Semoga tgk Irwandi paying attention terhadap tawaran tgk Tarmizi. Selebihnya 
saya bertanya tentang program JKA, apakah kelas III itu sama dengan kelas III 
rumah sakit Sigli yang pernah saya alami dimana lalat berpestapora di kamar dan 
wc pun kotor dan berbau luar biasa. Kala itu saya termasuk fasiklitas kelas II 
tapi saya hendak merasakan bagaimana penderitaan kaum dhuafa di kelas III. 
Ketika saya taksanggup mencium bau wc yang luar biasa, saya hubungi anak 
kampung saya yang bertugas di kelas II untuk mendapatkan wc hingga berhasil 
tapi petugas yang lain marah-marah kepada anak kampung saya itu. Andaikata saya 
kuat kala itu, akan kedengaran "gedegap" bogem saya bersarang pada petugas yang 
kurang ajar itu, he he.

Tgk Irwandi! Bagaimana kalau seluruh Rumah sakit di Acheh - Sumatra kita 
hilangkan saja istilah kelas. Secara ideology itu juga Trinitas, dimana kaum 
dhuafa kelas 3 yang fasilitas dan tempatnya jauh lebih rendah dibandingkan 
kelas 2 dan 1. Kalau kita tidak mampu berbuat secara Islami untuk 
meluluhlantakkan ide yang "basyari" itu, berarti setiap persoalan, kaum dhuafa 
senantiasa dirugikan. Semoga tgk Irwandi dapat menebus kesalahannya dengan 
memfokuskan pikiran pada menolong kaum dhuafa agar kaum mutakabbirun tidak 
berbuat semena-mena terhadap kaum dhuafa.

    Muhammad al Qubra
      (Acheh - Sumatra)




________________________________
From: Fadli Hasan <[email protected]>
To: Fadli Hasan <[email protected]>; [email protected]
Cc: [email protected]; Atjeh Lon Sajang <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; JUNISHAR 
Al <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; universityofwarwickofceulaka <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; Ali Al Asytar 
<[email protected]>; sisinga maharaja <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected];
 [email protected]; [email protected]; Yusra Habib Abd Gani Yusra 
Habib <[email protected]>; [email protected]; Niklin Jusuf 
<[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Sent: Mon, January 25, 2010 1:28:53 AM
Subject: KALAU MAS IRWANDI BEROBAT KE SINGAPURA SUDAH TENTU ALAT CANGGIH RSUZA 
JADI PAJANGAN


SAYA ADA IDE, BAGAIMANA?

24 Januari 2010, 14:51
Irwandi Yusuf:
Peralatan Canggih di RSUZA Jangan Jadi Pajangan
Utama 
 
Meninjau ruang perawatan
Dubes Jerman untuk Indonesia Norbert Baas (tiga dari kiri) bersama Gubernur 
Aceh Irwandi Yusuf (kanan), meninjau ruang perawatan bayi di Rumah Sakit Umum 
Zainoel Abidin (RSUZA), usai meresmikan penggunaan rumah sakit tersebut di  
Banda Aceh, Sabtu (23/1). Pembangunan RSUZA bantuan Pemerintah Jerman melalui 
Bank Pembangunan Jerman (KFW) dengan anggaran senilai Rp 418,5 miliar. 
SERAMBI/M ANSHARBANDA ACEH - Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf mengharapkan 
peralatan canggih yang dimiliki Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda 
Aceh, jangan sampai menjadi barang pajangan. Hal itu disampaikannya pada acara 
peresmian gedung baru RSUZA, bantuan KFW Depelopment Bank dan Pemerintah 
Jerman, Sabtu (23/1). 

Ditambahkan Irwandi, RSUZA saat ini merupakan salah satu rumah sakit tercanggih 
di Indonesia. Sebab, fasilitas yang dimilikinya tidak kalah saing dengan rumah 
sakit terkenal yang ada di pulau Penang dan Singapura. Namun yang menjadi 
pertanyaan, tambah Irwandi, apakah tenaga ahli yang ada di rumah sakit tersebut 
sudah mampu menggunakan alat canggih tersebut. 

“Kita harapkan peralatan canggih itu tidak hanya dijadikan etalase (pajangan), 
tapi harus benar-benar dimanfaatkan untuk memberikan pelayanan kesehatan 
terbaik kepada masyarakat Aceh,” kata Irwandi Yusuf. Dalam kegiatan yang juga 
dihadiri Duta Besar Republik Federasi Jerman untuk Indonesia, HE Norbert Baas, 
serta unsur Muspiga Aceh itu, Irwandi juga mengatakan, bagunan kokoh, peralatan 
canggih dan tenaga medis yang cekatan, belum cukup menjadikan RSUZA sebagai 
rumah sakit terbaik. Namun yang paling utama, tambah Gubernur Aceh itu, 
bagaimana cara memberikan pelayanan maksimal kepada pasien bisa ditingkatkan 
lagi. 

“Nanti jangan sampai saya dengar lagi ada pasien yang ditelantarkan. Sebab 
pasien harus diperlakukan secara manusiawi, tanpa membedakan antara pasien 
askes atau bukan,” tegasnya. Ironisnya, sejak beberapa tahun belakangan ini, 
setiap tahun ribuan masyarakat Aceh berobat ke ke Malaysia dan Singapura. 
Menurutnya ini membuktikan pelayanan yang diberikan di luar negeri lebih 
memuaskan. 

Dengan melihat perkembangan RSUZA saat ini yang telah memiliki peralatan 
canggih, bukan tidak mungkin jumlah orang yang berobat ke luar negeri akan 
berkurang, jika RSUZA meningkatkan pelayan kepada masyarakat. Sehingga imej 
buruk terhadap RSUZA yang selama ini telah melekat pada masyarakat akan 
terhapus secara bertahap.

Dalam kesempatan itu, Irwandi juga menyinggung tentang pemberlakuan Jaminan 
Kesehatan Aceh (JKA). Dimana pada tahun 2010 ini pemerintah akan memplotkan 
anggaran untuk program tersebut sebesar Rp 425 miliar. “JKA itu akan 
diberlakukan kepada seluruh masyrakat Aceh, tanpa membedakan kaya dan miskin. 
Cuma yang memperoleh JKA itu hanya menerima fasilitas kelas III, jika mau lebih 
harus tanggung biaya sendiri,” jelas Irwandi.(tz) 


      _________________________________________________________
Alt i ett. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og
notisblokk. http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke