TA'ASHSHUB ;   INTERAKSI LEBIH TINGGI KETIMBANG KESAMAAN IDEOLOGY

Saya mempunyai keyakinan, hatta pada waktu-wak tu belakangan ini, bahwa ikatan 
paling tinggi dan sa kral adalah kesamaan Ideology dan Keyakinan. Arti nya saya 
menyadari bahwa orang paling dekat de ngan diri saya adalah orang-orang yang 
mempunyai jalan berpikir seperti saya, dan memiliki keimanan se perti yang saya 
yakini.

Sebenarnya memang demikian persoalannya bila kita analogikan pada berbagai 
bentuk interaksi lainnya. Tetapi dari istilah Ummah, ternyata kita bisa sampai 
pada istilah Ta'ashshub, yakni interaksi antara anak-anak manusia dalam 
bentuknya yang lebih tinggi ketimbang interaksi yang didasarkan atas kesa maan 
ideology dan kemiripan dalam keyakinan.

Individu-individu yang hidup dalam satu ummah, tidak saja dekat dalam aspek 
pemikiran, tetapi juga memi liki ikatan yang lebih mendalam dan kuat diban ding 
itu. Diantara interaksi-interaksi yang didasarkan atas ke lompok, keturunan, 
warna kulit dan kesama an tanah air, tidak satupun yang terjamin dan memili ki  
eksisten si hakiki dan praktis. Sementara itu, ika tan ideologis dan keyakinan, 
kendatipun boleh diang gap sebagai satu-satunya  ikatan yang paling tinggi, toh 
bukan apa-apa, jika kita menunjuk kepada istilah Satre, "ia tidak punya 
eksistensi swebagai sesuatu yang esensial, sebab tidak berlaku dalam kehidupan 
praktis". 

"Aku berpikir dengan cara ini", "Aku punya keyaki nan tertentu", "Aku orang 
baik", "Aku orang jahat" dan ungkapan-ungkapan seperti itu, semuanya ha nyalah 
konsep-konsep kosong dan baru bisa dianggap eksis serta punya arti manakala 
telah ter bukti eksistensinya secara nyata.  Justeru itu "Aku orang baik" dan 
"Aku orang jahat", sama dan seban ding, dan sama pula dengan konsep-konsep 
berikut ini: "Engkau berpikir", "Kami berpikir dengan metode yang sama",  dan 
"Kita tidak memiliki ,metode berpi kir yang sama", sebab semuanya memang tidak 
punya eksistensi.  "Kita berpikir dengan metodologi yang sama dan memiliki ke 
yakinan yang sama pula", memang merupakan ungkapan yang benar, tetapi 
manusianya tetap belum eksis. Ia baru dikatakan eksis bila telah meniupkan etos 
kerja dalam hal-hal yang "baik" atau "buruk", '"indah" atau "jelek", 
"pengabdian" atau "pengkhianatan". De ngan tinjauan seperti ini ,maka adanya 
dua orang yang ber satu dalam pemikiran, memiliki
 eksistensi dalam bentuk ide secara potensial, dan baru bisa di katakan suatu 
eksistensi yang nyata manakala kedua nya telah menapaki jalan menuju alam nyata.

Disini kita melihat bahwa jika hanya semata-mata po tensi pemikiran dan 
keimanan yang sama, maka tetap dianggap sebagai sesuatu yang belum berarti 
apa-apa. Artinya, belum ada pengaruhnya sedikitpun terha dap kehidupan 
individu, dan tidak pula bakal memberikan pengaruhnya terhadap kehidupan um mat 
manu sia. Dan disaat kesatuan qalbu, keimanan dan penderitaan tersebut sudah 
menyatu dengan   amal, niscaya ia akan muncul dalam realita. Itulah se babnya, 
maka para ulama mendefinisikan iman de ngan, 'pengakuan lisan dan pengamalan 
dengan anggota tubuh'.

Ummah adalah komunitas anak-anak manusia yang memiliki kesatuan pemikiran, 
keyakinan, mazhab dan metodologi, yang tidak saja tergambarkan di da lam ide, 
tetapi terbukti perwujudannya di alam nyata. Indi vidu-individu suatu Ummah, 
dari keturunan, ras dan tanah air manapun mereka berasal, mempu nyai cara 
berpikir dan keyakinan yang sama, dan sa at  yang sama mereka mengharuskan diri 
mereka bergerak me nuju kesempurnaan - dan bukan kebaha giaan - dibawah 
kepemimpinan sosial kolektif.

