----- Forwarded Message ----
From: omar puteh <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, April 3, 2010 2:41:55 PM
Subject: Re: |IACSF| Jangan tolak PLTA Peusangan (sebuah tanggapan untuk
Arwinsyah AR)
Omar Putéh menulis:
Saudaraku Wanwinnur,
sebelumnya saya juga sudah menuliskan agar di Takengon segera dibangun Rumah
Sakit terbesar dan terbaik, bukan saja terbesar dan terbaik di Achèh, malahan
di Asia Tenggara, dengan usaha memintakan Rockefeller Foundation dari USA
membangunkan Hospital University kembarnya disana.
Bangunan itu aka kita bangun persis ditengah tengah Daut Laut Tawar yang cantik
itu, sehingga Danau Laut Tawar itu bukan saja cantik malahan akan menjadi manis
dengan bangunan itu, yang sekaligus akan menjadi Land Mark bagi Takengon.
Bangunan itu akan dibangun beberapa tingkat dibawah permukaan air danau dan
berganda tingkat arah kelangit, seperti bangunan yang mencuat dari dalam air,
persis seperti missile Rusia yang diluncurkan dari bawah lapisan salju tebal
dari pankalan bawah tanah, yang kemudian terbangun sebagai menara Takengon dan
sekaligus sebagai menara Achèh!
Bangunan itu, akan merupakan sebuah bangunan yang memberikan insprasi kepada
seluruh penggiat LSM di Achèh, bagaimana sebenarnya Menara Takengon dan Menara
Achèh dari bangunan Takengon Hospital University atau kalau tidak kita namakan
Achèh Hospital University menjadi sebuah bangunan yang sungguh
mesra alam, dimana akan menjadi "environmental mirror".
Karena baik yang beberapa tingkat dibawah permukaan air danau, yang setiap
tingkatnya dengan kaca tembus pandang dengan memilih kwalitas terbaik , akan
dapat melihat semua jenis ikan yang cantik dan menawan, termasuk ikan depik
yang sedang datang menghampir dengan berkerumunan. Dan bangunan tingkat yang
mengarah kelangit seluruh ventilasi cahaya yang akan memasukkan sinarnya
kedalam bangunan baik dimusim hujan dan juga dimusim hujan seperti dialam
terbuka, walaupun perlu dibantu dengan cahaya lampu untuk "mengusir" dengan
mesra bayang-bayang alam yang tidak perlu mendekam dalam bangunan mesra alam
itu.
Jembatan menuju dan keluar bangunan itu seperti jembatan adjustable di Sungai
Musi, tetapi dengan aplikasi tekhnologi terkini, sepeti tekhnologi penutup
bumbung stadion moden buka-tutup atau seperti tekhnologi yang digunakan pada
struktur roda pendaratan pesawat terbang.
Jembatan itu, adalah sebagaimana yang pernah dibayaangkkan oleh Dr Tengku Hasan
Muhammad di Tiro LLD, kepada Tengku Wan Nur Tjahaya atau nama mesra dalam alam
GAM, sebagai Abu Takengon. Dan Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro, telah juga
membayangkan bahwa, pembangunan Achèh akan dimulai dengan membangun Takengon,
sebagai pusat keuangan dan sebagai pusat pemerintahan, sebagai model yang
dilakukan Perancis, pembangunan dari gunung ke laut, tidak seperti Belanda dari
laut ke arah bukit.
Sudah tentu Takengon akan perlu membangun salah satu infrastruktur utamanya,
Pusat Tenaga Listrik Tenaga Air (PLTA), seperti yang juga telah dibayangkaan
oleh pakciknya saudaraku Wanwinnur: Pakcik Arwinsyah Abdul Rahim
Tetapi kita perlu seperti China membedung aliran air sungai yang mengakibatkan
permukaan air sungai Mekong di Thailand kering atau seperti Pakistan membendung
aliran sungainya sehingga sebahagian kawasan di Afganistan tenggelam, atau kita
tidak perlu membendung Kruëng Peusangan, tetapi air yang
ada di-"bendungan" Danau Laut Tawar itulah yang akan kita bangun Pusat Tenaga
Listrik Tenaga Air (PLTA) dan air yang sudah digunakan oleh pembangkit tenaga
listrik sistim arus bawah tanah, model yang pernah dibangun di Sungai Kelantan,
Malaysia, oleh sebuah konsortium United Kingdom, dibawah management anak mantan
PM Inggris: Margareth Tatcher, yang disana juga mengambil bahagian kontrak
kerja: Putra Achèh, asal dari Kruëng Raja, mantan Konsul Malaysia di Medan,
siapa adalah juga sebagai rakan bisnis dari Prof Sanusi Juned, juga putra Achèh
asal 'Lham Buk, kedua-duanya dari Achèh Rajeuk.
Dari Pusat Tenaga Listrik Tenaga Air (PLTA), Danau Laut Tawar inilah akan
menjadi pilot project pembangunan di Achèh umumnya.
