil atau buruh, kemudian baru disusul munculnya koran priyayi nasionalis.
Jadi dalam melihat keturunan TIONGHOA jika tidak tahu sejarah tionghoa di
Indonesia sendiri kita akan salah mengatakan atau menyimpulkannya. Karena
dalam makna etnis tionghoa sendiri ada yang pro Kapitalis, Pro nasionalis,
Pro cina dan pro rakyat kecil serta buruh.
Setelah koran-koran penjajah Belanda, koran keturunan atau pendatang cina
inilah yang mewarnai kedewasaan pers di Indonesia ini yang tidak pernah
diketahui oleh wartawan kita sendiri, terlepas sifat dan keterpihakannya.
Koran pribumi itu baru muncul belakangan.
Dari sejarah inilah kita akan tahu bahwa negara kita adalah negara yang
beragam, beragam itu melahirkan perbedaan bukan saja di dalam komunitas
pribumi maupun yang non pri jadi memang berbeda. Hal yang sama seperti
Priyai jawa dan sultan-sultan di Sumatra.
Dalam membaca berita dibawah ini kita sekarang ini paska keturunan GUSDUR
makin menguatkan. Bahwa GUSDUR dan komunitasnya berbeda pandangan dengan
SUHARTO ketika lengser dan menjadikan Etnis tionghoa menjadi kuda troya dan
pesakitan. Pendukung gusdur tidak menyenggol sedikitpun Etnis tionghoa
secara keseluruhan baik yang pro kapitalis, Pro rakyat kecil, mupun pro
pribumi atau agama. Kesalahan gusdur hanya satu kenapa pula harus pohon yang
di tebangi. Ha... Ha... Jadi ngelantur ke GUSDUR. Itulah penyakit RASIS di
Indonesia. Jadi yang berbahaya dari bukti diatas bukan ketika GUSDUR tumbang
tetapi paska GUSDUR tumbang berapa lagi orang cina yang akan diadili selama
maling pribumi tidak diadili selamanya Etnis tionghoa atau cina akan terus
menjadi korban dan budaya rasis tetap ada, mungkin itulah yang tergambar
dalam ke oportunisan berita yang disampaikan KOMPAS dalam menyikapi situasi
politik yang mengarah kearah konserpatifme dan pematangan fundamentalisme
tersebut.
Sory terlalu panjang lain kali kita sambung diskusi tentang kata Keturunan
di Indonesia ini. Maaf kalau ada yang salah.
MYP
----- Original Message -----
From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 23 Juli 2001 0:11
Subject: [Kuli Tinta] Fw.: WARGA KETURUNAN KABUR LEWAT SOEKARNO HATTA (ada
komentar?)
> Ada yg mau komentar pemberitaan Kompas dng gaya bahasanya di bawah ini?
> Mengapa koran sekaliber Kompas memilih kalimat seperti ini? Saya tekankan
> pada kalimat "WARGA KETURUNAN" dan kata "KABUR"
>
>
> > Sabtu, 21 Juli 2001, 19:34 WIB
> >
> > Warga Keturunan "Kabur" Lewat Soekarno-Hatta Saat SI
> >
> > Jakarta, Sabtu
> >
> >
> > Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa di wilayah
> > Jabotabek dan sekitarnya "kabur" ke luar negeri melalui Bandara
> > Soekarno-Hatta saat dilaksanakan Sidang Istimewa (SI) MPR, dengan
> > alasan untuk liburan dan urusan bisnis.
> >
> > Dari pemantauan ANTARA, Sabtu di Bandara terbesar di Indonesia
> > itu, WNI yang "kabur" mayoritas adalah keturunan Tionghoa.
> >
> > Mereka berangkat melalui terminal E luar negeri dengan
> > mengunakan maskapai penerbangan asing maupun lokal dengan tujuan
> > Singapura, Hongkong, Taiwan, Australia, Amerika, dan beberapa
> > negaradi Eropa.
> >
> > Dalam jadwal penerbangan Sabtu, penerbangan luar negeri tercatat
> > sebanyak 32 penerbangan yang datang dan 35 penerbangan yang
> > berangkat, khusus Garuda sebanyak 21 penerbangan pergi dan datang,
> > para penumpang pesawat juga didominir keturunan etnis Tionghoa.
> >
> > Sedangkan tujuan keberangkatan liburan mereka untuk lokal adalah
> > ke Denpasar, Pontianak, Pangkal Pinang, Batam, Surabaya, Makassar
> > dan Palembang.
> >
> > "Daripada berada di Jakarta saat SI, lebih baik berangkat ke
> > luar kota karena terasa lebih aman dan sekalian melihat peluang
> > bisnis," kata Lim Han Juan (47) pedagang elektronik di Glodok,
> > Jakarta Barat, Sabtu.
> >
> > Ia menjelaskan, kepergian ke luar kota karena khawatir adanya
> > kerusuhan oleh pihak tertentu, jika kemungkinan Presiden Gus Dur
> > lengser dari kursi kepresidenan.
> >
> > Pendapat senada juga diutarakan Cahyanto Halim (46) alias
> > Tjin-Tjin dan Santoso (39) alias Robet. Mereka mengatakan masih
> > trauma dengan kerusuhan Mei 1998 lalu sehingga bersama keluarga
> > mengindar ke luar kota. Halim dan Santoso berangkat ke Hongkong.
> >
> > Namun ia berharap agar SI MPR tahun ini akan mengakhiri semua
> > kemelut yang terjadi sehingga ekonomi Indonesia akan kembali normal.
> >
> > Sementara itu petugas informasi Bandara Soekarno-Hatta
> > Judiestiawan mengatakan, dari jadwal penerbangan, Sabtu hingga pukul
> > 19.20 WIB, penerbangan dalam kondisi normal dan tidak ada penundaan
> > keberangkatan, baik untuk tujuan domestik maupun mancanegara.
> >
> > Demikian pula petugas keamanan berpakaian seragam di kawasan
> > bandara tidak terlihat, termasuk kendaraan lapis baja yang biasanya
> > siaga.(Ant/nik)
>
>
> ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
>
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-
-> FREE email !! [EMAIL PROTECTED] ... http://www.kulitinta.com <-