http://achehkarbala.blogspot.com/



Dulu ketika alqubra masih di Acheh - Sumatra pernah terjadi diskusi yang paling 
serius di Suatu arena training. Al Qubra bertugas untuk memberikan materi 
tentang Aqidah dan Ideology terpaksa melayani partisipan yang belum puas 
terhadap materi sebelumnya. Pasal apakah yang membuat mereka tidak puas?  Pasal 
merokok, haram atau makruf. Sebahagian mereka berpendapat haram sementara yang 
lainnya berpendapat makruh. Alqubra katakan bahwa persoalan tersebut takakan 
selesai dan kita terperangkap pada persoalan ranting dimana kita melupakan 
pokok dan akarnya persoalan. Akar persoalan kita sebagai Muslim adalah system. 
Secara ideology system terbagi kepada dua, system Allah/Kedaulatan Allah dan 
system Thaghut. Selama kita belum mampu melepaskan diri dari belenggu Taghut 
Hindunesia, selama itulah kita senantiasa bernmasalah dalam beragama. 

Sekarang di medan internet ini juga terperangkap dalam persoalan yang sama, 
mengapa?  Kenapa kita asik mempersoalkan halal - haramnya bunga bank sementara 
persoalan akarnya adalah system. Andaikata kita mampu keluar dari System Taghut 
Hindunesia yang korupt itu, kita tidak akan bengong seperti ini. Bagaimana 
mungkin kita berbicara haramnya bunga bank sementara system yang dianut tidak 
pernah menggunakan UUD Islam sebagai dasarnya berpijak. Dasar mereka berpijak 
adalah Pancasila UUD 45 dan KUHP (baca Kasih Uang Habis Perkara) Itulah 
sebabnya kita harus memerdekakan diri dulu dari system Tafhut Hindunesia. 
Apabila System Negara Sudah Islam barulah Bank Islam dapat direalisasikan. Bank 
Islam harus milik Negara bukan milik Pribadi. Sebab tidak ada proses cari 
untung disana tapi pelayanan Keuwangan kepada Rakyatnya secara Islami. Negara 
berdaya upaya setiap warga negara musti mencapai finansialnya. Kalau semua 
warga negara tercapai finansialnya barulah kita
 berbicara halal haram. Semoga tidak ada yang salah menafsirkan maksud al Qubra 
bahwa bunga bank tidak  haram. Tapi siapa yang terkena hukum haramnya? 

Kalau orang kaya menyimpankan uang di bank untuk memakan bunganya, jelas orang 
tersebut makan riba. Andaikata orang kaya tersebut termasuk orang yang beriman, 
bagaimana caranya apakah membiarkan saja bunga itu dimakan orang Bank 
sebagaimana orang kaya di Saudi Arabia mendeposito uangnya di Bank-bank Amerika 
dan Eropa. Sebagian mereka tidak mau mengambil bunganya takut berdosa. Lalu 
bunga tersebut dikirim orang yang berwenang di Bank-bank tersebut untuk membeli 
senjata bagi Israel dalam memerangi Muslim Palestina? Sedungu itukah orang kaya 
di Acheh - Sumatra, Pejabat dan Ilmuwan Hindunesia?  Andaikata pihak bank 
sendiri yang memakan bunga siapa yang bedosa? Apakah hanya pegawai bank saja?  
Sekali lagi inilah System. Semua yang bersatupadu dalam system tersebut bukan 
sekedar berdosa tapi sirna Aqidahnya. Kalau sekedar persoalan dosa masih dapat 
kita minta ampun alias bertobat sebab kita masih memiliki modal (baca orang 
yang benar Aqidahnya, masih utuh
 perangkat akarnya) tapi kalau Aqidah sirna, perangkat akar terjejas, 
terhempas, nerakalah tempatnya kelak (nauzubillahi min zalik) Ketika tentara 
dan polisi membunuh bangsa Acheh- Sumatra apakah hanya mereka saja yang masuk 
neraka kelak? Pastinya tidak Kedhaliman yang dibuat tentara dan polisi, pegawai 
bank dan seluruh lembaga negara lainnya semuanya kembali kesystem. (baca semua 
orang yang bersatupadu dalam system tersebut Neraka tempatnya kelak. Jadi apa 
gunanya kita bicara halal - haram kalau kita termasuk orang-orang yang 
bersatupadu dalam system taghut yang dhalim dan korup??? 
 
