----- Forwarded Message ----
From: omar puteh <[email protected]>
To: Teuku <[email protected]>
Sent: Sun, April 4, 2010 6:28:22 PM
Subject: Re: KEBOHONGAN KAUM PLURALIS RADIKAL (Menanggapi Teuku Haris Muzani)
Omar Putéh menanggapi sedikit:
Sedikit saya perbaiki tulisan saya yang selalu salah ketik, walaupun sebenarnya
ayat dari kalimat saya berikutnya, bisa dipahami maksud saya sebenarnya.
Kalimat saya tersalah ketik tampa mengetikkan begini:
..............Dan memang (agama) pluralisme tidak pernah garang dan memang pula
(agama) pluralisme tidak pernah berwajah garang sebagai kenyataan alami, untuk
perbaikan yang ini:
Mana pernah ada pluralis radikal, sedangkan namanya saja pluralis. Dan memang
(agama) pluralisme tidak pernah garang dan memang (agama) pluralisme berwajah
garang sememang kenyataan alami
Jadi kalau Prof Dr Amien Rais mengatakan adanya (wujud) gang pluralis(me)
radikal bisa saya pahamkan seperti Teuku Khairi Panglima tuliskan kembali
tulisan ucapan Prof Dr Amien Rais:dan tulisan anda sendiri (?):
Saya prihatin ada usaha-usaha ingin membablaskan pluralisme yang bagus itu
menjadi sebuah pendapat yang ekstrim:
pada dasarnya mereka mengatakan agama itu sama saja. Mengapa sama saja? Karena
tiap agama itu mencintai kebenaran. Dan tiap agama mendidik pemeluknya untuk
memegang moral yang jelas dalam membedakan baik dan buruk....... .....
..... ..Inilah yang ekstrim itu dan inilah yang sangat berbahaya bagai Islam
sebagai addiin!.
(Apakah ini ucapan Prof Dr Amien Rais atau tulisan anda sendiri?) Kalau sampai
mereka terbuai dan terhanyutkan oleh pendapat yang sangat berbahaya ini,
akhirnya mereka bisa bergonta-ganti agama dengan mudah seperti bergonta-ganti
celanadalam atau kaos kaki'.
Dan inilah contohnya akibat infiltrasi dari (agama) pluralisme ekstrim itu.
Nah, karena itu tidak ada yang salah kalau misalnya seorang Islam awam atau
seorang tokoh Islam mengajak kita menghormati pluralisme.
Karena tarikh Nabi sendiri itu juga penuh ajaran toleransi antarberagama.
Malahan antar-umat beragama boleh melakukan kemitraan di dalam peperangan
sekalipun. Banyak peristiwa di zaman Nabi ketika umat Nasrani bergabung dengan
tentara Islam untuk menghalau musuh yang akan menyerang Madinah.
Kalau seperti yang dikatakan olehn Prof Dr Amien Rais katakan ini, itulah
sebenarnya pegangan kita dalam hidup berdampingan dengan (agama) pluralisme!
Saya ingat demikianlah tanggapan saya atas penela'ahan diskusi antara Alkaf
Muchtar Ali Piyeung dan kedua Teuku: Haris Muzani dan Zulkhairi.
Jadi bagi kita di Achèh seperti saya katakan pada tulisan tanggapan saya keatas
tulisan saudaraku Wanwinnur Anak Achèh yang berdomisili di Jakarta, NKRI,
adalah hanya sebagai "knowledge" dan membentuk sikap berwaspada saja, karena
kita adalah Islam, Islam sebagai addiin, pewaris kitab Al Qurän nul Karim, yang
sampai sekarang ini, kandungan kitab suci kita itu, tidak pernah dijamah oleh
mana-mana tangan manusia, yang telah diakui oleh seluruh ummat Islam dan ummat
manusia dari (agama) pluralisme sedunia, sebagai wahyu Allah SWT tulèn dan
asli, sedangkan yang lain yang tergabung dalam (agama) pluralisme sudah
menerimanya sebagai (prodak) budaya!
Apakah itu budaya? Budaya adalah segala bentuk dan/ bentuk yang disifatkan
sebagai hasil daya-upaya manusia!
