http://achehkarbala.blogspot.com/


Andaikata PBB itu benar-benar berfungsi sebagai penengah untuk menyelesaikan 
sengketa manapun di belahan dunia ini, perang mungkin saja dapat dihinda. 
Realitanya PBB itu tidak konsekwen dengan apa yang tertulis dalam aturan 
mereka.  Justru itu perang sebagai solusi memang tepat sekali. Bagi kita Muslim 
perang itu adalah terbukanya pintu Syahid. Kalau perang tidak terjadi orang 
yang sudah ditakdirkan mati akan mati juga sementara orang yang ditakdirkan 
umur panjang tidak akan mati juga kendatipun orang tersebut bergelut dengan 
perang. Contohnya di Acheh - Sumatra dimana orang yang tidak terlibat dalam 
perang yang merasa "aman" tinggal di kota-kota, mereka mayoritas mati 
disebabkan musibah Tsunami. Allah berfirman: Katakanlah: "Sesungguhnya kematian 
yang kamu lari daripadanya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".(QS. 62 : 8)

Dewasa ini banyak orang yang mengaku diri sebagai orang Islam tapi mereka 
sangat benci terhadap perang. Mereka rela menjadi permainan penjajah daripada 
berperang. Mereka mengira mengira perang itu sama dengan kekerasan. Pastinya 
kita dilarang Allah sepakterjang yang emosionil dan bersifat kasar dalam 
menyelesaikan berbagai persoalan dalam hidup ini. Sebaliknya kita dianjurkan 
agar kita bersifat lemah lembut, kecuali ketika kita berhadapan dengan pihak 
yang dhalim (asyidda ala kuffar, ruhama bainahum). Muslim dituntut Allah 
berlembut bukan saja sesama mereka tapi juga dengan non Muslim kecuali terhadap 
kaum munafiqun dan kaum "harbi" yang sangat benci terhadap system yang Islami.

mMengapa  kebanyakan umat muslim alergi dengan perang  padahal Allah 
mewajibkannya? Hal ini mari kita telusuri mulai dari hukum wajib berpuasa dulu. 
Dalam surah Al Baqarah ayat 183, Allah berfirman”Hai orang-orang yang beriman, 
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum 
kamu agar kamu bertakwa”

Perintahnya diawali “kutiba alaikum . . . . . . .” artinya  ”diwajibkan atas 
kamu… ” Puasa adalah salah satu Rukun Islam, artinya sesorang bisa dianggap 
keluar dari Islam bila tidak mau menunaikannya dengan sengaja tanpa alasan. 
Kalau kita analisa ayat tersebut diatas lebih jauh lagi akibat yang ditimbulkan 
jika tidak berpuasa “tanpa uzur”, maka ia termasuk tidak beriman. Karena 
kewajiban puasa untuk orang beriman saja.

Sementara suarah Al Baqoroh ayat 216: ”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal 
berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, 
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, 
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui". 
Perintahnya diawali dengan “kutiba alaikum…” mengapa para Ulama, teungku, 
kiyai, ustand dan sebagainya tidak pernah membahas hal ini ? Itulah buktinya 
bahwa merka itu bukan ulama benaran tapi ulama palus alias Bal’am. Mereka 
menuhankan penguasa dhalim (baca Yazid-yazid modern alias  ”Fir’un”) yang tidak 
menghukum dengan hukum yang diturunkan Allah dala systemnya (QS, 5 : 44, 45, 
47). Bukankah ini namanya “Diskriminatif, Afa tukminuuna bi ba’dil kitabi 
watakfuruuna biba’d” (Mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lainnya) 
Inilah yang dimaksudkan islam yang tidak kaffah alias sudah dekaden.. 

Memang sungguh sulit sekali kita pahami ummat  yang ada sekarang ini, begitu 
alergi dengan peperangan, padahal Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci 
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” Apalagi alasan yang akan kita kemukakan 
dibalik semua alasan yang kita kemukakan, tersembunyi  kemunafiqan/penolakan 
atas ayat tersebut. ALLAH menjajikan untuk mereka (ulama, tokoh masyarakat, 
uatadz2, dsb termasuk kita ) yang menyembunyikan kebenaran ini : Al Baqoroh: 
159. ”Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan 
berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami 
menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan 
dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati”.

Billahi fi sabililhaq
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra




________________________________
Fra: Ismail Asso <[email protected]>
Til: [email protected]
Sendt: Lørdag, august 29, 2009 19:41:48
Emne: KOMUNITAS  PAPUA SOLUSI PAPUA ADALAH PERANG

  
PERANG ADALAH SOLUSI 
BAGI STAGNASI PERJUANGAN PAPUA
 
By : Ismail Asso*
 
Dalam pesan singkat (SMS) pada
saya Prof Dr. Sri Bintang Pamungkas : 

"Seringkali Revolusi pemikiran tidak ada artinya tanpa revolusi fisik.
Kalau Anda disini (Jakarta), datanglah {pada hari, IA) Jum'at didepan gedung
DPR RI/MPR RI, Jl Gatot Subroto pada Jum'at 14 Agustus 2009, Jam 14, sendiri
atau dengan kawan-kawan. Terimaksih. Salam Revolusi! SBP." (Sms, SBP,
terkirim: 19;32;04/11/ 08/2009).

Pesan ini jika diperhatikan sangat bersetuju dengan pandangan singkat Saudaraku,
Bung Hans Tapol (selanjutnya nama hanya singkat, HT). Jadi ini artinya disini
saya juga ingin mengatakan bahwa saya sangat setuju dengan pendapat Saudarku HT.
Karena revolusi pemikiran tanpa revolusi fisik sebagaimana terlihat dalam sms
singkat tokoh roformasi paling utama dan pertama era perintahan otoriter dan
sentralistik Soeharto yang berkuasa selam 32 tahun, itu sangat pas dan sejalan
dengan semangat Saudara HT. 
 
Dimana-mana bahwa memang benar terbukti
kalau saya hanya berteriak-teriak revolusi fidik atau perang sebagai solusi
bagi Papua, tanpa terjun kelapangan memimpin langsung rakyat untuk melakukan
revolusi sama artinya saya mengajak rakyat Papua "kekawasan
perburuan".

Tapi kalau tidak begitu nanti baiknya dan harusnya bagaimana lagi jalan terbaik
menurut Tuan HT? Yang adanya saja seperti ini, apakah nanti juga akan terus
begitu dan kembali jadi begini lagi? Manusia Papua terus
dilenyapkan/ dimusnahkan, tapi kitanya tidak merasa kalau itu prosesnya sedang
berlangsung pada diri kita. Tapi anehnya kita hanya diam, perjuangan damai,
perjuangan damai dan terus begitu akhirnya solusi dialog, rakyat Papua minta
dialog demikian mau ditipu orang-orang itu.
 
Lalu apakah kita membiarkan diri
saat anjing rabies mengigit terus dengan erangan tajam dengan gigi taringnya 
yang
tajam tapi juga berpenyakit? Dengan hanya dengan gigitan tentu kita habis
(punah, musnah) tanpa menggigit juga kita mati, apalagi dimakan tubuh dan
daging kita, dilawan atau tidak dilawan juga tetap kita mati karena rabiesnya.
Apa yang harus kita laukan, apakah kita cari obat ke Amerika atau ke Jakarta ? 
Hendak cari
jawab kemana solusinya? Menurut saya jawabannya ada pada diri kita, orang Papua
sendiri, kita maunya bagaimana menghadapai situasi seperti ini. 
 
Mohon maaf dalam beberapa bulan yang
lalu saya sempat ada di tanah jajahan RI itu. Saat itu aku ada di Jayapura.
Adalah kebiasaan saya setiap tahun atau setiap setengah tahun sekali sudah
menjadi keharusan bagi saya bahwa pasti saya sempat2kan diri pulang di
Tanah  tercinta Papua. Saat itu aku ketemu dengan teman aktivis Dorus Wakum 
didepan Plaza AB , saya tanya dia : 

"Orang Papua jarang terlihat disemua sudut kota ini, dibandingkan 5-10 tahun 
yang lalu dalam
lawatan saya masih banyak tersisa, kini semakin habis, sepi, mereka pada kemana
mereka perginya? Tapi saya sendiri tahu jawab. Saya katakana pada dua rekan
saya itu begini : Sejak Otsus tahun 1999, angka kematian orang Papua paling 
sangat
tertinggi disebabkan Minuman keras cap: “Khusus untuk di jual Papua”. Minuman
itu diproduksi untuk konsumsi dan dijual hanya diwilayah Papua. Minuman itu 
pabriknya
ada di Jawa Timur. Lalu penyebab kematian tertinggi kini lebih-lebih nanti bagi
etnis Pribumi Papua adalah penyakit HIV/AIDS. Penyakit ini telah akan banyak 
menyebabkan
kematian begitu banyak orang Papua, sejak Otsus di berlakukan dan deklarasi
tokoh Papua dan teolog,'Papua Zona Damai'.

Saya katakan pada Dorus Wakum dan Benny Elabi saat itu tanpa sadar saya sudah 
meneteskan
air-mata (sungguhn saya benar-benar menangis), saya sedih, ya saya menangisi
akan nasib manusia Papua tanpa mereka tahu apa salah dan dosa, tapi hanya
karena mereka semata-mata mempertahankan hak hidup mereka di negerinya, tapi
nasib tragis dihadapi mereka seperti halnya pembunuhan secara sistematis dan
terstructur, saya harus meratapi nasib malang orang Papua yang adalah juga
bagian dari diri saya itu.  
 