Andaikata pengusa Saudi Arabia dan para ilmuwannya mayoritas Muslim Pasti 
kerajaan Assaud itu berobah menjadi Republik Islam Saudi Arabia. Kalau mereka 
terpaksa juga mendepositokan uangnya di bank-bank Eropa dan Ameika, bunganya 
musti diambil untuk kaum dhuafa di Saudi Arabia Sendiri. Bunga tersebut haram 
buat orang kaya tapi tidak haram bagi orang miskin. dan dapat digunakan untuk 
membeli senjata bagi orang-orang yang sedang teranianya macam di Palestina. 
Tapi kalau ada orang kaya yang meminjamkan uangnya kepada masyarakat untuk 
konsumsi, bunganya itu tetap haram bagi orang kaya tersebut dan harampula bagi 
simiskin yang memakannya, kenapa? Sebabnya bunga tersebut hasil mendhalimi 
masyarakat biasa. Kalau ada pejabat Indonesia atau ilmuwan Hindunesia 
mengatakan orang Acheh makan riba, sesungguhnya mereka itu sama dungunya dengan 
orang kaya dalam system Saudi Arabiya yang secara tidak langsung telah 
mendhalimi Muslim Palestine. Mereka itu terkena pepatah:
 "Gajah dipelupuk mata tidak kelihatan tapi semut diseberang laut jelas 
kelihatan". 

 Kalau yang makan bunga bank itu orang kaya Acheh, jelas haram hukumnya tapi 
apa bedanya diantara ilmuan Hindunesia dan pejabat yang mengabdi kepada Taghut 
Pancasila dan orang kaya Acheh yang makan Riba?  Mereka secara pelan tapi pasti 
akan menuju Neraka juga(nauzubillahi min zalik)

Andaikata para Ilmuwan Hindunesia termasuk yang beriman bukan almunafiqun, 
pastinya berpatahbalik melawan majikannya bersama GAM sejak dulu. Mereka 
sepertinya masuk perangkap asyabiyah disamping menyembah taghut Pancasila. 
Andaikata mereka sadar posisinya, Acheh tidak akan berlarut-larut masuk ketiak 
Taghut Puncasilap. Jadi kesimpulannya pejabat dan Ilmuwan Hindunesia sama saja 
dengan orang kaya Acheh pemakan riba. Afala ta'qilun?

Billahi fi sabililhaq
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra

 



________________________________
Fra: husaini ismail <[email protected]>
Til: [email protected]
Sendt: Onsdag, august 19, 2009 4:02:09
Emne: Re: Bls: [IACSF] Rakyat ACEH makan uang haram !!! dimana syariat islam ???

  


Jelas kita malu (walau tidak ikut makan) sebagai rakyat Aceh "hamba laeh", Prov 
Ini masih dua muka di satu sisi kita promosi Syariah tetapi masih mencari 
sumber PAD dari Bunga (riba) salah contoh adalah yang dilakukan PEMKAB ACEH 
UTARA, bunga kurang tinggi di Aceh dipindahkan ke Bank di Jakarta.

--- Pada Rab, 19/8/09, kamal ahmad <kamal0...@yahoo. com> menulis:


>Dari: kamal ahmad <kamal0...@yahoo. com>
>Judul: Re: Bls: [IACSF] Rakyat ACEH makan uang haram !!! dimana syariat islam 
>???
>Kepada: ia...@yahoogroups. com
>Tanggal: Rabu, 19 Agustus, 2009, 12:01 AM
>
>
>  
>...
>malah ada di Aceh Utara pindahkan deposito tuk cari bunga lebih tinggi..
>...
>kamal
>
>
>--- On Tue, 8/18/09, muhammad dahlan <tang...@yahoo. com> wrote:
>
>
>>From: muhammad dahlan <tang...@yahoo. com>
>>Subject: Re: Bls: [IACSF] Rakyat ACEH makan uang haram !!! dimana syariat 
>>islam ???
>>To: ia...@yahoogroups. com
>>Date: Tuesday, August 18, 2009, 8:04 AM
>>
>>
>>  
>>Kalau memang kenyataannya demikian, ya Anwar Nas tidak salah. malah Anwar 
>>lebih mengetahui syariat Islam, sebab dia tahu bahwa makan riba itu haram. 
>>jadi pejabat Aceh dengan sengaja melakukan dan memakan harta haram, sementara 
>>dana tersebut adalah untuk dipergunakan pada kepentingan rakyat bukanuntuk 
>>kepentingan pejabat.
>>
>>Jadi kalau tidak bisa menggunakan anggara demi kepntingan pembangunan dan 
>>rakyat Aceh, lebih baik mundur saja dari pejabat. itu lebih baik lebih 
>>selamat baik bagi pribadi pejabat itu sendiri maupun bagi rakyat. Masih 
>>banyak yang lebih mampun dari pejabat yang hanya bisa nyimpan uang di bank. 
>>
>>Malee teuh watee ikheun le awak batak legeenyan keu peujabat Aceh, yang 
>>disinan lee profesor, PHD, DRH, DRS SH,Ir, SPD SPI SPAI dan SPP, S1234567 dan 
>>S0
>>
>>--- On Tue, 18/8/09, apa syam syam <hawateuh_2006@ yahoo.co. id> wrote:
>>
>>
>>>From: apa syam syam <hawateuh_2006@ yahoo.co. id>
>>>Subject: Bls: [IACSF] Rakyat ACEH makan uang haram !!! dimana syariat islam 
>>>???
>>>To: ia...@yahoogroups. com
>>>Received: Tuesday, 18 August, 2009, 7:07 AM
>>>
>>>
>>>  
>>>jak peu salah anwar nasutionnyan hana menyelesaikan masalah. pu jih meuphom 
>>>syari'at Islam (SI) atawa hana, nyan ken masalah. yang jelas masalah 
>>>anggaran Aceh yg le nyan pakiban cara peu makmu rakyat? nyo dari thon kethon 
>>>yang kaya chit pejabat, nyan jelas bertentangan ngan semangat SI di Aceh 
>>>tgk. ta beutoi awak dro teuh dileu, dan peubungong peng  (SBI) jelas saboh 
>>>kejahatan manakala rakyat perle modal, infrastruktur brok.
>>>
>>>
>>>
>>>
________________________________
Dari: jems abang <abangjems74@ gmail.com>
>>>Kepada: ia...@yahoogroups. com
>>>Terkirim: Selasa, 18 Agustus, 2009 00:56:02
>>>Judul: Re: [IACSF] Rakyat ACEH makan uang haram !!! dimana syariat islam ???
>>>
>>>  
>>>anwar nasution kan bukan orang aceh dan saya rasa dia ndak tau apa itu 
>>>syariat islam , jgn2 dia uch mau melemahkan atau mau mengadu dombakan sesama 
>>>aceh , seharusnya dia jgn berkata yg lantang dong di negri orang , jgn 
>>>mentang2 dia tu pejabat negara dan se enak nya berkata gtdi depan umum , dan 
>>>apalagi di depan para donatur dr mancanegara , itu adalah etika orang yg 
>>>tidak sopan dalam berbicara dan seharus nya dia tu menjaga kode etik daerah 
>>>tmapt dimana dia singgahi , apakah dia tidak pernah belajar cara sopan dalam 
>>>berbicara , jgn2 semua palsu .
>>>
>>>
>>>Pada 17 Agustus 2009 21:56, herry iwan <pang_a...@yahoo. com> menulis:
>>>
>>>  
>>>>BANDA ACEH - Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota lebih tertarik 
>>>>menempatkan uangnya di Bank Indonesia dalam bentuk Sertifikat Bank 
>>>>Indonesia (SBI) daripada mengalirkan untuk sektor yang produktif. Bunga 
>>>>hasil penempatan deposito di SBI kemudian dialirkan lagi ke daerah. 
>>>>Fenomena ini dinilai akan menghambat pembangunan di daerah, termasuk di 
>>>>Aceh. 
>>>>
>>>>Tidak mengherankan jika Kepala BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) RI Anwar 
>>>>Nasution mengatakan bahwa rakyat di Aceh selama ini memakan uang riba. 
>>>>“Aceh mendapatkan uang yang sangat besar, jauh lebih besar dari apa yang 
>>>>pernah dituntut pemberontakan di masa lalu seperti DI/TII, Permesta. Cuma, 
>>>>ternyata uang ini tidak dipakai dengan baik untuk meningkatkan kemakmuran 
>>>>di daerah. Uangnya justru dibungakan di SBI. Jangan ngomong doang Aceh ini 
>>>>Syariat Islam, ternyata makan riba,” katanya kepada sejumlah wartawan usai 
>>>>konferensi pers di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Minggu (16/8).
>>>>
>>>>Anwar Nasution hadir dalam konferensi pers bersama dengan lembaga pengaudit 
>>>>dari 8 negara, yaitu dari Australia, Belanda, Jepang, Korea, Prancis, 
>>>>Swedia, dan Uni Eropa, serta dari Arab Saudi yang diwakili oleh the Saudi 
>>>>Fund for Development. Selama berada di Aceh, lembaga ini memberikan 
>>>>pengalaman bagaimana mengaudit dana tsunami dan cara-cara meningkatkan 
>>>>transparansi dan akuntabilitas pemanfaatan dana bantuan bencana. 
>>>>
>>>>Para bupati/walikota se-Aceh atau utusannya, Gubernur Irwandi Yusuf, dan 
>>>>pejabat Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh (BKRA) dan mantan pejabat BRR 
>>>>tampak hadir mengikuti pertemuan yang sudah berlangsung sejak Sabtu lalu. 
>>>>Dijelaskan Anwar, provinsi yang paling kaya setelah Papua adalah Aceh. 
>>>>Namun, Aceh punya keunggulan lain yang tidak dimiliki Papua, yakni Sumber 
>>>>Daya Manusia (SDM). Begitupun, tidak semua kabupaten/kota di Aceh 
>>>>menggunakan SDM yang berkualitas. Sejalan dengan Otonomi Daerah, para 
>>>>bupati atau walikota cenderung menggunakan orang yang sedaerah dengannya. 
>>>>Inilah salah satu penyebab banyak daerah di Indonesia yang hasil audit 
>>>>BPK-nya tergolong Disclaimer. “Dengan adanya otonomi, pemerintah 
>>>>kabupaten/kota cenderung menggunakan orang daerah sendiri meski tidak 
>>>>berkualitas. Masalahnya, orang kampung sendiri itu bodoh-bodoh,” katanya. 
>>>>Begitupun, Anwar mengaku bangga dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian 
>>>>(WTP) yang diraih tiga
 kabupaten/kota di Aceh, yakni Banda Aceh, Aceh Tengah, dan Lhokseumawe.
>>>>
>>>>Kunjungi lokasi
>>>>Rangkaian acara BPK’s Advisory Board on Tsunami-Related Audit di Aceh 
>>>>dimulai sejak Sabtu (15/8) lalu. Para delegasi dari berbagai negara itu 
>>>>juga berkunjung langsung untuk melihat kemajuan rekonstruksi Aceh dan 
>>>>pengunaan dana dari masyarakat Internasional. Mereka, antara lain, 
>>>>berkunjung ke Museum Tsunami Aceh, Pelabuhan Ulee Lheue, dan Pasar Aceh. 
>>>>Sedangkan pada Minggu kemarin, mereka berdiskusi dan mendengar pemaparan 
>>>>pemerintah daerah dan BRR tentang akuntabilitas pengelolaan dan bantuan 
>>>>tsunami. 
>>>>
>>>>Delegasi Lembaga Pengaudit itu bersama BPK RI juga memaparkan pengalamannya 
>>>>bagaimana mengaudit dana-dana tsunami dari masyarakat Internasional. 
>>>>Mengingat pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh sudah selesai 
>>>>secara formal, direncanakan badan ini akan dibubarkan oleh Presiden Susilo 
>>>>Bambang Yudhoyono hari ini di Jakarta.(sak) 
>>>>
>>>
>>>________________________________
Berbagi video sambil chatting dengan teman di Messenger.
>>>Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru.  
>>________________________________
Find local businesses and services in your area with Yahoo!7 Local. Get 
started.  
> 

________________________________
Berselancar lebih cepat. 
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) 



      __________________________________________________
Dårlig plass? Få Yahoo! Mail med 250 MB gratis lagringsplass. 
http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke