Perbaikan: 1. Kalau Danau Laut Tawar sudah manis, jangan ditukar pula dengan Danau Laut Manis, nanti diprotes awal-awal oleh LSM anti ubah alam sedia ada?
2. baik dimusim hujan dan juga dimusim hujan menjadi:.....baik dimusim hujan dan juga dimusim panas...... 3. Tetapi kita perlu seperti China menjadi: Tetapi Tidak seperti China atau Pakistan, yang tertinggal ketika. 4. Kalau nanti "orang berduit" sakit tidak perlu lagi ke Penang, Kuala Lumpur atau Singapura, lagipun jalan (terowongan) lintas bawah tanah Bireuen-Takengon-Bireuen yang futurologis itu lebih murah dan selamat dari pesawat terbang dan kost perawatan lagi relatip rendah. 5. Malahan yang sakit di Penang, Kuala Lumpur dan Singapura akan direklamekan datang dan dapatkan rawatan di Takengon, Achèh Tengah, Negera Dibawah Awan. ________________________________ From: omar puteh <[email protected]> To: lantak <[email protected]>; ppdi <[email protected]>; acsa <[email protected]>; fundamentalis Moderator <[email protected]>; | r i m a |gulam <[email protected]>; Win Wan Nur <[email protected]> Sent: Sat, April 3, 2010 2:43:39 PM Subject: [Lantak] Fw: |IACSF| Jangan tolak PLTA Peusangan (sebuah tanggapan untuk Arwinsyah AR) ----- Forwarded Message ---- From: omar puteh <om_pu...@yahoo. com> To: ia...@yahoogroups. com Sent: Sat, April 3, 2010 2:41:55 PM Subject: Re: |IACSF| Jangan tolak PLTA Peusangan (sebuah tanggapan untuk Arwinsyah AR) Omar Putéh menulis: Saudaraku Wanwinnur, sebelumnya saya juga sudah menuliskan agar di Takengon segera dibangun Rumah Sakit terbesar dan terbaik, bukan saja terbesar dan terbaik di Achèh, malahan di Asia Tenggara, dengan usaha memintakan Rockefeller Foundation dari USA membangunkan Hospital University kembarnya disana. Bangunan itu aka kita bangun persis ditengah tengah Daut Laut Tawar yang cantik itu, sehingga Danau Laut Tawar itu bukan saja cantik malahan akan menjadi manis dengan bangunan itu, yang sekaligus akan menjadi Land Mark bagi Takengon. Bangunan itu akan dibangun beberapa tingkat dibawah permukaan air danau dan berganda tingkat arah kelangit, seperti bangunan yang mencuat dari dalam air, persis seperti missile Rusia yang diluncurkan dari bawah lapisan salju tebal dari pankalan bawah tanah, yang kemudian terbangun sebagai menara Takengon dan sekaligus sebagai menara Achèh! Bangunan itu, akan merupakan sebuah bangunan yang memberikan insprasi kepada seluruh penggiat LSM di Achèh, bagaimana sebenarnya Menara Takengon dan Menara Achèh dari bangunan Takengon Hospital University atau kalau tidak kita namakan Achèh Hospital University menjadi sebuah bangunan yang sungguh mesra alam, dimana akan menjadi "environmental mirror". Karena baik yang beberapa tingkat dibawah permukaan air danau, yang setiap tingkatnya dengan kaca tembus pandang dengan memilih kwalitas terbaik , akan dapat melihat semua jenis ikan yang cantik dan menawan, termasuk ikan depik yang sedang datang menghampir dengan berkerumunan. Dan bangunan tingkat yang mengarah kelangit seluruh ventilasi cahaya yang akan memasukkan sinarnya kedalam bangunan baik dimusim hujan dan juga dimusim hujan seperti dialam terbuka, walaupun perlu dibantu dengan cahaya lampu untuk "mengusir" dengan mesra bayang-bayang alam yang tidak perlu mendekam dalam bangunan mesra alam itu. Jembatan menuju dan keluar bangunan itu seperti jembatan adjustable di Sungai Musi, tetapi dengan aplikasi tekhnologi terkini, sepeti tekhnologi penutup bumbung stadion moden buka-tutup atau seperti tekhnologi yang digunakan pada struktur roda pendaratan pesawat terbang. Jembatan itu, adalah sebagaimana yang pernah dibayaangkkan oleh Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro LLD, kepada Tengku Wan Nur Tjahaya atau nama mesra dalam alam GAM, sebagai Abu Takengon. Dan Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro, telah juga membayangkan bahwa, pembangunan Achèh akan dimulai dengan membangun Takengon, sebagai pusat keuangan dan sebagai pusat pemerintahan, sebagai model yang dilakukan Perancis, pembangunan dari gunung ke laut, tidak seperti Belanda dari laut ke arah bukit. Sudah tentu Takengon akan perlu membangun salah satu infrastruktur utamanya, Pusat Tenaga Listrik Tenaga Air (PLTA), seperti yang juga telah dibayangkaan oleh pakciknya saudaraku Wanwinnur: Pakcik Arwinsyah Abdul Rahim Tetapi kita perlu seperti China membedung aliran air sungai yang mengakibatkan permukaan air sungai Mekong di Thailand kering atau seperti Pakistan membendung aliran sungainya sehingga sebahagian kawasan di Afganistan tenggelam, atau kita tidak perlu membendung Kruëng Peusangan, tetapi air yang ada di-"bendungan" Danau Laut Tawar itulah yang akan kita bangun Pusat Tenaga Listrik Tenaga Air (PLTA) dan air yang sudah digunakan oleh pembangkit tenaga listrik sistim arus bawah tanah, model yang pernah dibangun di Sungai Kelantan, Malaysia, oleh sebuah konsortium United Kingdom, dibawah management anak mantan PM Inggris: Margareth Tatcher, yang disana juga mengambil bahagian kontrak kerja: Putra Achèh, asal dari Kruëng Raja, mantan Konsul Malaysia di Medan, siapa adalah juga sebagai rakan bisnis dari Prof Sanusi Juned, juga putra Achèh asal 'Lham Buk, kedua-duanya dari Achèh Rajeuk. Dari Pusat Tenaga Listrik Tenaga Air (PLTA), Danau Laut Tawar inilah akan menjadi pilot project pembangunan di Achèh umumnya. Dan saya sudah juga pernah katakan kepada rakan dari dataran tinggi Gayo, yang berjumpa di Rotterdam, mengharapkan kepada Gubernur/KDH Achèh cq Bappeda Achèh agar membangun (terowongan) jalan bawah tanah lintas Bireuen-Takengon- Bireuen, masing-masing tiga jalur sebagai lintasan futurologis. Pelaksaan pembangunan ini sangat penting, sehingga jalan lintas Banda Achèh-Medan-Banda Achèh disederhanakan dulu. Ini lebih penting dari seluruh pembangunan penting di Achèh, karena pembangunan di Pusat Tenaga Listrik Tenaga Air (PLTA), Takengon atau Achèh Hospital University kembaran dari Rockefeller Hospital University USA dan jalan lintas bawah tanah masing-masing tiga jalur Bireuen-Takengon- Bireuen yang futurologis itu, musti dibangun segera. Saya mengingatkan kembali seperti yang saya katakan kepada rakan saya dari dataran tinggi Gayo di Rotterdam itu bahwa pembangunan itu musti, karena Pemerintah Pusat telah mengabaikan pembangunan Takengon selama 65 tahun Indonesia merdeka. Pentingnya ini pembangunan itu agaknya seperti pentingnya Soekarno membangun patung-patung di seluruh Jakarta dan Bogor, walaupun biaya patung-patung itu, cukup untuk mengisi perut seluruh tukang becak dan gelandangan se-Jakarta dari kelaparan puluhan tahun kedepan ketika itu. Rima Gulam Pawoun kalau anda balik mengunjungi istri di Bireuen teruskanlah ke Takengon jumpai saudaraku Wanwinnur atau "Dear Tengku Win", jika kebetulan beliau itu libur dan lagi mengunjungi pantai asuahan nostalgia disana. Omar Putéh, Meunasah Reudeuep Achèh Rajeuk ________________________________ From: Win Wan Nur <winwan...