Al-Hurr: mengapa kita melupakannya?

Cinta Rasul Oleh : Erros Jafar 15 Feb 2006 - 3:00 pm

imageSalah satu panglima perang bernama Al Hurr sadar & tobat serta bergabung ke kubu Imam Hussein, beliau mengajak panglima Umar bin Saad untuk juga ikut sadar bersamanya, namun nasihat nasihat baliau tidak didengar bahkan mereka semakin bertambah beringas untuk segera membunuh Imam Husein dan rombongannya

Hurr adalah nama salah seorang panglima tinggi tentera ‘Umar bin Sa’ad yang menghadapi cucu Nabi Saw, Husain bin ‘Alî, atas perintah dari Yazid bin Muawiyah untuk melaksanakan salah satu dari dua perintahnya, yaitu mendapatkan baiat (sumpah setia) Husain bagi kekhalifahannya yang korup, atau membunuh Husain dan semua sahabatnya. Adalah Hurr dan tenteranya yang mula-mula menghadapi Imam Husain, dan kemudian mengepungnya, serta menghalangi beliau dan para sahabatnya untuk mendapatkan air minum.

Pada hari ‘Asyura, Hurr membuat sebuah keputusan yang besar. Persis sebelum pertempuran dimulai, dia meninggalkan posisi dan pasukan yang sedang dipimpinnya, dan bergabung dengan Imam Husain. Dan menjadi syahid pertama yang terbunuh di jalan Allah oleh tentera yang beberapa jam sebelumnya masih berada di bawah komandannya. Nama Hurr bererti “merdeka, lahir sebagai orang merdeka, mulia, orang bebas.”


Takdir terkadang melakukan sebuah permainan. Pabrik penciptaan terus-menerus memproduksi makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya: batu-batu, pohon-pohon, sungai-sungai, serangga-serangga, manusia, dan terkadang memperlihatkan sebuah adegan humor, menciptakan sebuah inovasi atau kekecualian: ia menulis puisi, menggambar sebuah lukisan, atau melakukan sesuatu yang unik. Dalam satu kata, dapat dikatakan bahawa benda-benda ciptaan tersebut mempunyai “karakter”. Dari antara rumah-rumah, ada Ka’bah, dari antara semua tembok, ada Tembok Besar Cina; dari antara planet-planet yang mengelilingi matahari, ada bumi, dan dari semua syuhada, ada Hurr.

Tangan artistik takdir telah menyusun adegan ini dengan tingkat ketepatan dan ketelitian yang paling tinggi. Dan seolah-olah hendak menekankan pentingnya ceritera yang sedang terjadi, ia memilih semua pemain lakonnya dari pemain-pemain yang berkarakter absolut, alias mutlak, dengan tujuan untuk menjadikan ceritanya lebih efektif.

Cerita yang sedang kita bicarakan ini adalah tentang sebuah “pilihan”, sebuah manifestasi terpenting dari arti menjadi seorang manusia. Tetapi, pilihan macam apa? Kita semua dihadapkan pada beberapa pilihan dalam kehidupan kita sehari-hari: karier, teman, isteri, rumah, bidang studi. Tetapi dalam cerita ini, pilihannya jauh lebih sulit: antara baik dan buruk. Dan di samping itu, pilihan tersebut juga bukan dari sudut pandang filosofis, ilmiah, ataupun teologis. Sungguh, pilihan yang sedang kita bicarakan di sini adalah pilihan antara agama yang benar dan agama yang lancung, antara politik yang adil dan politik yang zalim, dengan nyawa sebagai harga yang harus dibayar untuk pilihan yang diambil.

Untuk menekankan lebih jauh sensitifnya situasi, pencipta lakon cerita ini tidak menempatkan sang pahlawan di tengah-tengah antara yang benar dan yang bathil. Alih-alih, si pahlawan adalah pemimpin dari pasukan tentera yang berdiri di pihak yang jahat. Di lain pihak, sutradara lakon ini harus mencari lambang-lambang bagi ceritanya untuk membuatnya efektif. Akankah dia menempatkan Prometheus di satu pihak dan beberapa setan di pihak yang lain? Tapi pemilihan tokoh-tokoh seperti ini akan menjadikan ceritanya terlalu berbau mitos. Bagaimana dengan Spartacus dan Crasius? Tidak, nama-nama ini akan membuat ceritanya bercorak nasionalistis dan memberikan kepadanya sifat bergantung pada kelas sosial. Bagaimana dengan Ibrahim dan Namrud? Mûsâ dan Fir’aun? Yesus dan Judas? Tidak juga. Sebab bagi kebanyakan orang nama-nama ini adalah tokoh-tokoh yang bersifat metafisik dan terlalu “tinggi”, jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Memasang mereka sebagai pemain utama akan mengurangi efek cerita, dan menjadikan orang mengagumi mereka, tapi tidak akan berpikir untuk mengikuti contuh teladan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, tujuan utama cerita ini adalah untuk mengajar, menunjukkan kemampuan manusia untuk berubah, untuk menunjukkan bahawa adalah mungkin bagi seorang awam, bahkan seorang yang berdosa, untuk memutuskan semua ikatan sosial, kekeluargaan dan kelasnya, dan memperlihatkan perubahan yang suci.

Sejarah Islam penuh dengan fenomena kontradiksi. Kedua garis pertentangan yang berawal dari Habil dan Qabil dan yang terus ada di sepanjang sejarah, secara berhadapan dalam berbagai wajah, juga terus berlanjut di dalam Islam. Nah, dalam cerita ini kedua aliran ini sama-sama mengenakan baju Islam, tapi dengan arah menghadap yang berlawanan. Ironisnya, pahlawan kita diharuskan memilih antara ujung-ujung yang paling ekstrim pada masing-masing pihak, iaitu: Yazid vs. Husain. Sungguh, seandainya cerita ini dikarang oleh seorang pengarang, niscaya dia akan segera boleh dikenali dan diakui kerana keaslian dan kualitas seninya...

Siapa nama pahlawan ini? Bagi seorang tokoh sejarah, apa yang penting adalah peranan yang dimainkannya, bukan namanya. Sebab namanya adalah sesuatu yang dipilihkan untuknya oleh keluarganya, sesuai dengan selera orangtuanya. Di lain pihak, jika cerita ini diciptakan oleh seorang pengarang yang memiliki originaliti, niscaya dia akan memilih sebuah nama yang relevan dengan peranan yang dimainkan oleh pahlawannya. Tetapi dalam cerita ini pahlawan kita telah diberi nama Hurr oleh ibunya, seolah-olah ibunya telah melihat peranan sangat peka yang akan dimainkan oleh anaknya nanti. Maka, ketika sang Pemimpin kemerdekaan memandangi tubuhnya yang berlumuran darah sesaat sebelum dia menghembuskan nafas yang terakhir, beliau mengatakan kepadanya: “Wahai Hurr, semoga Allah merahmatimu! Engkau adalah seorang yang merdeka di dunia ini dan juga di akhirat nanti, persis sebagaimana arti nama yang diberikan ibumu kepadamu!”

Meskipun Hurr telah memainkan peranan yang unik dalam sejarah, namun esensi peranannya tidaklah terbatas hanya pada dirinya saja. Makna tindakannya, dalam kenyataannya, mencakup semua manusia, malahan dapat dikatakan mendefinisikan “kemanusiaan”. Tindakannya itulah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya, yang menggaris-bawahi tanggung jawab manusia dan terhadap Tuhan, terhadap sesama manusianya dan terhadap dirinya sendiri. Dan Hurr telah memainkan peranannya tidak dengan kata-kata dan konsep-konsep, tetapi dengan cinta dan darah. Jika kita menangkap kedalaman kata-kata Imam Shâdiq bahawa “Setiap hari adalah hari ‘Asyura dan setiap tempat adalah Karbala, dan setiap bulan adalah bulan Muharram”, maka kita akan segera mengerti perluasan kata-kata ini, iaitu: “dan setiap orang adalah Hurr!”

Sejarah kita, yang berawal dari Habil dan Qabil, adalah manifestasi dari pertentangan abadi antara kubu Tuhan dan kubu Syaitan, meskipun dalam masing-masing zaman kedua kubu ini diselubungi samaran yang berbeda. Kerana itu, dalam setiap masa, setiap orang mendapati dirinya berada pada posisi yang sama dengan Hurr: sendirian, di tengah-tengah, ragu-ragu, di antara dua pasukan tentera yang sama. Di satu pihak, komandan tentera kejahatan berseru kepada pasukannya: “Wahai tentera Allah! Serbu!” dan di pihak lain, seorang Imam, dengan suara yang bergema sepanjang sejarah, bertanya - bukan memerintah - “Adakah orang yang mau membela aku?” Dan anda, orang itu, mesti memilih.