Kepemimpinan ummah yang dinamakan imamah i tu, tugasnya bukanlah seperti Kepala 
Negara Ameri ka Serikat atau penanggung jawab acara 'Anda dan Radio' yang harus 
bekerja sebagai suatu kelompok untuk memenuhi selera dan keinginan para 
pendengarnya, dan tidak cuma memiliki kewajiban untuk merealisasi kan 
kebahagiaan dan kesejahtera an paling tinggi bagi individu dan diharuskan pula 
un tuk memimpin gera kan sosial menuju kesempurna an, melalui program-program 
yang digariskan secara mantap, disertai gera kan yang cepat dan tepat, se 
hingga manakala menjadi taruhan adalah penderita an individu-individu, maka 
hendaknya hal itu merupa kan penderitaan yang secara nyata dirasakan mayori tas 
ummah, dan sama sekali bukan sesuatu yang fiktif belaka.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka imamah ki ni  menjadi manifestasi dari 
'risalah kepemimpinan dan bimbingan individu dan masyarakat' dari 'apa yang 
kini ada' (das sollen) semaksimal yang bisa dila kukan, bukan berdasarkan pada 
keinginan pribadi se orang Imam, melainkan atas konsep yang baku yang menjadi 
kewajiban bagi Imam lebih dari individu lain nya. Itulah sebabnya, maka imamah 
berbeda dari kepemimpi nan diktator, sekaligus menentang kepemimpinan 
revolusionir-ideologis dan diktator-in dividual.
 
(Cuplikan dari buku Ummah dan Imamah, karya DR Ali Syariati, rausyanfik dari 
RII)





________________________________
From: Ali Al Asytar <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, April 5, 2010 1:44:14 PM
Subject: |IACSF| SEBELUM MOU HELSINKI, BANYAK ORANG ACHEH - SUMATRA YANG 
DEMIKIAN MANIS UNGKAPANNYA NAMUN SEKARANG REALITANYA MENGHILANG SETELAH DITERPA 
ANGIN YANG MEMBAWA "PERCIKAN MADU"

  
TA'ASHSHUB ;   INTERAKSI LEBIH TINGGI KETIMBANG KESAMAAN IDEOLOGY


Saya mempunyai keyakinan, hatta pada waktu-wak tu belakangan ini, bahwa ikatan 
paling tinggi dan sa kral adalah kesamaan Ideology dan Keyakinan. Arti nya saya 
menyadari bahwa orang paling dekat de ngan diri saya adalah orang-orang yang 
mempunyai jalan berpikir seperti saya, dan memiliki keimanan se perti yang saya 
yakini.

Sebenarnya memang demikian persoalannya bila kita analogikan pada berbagai 
bentuk interaksi lainnya. Tetapi dari istilah Ummah, ternyata kita bisa sampai 
pada istilah Ta'ashshub, yakni interaksi anta ra anak-anak manusia dalam 
bentuknya yang lebih tinggi ketimbang interaksi yang didasarkan atas kesa maan 
ideology dan kemiripan dalam keyakinan.

Individu-individu yang hidup dalam satu ummah, tidak saja dekat dalam aspek 
pemikiran, tetapi juga memiliki ikatan yang lebih mendalam dan kuat diban ding 
itu. Diantara interaksi-interaksi yang didasarkan atas kelompok, keturunan, 
warna kulit dan kesama an tanah air, tidak satupun yang terjamin dan memili ki  
eksistensi hakiki dan praktis. Sementara itu, ika tan ideologis dan keyakinan, 
kendatipun boleh diang gap sebagai satu-satunya  ikatan yang paling tinggi, toh 
bukan apa-apa, jika kita menunjuk kepada istilah Satre, "ia tidak punya 
eksistensi swebagai sesuatu yang esensial, sebab tidak berlaku dalam kehidupan 
praktis". 

"Aku berpikir dengan cara ini", "Aku punya keyaki nan tertentu", "Aku orang 
baik", "Aku orang jahat" dan ungkapan-ungkapan seperti itu, semuanya ha nyalah 
konsep-konsep kosong dan baru bisa dianggap eksis serta punya arti manakala 
telah ter bukti eksistensinya secara nyata.  Justeru itu "Aku orang baik" dan 
"Aku orang jahat", sama dan seban ding, dan sama pula dengan konsep-konsep 
berikut ini: "Engkau berpikir", "Kami berpikir dengan metode yang sama",  dan 
"Kita tidak memiliki ,metode berpi kir yang sama", sebab semuanya memang tidak 
punya eksistensi.  "Kita berpikir dengan metodologi yang sama dan memiliki 
keyakinan yang sama pula", memang merupakan ungkapan yang benar, tetapi 
manusianya tetap belum eksis. Ia baru dikatakan eksis bila telah meniupkan etos 
kerja dalam hal-hal yang "baik" atau "buruk".
bersambung. . . . . . .





      

Kirim email ke