@yahoo. com> To: IACSF <ia...@yahoogroups. com> Sent: Sat, April 3, 2010 6:38:14 AM Subject: |IACSF| Jangan tolak PLTA Peusangan (sebuah tanggapan untuk Arwinsyah AR) Kemarin seorang teman di facebook men-tag saya sebuah tulisan yang mengkritisi rencana pembangunan PLTA Peusangan http://serambinews. com/news/ view/27529/ plta-peusangan- merusak-alam yang ditulis oleh Arwinsyah Abdul Rahim Penulis artikel ini sangat saya kenal dengan baik, karena penulis artikel ini adalah Pak Cik (adik ibu) saya, yang juga sekaligus adik angkatan saya di UKM PA Leuser Unsyiah. Sudah lebih dari 5 tahun ini saya tidak pernah bertemu ataupun melakukan kontak dengan penulis ini, sampai tiba-tiba artikel tentang PLTA Peusangan yang dia tulis ini muncul, tapi orangnya masih tidak saya ketahui keberadaannya dimana. Kalau saya bisa bertemu dengannya sebetulnya saya ingin menanyakan beberapa hal mengenai argumen dalam tulisannya ini. Petanyaan penting yang akan saya ajukan terhadap artikelnya yang dimuat oleh Serambi ini adalah indrustri apa yang tidak merusak Alam?...Pertanyaan yang sama diajukan oleh seseorang yang bernama Oryza Sativa ketika tulisan ini di post oleh seseorang di facebook. Pertanyaan ini perlu diajukan karena sekarang manusia sudah sangat bergantung pada yang namanya industri. Meskipun banyak orang yang menuding industri adalah sebuah bentuk keserakahan, tapi sebenarnya Industri sendiri adalah kebutuhan. Tanpa industri, tanpa teknologi, tanpa merusak Alam, BUMI sudah tidak bisa lagi menampung manusia dengan sejumlah yang ada sekarang ini. Tanpa industri kita harus mengembalikan seleksi manusia kepada alam sehingga kita harus benar-benar konsisten dengan HUKUM ALAM, artinya kita kembali menjadi seperti makhluk-makhluk lain yang menganut Selection of the Fittest, hanya yang terkuatlah yang berhak hidup. Untuk itu filsafatnya Nietsche soal Ueber Man, Sikap dan Gaya pemerintahan Hitler yang kejam tanpa kompromi harus secara luas kita adopsi. Untuk menjadikan bumi asri tanpa harus merusak alam sama sekali, setidaknya 80% manusia yang menghuni planet ini harus dihabisi. Saat ini banyak LSM yang katanya pecinta lingkungan yang banyak mendapatkan suntikan dana dari luar yang selalu demikian gencar mengkritisi dan berusaha menghambat setiap keputusan yang sedikit saja mengganggu lingkungan. Alasan mereka untuk memprotes jelas dikatakan karena didasari oleh alasan mencintai alam dan menyelamatkan bumi. Tapi ide mereka itu seringkali lebih banyak untuk menguntungkan kebijakan para pendonor LSM mereka tanpa sama sekali mempertimbangkan kepentingan masyarakat lokal. Contohnya sekarang, ada banyak LSM lingkungan yang memprotes rencana pembangunan PLTA Peusangan secara berlebihan, alasannya selalu alasan klise, merusak alam. Salah satu model pendapat seperti itu adalah seperti yang ada dalam artikel yang ditulis oleh Pak Cik ku ini yang terlihat sedemikian menggebu-gebu menentang pembangunan PLTA ini. Beberapa argumennya dalam artikel ini cukup bisa diterima, misalnya argumennya soal akibat keberadaan PLTA ini akan ada banyak lahan yang harus dibebaskan. Dan memang berdasarkan pengalaman yang ada, saat ada proyek pembebasan lahan, akan kemudian diikuti oleh