Dan saya sudah juga pernah katakan kepada rakan dari dataran tinggi Gayo, yang
berjumpa di Rotterdam, mengharapkan kepada Gubernur/KDH Achèh cq Bappeda Achèh
agar membangun (terowongan) jalan bawah tanah lintas
Bireuen-Takengon-Bireuen, masing-masing tiga jalur sebagai lintasan futurologis.
Pelaksaan pembangunan ini sangat penting, sehingga jalan lintas Banda
Achèh-Medan-Banda Achèh disederhanakan dulu. Ini lebih penting dari seluruh
pembangunan penting di Achèh, karena pembangunan di Pusat Tenaga Listrik Tenaga
Air (PLTA), Takengon atau Achèh Hospital University kembaran dari Rockefeller
Hospital University USA dan jalan lintas bawah tanah masing-masing tiga jalur
Bireuen-Takengon-Bireuen yang futurologis itu, musti dibangun segera.
Saya mengingatkan kembali seperti yang saya katakan kepada rakan saya dari
dataran tinggi Gayo di Rotterdam itu bahwa pembangunan itu musti, karena
Pemerintah Pusat telah mengabaikan pembangunan Takengon selama 65
tahun Indonesia merdeka.
Pentingnya ini pembangunan itu agaknya seperti pentingnya Soekarno membangun
patung-patung di seluruh Jakarta dan Bogor, walaupun biaya patung-patung itu,
cukup untuk mengisi perut seluruh tukang becak dan gelandangan se-Jakarta dari
kelaparan puluhan tahun kedepan ketika itu.
Rima Gulam Pawoun kalau anda balik mengunjungi istri di Bireuen teruskanlah
ke Takengon jumpai saudaraku Wanwinnur atau "Dear Tengku Win", jika kebetulan
beliau itu libur dan lagi mengunjungi pantai asuahan nostalgia disana.
Omar Putéh,
Meunasah Reudeuep
Achèh Rajeuk
________________________________
From: Win Wan Nur <[email protected]>
To: IACSF <[email protected]>
Sent: Sat, April 3, 2010 6:38:14 AM
Subject: |IACSF| Jangan tolak PLTA Peusangan (sebuah tanggapan untuk Arwinsyah
AR)
Kemarin seorang teman di facebook men-tag saya sebuah tulisan yang mengkritisi
rencana pembangunan PLTA Peusangan http://serambinews. com/news/ view/27529/
plta-peusangan- merusak-alam yang ditulis oleh Arwinsyah Abdul Rahim
Penulis artikel ini sangat saya kenal dengan baik, karena penulis artikel ini
adalah Pak Cik (adik ibu) saya, yang juga sekaligus adik angkatan saya di UKM
PA Leuser Unsyiah.
Sudah lebih dari 5 tahun ini saya tidak pernah bertemu ataupun melakukan kontak
dengan penulis ini, sampai tiba-tiba artikel tentang PLTA Peusangan yang dia
tulis ini muncul, tapi orangnya masih tidak saya ketahui keberadaannya dimana.
Kalau saya bisa bertemu dengannya sebetulnya saya ingin menanyakan beberapa hal
mengenai argumen dalam tulisannya ini.
Petanyaan penting yang akan saya ajukan terhadap artikelnya yang dimuat oleh
Serambi ini adalah indrustri apa yang tidak merusak Alam?...Pertanyaan yang
sama diajukan oleh seseorang yang bernama Oryza Sativa ketika tulisan ini di
post oleh seseorang di facebook.
Pertanyaan ini perlu diajukan karena sekarang manusia sudah sangat bergantung
pada yang namanya industri. Meskipun banyak orang yang menuding industri adalah
sebuah bentuk keserakahan, tapi sebenarnya Industri sendiri adalah kebutuhan.
Tanpa industri, tanpa teknologi, tanpa merusak Alam, BUMI sudah tidak bisa lagi
menampung manusia dengan sejumlah yang ada sekarang ini.
Tanpa industri kita harus mengembalikan seleksi manusia kepada alam sehingga
kita harus benar-benar konsisten dengan HUKUM ALAM, artinya kita kembali
menjadi seperti makhluk-makhluk lain yang menganut Selection of the Fittest,
hanya yang terkuatlah yang berhak hidup.
Untuk itu filsafatnya Nietsche soal Ueber Man, Sikap dan Gaya pemerintahan
Hitler yang kejam tanpa kompromi harus secara luas kita adopsi.
Untuk menjadikan bumi asri tanpa harus merusak alam sama sekali, setidaknya 80%
manusia yang menghuni planet ini harus dihabisi.
Saat ini banyak LSM yang katanya pecinta lingkungan yang banyak mendapatkan
suntikan dana dari luar yang selalu demikian gencar mengkritisi dan berusaha
menghambat setiap keputusan yang sedikit saja mengganggu lingkungan. Alasan
mereka untuk memprotes jelas dikatakan karena didasari oleh alasan mencintai
alam dan menyelamatkan bumi. Tapi ide mereka itu seringkali lebih banyak untuk
menguntungkan kebijakan para pendonor LSM mereka tanpa sama sekali
mempertimbangkan kepentingan masyarakat lokal.
