Omar Putéh menulis: Saudara Jafar G. Bua,
Itu Sunny tidak tahu kalau Soempah Pemoeda itu, adalah kerjaan dari Pemoeda-Pemoeda Komunis Jawa. Sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa, sejak 1917 Pulau Jawa adalah sebagai tapak pertama penyambutan kehadiran Komunisma di Asia, yang kemudian menyusul China ditahun 1921. Soekarno sejak berumur 16 tahun sudah dikomuniskan oleh Prof Adolf Baars, di Soerabaya di tahun 1917 dan perjuangan terakhirnya dalam Komunisma adalah pada tahun 30 September, 1965 dan dikenal sebagai Panglima Angkatan ke V. Tetapi Soekarno tidak menyertai Soempah Pemoeda pada 28 oktober, 1928, yang ketika itu telah berumur 27 tahun, 10 tahun kemudian, yang sampai sekarang tidak pernahpun dibongkar oleh Sejarahawan dan Professor Sejarah Nusantara dari seluruh Universitas-Universitas, mengapakah dan dengan alasan apakah, maka dia tidak mau menyertai Pemoeda-Pemoeda Komunis Jawa lainnya "ber- Soempah Pemoeda"? Suatu alasan dikatakan Soekarno oleh penganalis adalah disebabkan dia baru saja mendirikan PNI, Partai Nasional Indonesia, sebagai menghindari dari dimomoki oleh Belanda, setelah gerakan Komunis Tan Malaka, yang dikenal sebagai Komunis Leon Trotskys (kemudian bertukar sarung menjadi Partai Murba) memberontak di Banten, Jawa Barat dan di Silungkang, Padang pada tahun 1926, setahun sebelumnya, sebagai peredaman diri. Begitu juga dipilihnya nama partainya PNI (Partai Nasional Indonesia) sebuah nama hasil "plagiatan" dari Pendidikan Nasional Indonesia (PNI), yang akan dilihat oleh Belanda sebagai masih dalam lingkaran gerakan intelektualisme, walaupun para penganalis menyedari yang Soekarno, telah mengambil tiga keuntungan dari: "plagiatan" dan dari "kekeruhan" gerakan Tan Malaka (memancing diair keruh? atau PNI (Partai Nasional Indonesia) terlahir dari pemacingan diair keruh!) selain dia bisa bebas menari rumba-cha chanya Ché Guavara disana. Jadi kalau Jafar G. Bua saya bawa ketulisan demikian, dimaksudkan sebagai untuk lebih menjelaskan bahwa Soempah Pemoeda itu adalah tulèn dikelola oleh Pemoeda-Pemoeda Komoenis Jawa dan ini telah diklaim berulang kali oleh Partai Komunis Indonesia dalam pengasingan luar, walaupun dikatakan ada anak-anak Yong Soematra dan Yong Ambon menyertainya, tetapi sebaik selesai acara sumpah itu, maka diantara mereka pada ketakutan sehingga pada tersakit perut masuk kakus (toilet) dan ini sudah tercatat dalam fakta sejarah! Kalau Sunny mengatakan mereka tidak bersumpah sebagaimana cara orang Islam bersumpah, yah memang betul, karena mereka itu semuanya tidak mau mengakui lagi adanya tuhan, sebagaimana tuhannya orang Islam, sedangkan mereka telah bertukar untuk bertuhankan pada kekuatan dari Gravity Alam dengan nabinya Karl Heinrich Marx. Ajo Indra Jaya Piliangpun telah mengatakan Soempah Pemoeda 28 Oktober, 1928 sebaagai sumpah sampah, dikarenakan ketika itu, belum ada nasionalisma atau rasa kebangsaan, kecuali keinternasionalisma-an, walaupun dihari Soempah Pemoeda itu Pemoeda-Pemoeda Komoenis Indonesia, berhasil menukar kata-kata Indones menjadi Indonesia dan kata-kata moelia menjadi merdeka, dari teks asli