Fadlon Tripa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Baca Liputan Tempo di bawah ini, Tindakan dan kelakuan bandit-bandit Jakarta yang bermarkas besar di Cilangkap ( mabes TNI ) telah menjadikan NKRI menjadi Negara Terroris, Dan Negara melindungi para Teroris yang berbaju TNI,sungguh sangat wajar apa saja yang terjadi di Acheh dan didaerah konflik khususnya karena TNI tidak merasa takut sama sekali jika menembak orang siapa saja yang dia curigai, persisnya NKRI bagaikan rimba belantara jadi hukum rimba yang dipraktekkan oleh para pemegang kekuasaan dan bertangan besi.Jadi malapetaka ini buat bangsa Acheh harus benar-benar disadari jangan sampai bangsa Acheh terhepnotis dengan sistim rimbanya Negara Kaum Rakus Indonesia ( NKRI ) karena bangai manapun manisnya seruan para penjilat NKRI untuk mempertahankan NKRI di Acheh khususnya para opportunist di Acheh baca ( para anggota pansus UU-PA DPR-RI ) tetap kekuasaan penuh ditangan TNI/Polri.Perkara UU-PA versi DPR-RI yang disahkan oleh bandit-bandit Jakarta ( DPR-RI ) maknanya;1. Penghinaan/pengkhianatan terhadap nilai-nilai Perjuangan bangsa Acheh dan Ideologi Negara Acheh.2. Penghinaan terhadap isi perjanjian MoU Helsinki 15-8-2005 itu sendiri3. Penghinaan terhadap nilai HAM4. Penghinaan terhadap Demokrasi5. Penghinaan dan merendahkan nilai terhadap yang namanya Self Government6. Penghinaan terhadap anggota AMM di Acheh sekalipun mereka kurang peka terhadap sikon di Acheh dan Indonesia.7. Bagi TNI/Polri UU-PA ini hanya sebuah cerpen biasa karena mereka terlanjur telah bertuhan dengan Sumpah Prajurit dan Pancasial / UUD 1945Sebenarnya apapun yang diolah/diproduk oleh pihak jakarta NKRI terhadap Acheh hanya masih berkisar tentang keadilan, ketimpangan sosial dan politik rebus batu NKRI.Jadi akar konflik/perang di Acheh sama sekali belum tersentuh oleh para pihak ( GAM, RI , AMM dan CMI ).Untuk mengingatkan kita bersama sejak Raja Ali Muqajatsjah 1500 M, Perang/konflik Acheh bukanlah masalah Ekonomi/Keadilan, Demokrasi dan politik NKRI, Melainkan Konflik/perang di Acheh adalah tentang Penjajahan dan Kemerdekaan yang wajib diselesaikan oleh para pihak dengan jalan non kekerasan.wassalam.fadlontripa
Aksi Jenderal Di Luar Jalur
Kisah di balik tumpukan senjata Brigadir Jenderal Koesmayadi, yang ditemukan di rumahnya dua pekan lalu, belum selesai. Diduga, ia menyalahgunakan posisinya sebagai Wakil Asisten Logistik Angkatan Darat. Siapa sebenarnya kelompok di belakang Koesmayadi? Mengapa sekarang mereka dibersihkan?Koleksi senjata Brigadir Jen-deral Koesmayadi rupanya me-nyeret banyak orang. Hingga akhir pekan lalu, Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI telah memeriksa 35 orang. Mereka berasal dari berbagai tingkatan, dari prajurit dua hingga kolonel. Umumnya mereka bawahan Koesmayadi di bagian lo-gistik Angkatan Darat. Turut diinterogasi pu-la, sopir dan pembantu sang jenderal.
Senjata-senjata itu ditemukan di ru-mah sang perwira tinggi di Puri Marina, Ancol, Jakarta Utara, pada 26 Juni lalu, sehari setelah dia meninggal. Jumlahnya mencapai 145 pucuk, antara lain berupa 96 senjata laras panjang, senjata laras panjang tak beralur tujuh pucuk, dan 42 pucuk senjata laras pendek. Ada yang berjenis SS1, MP5, M16, dan AK 47. Ditemukan pula 28.985 butir amunisi dan sembilan granat tangan, serta 28 teropong.