Ada sesuatu,yang sangat disangsikan sekali kalau benar Syi'ah itu, sebagaimana
didakwai"disana" ada juga jamahan "tangan" dari para Imam-Imam "suci" mereka!
Rakan saya Ali Al Asytar, pernah mengatakan bahwa, dia menjadi Syi'ah,
disebabkan merasa tidak senang mengapa Saidina Ali ra tidak terpilih (langsung)
sebagai pengganti Nabi Besar Muhammad SAW sebaik saja Rasulullah wafat,
sedangkan Vande Charba, (No) Vedra Djamaluddin dan Rima Gulam Pawoun belum lagi
membuat pernyataan "serupa?" disini, dimilis ini.
(1). Apakah benar yang Sunny di Iraq dan di Pakistan, tidak pernah mau
bertoleransi dengan Syi'ah?
(2). Apakah Syi'ah tidak bisa dimasukkan kedalam kumpulan (agama) Pluralisme
agar ianya bisa bertolerasni dalam (keagamaan) pluralisme?
Katakanlah kita sedang mengambil contoh rakan saya Ali Al Asytar, yang
sebelumnya Sunny, sebagaimana kedua orang tuanya, tetapi kemudian menjadi
Syi'ah dan tidak mau bertoleransi dengan Sunny lagi, dikarenakan tidak
terpilihnya Saidina Ali ra, secara langsung sebaik saja Rasulullah wafat?
Atau dikarenakan "marahnya" dia itu kepada Sunny, karena Sunny tidak mengangkat
Saidina Ali ra sebagai Khalifah pertama, lantas bergabung dengan Syi'ah dan
menjadi Syi'ah?
Pertanyaan kepada kedua Teuku: Haris Muzani dan Zulkhairi dan Alkaf Muchtar Ali
Piyeung serta saudaraku Wanwinnur, apakah Syi'ah tidak bisa dimasukkan dan
digabungkan dengan kumpulan (agama) pluralisme?
Juma'at semalam, 02/04/2010, saya lihat ada seorang Syi'ah berjamah dengan kami
Sunny, walaupun beliau masih meletakkan ditempat sujud beliau sekeping tanah
bundar berdiameter lebih kurang 5cm, beralaskan kain hijau berukuran sapu
tangan, tetapi beliau itu bergabung/berjamaah dengan jema'ah Juma'at kami dan
tentu saja kami bertoleransi penuh dengan beliau itu, malahan tidak meyoal
apa-apa berkenaan tanah bundar itu, walaupun sebelumnya saya telah menyaksikan
kepingan sebelumnya lebih kecil dan pipih dalam bentuk empat persegi berukuran
lebih kurang 2 cm X 3 cm dari salah sebuah pesantren di Malaysia.
Malaysia mengharamkan atau melarang dengan keras penyebaran Syi'ah dikalangan
ummat Islam (sunny).''
Dan akhirnya diingatkan lagi bahwa, sebenarnya tidak ada (agama) pluralisme
radikal, kecuali adanya orang-orang berpikiran kotor dan jahat, yang ingin
berusaha meradikalkan pemikiran kotor dan jahatnya terhadap Islam!
Omar Putéh
Meunasah Reudeuep
Achèh Rajeuek
________________________________
From: Teuku <[email protected]>
To: omar puteh <[email protected]>
Sent: Sat, April 3, 2010 5:53:50 PM
Subject: Re: KEBOHONGAN KAUM PLURALIS RADIKAL (Menanggapi Teuku Haris Muzani)
Amin Rais telah turut mengakui adanya genk pluralis radikal di Indonesia,
berikut pengakuannya;
Amin Rais kembali menjawab; `Nah, karena itu tidak ada yang salah kalau
misalnya seorang Islam awam atau seorang tokoh Islam mengajak kita menghormati
pluralisme. Karena tarikh Nabi sendiri itu juga penuh ajaran toleransi
antarberagama. Malahan antar-umat beragama boleh melakukan kemitraan di dalam
peperangan sekalipun. Banyak peristiwa di zaman Nabi ketika umat Nasrani
bergabung dengan tentara Islam untuk menghalau musuh yang akan menyerang
Madinah. Saya prihatin ada usaha-usaha ingin membablaskan pluralisme yang bagus
itu menjadi sebuah pendapat yang ekstrim, yaitu pada dasarnya mereka mengatakan
agama itu sama saja. Mengapa sama saja? Karena tiap agama itu mencintai
kebenaran. Dan tiap agama mendidik pemeluknya untuk memegang moral yang jelas
dalam membedakan baik dan buruk. Saya kira kalau seorang muslim sudah
mengatakan bahwa semua agama itu sama, maka tidak ada gunanya sholat lima
waktu, bayar zakat, puasa Ramadhan, pergi haji, dan sebagainya.
