Erwin Arianto budaya kerja atau Work Culture dari Jepang itu kurang persis 
bentuknya seperti dipaparkan disini, kecuali hanya menggamparkan sifat kerjanya 
saja.

Budaya kerja Jepang mustinya menggambarkan struktur budaya Jepang itu sendiri, 
yang dibangun demi cinta bangsa dan demi Teno Heika.

Saya, sebagai anak Achèh telah lama mengamalkan budaya kerja Jepang ini, sebaik 
saja saya membacanya dalam Reader Digest Special Edition, malahan dalam 
membangun semangat belajar dulu. 

Walaupun begitu sudah memadai juga bagi saya dan patut mengucapkan juga terima 
kasih yang banyak-banyak atgas kirimannya.

 




________________________________
From: Erwin Arianto <[email protected]>
Sent: Wed, January 6, 2010 5:12:05 AM
Subject: [radio_prambors] Budaya Kerja

  
Seorang sahabat bertanya tentang apasih yang di maksud budaya kerja, dan 
bagaimana menciptakan budaya kerja yang efektif dalam seuatu lingkungan 
perusahaan. Budaya Kerja adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup 
sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang 
dibudayakan dalam suatu kelompok dan tercermin dalam sikap menjadi perilaku, 
cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja. 
(Sumber : Drs. Gering Supriyadi,MM dan Drs. Tri Guno, LLM )

Budaya kerja memiliki tujuan untuk mengubah sikap dan juga perilaku SDM yang 
ada agar dapat meningkatkan produktivitas kerja untuk menghadapi berbagai 
tantangan di masa yang akan datang.

Manfaat dari penerapan Budaya Kerja yang baik :
1. meningkatkan jiwa gotong royong
2. meningkatkan kebersamaan
3. saling terbuka satu sama lain
4. meningkatkan jiwa kekeluargaan
5. meningkatkan rasa kekeluargaan
6. membangun komunikasi yang lebih baik
7. meningkatkan produktivitas kerja
8. tanggap dengan perkembangan dunia luar, dll.

Dalam perusahaan yang saya jalani saat ini yang identik sebagai perusahan 
jepang terdapat namanya budaya kerja 5R/5S. 5R/5S dikenal sebagai salah satu 
budaya kerja dari negara Jepang yang sudah melegenda. 5R berasal dari 5 kata 
dalam bahasa Jepang, yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Kelima 
kata itu kemudian diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia untuk diadposi 
cara kerjanya dan digunakan sebagai salah satu budaya kerja di banyak 
perusahaan besar di dunia. Dalam bahasa Indonesia, 5S itu diterjemahkan sebagai 
5R, Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin. Banyak perusahaan sudah mengadopsi 
budaya kerja 5R ini. Secara tidak disadari, 5R akan membentuk suatu budaya 
kerja yang sangat bermanfaat. Bahkan 5R mampu digunakan sabagai salah satu 
tools untuk meningkatkan laba perusahaan. Bagaimanakah 5R tersebut dapat 
bekerja sebagai salah satu tools peningkatan laba perusahaan? Mari kita 
lihat.Seperti yang telah disebutkan diatas, 5R terdiri
 dari Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin. Kelima kata tersebut merupakan 
suatu rangkain urutan dalam membangun budaya kerja.

Budaya kerja di sebuah perusahaan tidak diciptakan oleh pemiliknya atau siapa 
pun di perusahaan itu. Munculnya budaya kerja merupakan hasil perpaduan dari 
semangat kerja semua invidu di perusahaan dengan dipengaruhi oleh semangat 
terbesar dan terkuat dari salah satu individu di perusahaan itu. Semangat 
terkuat itu pada umumnya merupakan semangat kerja pemilik atau pemimpin 
perusahaan. Semangat terkuat itu akan mempengaruhi dan menggerakkan semangat 
dari individu lainnya, lalu kemudian menyatukannya dalam satu irama kerja yang 
sama, maka terlahirlah budaya kerja.

Budaya kerja produktif di Indonesia, belum merata. Bekerja masih dianggap 
sebagai sesuatu yang rutin. Bahkan di sebagian karyawan, bisa jadi bekerja 
dianggap sebagai beban dan paksaan terutama bagi orang yang malas. Pemahaman 
karyawan tentang budaya kerja positif masih lemah. Budaya organisasi atau 
budaya perusahaan masih belum banyak dijumpai. Hal ini pulalah juga agaknya 
yang kurang mendukung terciptanya budaya produktif. Perusahaan belum 
mengganggap sikap produktif sebagai suatu sistem nilai. Seolah-olah karyawan 
tidak memiliki sistem nilai apa yang harus dipegang dan dilaksanakan. Karena 
itu tidak jarang prusahaan yang mengabaikan kesejahteraan karyawan termasuk 
upah minimunya. Ditambah dengan rata-rata pendidikan karyawan yang relatif 
masih rendah maka produktivitas pun rendah. Karena itu tidak heran 
produktivitas kerja di Indonesia termasuk terendah dibanding dengan 
negara-negara lain di Asia.

Hal demikian bisa dijelaskan lewat formula matematika sederhana. Produktivitas 
kerja merupakan rasio dari keluaran/output dengan inputnya. Bentuk output dapat 
berupa barang dan jasa. Sementara input berupa jumlah waktu kerja, kondisi mutu 
dan fisik karyawan, tingkat upah dan gaji, teknologi yang dipakai dsb. Jadi 
output yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh faktor input yang digunakan. 
Dengan demikian produktivitas kerja di Indonesia relatif rendah karena memang 
rendahnya faktor-faktor kualitas fisik, tingkat pendidikan, etos kerja, dan 
tingkat upah dari karyawan. Hal ini ditunjukkan pula oleh angka indeks 
pembangunan manusia di Indonesia (gizi, pendidikan, kesehatan) yang relatif 
lebih rendah dibanding di negara-negara tetangga.

Seharusnya faktor-faktor tersebut perlu dikuasai secara seimbang agar para 
karyawan mampu mencapai produktivitas yang standar. Pendidikan dan pelatihan 
perlu terus dikembangkan disamping penyediaan akses teknologi. Kompetensi 
(pengetahuan, sikap dan ketrampilan) karyawan menjadi tuntutan pasar kerja yang 
semakin mendesak. Dengan kata lain suasana proses pembelajaran plus dukungan 
kesejahteraan karyawan perlu terus dikembangkan.

Program kerja Outsourcing dan Pemberian UMR yang rendah di Indonesia juga 
menjadi penyebab buruknya budaya kerja Di Indonesia, oleh karena itu sebaiknya 
pemerintah meningkatkan Nilai Pekerja Indonesia dan Kesejahteraan Pekerja untuk 
mendapatkan budaya kerja yang baik.

============ =======
Untuk kenerja Pejabat yang baik mari dukung gerakan 2.000.000 Facebooker 
menolak fasilitas mewah Para Pejabat
http://www.facebook .com/group. php?gid=22815777 0845

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
------------ --------- --------- -------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY
------------ --------- --------- ----
Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita 
yang telah dilabuhkan sampai kebelakang tabir.

- Terus mengharapkan yang terbaik, maka kita akan menghasilkan yang terbaik.
- Jangan bersungut-sungut tetapi mengucap syukurlah  senantiasa.




      

Kirim email ke