Omar Putéh merespon kiriman Ajo Indra Jaya Piliang dari Institut Indonesia:
Dari paparan yang ajo kirimkan dimilis ini saja, maka sudah nampak dengan jelas bahwa, ajo Indra Jaya Piliang sebenarnya tidak paham dalam memahami baik lambang ASNLF cq Negara Achèh Sumatra: Buraq dan Singa dan juga sejarah bendera Negara Achèh Sumatra, begitu juga lambang RI: Burung Garuda (yang kemudian terangkat menjadi lambang NKRI), sejarah bendera Merah Putih-nya Moehammad Yamin dan mungkin juga lainnya, karena diragukan yang ajo tidak pernah persis tahu dan memahami sejarah vertikal Kerajaan (Negara) Achèh dan juga tidak pernah persis tahu dengan betul dalam memahami sejarah Majapahit dan Indonesia/RI/NKRI, walaupun memakai ilmu semiotika (tolong kirimkan kepada saya via milis IACSF bunyi suara/teks tulisan di tugu Monas di Jakarta dengan selengkapnya, yang dulu pernah juga dimuat dalam majalah Sinar Darusalam, sebuah tulisan dari Drs........Abdullah (saya lupa nama lengkapnya), seorang dosen dari Universitas Islam Bandung? Dan diharapkan juga kalau sekiranya ajo Indra Jaya Piliang sedang bermalasan, maka sesiapa diantara pemilis di IACSF bisa menolong kirimkan : Teks tulisan di Tugu Monas-Jakarta , maka saya ucapkanlah: Terima kasih sebelum dan sesudahnya. Ajo, saya akan usahakan mendapatkan buku "karangan" anda itu yang kata pengantarnya telah diantarkan oleh Drs Otto Syamsuddin Ishak, sosiologis yang beken itu dan yang team publikasi oleh Muhrial Hamzah, yang pernah rincah berkomentaran. Muhrial Hamzah apakah buku itu, akan dapat dibeli di Banda Achèh atau di tempat lain diluar kota Jokyakarta? Tolong kabarkan, sebaik anda diberitahukan oleh ajo Indra Jaya Piliang terhadap pertanyaan saya diatas ini. Terima kasih ajo atas peberitahuan prihal buku "karangan" ajo itu dan sebaik saja saya dapatkan buku itu, maka saya akan tolong men-Jenderal Overhaul-kannya. Omar Putéh Meunasah Reudeuëp Achèh Rajeuk ________________________________ From: Indra Jaya Piliang <[email protected]> To: [email protected] Cc: [email protected]; [email protected]; pasar buku <[email protected]> Sent: Fri, April 23, 2010 8:19:22 AM Subject: |IACSF| Resensi: Adu Kuat Simbol GAM-RI Dan maaf juga, posting kemaren, kurang enak dibaca. Selain di Tabloid Kontras Aceh edisi kemaren, resensi Bung Murizal Hamzah juga ada di Koran Jakarta hari ini. Terima kasih. http://koran- jakarta.com/ berita-detail. php?id=50577 Adu Kuat Simbol GAM-RI Jumat, 23 April 2010 Judul : Bouraq-Singa Kontra Garuda [Pengaruh Sistem Lambang dalam Separatisme GAM terhadap RI] Penulis : Indra Jaya Piliang Penerbit : Ombak, Yogyakarta Tahun : I, Maret 2010 Tebal : xxiv + 184 halaman Harga : Rp45.000 Simbol, lambang, atau kata bukanlah sekadar deretan huruf, permainan warna, atau makna melompong. Dalam pentas politik, semua itu mengandung pesan tertentu sebagai bentuk perlawanan identitas diri (hal 12). Indra menyibak maknamakna simbol dan bendera GAM-RI secara menungkit. Penulis yang sering mengupas konflik Aceh mengingatkan simbol budaya bisa menjadi alternatif resolusi konflik horizontal atau konflik vertikal. Untuk membedah arti lambang dan simbol GAM-RI, penulis tidak menggunakan pisau analisis yang lazim digunakan dalam ilmu sejarah atau ilmu politik. Namun menggunakan pisau ilmu semiotika. Semiotika ialah ilmu tentang tanda-tanda atau studi tentang tanda dan segala hal yang berhubungan dengannya, cara berfungsi, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan penerimaanya oleh mereka yang menerimanya (hal 51). Dalan bejana semiotika, lambang GAM-RI ditempatkan dalam tataran teks budaya, lalu dicarikan penanda dan pertanda. Hasilnya? Lambang RI yaitu Burung Garuda dan bendera nasional Merah Putih ditafsirkan secara diakronis, terutama melalui pemikiran pendiri bangsa. Sementara lambang GAM yakni Bouraq-Singa dan bendera Bulan Sabit diartikan secara diakronis dan sinkronis. Analisisi atas temuan penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang kian jelas perbedaan aspek yang diperjuangan oleh GAM dengan aspek dalam lambang RI. Secara piawai, penulis menjelaskan riwayat Merah Putih dan Garuda yang merujuk pada buku berjudul 6.000 Tahun Sang Merah Putih yang ditulis oleh Muhammad Yamin. Disebutkan, secara resmi Merah Putih berkibar di persada Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang dijahit oleh Fatmawati, istri Soekarno. Secara internasional, Merah Putih dinaikkan pertama kali di Lake Succes Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 28 September 1950. Sedangkan bendera GAM yakni Bulan Sabit di udara pertama kali di bumi Aceh pada 4 Desember 1974 di Gunung Halimon Pidie oleh deklarator GAM Dr Hasan Tiro yang dihadiri oleh 12 orang. Perbedaan tajam lain antara Bouraq-Singa Vs Garuda yakni GAM menggunakan singa yang bukan binatang khas Indonesia. Singa hidup di belantara Afrika atau India. Sedangkan Bouraq merupakan kendaraan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mikraj yang bisa terbang. Bouraq dan Garuda sama-sama bisa terbang dan menjadi nama pesawat udara di Indonesia. Perbedaan lain, bouraq identik dengan Islam dan garuda identik dengan Hindu sebagai agama asli masyarakat Nusantara ini. Garuda adalah kendaraan Dewa Wisnu (hal 110-112). Singa dikenal sebagai raja rimba yang bisa mengendalikan rajawali atau mitos burung garuda. Penampilan singa lebih berwibawa dengan bulu-bulunya yang melingkari kepalanya yang terkesan seperti mahkota. Untuk urusan ini, Hasan Tiro yang menciptakan lambang GAM mampu menghentikan retina menancap pandangan pada singa yang perkasa layaknya simbol negara Singapura Simbol adalah bentuk perjuangan. Setiap orang, organisasi, atau negara memiliki simbol masing-masing. Otto dalam pengantar menyebutkan pada umumnya organisasi politik di mana pun memiliki empat hal simbolik, yakni bendera, lambang, lagu, dan slogan. Peresensi adalah Murizal Hamzah Editor Buku “Aceh di Mata Urang Sunda