Karena itu agama jelas tidak sama. Kalau agama sama, banyak ayat Al-Qur'an
yang harus dihapus. Nah, kalau sampai ajaran bahwa semua agama sama saja
diterima oleh kalangan muda Islam; itu artinya, mereka tidak perlu lagi shalat,
tidak perlu lagi memegang tuntunan syariat Islam. Kalau sampai mereka terbuai
dan terhanyutkan oleh pendapat yang sangat berbahaya ini, akhirnya mereka bisa
bergonta-ganti agama dengan mudah seperti bergonta-ganti celana dalam atau kaos
kaki'.
--- In [email protected], omar puteh <om_pu...@...> wrote:
>
> Mana pernah ada pluralis radikal, sedangkan namanya saja pluralis. Dan memang
> (agama) pluralisme tidak pernah garang dan memang (agama) pluralisme berwajah
> garang sememang kenyataan alami
>
> Lantas, ada lagi tertulis pluralisme berwajah garang, kan ini jadi lucu, mana
> ada pluralisme wajahnya bisa menjadi garang, sedang namanya saja sudah
> pluralisme, entah kalau mungkin ajo Indra Jaya Piliang ada menuliskan
> demikian, yang kemudian anda menjiplaknya saja!
> (dikutip dari Majalah Tabligh terbitan Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP
> Muhammadiyah, edisi Maret 2010.
>
>
>
> ________________________________
> From: HELB <hai_otodi...@...>
> To: [email protected]
> Sent: Fri, April 2, 2010 10:51:59 AM
> Subject: |IACSF| KEBOHONGAN KAUM PLURALIS RADIKAL (Menanggapi Teuku Haris
> Muzani)
>
>
> KEBOHONGAN KAUM PLURALIS RADIKAL (Menanggapi Teuku Haris Muzani)
> Paradigma
> Written by Teuku Zulkhairi | Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda
> Aceh.
> Friday, 02 April 2010 15:17
>
>
> TEUKU Haris Muzaninampaknya begitu tersentak dengan opini bantahan saya atas
> tulisan saudara Alkaf Muchtar Ali Piyeung. Haris mencoba membela diri sambil
> bertahan dan memantapkan kuda-kudanya dengan argumentasi ala kaum pluralis
> atas tulisan sebelumnya; “Pluralisme Tak Pernah Garang” (Aceh Institute,
> 1/4/2010). Haris Muzani menganggap opini saya tersebut telah ngawur dan
> cenderung tendensius. Hal ini sangat berbalik dengan tanggapan via yahoo
> messenger yang saya terima dari saudara Alkaf yang menilai bahwa bantahan
> saya terhadap tulisannya “Agama Tanpa Wajah Garang”adalah argumentatif dan
> dan santun. Bagi Muzani, saya ditenggarai telah mencoba mempelopori teori
> baru yang tidak dikenalnya selama ini yaitu teori “Pluralisme Berwajah
> Garang” (Aceh Institute, 27/3/2010). Tulisan ini nampaknya begitu menyiksa
> batin Muzani. Padahal, saya hanya mencoba melepas sedikit bagian dari topeng
> kebohongan pluralis mereka dengan cara yang elegan dan lembut.
> Namun sepertinya rekan Muzani bagai begitu kepanasan.
>
> saya teringat info yang saya dapatkan beberapa tahun silam dari seorang
> Ustazd di Jakarta ketika saya kuliah disana yang menyebut bahwa; ‘Nurchalis
> Madjid pada akhir hayatnya sempat bertaubat dari apa yang telah diajarkannya
> selama ini’. Mungkin info ini kurang mendapat perhatian public akibat media
> massa yang mungkin tidak terlalu tertarik untuk memberitakannya.
>
> selengkapnya di situs Aceh Institute: http://id.acehinsti tute.org/
>