Nasib apes menimpa Kapten CPM A-hmad Irianto, menantu Koesma-yadi. Ia dijemput pada Senin dua pekan lalu, persis pada hari pengambilan sen-jata dan amunisi di rumah sang mertua. Ahmad kini ditahan di markas Pasukan Khusus Pengawal Presiden (Paspampres) di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Ahmad baru menikah dengan Diana Komalasari, putri pertama Koesmayadi, tiga pekan lalu. Sehari-hari sang me-nantu ini bertugas di Batalion Pe-nga-walan Paspampres. Batalion ini bertugas mengamankan Istana Negara, pe-ngibaran bendera Merah-Putih, jajar-an parade kehormatan dan mengawal setiap perjalanan kepala negara ke mana saja.
Sejauh mana keterlibatan sang me-nantu dalam penumpukan 145 senjata dan amunisi itu masih terus diselidiki. Pe-tinggi Puspom TNI mengunci rapat hasil penyelidikan ini. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Djoko Santoso menuturkan bahwa Ahmad dijaga gu-na menghindari intervensi pihak lain yang bisa membuat kasus ini kian ru-nyam.
Sumber Tempo di militer menuturkan, Ahmad ditahan karena diduga ikut memindahkan senjata-senjata itu dari rumah dinas Koesmayadi di Kuningan, Jakarta Selatan, ke rumah pribadi di Ancol. Dari sana senjata-senjata itu akan dipindahkan lagi ke tempat lain. Sebelum rencana ini berjalan, ia keburu diangkut polisi militer. Namun sumber lain memastikan bahwa Ahmad Irianto cuma ketiban sial. Sebenarnya, sang menantu tak tahu asal-usul senjata-senjata itu.
Sayang, Ahmad Irianto, juga petinggi Paspampres, tak bisa dimintai konfirmasi soal cerita ini. Saat Tempo datang ke markas Paspampres di Tanah Abang, Jumat pekan lalu, seorang petugas di sana memastikan pimpinan Paspampres tak bisa diwawancarai.
Bagaimana dengan 34 saksi lainnya yang kini diperiksa? Peran mereka terus didalami, begitu penjelasan Puspom TNI. Apakah penyelidikan kasus ini menyentuh sejumlah bekas atasan Koesmayadi di Angkatan Darat, seperti Jenderal (Purn) Ryacudu, bekas Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), tergantung hasil pemeriksaan sejumlah saksi yang kini terus diperiksa itu.
Petinggi militer berjanji membuka kasus ini ke khayalak umum sesudah penyelidikan tuntas. Tentara Nasio-nal Indonesia tidak akan menutupi kasus ini. Siapa pun yang terlibat akan dipro-ses secara hukum, begitu bunyi s-iaran pers Markas Besar TNI, Jumat pekan s-ilam.
l l l
Sesudah dua pekan menggeger-kan publik, penyelidikan kasus Koesma-ya-di memang berjalan lamban. Masak, sudah beberapa hari penyelidikan yang diperiksa hanya menantu, sopir, dan pe-ngawal, kata Yuddy Chrisnandi, anggota Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat.
Yang bertambah cuma jumlah senjata. Kini jumlahnya membengkak menjadi 180 pucuk. Sebanyak 32 pucuk senjata tambahan diserahkan Tedy, bekas anak buah Koesmayadi yang kini Asisten Intelijen Komando Daerah Militer Siliwangi, Jawa Barat. Menurut dia, senjata itu dititipkan Koesmayadi beberapa waktu lalu. Tiga pucuk lagi ditemukan di rumah Koesmayadi di Raffles Hills, Cibubur.
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar memastikan senjata Koesmayadi diperoleh lewat rekanan Angkatan Darat. Hanya asal-muasalnya masih gelap. Sejumlah sumber menuturkan, senjata-senjata dibeli di pasar gelap Singapura. Tapi sumber lain menyebutkan senjata-senjata itu didatangkan dari Israel. Adapun petinggi militer di Cilangkap cuma bilang, Sedang kami selidiki asal-usulnya.
Menurut Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, ada kemungkinan senjata-senjata itu memang masuk lewat Si-ngapura. Singapura itu tempat transaksi senjata yang terang maupun gelap, katanya.
Yuddy Chrisnandi pun membenar-kan dugaan itu. Dari informasi yang di-kumpulkan politisi Partai Golkar ini terungkap adanya aliran senjata da-ri negeri jiran itu sejak 2002 hingga 2005. Dalam kurun waktu itu, terjadi pengirim-an -24 kali senjata dari Nege-ri Singa ke Indonesia. Senjata-senjata itu masuk secara ilegal, katanya dalam sebuah diskusi di Dewan Perwakilan Rakyat, Jumat pekan lalu.
Kabar seram sempat beredar se-telah setumpuk senjata ditemukan di r-umah Koesmayadi. Ada yang menu-ding senjata-senjata itu digunakan untuk k-udeta.
Tapi sejumlah bekas atasan dan sa-habat Koesmayadi membantah keras kemungkinan ini. Letjen Purn Yunus Yosfiah, bekas atasan Koesmayadi saat bertugas di Timor Timur, menuturkan, jumlah 180 pucuk itu terlalu sedikit untuk kudeta. Farid Prawiranegara, ka-wan Koesmayadi, menambahkan, Bukan kelas dia melakukan kudeta.
Motif lain yang juga muncul di publik adalah kepentingan bisnis. Senjata-senjata itu diduga dijual ke daerah konflik atau jasa pengamanan para taipan. Sudah jadi rahasia umum kalau orang kaya di negeri dirubung pengawal bersenjata. Dugaan ini muncul sebab Koesmayadi dekat dengan sejumlah pengusaha, tapi Yunus Yosfiah juga menampik kemungkinan ini. Terlalu naif dan tidak sebanding dengan risikonya, katanya.
Dari jenisnya, diperkirakan harga satuan senjata yang ditemukan itu tiga hingga empat juta rupiah. Artinya, total transaksi untuk 145 senjata yang di-temukan di Ancol itu sekitar Rp 725 juta. Biasanya dari jumlah itu cuma se-persekian untuk jasa perantara. Komisi itu terlalu sedikit dibandingkan risi-konya, kata Yunus.
Menteri Penerangan pada zaman Pre-siden B.J. Habibie ini haqul yakin bahwa senjata-senjata Koesmayadi se-ma-ta-mata untuk latihan. Betulkah? Penye-lidik militer masih terus mengusut.
l l l
Apa pun motifnya, Menteri Perta-hanan Juwono Sudarsono menegaskan, penumpukan senjata seperti yang dilakukan Koesmayadi merupakan pe-nyimpangan administrasi. Koesmayadi diduga bekerja di luar jalur. Saya kira setiap angkatan, seperti juga di peme-rintahan, ada tokoh-tokoh yang bekerja di luar jalur, kata Juwono.
Pengadaan ala Koesmayadi- s-udah terjadi sejak 1950-an. Pada zaman Ali Moertopo dan Benny Moerdani juga terdapat jalur-jalur khusus pengadaan senjata dari luar negeri. Soalnya, jika mengikuti prosedur tetap, prosesnya lambat. Menurut Juwono, cara mendapatkan senja-ta seperti ini di luar kendali pim-pin-an militer.
Tak banyak perwira yang punya kemampuan dan suka bermain di jalur cepat bisnis senjata. Koesmayadi merupakan salah satunya. Saat tsunami meluluh-lantakkan Aceh, ia cepat mendulang bantuan militer dari negeri tetangga seperti Singapura dan sejumlah negara lainnya. Kalau melalui jalur formal pasti lambat. Menteri Juwono mengakui, menggunakan orang seperti Koesmayadi ini ada untungnya, juga ada ruginya. Untung karena prosesnya cepat, rugi karena bekerja di luar jalur.
Kini sejumlah kalangan, ter-masuk Par-tai Golkar, mendesak petinggi militer mengusut serius kasus Koesmayadi. Kami melihat temuan itu sua-tu keti-dakwajaran dan merupakan pe-nyimpang-an yang harus diusut, kata Theo L. Sambuaga, pengurus Golkar yang men-dampingi Jusuf Kalla dalam temu war-tawan di kantor Dewan Pim-pinan Pusat Partai Golkar di Jakarta, Jumat pekan lalu. Pengusutan hingga tuntas mungkin bisa mengungkap motif politik atau bisnis di balik tumpukan senjata itu.