yang dibuat oleh Wage Rudolf Soepratman, pemuda Katholik anak dari seorang KNIL Belanda dari Tangsi Militer Belanda di Makassar itu. Pada 1 Juni, 1945, hari dilahirkannya Panca Sila oleh Soekarno dengan dibantu oleh dua bidan terjun: Prof Soepomo dan Muhammad Yamin SH, baru coba memperkenalkan apa itu nasionalisma kepada elit-elit "Indonesia", sebuah nama yang pertama sekali digunakan oleh Partai Komunis untuk nama partainya sebagai Partai Komunis Indonesia, ditahun 1924, empat tahun sebelum Soempah Pemoeda. Lagipun Soekarno sendiri ditahun 1930, masih mengakui didepan Pengadilan Belanda sebagai bangsa Belanda, sebagaimana diungkapkan kembali oleh Prof Dr Haji Mubyarto, seorang Mahaguru Ekonomi Pancasila dari Universitas Gajah Mada. Apa yang dikatakan oleh ajo Indra Jaya Piliang adalah sebagai benar, dikarenakan lagi yang nasionalisme Indonesia baru bercambah disekitaran tahun 1945 - 1949, sebagaimana telah diresearch oleh Prof Dr W.A.L. Stockhof , Drs J.P. van Kerhoft dari Internasional Institute for Asian Studies (IIAS) dari Belanda dan ditelusuri oleh Prof Dr Sjafi'i Maarif, Mahaguru Sejarah dari Universitas Gajah Mada dan juga mantan Ketua Muhammadiyah Indonesia. Jafar G. Bua, saya coba membantu kesilapan Sunny yang telah mengatakan "Pemoeda-Pemoeda Komoenis Jawa, 28 Oktober, 1928 itu tidak bersumpah sebagaimana orang Islam besumpah, yang anda telah membantahnya sebagai benar, dikarenakan sebagai dijelaskan diatas, dikarenakan mereka bertuhankan dari kekuatan Gravity Alam, sementara saya sendiri sedang mempersiapkan tulisan lain membantu ajo Indra Jaya Piliang meng-Jendral Overhaul-kan sebuah tulisannya. Omar Putéh Meunasah Reudeuëp Achèh Rajeuk ________________________________ From: Jafar G Bua <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Sent: Mon, April 26, 2010 3:29:32 AM Subject: «PPDi» RE: «PPDi» [proletar] Janganlah Menjajah Maluku, Aceh, dan Irian, Merdekakanlah !!! Sunny, pernyataanmu lucu. Kamu cocok jd anggota lawakan opera van java. Sumpah pemuda itu terlaksana dalam momentum yang berbeda dengan saat ini. Tidak pentinglah diperdebatkan. Kalau tidak cukup kemampuan anda untuk melakukan analisis sosial politik janganlah memaksakan diri. bisa-bisanya sumpah pemuda, anda analogikan dengan ikatan pernikahan.. .ha...ha. ..ha...lucu. ..asli lucunya... Sudahlah jangan memaksakan diri melakukan analisis sosial kalau anda tidak mampu. Kalau sampai anda bawa itu ke debat terbuka, anda akan ditertawakan. sent from my desk | jafar g bua | 081341045728 | 081908199262 | http://kompasiana. com/jafarbua | http://audiovideobo ok.wordpress. com | @jgbua2009 -----Original Message----- From: sunny Sent: 26/04/2010 5:12:36 AM Subject: «PPDi» Re: [proletar] Janganlah Menjajah Maluku, Aceh, dan Irian, Merdekakanlah !!! Kalau sumpah harus ada unsur agamanya, tetapi apa yang mereka buat waktu itu adalah pernyataan politik yang biasa dicetuskan pada rapat-rapat atau pertemuan politik. Untuk supaya kedengaran lebih hebat dibumbuhi nilainya, dibilang itu "Sumpah Pemuda". Kalau mau lebih serius lagi, dapat dikatakan bahwa sekalipun sumpah bukan berarti tidak boleh