Bolkiah itu juga tidak jauh berbeda dengan Syhah redha palevi Iran dulu dimana tualetpun terbuat dari emas. Itu baru tualet saja. Lalu bandingkan Bolkiah dengan Ahmadihejad, siapakah diantara keduanya yang beriman dan mengikuti teladan Rasulullah? Masihkah ada yang pikir itu Brunai darussalam negara Islam? Bukan nama saudaraku tapi substansinya yang jadi tolok ukur.
Ketika bantuan bolkiah untuk Acheh - Sumatra dipercayakan kepada Gusdur, Bolkiah diam seribu satu bahasa ketika gusdur melahabnya. Ketika ada yang protes seenaknya saja gusdur menjawab: "Itu saja kok repot". ________________________________ From: vande charba <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thursday, August 27, 2009 4:27:26 PM Subject: Re: [IACSF] 600 Naskah Aceh Kuno Tersimpan di Brunei Darussalam Sekali Cukur, Sultan Bolkiah Habiskan Rp 247 Juta Berita di bawah ini benar-benar membuat kita mual dan mau muntah terutama bila dibaca di ruangan pengap dan dalam keadaan lapar dan dahaga. Untuk urusan merapikan rambut, Sultan Brunei Hasanal Bolkiah dengan gampang merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah. Seperti dilansir The Sun, Sultan yang masuk jajaran orang terkaya di dunia itu mengundang tukang cukur favoritnya, Ken Modestu, yang membuka kios di Dorchester Hotel di Mayfair, pusat kota London. Tentu bagi orang sekaya Bolkiah jarak sama sekali bukan masalah. Menurut orang dekat Modestu, George Kadi, tukang cukur itu memang menjadi favorit raja berusia 62 tahun itu. “Ken sudah menangani rambut Sultan Bolkiah selama 16 tahun terakhir,” kata Kadi. Modestu dipanggil ke Brunei tiap 3-4 minggu sekali. Modestu pun dimanja dengan penerbangan kelas satu yang tiket pulang perginya seharga 9.000 poundsterling atau Rp 147 juta. Sampai di darat, Modestu tidak perlu bingung karena hotel dan segala keperluannya sudah disediakan. “Semua keperluan, termasuk hotel, transportasi, sampai makanan mewah, sudah disediakan. Semua tinggal tanda tangan. Itu saja,” kata Kadi kepada The Sun. Setelah selesai menunaikan tugasnya dan Sultan puas, Ken langsung menerima bayaran hingga ribuan poundsterling. ”Pokoknya setelah selesai mencukur, Sultan memberinya amplop tebal, tentu saja isinya uang,” kata Kadi. Wabah flu babi yang sudah menyerang Asia Tenggara membuat Sultan Bolkian lebih berhati-hati mendatangkan Modestu. Modestu pun dibelikan tiket kelas satu yang memungkinkan ia punya kabin sendiri sehingga tidak bercampur dengan penumpang lain. Untuk itu, Sultan Bolkiah dengan enteng mengeluarkan uang 11.000 poundsterling atau Rp 180 juta. ”Kalau ditotal, sultan bisa mengeluarkan uang 15.000 poundsterling (Rp 247 juta) hanya untuk sekali cukur. Padahal, di Inggris, Ken hanya mematok tarif 30 pound (sekitar Rp 490.000),” kata Kadi. (kompas) Pada 27 Agustus 2009 09:30, marzi afriko <ajie_africk@ yahoo.com> menulis: > >Temuan yang luar biasa. Jangan bawa, karena itu aset mereka. Penting kita >sepakati siapa yang akan lead ini? pengalaman yang sudah ada adalah kerjasama >KITLV dengan museum Aceh, dan itu sukses sekali dengan telah hadirnya situs >www.acehbooks. org yang terbuka untuk diakses oleh siapa saja melihat dan >membaca file elektroniknya. atau ada ide lain cara menghadirkannya di Aceh? >mari kita diskusikan.. . > > > > ________________________________ From: Teuku Mulya Johansyah <mulyajohansyah@ gmail.com> >To: iacsf <ia...@yahoogroups. com> >Sent: Wednesday, August 26, 2009 4:14:37 PM >Subject: [IACSF] 600 Naskah Aceh Kuno Tersimpan di Brunei Darussalam > > > >Quiz: Setujukan anda semua Naskah Kuno dibawa kembali ke Aceh?... Bagaimana >nasib naskah itu kalau sudah di Aceh?, makin baik atau akan apak dimakan >keurimue?... > >************ ********* > >600 Naskah Aceh Kuno Tersimpan di Brunei Darussalam >26 August 2009, 12:53 Nusantara Administrator >JAKARTA - Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar menyatakan tekadnya untuk >memboyong kembali sekitar 600 naskah kuno hasil karya ulama dan cendikiawan >Aceh masa lalu, yang saat ini tersimpan di Brunei Darussalam. Wagub menyatakan >tekad tersebut sebagai bagian dari usaha menyelamatkan dan melestarian sejarah >Aceh. > >Rencana pengembalian naskah kuno Aceh dari negara tetangga itu, diutarakan >Wagub Muhammad Nazar dalam pertemuan dengan kepala Museum Nasional Dra Retno, >SS,. M.Si di Gedung Museum nasional, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa >(25/8). Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Museum Negeri Aceh (MNA), Drs >Nurdin AR. > >Selain di Brunei, naskah Aceh juga tersebar di Malaysia dan sejumlah >perpustakaan dan arsip sejumlah negara Eropa. “Berbeda dengan Raja Melayu, >Kerajaan Aceh banyak menuliskan buku-buku, paling banyak soal hukum dan >kemiliteran,” ujar Nazar yang mengaku menaruh minat sangat besar dalam bidang >sejarah > dan kebudayaan. > >Disebutkan, nasakah kuno Aceh sebagai bagian dari karya sejarah Aceh harus >diselamatkan. “Selama ini kalau mau membvaca Aceh terpaksa kita harus >berkunjung ke museum dan arsip luar negeri,” katanya. Kepala Museun Aceh >Nurdin Ar mengaku prihatin dengan raibnya berbagai nasakah klasik Aceh dan >belakangan banyak ditemukan di Malaysia. “Saya pernah dihubungi oleh pihak >asing yang mencari naskah kuno Aceh. Tentu saja saya tolak,” kata Nurdin AR. >Kepala Museum Retno SS juga menyatakan keprihatinan serupa. Menurutnya harus >ada usah-usaha untuk menyelamatkan naskah-naskah penting tersebut. > >Menulis buku >Wagub juga menyampaikan pihaknya bersama sebuah tim sedang memulai melakukan >riset untuk menulis buku yang berisi tentang diaspora (penyebaran) Aceh pra >kolonial Belanda. “Karena itu kami ingin melihat silsilah raja dan negarawan >Aceh yang tersebar di Jawa. Kami ingin mendapatkan naskah itu dari Museum ini,” > ujar Nazar, seraya menyebutkan bahwa tim tersebut juga akan berangkat ke > Leiden Belanda, London dan lain-lain. > >Hanya saja, Kepala Museum Nasional Dra Retno mengatakan lembaga yang >dipimpinnya sama sekali tidak memiliki lagi naskah yang diharapkan. “Setelah >Museum berpisah dengan Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional, sebagian >besar dari naskah tersebut diboyong ke Perpustakaan dan Arsip. Di Museum tidak >punya lagi,” kata Retno sembari mempersilakan Wagub Nazar melakukan riset di >Perpustakaan dan Arsip.(fik) >
