Kamis, 20/7/06 12:42 WIB
Akankan MoU bernasib sama seperti CoHA?
Oleh : Adnan Daud*)
Ketika MoU di tandatangani pada tanggal 15-8-2005 di Helsinki Finlandia tahun lalu, seluruh masyarakat Aceh baik yang hidup Aceh dan di luar Aceh menyambut dengan gegap gempita, Setiap orang berharap perjanjian kali ini tidak bernasib sama apa yang telah terjadi pada CoHA (cessation of hostilities) yang di prakarsai oleh HDC (Henry Dunnant Center) yang bermarkas di Geneva pada tahun 2002.
Kita selalu mengenang CoHA sebagai suatu pengalaman dan pelajaran pahit akan sebuah prosses perdamaian yang gagal di bumi yang dijuluki serambi Mekkah, para ahli-ahli politik berusaha keras mencari akar permasalan, kenapa CoHA yang pada permulaan sangat menyakinkan, hanya bisa bertahan beberapa bulan saja.
Kegagalan HDC hendaknya jadi pelajaran bagi kita dalam mencari solusi-solusi untuk mengakhiri 30 tahun konflict Aceh, sehingga setiap prosess perdamaian kedepan akan ada hasil yang memuaskan kepada rakyat Aceh yang selama ini selalu saja berada di pihak yang jadi korban.
CMI dan AMM
CMI (Crisis Management Initiative) adalah sebuah lembaga yang berkedudukan di Finlandia dan dipimpin oleh mantan presiden Finlandia, Marti Ahtisaari. CMI yang punya aktivities dalam berbagai bidang seperti Conflict Prevention and Crisis Response, membawa harapan baru dalam mengakhiri konflict berdarah yang paling lama di Asia tenggara.
Keterlibatan AMM (Aceh Monitoring Mission) yang beranggotakan para pemantau dari Uni-Eropa dan Asean,dalam proses perdamaian kali ini di Aceh membawa angin segar, kita melihat AMM lebih punya kekuatan ketimbang HDC dan JCS pada zaman CoHA dulu.
Ini kali pertama EU kerjasama dengan Asean dan merupakan juga keterlibatan pertama mareka di luar Eropa, sehingga ada orang yang mengatakan bahwa UE tidak mau mendapat malu, itu artinya mareka akan sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas sebagai pemantau perdamaian (peace observer) di Aceh.
Dalam berbagai tugas yang diembankan EU di Eropa seperti dalam krisis Balkan. Mareka mencatat sukses besar, akankah kesuksesan itu akan terulang di Aceh?
Melihat akar permasalahan di Aceh yang begitu rumit dan sudah berumur hampir 3 decade, saya rasa tidak mudah bagi AMM untuk menuai sukses, seperti yang mareka raih di Eropa. Masalah di Aceh bukan masalah saparatisme saja tapi lebih sulit lagi, AMM harus tahu akar permasalahan kenapa ide pemisahan dengan Indonesia begitu kental di Aceh.
Akar permasalahan
Kebencian orang aceh kepada Pemerintah Indonesia sudah berlangsung lama, bahkan kebanyakan orang Aceh menganggap selama Indonesia mardeka semenjak itu orang-orang Aceh menderita, selama Aceh masih di bawah Indonesia, jangan berharap akan ada kedamaian di Aceh.
Kekejaman, penindasan, kezaliman, penyiksaan dan ketidakadilan yang di praktekan oleh pemerintah Indonesia di Aceh bertahun-tahun membuat masyarakat Aceh curiga dan pesimis, apapun yang datang dari Jakarta itu di anggap hanya demi kepentingan Pemerintah saja.
Selama bertahun-tahun Pemerintah Indonesia berusaha mengisolasi Aceh dari masyarakat internasional, ketidak jelasan tentang pelabuhan bebas Sabang suatu bukti nyata atas tindakan pemerintah yang tidak ingin melihat Aceh punya akses langsung ke dunia luar, sehingga apapun yang di butuhkan orang aceh harus melalui Medan (Sumatra Utara), sehingga jangan heran masyarakat internasional tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi di Aceh.
Pemerintah berusaha keras mengisolasi kembali rakyat Aceh ke dunia internasional, pemberlakuan syariat islam yang tidak kaffah dan penuh berbau politik, dan hanya diterapkan kepada rakyat kecil saja, itu hanya sandiwara pemerintah saja untuk mengucilkan dan membuat buruk imeg orang Aceh di mata internasional, sehingga orang luar akan berpikir dua kali untuk ke Aceh.
Permasalahan yang telah di warisi turun temurun,telah mengkristal dalam jati diri orang Aceh, di tambah lagi dengan prilaku para penguasa daerah yang pada hakekatnya perpenjangan tangan dari pemerintah pusat, lengkap sudah masalah yang di rasakan oleh orang Aceh.
Penutup
Mengingat permasalahan Aceh yang begitu rumit, kita merasa prihatin, apakah perdamaian akan abadi di Aceh?.
Keputusan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk tidak lagi menuntut kemerdekaan tapi di ganti dengan Self-goverment (walaupun sekarang kata itu sudah dikeranjang sampahkan) adalah suatu keputusan yang membuat sebahagian orang tidak percaya, langkah GAM itu sangat bertolak belakang dengan sikap pemerintah Indonesia,
Pemerintah Indonesia selalu saja mencari celah untuk menggagalkan perdamaian, iktikad baik (politicall will) mareka sangat kita ragukan. Pemaksaan kehendak kepada rakyat Aceh sangat kentara sekali, seperti ketika prosess pengesahan RUU PA menjadi UU PA.
Pengesahan UU PA yang tidak aspiratif tersebut di tentang habis oleh element sipil Aceh baik yang di Aceh maupun di luar negeri, walaupun mareka mengadakan aksi mogok dan membuat pernyataan sikap di berbagai media massa, namun pemerintah tidak perduli dan tetap saja memaksa kehendak mareka.
Ini tugas yang tidak ringan kepada AMM agar prosess perdamaian di Aceh tetap ada di rel yang benar, artinya setiap tindakan yang di ambil untuk Aceh harus sesuai apa yang telah di tetapkan dalam MoU. Ketegasan AMM sebagai penengah sangat diperlukan dalam berbagai keputusan yang di ambil.
Sukses perdamaian kali ini di Aceh sangat di tentukan oleh penengah dalam hal ini CMI dan AMM, kenetralan mareka dalam setiap keputusan yang di ambil, memain peranan penting akan kelanggengan perdamaian di Aceh, ketidak puasan rakyat Aceh yang sudah tertindas bertahun-tahun hanya akan menambah daftar kegagalan prosess perdamaian.*)Penulis adalah Adnan Daud ( Mahasiswa di NOEA Denmark Jurusan Computer Science) dapat di raih melalui [EMAIL PROTECTED]
Akankan MoU bernasib sama seperti CoHA?
Oleh : Adnan Daud*)
Ketika MoU di tandatangani pada tanggal 15-8-2005 di Helsinki Finlandia tahun lalu, seluruh masyarakat Aceh baik yang hidup Aceh dan di luar Aceh menyambut dengan gegap gempita, Setiap orang berharap perjanjian kali ini tidak bernasib sama apa yang telah terjadi pada CoHA (cessation of hostilities) yang di prakarsai oleh HDC (Henry Dunnant Center) yang bermarkas di Geneva pada tahun 2002.
Kita selalu mengenang CoHA sebagai suatu pengalaman dan pelajaran pahit akan sebuah prosses perdamaian yang gagal di bumi yang dijuluki serambi Mekkah, para ahli-ahli politik berusaha keras mencari akar permasalan, kenapa CoHA yang pada permulaan sangat menyakinkan, hanya bisa bertahan beberapa bulan saja.
Kegagalan HDC hendaknya jadi pelajaran bagi kita dalam mencari solusi-solusi untuk mengakhiri 30 tahun konflict Aceh, sehingga setiap prosess perdamaian kedepan akan ada hasil yang memuaskan kepada rakyat Aceh yang selama ini selalu saja berada di pihak yang jadi korban.
CMI dan AMM
CMI (Crisis Management Initiative) adalah sebuah lembaga yang berkedudukan di Finlandia dan dipimpin oleh mantan presiden Finlandia, Marti Ahtisaari. CMI yang punya aktivities dalam berbagai bidang seperti Conflict Prevention and Crisis Response, membawa harapan baru dalam mengakhiri konflict berdarah yang paling lama di Asia tenggara.
Keterlibatan AMM (Aceh Monitoring Mission) yang beranggotakan para pemantau dari Uni-Eropa dan Asean,dalam proses perdamaian kali ini di Aceh membawa angin segar, kita melihat AMM lebih punya kekuatan ketimbang HDC dan JCS pada zaman CoHA dulu.
Ini kali pertama EU kerjasama dengan Asean dan merupakan juga keterlibatan pertama mareka di luar Eropa, sehingga ada orang yang mengatakan bahwa UE tidak mau mendapat malu, itu artinya mareka akan sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas sebagai pemantau perdamaian (peace observer) di Aceh.
Dalam berbagai tugas yang diembankan EU di Eropa seperti dalam krisis Balkan. Mareka mencatat sukses besar, akankah kesuksesan itu akan terulang di Aceh?
Melihat akar permasalahan di Aceh yang begitu rumit dan sudah berumur hampir 3 decade, saya rasa tidak mudah bagi AMM untuk menuai sukses, seperti yang mareka raih di Eropa. Masalah di Aceh bukan masalah saparatisme saja tapi lebih sulit lagi, AMM harus tahu akar permasalahan kenapa ide pemisahan dengan Indonesia begitu kental di Aceh.
Akar permasalahan
Kebencian orang aceh kepada Pemerintah Indonesia sudah berlangsung lama, bahkan kebanyakan orang Aceh menganggap selama Indonesia mardeka semenjak itu orang-orang Aceh menderita, selama Aceh masih di bawah Indonesia, jangan berharap akan ada kedamaian di Aceh.
Kekejaman, penindasan, kezaliman, penyiksaan dan ketidakadilan yang di praktekan oleh pemerintah Indonesia di Aceh bertahun-tahun membuat masyarakat Aceh curiga dan pesimis, apapun yang datang dari Jakarta itu di anggap hanya demi kepentingan Pemerintah saja.
Selama bertahun-tahun Pemerintah Indonesia berusaha mengisolasi Aceh dari masyarakat internasional, ketidak jelasan tentang pelabuhan bebas Sabang suatu bukti nyata atas tindakan pemerintah yang tidak ingin melihat Aceh punya akses langsung ke dunia luar, sehingga apapun yang di butuhkan orang aceh harus melalui Medan (Sumatra Utara), sehingga jangan heran masyarakat internasional tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi di Aceh.
Pemerintah berusaha keras mengisolasi kembali rakyat Aceh ke dunia internasional, pemberlakuan syariat islam yang tidak kaffah dan penuh berbau politik, dan hanya diterapkan kepada rakyat kecil saja, itu hanya sandiwara pemerintah saja untuk mengucilkan dan membuat buruk imeg orang Aceh di mata internasional, sehingga orang luar akan berpikir dua kali untuk ke Aceh.
Permasalahan yang telah di warisi turun temurun,telah mengkristal dalam jati diri orang Aceh, di tambah lagi dengan prilaku para penguasa daerah yang pada hakekatnya perpenjangan tangan dari pemerintah pusat, lengkap sudah masalah yang di rasakan oleh orang Aceh.
Penutup
Mengingat permasalahan Aceh yang begitu rumit, kita merasa prihatin, apakah perdamaian akan abadi di Aceh?.
Keputusan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk tidak lagi menuntut kemerdekaan tapi di ganti dengan Self-goverment (walaupun sekarang kata itu sudah dikeranjang sampahkan) adalah suatu keputusan yang membuat sebahagian orang tidak percaya, langkah GAM itu sangat bertolak belakang dengan sikap pemerintah Indonesia,
Pemerintah Indonesia selalu saja mencari celah untuk menggagalkan perdamaian, iktikad baik (politicall will) mareka sangat kita ragukan. Pemaksaan kehendak kepada rakyat Aceh sangat kentara sekali, seperti ketika prosess pengesahan RUU PA menjadi UU PA.
Pengesahan UU PA yang tidak aspiratif tersebut di tentang habis oleh element sipil Aceh baik yang di Aceh maupun di luar negeri, walaupun mareka mengadakan aksi mogok dan membuat pernyataan sikap di berbagai media massa, namun pemerintah tidak perduli dan tetap saja memaksa kehendak mareka.
Ini tugas yang tidak ringan kepada AMM agar prosess perdamaian di Aceh tetap ada di rel yang benar, artinya setiap tindakan yang di ambil untuk Aceh harus sesuai apa yang telah di tetapkan dalam MoU. Ketegasan AMM sebagai penengah sangat diperlukan dalam berbagai keputusan yang di ambil.
Sukses perdamaian kali ini di Aceh sangat di tentukan oleh penengah dalam hal ini CMI dan AMM, kenetralan mareka dalam setiap keputusan yang di ambil, memain peranan penting akan kelanggengan perdamaian di Aceh, ketidak puasan rakyat Aceh yang sudah tertindas bertahun-tahun hanya akan menambah daftar kegagalan prosess perdamaian.*)Penulis adalah Adnan Daud ( Mahasiswa di NOEA Denmark Jurusan Computer Science) dapat di raih melalui [EMAIL PROTECTED]
sumber:
"Setiap ada kezaliman dan penindasan,
selalu ada orang yang melawan".
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1ยข/min. __._,_.___
Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan ini)...
beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Salam perjuangan.
--------------
ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!!
**UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK:
kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED]
http://lantak.cjb.net
*PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Dvd region free | Region free dvd | All regions dvd player |
| Regions mortgage | Region free dvd player | Region mortgage company |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Lantak" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