Saat ini saya menangis membuat
dua kawanku membakar bara api revolusi, semangat jihad mereka. Karena
barangkali mungkin secara adat saya sudah melakukan, sebagaimana biasa
dilakukan orang tua-tuaku di Lembah Baliem mau berperang harus menangis meratap
bersama untuk membangkit semangat kobaran apai keberanian para pasukan. Saya
jujur tapi tanpa sengaja dan saya rencanakan sebelumnya, begitu saja air mata
keluar menjumpai situasi seperti itu. 
 
Menambah rasa luka akan kesedihan
bahwa, banyak kehilangan sejumlah nyawa rakyat Papua, dan itu selalu saya amati
setiap kali saya pulang kampung bahwa benar ada pembunuhan dan penghilangan
atau pemusnahan etnis Papua yang disengaja lakukan oleh sebuah sistem secara
sistematis dan itu sepertinya direstui dilakukan orang oleh negara. Akibatnya,
tatkala terakhir aku kunjungi mengamati orang Papua nyata-nyatanya mulai
mengurang jumlah populasi pendduduknya. Gawat!

Anda bisa bayangkan bahwa dalam satu angkot didalam kota Ibukota Propinsi 
Jayapura misalnya
disejumlah tempat, dipinggir jalan, pemikiman-pemukiman orang Papuanya terlihat
sangat jarang, terus menghilang. Dalam angkutan mobil umum misalnya jurusan
AB-Perumnas I-II-III, atau AB-Kota Raja, pada saat jam kerja dari 10 penumpang
orang Papua dalam angkot itu, orang Papua asli hanya ada 3 orang penumpang,
selebihnya "amber". 
 
Ini artinya apa? Begitu banyak
penduduk Papua sudah mati dibunuh tanpa senjata. Melaui apa? Minuman keras,
uang Otsus trilyunan, WTS, suntik KB, menembak mati atau diculik biasa
dilakukan AD, Brimob terhadap anak-anak mahasiswa pegunungan di asrama Nayak
dan asrama-asrama lain milik pemda di AB.

Kalau dalam perjuangan ada violens dan nonviolens, maka pembunuhan juga terjadi
secara fisik dan non fisik. Secara fisik perlawanan dan penembakan lebih sering
dan secara kasuistik/sporadis misalnya di Daerah Serui dan Punjak Jaya beberapa
waktu kemarin lalu yang mengakibatkan kematian dan penyerangan aparat militer
dari aparat KEPOLISIAN RI, ke daerah wilayah yang mereka diduga sebagai kampong
tempat persembunyian tokoh OPM walaupun yang ditangkap hanya ibu-ibu dan
anak-anak usia belasan tahun saat pulang sekolah SMP. Demikian dibanyak tempat
terjadi diduga sebagai markas TPN/OPM, itu terjadi antara rakyat Papua dan
TPN/OPM berhadapan dengan TNI/POLRI. 

Secara non fisik pembunuhan secara halus melalui minuman, uang Otsus (sebab
banyak uang orang Papua biasa lari ke “Sentani
Kiri”, atau diskotek yang sangat ramai mendadak muncul disemua sudut kota
Jayapura dalam masa Otsus ini. Itu semua berarti bagi mereka jebakan pembunuhan
secara diam terhadap etnis Papua. Semua itu adalah ranjau-ranjau baru menjebak
orang Papua untuk dibunuh-habisi, karena dengan uang Otsus “paha putih” dapat
dibeli model apa saja, tapi tanpa tahu akibatnya kematian karena mengidapa
HIV/AIDS.

 Kalau kenyataannya begitu apakah kita tidak membela diri? Mau harap sama
siapa? Tuhan, Amerika, Belanda , Australia atau
pada Obama, Faleomavega atau pada siapa? Saya kira jawaban sederhana saya
adalah bahwa kita menolong diri sendiri adalah pertama lalu ada orang lain
perduli pada kita mau membantu. Kalau kita diam harap Tuhan dengan hanya
mengharap dan mengatakan Zona Damai, siapa mau peduli?

Konkritnya memang mengorganisasi, tapi secara revolusioneer adalah bergerak
dulu, artinya genderang perang lawan penjajahan dan penindasan sudah
dibunyikan, maka kebutahan dan indentifikasi masalah seperti krisis
kepemimpinan akan bisa lahir melalui revolusi fisik. Sebab secara antropologis
sitem raja hanya daerah Fak-Fak dan Raja Ampat, yang berarti menunggu perintah,
kalau mayoritas penduduk Papua memiliki pola kepemimpinan Kepala Suku, dalam
tradisi Papua adalah sistem insindental (kepala Suku/Ondoafi) , maka gederang
perang melawan penindasan adalah solusi sekaligus jalan menuju Papua Merdeka
memunculkan pemimpin Papua yang dirasakan kurang saat ini.

*Ismail
Asso adalah muslim Papua kelahiran Walesi Wamena Papua 

   


      

Kirim email ke