penebangan dan pengalih fungsi hutan di lingkungan sekitarnya. Tapi menurut saya, untuk mengatasi persoalan seperti ini, pengawasan peruntukan lahan itulah yang harus dengan ketat dilakukan, bukan pembangunan PLTA-nya yang dipermasalahkan. Oke lah keberadaan PLTA ini kita akui agak sedikit merusak, tapi keberadaannya jelas bisa mengatasi solusi Listrik di Gayo secara khusus dan di Aceh secara umum. Karena faktanya Aceh memang kekurangan listrik dan keberadaan PLTA Peusangan di daerah ini memang sangat dibutuhkan. Ketersediaan pasokan listrik yang terjamin pada gilirannya akan memudahkan pengembangan ekonomi Aceh yang akan mensejahterakan rakyat banyak. Jadi kalau dihitung-hitung, saya pikir, keberadaan PLTA Peusangan ini masih lebih banyak manfaat ketimbang mudharatnya. Sementara argumen lain soal kemungkinan adanya skenario besar kapitalisme asing, yang akan menggunakan energi yang dihasilkan oleh PLTA Peusangan sebagai pemasok energi listrik untuk menggerakkan tambang-tambang itu adalah dugaan yang terlalu spekulatif dan berlebihan. Tapi bagaimanapun informasi dari Cik Win tentang adanya rencana pembangunan pertambangan emas besar-besaran di wilayah Aceh ini wajib kita cermati dan kita tentang, karena kalau industri ini memang lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya bagi Aceh dan Gayo secara khusus. Kemudian solusi dari Cik Win soal mengalihkan fokus penyediaan listrik dari PLTA ke tenaga panas Bumi, saya pikir tidaklah semudah dan sesederhana yang dia bayangkan. Karena untuk membuat sebuah pembangkit listrik panas bumi, tidaklah bisa sim salabim langsung jadi. Proses dari mulai risetnya, untuk meneliti uji kelayakan, dampak lingkungan dan yang terpenting untuk mendapatkan pemodalnya, akan utuh waktu yang sangat lama. Ada banyak proses birokrasi dan berbagai macam lobi dan berbagai konflik kepentingan yang harus dilewati. Untuk bisa memproduksi listrik dari panas bumi Burni Telong, kalau semuanya berjalan lancar, proyek itu baru bisa mulai bisa berjalan paling cepat 20 tahun dari sekarang. Sementara segala urusan tentang PLTA ini udah sampai pada tahap yang mendekati awal pengerjaan. Desember 2008 yang lalu, saya pernah mengikuti sebuah seminar tentang listrik tenaga panas bumi di hotel Oasis Banda Aceh. Di sana saya bertemu dengan orang dari Chevron, pemilik pembangkit listrik panas bumi terbesar di negeri ini. Dari dia saya mengetahui kalau untuk melakukan eksplorasi dan studi kelayakan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi itu diperlukan riset yang panjang dan berbiaya sangat mahal. Sebagai contoh, untuk membuat sebuah titik untuk menguji apakah panas bumi di suatu daerah cukup layak dieksploitasi atau tidak, kita butuh setidaknya 3 juta dollar. Dan untuk bisa mendapatkan titik eksplorasi yang layak digunakan untuk pembangkit listrik, tidak cukup cuma melakukan dua tiga kali ujicoba. Pertanyaannya, kalau kita ingin mengalihkan proyek PLTA Peusangan ini ke proyek listrik panas bumi, dari mana kita mendapatkan dana awal sebanyak itu untuk melakukan eksplorasi. Perusahaan mana yang akan kita ajak bekerja sama, bagaimana cara kita melakukan lobinya? Jadi menurut saya jangan lagilah kita banyak buat masalah yang membuat pengerjaan PLTA Peusangan ini tidak jadi dilaksanakan. Wassalam Win Wan Nur Keponakan Arwinsyah A.R www.winwannur. blog.com www.winwannur. blogspot. com
