----- Forwarded Message ---- From: omar puteh <[email protected]> To: [email protected] Sent: Mon, March 1, 2010 1:34:14 PM Subject: Re: |IACSF| wwc dan rapat harus pake bhs jawa Omar Putéh menulis: Masalahnya begini: Setelah pertemuan empat mata pada 11 Maret, 1966 antara Soekarno, Lurah Semar I dengan Suharto, Lurah Super Semar maka Suharto Lurah Super Semar pun memerintahkan Jenderal Murtono, Menteri Transmigrasi dan Tenaga Kerjanya agar dilaksanakan Revolusi Penjawanisasi bangsa-bangsa Melayu Nusantara lewat kementeriannya pakai means Pancasila. Dan jika Revolusi Penjawanisasi itu selesai, maka Nusantara ini akan mudah diatur dan Dasar Negara Pancasila, akan tidak diperlukan lagi, demikianlah penanggapan yang telah disimpulkan oleh Majalah The Economic, London ditahun 1968 atas tujuan "Gernocida" Revolusi Yang Belum Selesai Soekarno, keatas bangsa-bangsa Melayu Nusantara, yang telah ditelanjangi kembali oleh Tuan Luth Arie Lingge anak jati Achèh dari dataran tinggi Gayo, dengan menggunakan bahasa Melayu Asli, yang kelat dan mencekak! Suharto Lurah Super Semar, telah berhasil diyakini oleh Soekarno, Lurah Semar I, dengan gerakan Genocida Kebudayaan atau Cultural Revolution, yang sepatutnya dilakukannya sendiri, sebaik saja dia berhasil dengan Angkatan Ke V-nya lewat Gestapo Jawa 1965. Jenderal L.B. Murdani anak Sumbawa yang dibesarkan di Pulau Jawa ini, diperintahkan membantu Jenderal Murtono, dalam pelaksanaan lapangan, dengan mengarahkan agar seluruh tapak-tapak Transmigrasi diseluruh wilayah Nusantara, sebagai wilayah basis militer cq ABRI. Demikianlah lakaran Revolusi Yang Belum Selesai - Revolusi Penjawanisasi model Soekarno; Lurah Semar I dan Suharto, Lurah Super Semar terhadap bangsa-bangsa Melayu Nusantara, yang telah habis diobrak-abrik oleh Tuan Luth Arie Lingge dalam buku beliau: Sumatra Menggugat. Masalah bahasa Jawa yang coba mencabik-cabik bahasa Melayu-Indonesia dan kemudian menampal kembali dengan bahasa Jawa, telah mengundang protes keras oleh Dr Moekhtar Lubis, jurnalis kawakan, yang paling terkenal disemua kalangan itu, dengan mengatakan Jawa kini sedang menjajah bahasa Melayu-Indonesia pula. Saya sendiri dalam up-grading course dulu di Hotel Krueng Daroy, pernah menanyakan apakah itu kelobot jagung dan tongkol jagung dalam bahasa Indonesia, kepada instruktur dari pulau Jawa, yang kesemuanya para sarjana, tetapi mereka mengatakan tidak tahu! Tetapi ketika itupun saya terlupa menyurati Dr Moekhtar Lubis, apa-apa kata lain yang sudah dicabik dan sudah ditambal seperti kata-kata yang Melayu-Indonesia, yang sudah ditambal dengan tongkol dan kelobot. Jadi Vendra Charba, Bapak Dr Yusra Habib Abdul Gani dan Tengku Muhammad Dahlan Tangsé, yang sudah memberikan komentarnya, Soekarno, Lurah Semar I yang terselamat dan mendapatkan jasa perlindungan di alun-alun istana Jokyakarta, ketika Belanda hendak menangkapnya dan Suharto, Lurah Super Semar, sempat dengan relaxnya menyantapi bak mie, ketika Kolonel Latief kalang kabut dengan serangan NICA-Belanda, di Jokyakarta, menganggap Sultan Jokya dan Sultan Surakarta, kedua kesultanan yang dibangun sendiri oleh Penjajah Belanda, dibawah kuasa Jenderal Jacob Mosell, patut dikekalkan sebagai Raja Jawa, sebagai Raja Nusantara, setelah Raja-Raja Melayu Nusantara, dibabat habis semuanya, yang kini mulai dikampanye lagi sebagai coba bermain budaya politik, yang sangat berbahaya itu, yang bisa membangun sentimen ethnologis, yang kemudian akan meruwetkan Bapak Dr Yusra Abdul Gani meriset-nya, kalau sampai-sampai menjalar ke warung kopi Ulèe Karéng, Achèh Rajeuk, sebagaimana coba dibayangkan oleh Tengku Muhammad Dahlan Tangsé. Apa yang Vendra Charba eksposekan memang ada benarnya dan ini sepatutnya dianggap baik, agar seluruh "ethnis" di Nusantara, akan melatih pelet lidah anak-anak mereka dengan bahasa yang pernah digunakan sebelum kedatangan Penjajah Belanda, ini juga akan menjadi bunga rampai risetnya Bapak Dr Yusra Abdul Gani, yang memekar. Kemudiannya kita, setiap "ethnis" di Nusantara, akan menguasai jumlah penguasaan bahasa yang terunggul didunia. Tapi kita, di Achèh-pun sudah coba direncanakan oleh Gubernur/KDH Bapak Irwandy Yusuf untuk maksud melatih pelet lidah anak-anak di Achèh persis sama, seperti China dengan Mandarinnya, yang kini sudah menjalar ke Singapura dan Malaysia, tetapi Sabela Gayo SH Cs coba memberikan tanggapan yang tidak membangun, padahal tidakpun dilarang warga Achèh menyudutkan bahasa dari dataran tinggi Gayo dan persekitarannya dipelajari atau dilatih pelet lidah yang asli. Achèh punya type-nya sendiri dalam membangun bahasa-nya, tetapi pra-sangka/prejudic e dari beberapa kerat orang telah menciptakan suasana tidak jernih, seperti misalnya banyak diantara mereka ketika mengatakan Type Achèh dengan memelayukan dalam sebutan tipe achèh, menjadi tipu achèh: Tipèe=tipu; tipé=model, standard, class; kayèe=kayu, batèe=batu; geulungkèe=gelungku( ?)= kukuran! Bapak Dr Yusra Habib Abdul Gani senantiasa diingatkan oleh Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro LLD, agar kita selalu dalam kreteria-kerja goal: Type Achèh, Capacity Achèh, ketika beliau dan seorang rakan karibnya sebagai Juru Bicara Wali Negara. Achèh kiban? Njoë keuh dan meunankeuh ulôn tjuba bri djeunawueb batjut. Dan masalah Achèh Pungo dan Achèh Baro (Achèh Gila) tidaklah sampai ke tempat yang disebutkan oleh Bapak Dr Yusra Habib Abdul Gani dibawah ini, karena bagaimanapun nampaknya terlihat Achèh disana sebagai Achèh dengan yang tetap memperthankan tipenya: Type Achèh, Achèh lagèe njang neukeuhendak lé Éndatu! Betong ditanam betong yang tumbuh! sebagai menepik "Betong ditanam aur yang tumbuh- Ta pula beutông, bèk aõë, njang timoh"! Saya ada mendengarkan interview di sebuah siaran TV Eropah, dari salah seorang kepimpinan Sami Swedia, yang mewakili Sami Findlandia, Sami Swedia (sendiri) dan Sami Norwegia yang masalah tuntutan Sami sebagai Bangsa dan sebagai Negara (berdaulat), telah berada dalam file/agenda Mahkamah Eropah (European Unity Court) dan sedang menunggu keputusannya, bagaimana dengan Greenland? OK-lah dicukupkan disini dulu, biarkanlah saya tidak menguraikan habis semua point dibawah ini, kecuali kedalam sisipan, ditulisan lain. Omar Putéh Meunasah Reudeuep Achèh Rajeuk ________________________________ From: vande charba <vande.charba@ gmail.com> To: ia...@yahoogroups. com Sent: Mon, March 1, 2010 8:54:08 AM Subject: Re: |IACSF| wwc dan rapat harus pake bhs jawa Wali kota surakarta itu memberi contoh baik, agar bangsa-bangsa lain di nusantara (melayu raya) kembali mengembangkan bahasa mereka, dalam pemerintahan, dalam transaksi dagang, dan dalam ilmu pengetahuan. Bahasa memang karya agung manusia. Bahasa jawa karya agung bangsa jawa, mengapa mereka harus meninggalkannya? pilihan walikota itu sangat menakjubkan. . dia tak akan membiarkan britain memaksa bangsa jawa bertutur bangga dengan english dan meninggalkan karya agung bangsa jawa. Juga penggunaan bahasa melayu, tak harus mengorbankan bahasa bangsa-bangsa masing di perantauan ini. Aceh kiban ? Pada tanggal 01/03/10, Yusra Habib Abd Gani Yusra Habib <yusrahabib21@ hotmail.com> menulis: > > > > Mungkin sudah baca buku "self government", yang sudah beredar di pulau Jawa, > he he he dan langsung menerapkan, sebagaimana orang Greenland yang memakai > bahasa greenland dalam siaran TV lokal, bahkan dalam rapat resmi sidag > anggota Parlemen. Orang Jawa sudah menirunya. Mula2 ucapan selamat datang di > Airport, ditulis dalam bahasa Jawa, sekarang wawancara dlm bahasa Jawa. Aceh > pungo kiban? Ethnis Sami yang tinggal terisoler di perbatasan Sweden dan > Norwegia enggak mau bertutur bahasa Norg dan Svensk. Mereka tetap bertutur > dengan bahasa sendiri. Orang phariah Aceh pungo yang tinggal berdekatan > dengan orang Sami bisa belajar, bagaimana mereka mempertahankan > identitasnya. > > > > > To: ia...@yahoogroups. com; aceh_institute@ yahoogroups. com > From: mrmuri...@yahoo. com.sg > Date: Mon, 1 Mar 2010 11:05:46 +0800 > Subject: |IACSF| wwc dan rapat harus pake bhs jawa > > > > > > > > > > > > Susahnya Wawancara dengan Bahasa Jawa > Jum'at, 19 Februari 2010 | 13:33 WIB > > > TEMPO Interaktif, Surakarta -Hari ini, lidah para wartawan yang meliput di > kantor Walikota Surakarta mendadak kelu. Itu semua lantaran Walikota > Surakarta Joko Widodo mulai menerapkan aturan baru. Setiap hari Jumat, > seluruh pegawai negeri di lingkungan pemerintah kota Surakarta, wajib > berbahasa Jawa saat berkomunikasi satu sama lainnya. Aturan itu juga berlaku > bagi wartawan yang hendak mewawancarai Joko. Persoalan muncul ketika > sebagian besar wartawan ternyata tidak lancar berbahasa Jawa halus. > > Seperti yang terjadi ketika Joko meladeni kesempatan wawancara perdana > dengan bahasa Jawa, di sela-sela peresmian puskesmas pembantu II di > Joyotakan, Kecamatan Serengan, Jumat (19/2) pagi. Para wartawan sudah > berkumpul dan mengelilingi Joko. Namun tidak ada satupun yang berani memulai > wawancara. > > Sebab Joko sudah mewanti-wanti, bahwa pertanyaan yang diajukan dalam bahasa > Indonesia tidak akan dilayani. Bahkan ketika ada kata-kata yang salah atau > kurang pas, walikota yang juga pengusaha mebel ini tetap menolak menjawab. > “Kulo mboten ajeng njawab," (saya tidak akan menjawab),” tuturnya, kepada > wartawan. > > Alhasil, selama 15 menit pertama para wartawan sibuk mereka-reka kalimat > pertanyaan yang pas. Berulang kali pertanyaan tentang rencana pembatasan > menara pemancar telepon seluler disampaikan dalam bahasa Jawa. Namun semua > upaya itu tidak berhasil karena masih saja ada kata-kata yang salah. > Akhirnya, setelah dirasa sudah terlalu lama, Joko pun melunak. > > Dia lantas mengatakan bahwa sampai sekarang belum ada rencana pembatasan > menara pemancar telepon seluler. “Dereng wonten rencana amargi dereng wonten > payung hukum (belum ada rencana karena belum ada payung hukum),” jelasnya. > Tanpa payung hukum, lanjutnya, justru akan menuai persoalan baru. > > Salah seorang wartawan televisi lokal di Surakarta, Dimas Hendrato, mengaku > pusing dengan kebijakan baru tersebut. Sebab, dia harus menerjemahkan > pernyataan Joko dalam bahasa Indonesia. “Setelah itu, masih proses dubbing. > "Ini merepotkan,” tuturnya. Dia sendiri berencana meniadakan pernyataan > langsung sang Walikota dalam naskahnya. > > Sementara Bagus Aji mengatakan tidak keberatan dengan keharusan wawancara > berbahasa Jawa. “Karena saya lumayan lancar berbahasa Jawa,” jelas wartawan > senior sebuah media cetak tersebut. > > Joko menegaskan, ketentuan berbahasa Jawa tidak hanya saat wawancara. Namun > juga ketika memimpin rapat-rapat kedinasan. > > Wakil Walikota Surakarta Hadi Rudyatmo mengaku tidak khawatir jika nantinya > wartawan salah tulis karena salah mengartikan. Dia menyarankan hasil saduran > ke bahasa Indonesia disampaikan ulang ke narasumber agar tidak salah > persepsi. Lagipula, lanjutnya, tidak harus menggunakan bahasa Jawa halus. > “Jawa ngoko inggih pareng (Jawa kasar juga boleh),” terangnya. > > Dia menambahkan, kebijakan tersebut untuk menghidupkan kembali pemakaian > bahasa Jawa di masyarakat. Dia menyatakan setelah dilaksanakan perdana hari > ini, akan diterapkan seterusnya. > > UKKY PRIMARTANTYO > > > > > > New Email names for you! > Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. > Hurry before someone else does! > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ ________ > Hotmail: Trusted email with powerful SPAM protection. > https://signup. live.com/ signup.aspx? id=60969 ------------ --------- --------- ------ Opini, tanggapan, pernyataan dan lain sebagainya yang di posting di milist IACSF adalah tanggung jawab pribadi. Moderator akan mem-banned/mengelua rkan email siapa saja, yang tidak mematuhi beberapa ketentuan yang telah ditetapkan. Posting email :ia...@yahoogroups. com Berlangganan :IACSF-subscribe@ yahoogroups. com Berhenti berlangganan :IACSF-unsubscribe@ yahoogroups. com Saran dan kritikan : moderator_iacsf@ yahoo.com Moderator IACSF. Yahoo! Groups Links