Contohnya sekarang, ada banyak LSM lingkungan yang memprotes rencana
pembangunan PLTA Peusangan secara berlebihan, alasannya selalu alasan klise,
merusak alam.
Salah satu model pendapat seperti itu adalah seperti yang ada dalam artikel
yang ditulis oleh Pak Cik ku ini yang terlihat sedemikian menggebu-gebu
menentang pembangunan PLTA ini.
Beberapa argumennya dalam artikel ini cukup bisa diterima, misalnya argumennya
soal akibat keberadaan PLTA ini akan ada banyak lahan yang harus dibebaskan.
Dan memang berdasarkan pengalaman yang ada, saat ada proyek pembebasan lahan,
akan kemudian diikuti oleh penebangan dan pengalih fungsi hutan di lingkungan
sekitarnya.
Tapi menurut saya, untuk mengatasi persoalan seperti ini, pengawasan peruntukan
lahan itulah yang harus dengan ketat dilakukan, bukan pembangunan PLTA-nya yang
dipermasalahkan.
Oke lah keberadaan PLTA ini kita akui agak sedikit merusak, tapi keberadaannya
jelas bisa mengatasi solusi Listrik di Gayo secara khusus dan di Aceh secara
umum. Karena faktanya Aceh memang kekurangan listrik dan keberadaan PLTA
Peusangan di daerah ini memang sangat dibutuhkan.
Ketersediaan pasokan listrik yang terjamin pada gilirannya akan memudahkan
pengembangan ekonomi Aceh yang akan mensejahterakan rakyat banyak. Jadi kalau
dihitung-hitung, saya pikir, keberadaan PLTA Peusangan ini masih lebih banyak
manfaat ketimbang mudharatnya.
Sementara argumen lain soal kemungkinan adanya skenario besar kapitalisme
asing, yang akan menggunakan energi yang dihasilkan oleh PLTA Peusangan sebagai
pemasok energi listrik untuk menggerakkan tambang-tambang itu adalah dugaan
yang terlalu spekulatif dan berlebihan.
Tapi bagaimanapun informasi dari Cik Win tentang adanya rencana pembangunan
pertambangan emas besar-besaran di wilayah Aceh ini wajib kita cermati dan kita
tentang, karena kalau industri ini memang lebih banyak mudharat ketimbang
manfaatnya bagi Aceh dan Gayo secara khusus.
Kemudian solusi dari Cik Win soal mengalihkan fokus penyediaan listrik dari
PLTA ke tenaga panas Bumi, saya pikir tidaklah semudah dan sesederhana yang dia
bayangkan. Karena untuk membuat sebuah pembangkit listrik panas bumi, tidaklah
bisa sim salabim langsung jadi.
Proses dari mulai risetnya, untuk meneliti uji kelayakan, dampak lingkungan dan
yang terpenting untuk mendapatkan pemodalnya, akan utuh waktu yang sangat lama.
Ada banyak proses birokrasi dan berbagai macam lobi dan berbagai konflik
kepentingan yang harus dilewati. Untuk bisa memproduksi listrik dari panas bumi
Burni Telong, kalau semuanya berjalan lancar, proyek itu baru bisa mulai bisa
berjalan paling cepat 20 tahun dari sekarang. Sementara segala urusan tentang
PLTA ini udah sampai pada tahap yang mendekati awal pengerjaan.
Desember 2008 yang lalu, saya pernah mengikuti sebuah seminar tentang listrik
tenaga panas bumi di hotel Oasis Banda Aceh. Di sana saya bertemu dengan orang
dari Chevron, pemilik pembangkit listrik panas bumi terbesar di negeri ini.
Dari dia saya mengetahui kalau untuk melakukan eksplorasi dan studi kelayakan
pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi itu diperlukan riset yang
panjang dan berbiaya sangat mahal.
Sebagai contoh, untuk membuat sebuah titik untuk menguji apakah panas bumi di
suatu daerah cukup layak dieksploitasi atau tidak, kita butuh setidaknya 3 juta
dollar. Dan untuk bisa mendapatkan titik eksplorasi yang layak digunakan untuk
pembangkit listrik, tidak cukup cuma melakukan dua tiga kali ujicoba.
Pertanyaannya, kalau kita ingin mengalihkan proyek PLTA Peusangan ini ke proyek
listrik panas bumi, dari mana kita mendapatkan dana awal sebanyak itu untuk
melakukan eksplorasi. Perusahaan mana yang akan kita ajak bekerja sama,
bagaimana cara kita melakukan lobinya?
Jadi menurut saya jangan lagilah kita banyak buat masalah yang membuat
pengerjaan PLTA Peusangan ini tidak jadi dilaksanakan.
Wassalam
Win Wan Nur
Keponakan Arwinsyah A.R
www.winwannur. blog.com
www.winwannur. blogspot. com