Dengan pilihan inilah Anda menjadi manusia. Sebelum menjatuhkan pilihan, Anda bukan apa-apa. Anda hanya suatu eksistensi tanpa esensi, anda berdiri di tengah-tengah. Jadi, orang yang mendapatkan eksistensi melalui kelahiran, menemukan “esensi” melalui pilihan. Dengan pilihan inilah penciptaan manusia menjadi sempurna, dan inilah tepatnya saat ketika manusia merasakan beban berat di pundaknya dan mendapati dirinya sendirian, kerana Tuhan dan alam telah membiarkannya berdiri sendiri dalam membuat keputusan yang penuh bahaya ini.

Sekarang kita boleh menilai pahlawan kita, kita boleh merasakan perjalanan panjang apa yang telah ditempuhnya dalam waktu singkat itu, perjalanan untuk mengubah dirinya dari seorang Hurr yang berdiri di pihak Yazid menjadi Hurr yang membela Husain. Jika dia tetap berada bersama tentera Yazid, maka dunianya akan terjamin. Dan jika dia bergabung dengan pasukan Husain yang jumlahnya kecil, maka kematiannya dapat dipastikan. Saat itu adalah pagi di hari ‘Asyura, dan meskipun pertempuran belum dimulai di lapangan, Hurr menyedari bahawa kesempatan baginya tidak akan lama. Waktu berjalan cepat, dan detik-detik yang berlalu sangat bererti. Badai telah mulai bergolak di dalam dirinya.

Sejak mula, Hurr telah berharap bahawa insiden-insiden yang telah terjadi tidak akan membawa kepada peperangan. Tapi sekarang perperangan tampaknya tak boleh dihindarkan lagi. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas untuk bertoleransi terhadap rasa malu dan kehinaan, kecuali mereka yang memang genius dan boleh mentoleransi kehinaan hingga pada tingkat yang tak terbatas. Tak pernah terlintas dalam benak Hurr bahawa menjadi “pegawai” dalam pemerintahan Yazid akan bererti harus berkomplot dalam tindakan-tindakan kriminalnya. Baginya, pekerjaannya hanyalah sumber penghidupan yang tak ada sangkut pautnya dengan politik ataupun agamanya.

Sekarang dia menyedari bahawa menyatukan kedudukannya dengan agamanya adalah hal yang mustahil. Maka, dengan putus asa dan sebagai langkah terakhir, dia lalu berbicara kepada komandan pasukannya (Umar bin Sa’ad) yang - sebagaimana dirinya - juga enggan terlibat dalam peperanangan dan hanya mahu menerima tugas yang diberikan kepadanya kerana dijanjikan akan diberi jabatan sebagai gabernor wilayah Ray dan Jurjan. Hurr berfikir, apa yang lebih baik dari pada mencapai sebuah solusi tanpa terlibat dalam penumpahan darah cucu Nabi dan keluarganya.

Baik Hurr maupun Umar bin Sa’ad ketika menempuh perjalanan dari istana Yazid ke Karbala bersama-sama, dan keduanya mempunyai status dan kedudukan sosial yang sama. Hurr bertanya kepada Umar: “Bolehkah kamu mencari jalan keluar dari situasi ini?”

Umar menjawab: “Engkau tahu bahawa seandainya wewenang berada di tanganku, pasti akan aku akan melakukan apa yang kau usulkan itu. Tapi atasanmu ‘Ubaidullah bin Ziyad tidak mau menerima penyelesaian damai!”

“Jadi, apakah engkau akan berperang dengan orang ini (Husain)?”

“Ya. Demi Tuhan, aku akan terjun ke dalam peperangan yang akibatnya yang paling ringan adalah terpenggalnya kepala-kepala dan terpotongnya tangan-tangan.”

Sekarang, nyata sudah bagi Hurr bahawa dia tidak boleh lagi bermain-main dengan agamanya. Maka kedua rakan itu pun lalu bersimpang jalan.