Wenseslaus Manggut, Dantom, Ramidi, Fanny Febiana
buatan Radja|endro Majalah Tempo
20/XXXV/10 - 16 Juli 2006
Berita lainnya Dubes Aubin Serang Senator Calderoli - 11 Jul 2006 | 17:35 WIB Ribuan Hektare Sawah di Tangerang Terancam Kekeringan - 11 Jul 2006 | 17:06 WIB Deschamps Gantikan Posisi Capello - 11 Jul 2006 | 16:59 WIB Pemerintah Targetkan 60 Ribu Desa Siaga - 11 Jul 2006 | 16:54 WIB Barcelona Lebarkan Citra Di Asia - 11 Jul 2006 | 16:26 WIB Deco Tolak Pinangan Real Madrid - 11 Jul 2006 | 15:53 WIB Silat Lidah Ala Materazzi - 11 Jul 2006 | 15:16 WIB Pesta Pora Di Roma - 11 Jul 2006 | 14:41 WIB Penurunan BI Rate Tidak Bisa Cepat - 11 Jul 2006 | 14:14 WIB Pemerintah Buka Lintas Batas Timor Leste - 11 Jul 2006 | 12:40 WIB >
SIRA Presidium <[EMAIL PROTECTED]> wrote:BANDA ACEH-SIRAREFERENDUM. Aparat keamanan di berbagai kabupaten di Aceh memaksa masyarakat untuk
tetap beraktivitas dan membuka toko mereka tanpa terpengaruh dengan isu mogok yang diserukan oleh
elemen sipil. Aparat keamanan mendatangi satu persatu toko dan meminta pemiliknya untuk membuka,
11/7.
Aksi ini dilakukan terkait dengan seruan Kapolda NAD, Irjend Bahrumsyah Kasman yang meminta kepada
warga untuk menyahuti ajakan mogok kepada warga Aceh.
Aksi pemaksaan warga itu tak hanya terjadi di Banda Aceh melainkan juga di berbagai daerah tingkat
2 di Aceh, seperti Kabupaten Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur dan lain-lain.
Di Banda Aceh, sejak pagi kondisi terlihat sepi, mobil labi-labi jurusan kota tidak beroperasi.
Aktivitas di jalan raya sedikit lengang, sepi dari lalu lalang kendaraan umum, kecuali satu -dua
kendaraan pribadi.
Kondisi kontras justru terjadi di Kampus IAIN Ar Raniry dan Unsyiah. Aktivitas di kedua kampus ini
sepi dan aktivitas belajar lumpuh total. Hanya ada beberapa mahasiswa yang hadir, karena tidak
mengetahui adanya aksi mogok.
Berdasarkan pemantauan SIRA di daerah tingkat 2, sejak pagi warga enggan keluar rumah dan membuka
toko mereka karena adanya seruan untuk mogok. Warga hanya berjaga-jaga di depan toko mereka
sembari melihat kondisi di sekitarnya.
Di Sigli, sejak pagi aparat keamanan dari TNI/Polri yang berpakaian lengkap melakukan show of
force di Kota Sigli, aksi ini membuat masyarakat ketakutan.
Di lhok Nibang, Simpang Ulim, Aceh Timur aparat keamanan dari Koramil dan Polsek setempat
beroperasi di kota dan memaksa warga untuk membuka toko mereka.
Sementara di Idi, Batee Iliek, Pasee,Peurelak, GAyo Lues lumpuh total. Bener Meriah, aksi mogok
hanya berjalan 50%, di Tamiang 80%.
Kantor SIRA Tamiang Digrebek
Sementara itu, Kantor SIRA Konsulat Tamiang digrebek oleh Aparat Keamanan dari Polrer Persiapan
Tamiang. Dalam Aksi penggrebekan itu, polisi menangkap Samsul Bahri, Ketua Konsulat SIRA Tamiang,
yang kemarin sudah dibebaskan untuk dimintai keterangan. Bersama Samsul ikut dibawa juga 2 aktivis
SIRA lainnya yaitu Hanafiah. Seorang lagi staff SIRA yang belum diketahui namanya.
Informasi terakhir yang diperoleh dari Dawan Gayo, Juru Bicara SIRA, menyebutkan bahwa Samsul
Bahri sudah dibebaskan, sementara dua orang lainnya belum dibebaskan. Mereka masih diperiksa
secara intensif di Polres Persiapan Tamiang.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Open multiple messages at once with the all new Yahoo! Mail Beta.
Now you can scan emails quickly with a reading pane. Get the new Yahoo! Mail. __._,_.___
Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan ini)...
beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Salam perjuangan.
--------------
ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!!
**UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK:
kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED]
http://lantak.cjb.net
*PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Lantak" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