berpisah. Contohnya ialah perkawinan antara dua mahluk ciptaan Illahi, antara laki-laki dan perempuan. Mereka dinikahi dengan sumpah agama bahwa akan setia dalam suka dan duka, saling bantu dan hidup bersama dalam rukum dan damai. Sekalipun demikian perkawinan berazaskan agama terjadi perceraian. Terkecuali pada mereka yang beragama Katholik. Perceraian bagi mereka agak sulit, karena harus mendapat izin dari Paus di Vatikan. Tidak ada orang di dunia ini yang mau bercerai dari kehidupan nyaman, rukun dan bahagia, tetapi kalau misalnya suami tidak adil, suka gebuk isteri dan anak-anak, maka resikonya ialah perceraian keluarga. Hemat saya yang paling mudah ialah perceraian menurut agama Islam, jadi mengingat mayoritas penduduk NKRI beragama Islam dan lagi NKRI masuk organisasi negara Islam (OIC), maka sepatutnya NKRI aturan aturan agama Islam, yaitu memberi keluasan misalnya kepada kaum seagama yaitu orang Aceh untuk menentukan nasib sendiri. Kalau perceraian untuk keselamatan dan kebahagiaan umat, hemat saya Allah pun akan memberkati dengan sangat senang hati. ----- Original Message ----- From: ajeg To: prole...@yahoogroup s.com Sent: Sunday, April 25, 2010 10:31 PM Subject: Re: [proletar] Janganlah Menjajah Maluku, Aceh, dan Irian, Merdekakanlah !!! Bersumpah untuk bersatu dalam negara Indonesia berarti bersumpah menjadi bagian dari Indonesia. Karena sumpah sudah diucap, maka kalau mau referendum haruslah melibatkan rakyat di bagian- bagian Indonesia lainnya. Jangan cuma sekumpulan pemuda & tokoh Papua. Apalagi bawa-bawa orang luar seperti kelakuan OPM itu. Tapi, sebelum melangkah terlalu jauh, coba ikuti perkembangan dialog antara LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan sejumlah intelektual Papua untuk memperbaiki sejarah yang sedang berlangsung. Terutama mengenai keluhan budek pol & sos di bagian timur Papua. Ini kan menarik. Kena apa tokoh-tokoh intelektual Papua sendiri memfokuskan ke timur. Lebih tajam lagi, ke seputar Kabupaten Mimika. Kabupaten yang selama beberapa dekade sarat konflik budek polos yang bersumber pada kekayaan alam dan usaha perusakan lingkungan. Kita nggak perlu tutup mata adanya persoalan di sana. Tapi jangan juga persoalan di satu kabupaten seolah sudah keseluruhan wajah Papua. --- a.wid...@gmail. com <a.wid...@.. .> wrote: > Dulu para pemuda dan tokoh dari masing masing suku dan kepulauan > bersumpah untuk bersatu dalam satu negara kesatuan Indonesia. Kalau > sumpah tersebut dianggap sebagai tonggak persatuan, maka untuk > memisahkan diri, cukup kumpulkan lagi para pemuda dan tokoh dari > masing2 suku dan kepulauan untuk menyampaikan sikapnya yg baru atau > referendum.. .saya pikir itu fair..persatuan tidak perlu dipaksakan > lagi...terlalu banyak rongrongan persatuan dari pihak yg ingin > exclusive... > > -----Original Message----- > From: "muskitawati" <muskitawati@ ...> > > > Janganlah Menjajah Maluku, Aceh, dan Irian, Merdekakanlah !!! > > > ======= Wiadomosc przeskanowana przez Spyware Doctor - nie znaleziono wirusów ani spyware. (Email Guard: 7.0.0.18, baza wirusów/spyware: 6.14860) http://www.pctools. com =======
