Aksi Jenderal Di Luar Jalur Kisah di balik tumpukan senjata Brigadir Jenderal Koesmayadi, yang ditemukan di rumahnya dua pekan lalu, belum selesai. Diduga, ia menyalahgunakan posisinya sebagai Wakil Asisten Logistik Angkatan Darat. Siapa sebenarnya kelompok di belakang Koesmayadi? Mengapa
sekarang mereka dibersihkan? | Koleksi senjata Brigadir Jen-deral Koesmayadi rupanya me-nyeret banyak orang. Hingga akhir pekan lalu, Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI telah memeriksa 35 orang. Mereka berasal dari berbagai tingkatan, dari prajurit dua hingga kolonel. Umumnya mereka bawahan Koesmayadi di bagian lo-gistik Angkatan Darat. Turut diinterogasi pu-la, sopir dan pembantu sang jenderal. Senjata-senjata itu ditemukan di ru-mah sang perwira tinggi di Puri Marina, Ancol, Jakarta Utara, pada 26 Juni lalu, sehari setelah dia meninggal. Jumlahnya mencapai 145 pucuk, antara lain berupa 96 senjata laras panjang, senjata laras panjang tak beralur tujuh pucuk, dan 42 pucuk senjata laras pendek. Ada yang berjenis SS1, MP5, M16, dan AK 47. Ditemukan pula 28.985 butir amunisi dan sembilan granat tangan, serta 28 teropong. Nasib apes menimpa Kapten CPM A-hmad Irianto, menantu Koesma-yadi. Ia dijemput pada Senin
dua pekan lalu, persis pada hari pengambilan sen-jata dan amunisi di rumah sang mertua. Ahmad kini ditahan di markas Pasukan Khusus Pengawal Presiden (Paspampres) di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ahmad baru menikah dengan Diana Komalasari, putri pertama Koesmayadi, tiga pekan lalu. Sehari-hari sang me-nantu ini bertugas di Batalion Pe-nga-walan Paspampres. Batalion ini bertugas mengamankan Istana Negara, pe-ngibaran bendera Merah-Putih, jajar-an parade kehormatan dan mengawal setiap perjalanan kepala negara ke mana saja. Sejauh mana keterlibatan sang me-nantu dalam penumpukan 145 senjata dan amunisi itu masih terus diselidiki. Pe-tinggi Puspom TNI mengunci rapat hasil penyelidikan ini. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Djoko Santoso menuturkan bahwa Ahmad dijaga gu-na menghindari intervensi pihak lain yang bisa membuat kasus ini kian ru-nyam. Sumber Tempo di militer menuturkan, Ahmad ditahan karena diduga ikut memindahkan
senjata-senjata itu dari rumah dinas Koesmayadi di Kuningan, Jakarta Selatan, ke rumah pribadi di Ancol. Dari sana senjata-senjata itu akan dipindahkan lagi ke tempat lain. Sebelum rencana ini berjalan, ia keburu diangkut polisi militer. Namun sumber lain memastikan bahwa Ahmad Irianto cuma ketiban sial. Sebenarnya, sang menantu tak tahu asal-usul senjata-senjata itu. Sayang, Ahmad Irianto, juga petinggi Paspampres, tak bisa dimintai konfirmasi soal cerita ini. Saat Tempo datang ke markas Paspampres di Tanah Abang, Jumat pekan lalu, seorang petugas di sana memastikan pimpinan Paspampres tak bisa diwawancarai. Bagaimana dengan 34 saksi lainnya yang kini diperiksa? Peran mereka terus didalami, begitu penjelasan Puspom TNI. Apakah penyelidikan kasus ini menyentuh sejumlah bekas atasan Koesmayadi di Angkatan Darat, seperti Jenderal (Purn) Ryacudu, bekas Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), tergantung hasil pemeriksaan sejumlah saksi yang kini terus
diperiksa itu. Petinggi militer berjanji membuka kasus ini ke khayalak umum sesudah penyelidikan tuntas. Tentara Nasio-nal Indonesia tidak akan menutupi kasus ini. Siapa pun yang terlibat akan dipro-ses secara hukum, begitu bunyi s-iaran pers Markas Besar TNI, Jumat pekan s-ilam. l l l Sesudah dua pekan menggeger-kan publik, penyelidikan kasus Koesma-ya-di memang berjalan lamban. Masak, sudah beberapa hari penyelidikan yang diperiksa hanya menantu, sopir, dan pe-ngawal, kata Yuddy Chrisnandi, anggota Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat. Yang bertambah cuma jumlah senjata. Kini jumlahnya membengkak menjadi 180 pucuk. Sebanyak 32 pucuk senjata tambahan diserahkan Tedy, bekas anak buah Koesmayadi yang kini Asisten Intelijen Komando Daerah Militer Siliwangi, Jawa Barat. Menurut dia, senjata itu dititipkan Koesmayadi beberapa waktu lalu. Tiga pucuk lagi ditemukan di rumah Koesmayadi di Raffles Hills,
Cibubur. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar memastikan senjata Koesmayadi diperoleh lewat rekanan Angkatan Darat. Hanya asal-muasalnya masih gelap. Sejumlah sumber menuturkan, senjata-senjata dibeli di pasar gelap Singapura. Tapi sumber lain menyebutkan senjata-senjata itu didatangkan dari Israel. Adapun petinggi militer di Cilangkap cuma bilang, Sedang kami selidiki asal-usulnya. Menurut Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, ada kemungkinan senjata-senjata itu memang masuk lewat Si-ngapura. Singapura itu tempat transaksi senjata yang terang maupun gelap, katanya. Yuddy Chrisnandi pun membenar-kan dugaan itu. Dari informasi yang di-kumpulkan politisi Partai Golkar ini terungkap adanya aliran senjata da-ri negeri jiran itu sejak 2002 hingga 2005. Dalam kurun waktu itu, terjadi pengirim-an -24 kali senjata dari Nege-ri Singa ke Indonesia. Senjata-senjata itu masuk secara ilegal, katanya dalam sebuah diskusi di Dewan
Perwakilan Rakyat, Jumat pekan lalu. Kabar seram sempat beredar se-telah setumpuk senjata ditemukan di r-umah Koesmayadi. Ada yang menu-ding senjata-senjata itu digunakan untuk k-udeta. Tapi sejumlah bekas atasan dan sa-habat Koesmayadi membantah keras kemungkinan ini. Letjen Purn Yunus Yosfiah, bekas atasan Koesmayadi saat bertugas di Timor Timur, menuturkan, jumlah 180 pucuk itu terlalu sedikit untuk kudeta. Farid Prawiranegara, ka-wan Koesmayadi, menambahkan, Bukan kelas dia melakukan kudeta. Motif lain yang juga muncul di publik adalah kepentingan bisnis. Senjata-senjata itu diduga dijual ke daerah konflik atau jasa pengamanan para taipan. Sudah jadi rahasia umum kalau orang kaya di negeri dirubung pengawal bersenjata. Dugaan ini muncul sebab Koesmayadi dekat dengan sejumlah pengusaha, tapi Yunus Yosfiah juga menampik kemungkinan ini. Terlalu naif dan tidak sebanding dengan risikonya, katanya. Dari jenisnya, diperkirakan
harga satuan senjata yang ditemukan itu tiga hingga empat juta rupiah. Artinya, total transaksi untuk 145 senjata yang di-temukan di Ancol itu sekitar Rp 725 juta. Biasanya dari jumlah itu cuma se-persekian untuk jasa perantara. Komisi itu terlalu sedikit dibandingkan risi-konya, kata Yunus. Menteri Penerangan pada zaman Pre-siden B.J. Habibie ini haqul yakin bahwa senjata-senjata Koesmayadi se-ma-ta-mata untuk latihan. Betulkah? Penye-lidik militer masih terus mengusut. l l l Apa pun motifnya, Menteri Perta-hanan Juwono Sudarsono menegaskan, penumpukan senjata seperti yang dilakukan Koesmayadi merupakan pe-nyimpangan administrasi. Koesmayadi diduga bekerja di luar jalur. Saya kira setiap angkatan, seperti juga di peme-rintahan, ada tokoh-tokoh yang bekerja di luar jalur, kata Juwono. Pengadaan ala Koesmayadi- s-udah terjadi sejak 1950-an. Pada zaman Ali Moertopo dan Benny Moerdani juga terdapat jalur-jalur
khusus pengadaan senjata dari luar negeri. Soalnya, jika mengikuti prosedur tetap, prosesnya lambat. Menurut Juwono, cara mendapatkan senja-ta seperti ini di luar kendali pim-pin-an militer. Tak banyak perwira yang punya kemampuan dan suka bermain di jalur cepat bisnis senjata. Koesmayadi merupakan salah satunya. Saat tsunami meluluh-lantakkan Aceh, ia cepat mendulang bantuan militer dari negeri tetangga seperti Singapura dan sejumlah negara lainnya. Kalau melalui jalur formal pasti lambat. Menteri Juwono mengakui, menggunakan orang seperti Koesmayadi ini ada untungnya, juga ada ruginya. Untung karena prosesnya cepat, rugi karena bekerja di luar jalur. Kini sejumlah kalangan, ter-masuk Par-tai Golkar, mendesak petinggi militer mengusut serius kasus Koesmayadi. Kami melihat temuan itu sua-tu keti-dakwajaran dan merupakan pe-nyimpang-an yang harus diusut, kata Theo L. Sambuaga, pengurus Golkar yang men-dampingi Jusuf Kalla dalam temu war-tawan di
kantor Dewan Pim-pinan Pusat Partai Golkar di Jakarta, Jumat pekan lalu. Pengusutan hingga tuntas mungkin bisa mengungkap motif politik atau bisnis di balik tumpukan senjata itu. Wenseslaus Manggut, Dantom, Ramidi, Fanny Febiana
|
| | | | | | buatan Radja|endro | Majalah Tempo 20/XXXV/10 - 16 Juli 2006 | | | | |
| | |