Bagi Hurr, tentera Yazid yang berjumlah puluhan ribu itu sekarang bukan apa-apa lagi, tak lebih dari sekumpulan wajah yang tak punya erti. Segerombolan besar manusia tanpa peribadi, sekelompok individu tanpa hati. Orang-orang yang berteriak-teriak penuh semangat, tanpa tahu mengapa mereka berteriak-teriak. Serdadu-serdadu yang bertempur tanpa tahu untuk siapa mereka berperanang. Sekarang Jesus-nya cinta dan kesedaran menyembuhkan orang yang buta dan menghidupkan kembali orang yang mati, menciptakan seorang syahid dari seorang pembunuh. Dalam sebuah perjalanan, tidaklah cukup menanyakan tujuan saja. Kita juga mesti bertanya tentang darimana berangkatnya. Dengan demikian, panjangnya perjalanan Husain menjadi jelas manakala kita menyedari dari mana dia mulai dan di mana dia berhenti, yang semuanya terjadi dalam waktu setengah hari.

Dalam hijrahnya dari Syaitan menuju ke Allah, Hurr tidak mempelajari filsafat ataupun teologi, tidak pula menghadiri kuliah atau pergi ke sekolah. Dalam kenyataannya “arah” inilah yang memberi erti kepada segala sesuatu: seni, ilmu pengetahuan, kesusasteraan, agama, doa-doa, ibadah haji, Muhammad, dan ‘Alî.

Setelah memulai perjalanannya, maka sambil mengendarai kudanya, maka dengan perlahan-lahan Hurr meninggalkan pasukan tenteranya menuju ke kelompok Husain. Muhajir bin Aus, yang melihat tingkah laku Hurr, yang tampak gelisah hebat dan cemas, bertanya kepadanya: “Apa yang terjadi dengan dirimu, Hurr? Aku bingung melihat tingkahmu. Demi Allah, jika aku ditanya siapa orang yang paling pemberani di kalangan pasukan kita, niscaya akan ku sebutkan namamu tanpa ragu-ragu lagi. Tapi, mengapa engkau begitu gelisah dan cemas?”

“Aku mendapati diriku berada di antara Neraka dan Syurga, dan aku harus memilih di antara keduanya. Demi Allah, aku tidak akan memilih selain Syurga, meskipun tubuhku akan dipotong-potong atau dibakar menjadi abu.”

Penciptaan Hurr-pun disempurnakan dan api keraguan telah membawanya kepada kebenaran yang pasti. Dengan perlahan-lahan dia menghampiri kubu Husain. Dan setelah dekat dia lalu menggantungkan kedua sepatunya di lehernya dan merendahkan perisainya (sebagai tanda penyesalan).

“Akulah orang yang telah menutup jalanmu, wahai Husain,” katanya. Dan dia menolak ajakan Husain untuk beristirahat sejenak. Dia sudah tak sabar lagi.

“Apakah ada taubat bagiku?” tanyanya. Dan dia tidak dapat menunggu jawaban atas pertanyaannya itu. Dia langsung maju ke depan dan menyerang pasukan Umar dengan kata-kata yang paling pahit dan pedas, untuk menunjukkan kepada bekas tentera dan komandannya bahawa dia bukan lagi seorang budak, melainkan seorang merdeka, seorang “Hurr”.

Umar bin Sa’ad, bekas komandannya, menanggapinya dan menembakkan sebatang anak panah, seraya berseru: “Saksikanlah dan biarkanlah Amirul Mukminin tahu bahawa akulah orang pertama yang menembakkan panah kepada tentera Husain!”

Dan demikianlah pertempuran Karbala dimulai.....



"Mukarram Ibr." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>From:
>Date: Sat, 9 Nov 2002 12:12:56 +0700
>Assalamu' alaikum .....
>Kebiasaan di masyarakat kita, setiap menjelang Ramadhan dan hari Raya Idul
>Fitri, mereka pergi ziarah ke makam sanak saudara dan di sana mereka akan
>berdoa dan membaca Al qur'an bahkan kadang-kadang mereka membayar orang
>lain untuk membaca Al qur'an di makam.
>Ziarah ke makam, yang saya ketahui memang dianjurkan, anjuran di maksudkan
>untuk mengingatkan kita akan kematian.  Yang ingin saya tanyakan adakah
>hadits yang menerangkan mengenai hal-hal yang tersebut diatas.

Alhamdulillah,
Mengkhususkan ziarah kubur menjelang bulan ramadhan dan di hari raya Idul
Fitri termasuk di dalamnya membaca Al-Qur'an diatas kubur, adalah perbuatan bid'ah.

Untuk lebih jelasnya saya salinkan dari situs almanhaj.

KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN YANG BISA TERJADI PADA HARI RAYA

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Atsari
sumber
http://www.almanhaj.or.id

Ketahuilah wahai saudaraku muslim -semoga Allah memberi taufik kepadaku dan
kepadamu- sesungguhnya kebahagiaan yang ada pada hari-hari raya
kadang-kadang membuat manusia lupa atau sengaja melupakan perkara-perkara
agama mereka dan hukum-hukum yang ada dalam Islam. Sehingga engkau melihat
mereka banyak berbuat kemaksiatan dan kemungkaran-kemungkaran dalam keadaan
mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya !! Semua inilah
yang mendorongku untuk menambahkan pembahasan yang bermanfaat ini dalam
tulisanku, agar menjadi peringatan bagi kaum muslimin dari perkara yang
mereka lupakan dan mengingatkan mereka atas apa yang mereka telah lalai
darinya. Di antara kemungkaran itu adalah.

Keenam :
Mengkhususkan Ziarah Kubur Pada Hari Raya : Membagi-bagikan manisan
dan makanan di pekuburan, duduk di atas kuburan, bercampur baur antara pria
dan wanita, bergurau dan meratapi orang-orang yang telah meninggal, dan
kemungkaran-kemungkaran lainnya.[Lihat perincian yang lain tentang bid'ah
yang dilakukan di kuburan dalam kitab "Ahkamul Janaiz" 258-267 oleh Syaikh
kami Al-Albani Rahimahullah]

Ketujuh :
Boros Dalam Membelanjakan Harta Yang Tidak Ada Manfaatnya Dan
Tidak Ada Kebaikan Padanya.

Allah berfirman.

"Artinya : Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan" [Al-An'am : 141]

"Artinya : Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat boros itu adalah saudaranya syaitan"
[Al-Isra : 26-27]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak akan berpindah kedua kaki anak Adam pada hari kiamat dari
sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang ... dan hartanya dari mana ia perolah
dan ke mana ia infakkan" [8]

Kedelapan :
Kebanyakan Manusia Meninggalkan Shalat Berjama'ah Di Masjid
Tanpa Alasan Syar'i Atau Mengerjakan Shalat Ied Tetapi Tidak Shalat Lima
Waktu. Demi Allah, Sesungguhnya Ini Adalah Salah Satu Bencana Yang Amat
Besar.

Kesembilan :
Berdatangannya Sebagian Besar Orang-Orang Awam Ke Kuburan
Setelah Fajar Hari Raya ; Mereka meninggalkan shalat Ied, dirancukan dengan
bid'ah mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya. [Al-Madkhal 1/286 oleh
Ibnu Hajj, Al-Ibda hal.135 oleh Ali Mahfudh dan Sunnanul Iedain hal.39 oleh
Al-Syauqani]

Sebagian mereka meletakkan pada kuburan itu pelepah kurma dan
ranting-ranting pohon !!
Semua ini tidak ada asalnya dalam sunnah.
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action="">more&article_id=1178&bagian=0

Adapun membaca Al-Qur'an di atas kuburan merupakan perbuatan bid'ah yang
tidak berdasar sama sekali baik dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam maupun para sahabatnya. .

MEMBACA AL-QUR'AN DI ATAS KUBURAN ORANG YANG TELAH MENINGGAL, MENDOAKANNYA,
MELAKUKAN PUASA, SHALAT DAN HAJI UNTUKNYA.

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
sumber
http://www.almanhaj.or.id

Membaca Al-Qur'an di atas kuburan merupakan perbuatan bid'ah yang tidak
berdasar sama sekali baik dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
maupun para sahabatnya Radhiyallahu 'anhum. Maka tidak selayaknya bagi kita
untuk mengada-ngadakannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dalam suatu riwayat menyebutkan.

"Artinya : Setiap yang diada-adakan adalah bid'ah dan setiap bid'ah
merupakan kesesatan" [1]

An-Nasa'i menambahkan.

"Artinya : Dan setiap kesesatan berada dalam neraka"[2]

Maka merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk mengikuti para sahabat
terdahulu dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, sehingga
mendapatkan petunjuk dan kebaikan, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam.

"Artinya : Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam"[3]

Mendoakan mayat di kuburnya tidak mengapa semisal berdiri di samping kubur
dan mendoakan ahli kubur dengan doa yang mudah baginya, seperti.

"Artinya : Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, Ya Allah, jagalah dia
dari api neraka. Ya Allah, masukanlah dia dalam surga, Ya Allah, berilah
kelapangan baginya di kuburnya"

Dan doa-doa sejenisnya.

Adapun seoorang berdoa di atas kuburan untuk mendoakan dirinya sendiri, maka
perbuatan ini termasuk bid'ah, karena suatu tempat tidak boleh dikhususkan
untuk berdo'a kecuali beberapa tempat yang telah disebutkan oleh nash.

Apabila tidak ada nash dan sunnah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
maka mengkhususkan suatu tempat di mana pun juga untuk berdo'a bila tidak
ada nash yang membolehkannya maka perbuatan tersebut termasuk bid'ah".

Mengenai puasa untuk orang yang meninggal, shalat untuknya, membaca
Al-Qur'an baginya dan sejenisnya, sesungguhnya ada empat macam ibadah yang
manfaatnya bisa sampai kepada orang yang telah meninggal, menurut ijma'
ulama, yaitu : Do'a, kewajiban yang bisa diwakilkan, sedekah dan membebaskan
budak.

Adapun selain empat hal tersebut di atas, para ulama berbeda pendapat
mengenainya. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa amal shalih yang
dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal tidak bisa bermanfaat baginya
selain empat hal tersebut. Namun yang benar adalah bahwa setiap amal shalih
yang diperuntukkan bagi orang yang meninggal bisa bermanfaat baginya, jika
yang meninggal adalah orang mukmin. Akan tetapi kami tidak sependapat bahwa
menghadiahkan suatu ibadah kepada orang yang meninggal merupakan
perkara-perkata syar'i yang dituntun dari setiap orang. Justru kita katakan
bahwa jika seseorang menghadiahkan pahala dari suatu amalannya, atau
meniatkan bahwa pahala dari amalnya diperuntukkan bagi seorang mukmin yang
telah meninggal, maka hal tersebut bisa bermanfaat bagi orang yang diberi,
akan tetapi perbuatan itu tidak dituntutkan darinya atau tidak disunnahkan
baginya.

Dalil hal tersebut, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak
mengarahkan umatnya kepada perbuatan ini. Justru hadits shahih yang
diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menyebutkan.

"Artinya : Jika seseorang meninggal, maka amal perbuatannya terputus kecuali
dari tiga perkara ; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih
yang mendo'akannya"[4]

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyebutkan :

"Anak shalih yang mengerjakan amal untuknya atau mengerjakan ibadah puasa,
shalat atau yang lainnya untuknya". Ini mengisyaratkan bahwa seyogyanya
dilakukan dan disyariatkan adalah do'a untuk orang yang sudah meninggal,
bukan menghadiahkan suatu ibadah kepada mereka. Setiap orang di dunia ini
membutuhkan suatu amal shalih, maka hendaknya ia menjadikan amal shalihnya
untuk dirinya sendiri, dan memperbanyak do'a bagi orang yang telah
meninggal, karena yang demikian inilah yang baik dan merupakan cara para
Salafus Shalih Rahimahullah.

[Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin, Nur 'Alad Darbi, Juz I, I'dad Fayis Musa Abu
Syaikhah]

[Disalin dari kitab Bida'u An-Naasi Fii Al-Qur'ani edisi Indonesia
Penyimpangan Terhadap Al-Qur'an oleh Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz.
Penerbit Darul Haq]
_________
Foote Note
[1].Diriwayatkan oleh Muslim no 867, dalam kitab Jum'ah Bab "Memendekan
Shalat dan Khutbah
[2].Potongan hadits yang diriwayatkan An-Nasa'i no. 1577, kitab Khutbah bab
Tatacara Khutbah dari hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu
[3].Diriwayatkan oleh Muslim no. 867, 43, dalam, Kitab Jum'ah, bab
Memendekan Shalat dan Khutbah
[4].Diriwayatkan oleh Muslim no. 1631, dalam kitab Washiyah, bab Pahala yang
Sampai Kepada Mayat Setelah Kematiannya
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action="">more&article_id=1651&bagian=0

Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu


Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.

__._,_.___

Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan ini)...
beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Salam perjuangan.
--------------
ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!!
**UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK:
kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED]
http://lantak.cjb.net
*PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED]





SPONSORED LINKS
Asia business Asia Region mortgage company
Regions mortgage inc Regions mortgage

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke