Sebenarnya topiknya cukup masih segar, tetapi Reza Idra Ché Guavara, yang 
Vendra Djamaluddin pun kenal beliau itu dengan emosional telah mengechopi Teuku 
Zullhairi sebagai plagiataris, tetapi kemudian beliau itu sendiri lari, 
mengecutkan diri dan tidak beranipun memprodakkan pemikirannya tentang 
pluralisme dan fundamentalisme, kalau apa yang Teuku Zulkhairi dan 
rakan-rakannya telah mengemukan tentang pendapat mereka terhadap pluralisme 
itu, sebagai benar sekali, walaupun terpaksa mengutip tulisan orang lain tampa 
menuliskan "siempunya asli" tulisan itu. 

Kita akan mengatakan, semua yang diisikan dalam IA adalah segar dan fresh dalam 
bungkusannya, walaupun diulang bungkus tidak mengapa, apalagi kalau isi semua 
tulisan termuat itu, telah disetujui bersma sebagai isian semacam khutbah atau 
tabligh ulangan yang disana nampaknya belum terisi lagi, dikarenakan label 
waktunya tidak pernah habis tarikh atau lewat waktu.

Dan kepada Vednra Djamaluddin di ucapkan marhaban, selamat datang kedalam wadah 
diskusi baik lewat IA ataupun lewat IACSF,
menjelaskan prihal (agama) pluralisme dan fundamentalisme.

Teuku Zulkhairi sebagai anak jebolan Dajah Tinggi, tentunya punya pegangan kuat 
dalam hujjah dalam diskusi ini, pegangan beliau atas ucapan (1) Dua kalimah 
syahadat: Tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar sembah selain Allah (SWT) 
dan (Nabi Besar) Muhammad (SAW), Rasulullah, (2) Surat Al Ikhlas dan (3)  
Ketegasan Nabi Besar Muhammad SAW, Rasulullah memberikan arahan, agar masalah 
Islam sebagai addiin, menjadi urusan mutlak bagi kita, sebagai ummat Islam 
{fundamentalis: yang berpegang kuat pada sumpah janji: Tiada Tuhan yang 
disembah dengan sebenar sembah selain Allah (SWT) dan (Nabi Besar) Muhammad 
(SAW), Rasulullah} dan masalah urusan religion/religere atau agama/budaya 
ataupun (agama) pluralisme, biarlah mereka-mereka dari pihak 
"kiayi/pendeta/bikshu/sami pluralis" yang menguruskannya.

Makanya bagi kita ummat Islam di Achèh lebih arief dan bijaksana berbanding di 
luar Achèh, ketika berhadapan dengan (agama) pluralisme, seperti misalnya di 
Pulau Jawa, yang semerawutan, malahan ada yang mengatakan dirinya Islam, tetapi 
tidak mau ikut akan ketegasan arahan dari Nabi Besar Muhammad SAW: Agar Islam 
menguruskan Islamnya dan (agama) pluralisme menguruskan keagamaan pluralisme 
mereka dengan catatan para "kiayi/pendeta/bikshu/sami pluralis", agar tidak 
ikut intervensi kedalam Islam sebagai addiin.

Tetapi, Vendra Djamaluddin telah melihat ada orang yang masih mendabik diri 
sebagai Islam, malahan telah ikut tercemplung dan telah mencemplungkan 
diri menjadi pluralis "diplomat terjun" dari/kedalam (agama) pluralisme dengan 
disifatkan telah coba menghapuskan sebahagian ayat-ayat suci Al Qurän nul 
Karim, seperti yang telah diingatkan oleh Prof Dr Amien Rais, dari pihak 
kepemimpinan Muhammadiah Pusat.

Kalau si Ulil Abrar Abdalla, nabi Uliliah itu, yang telah menjadi membership 
(agama) pluralisme itu, sememangnya telah dianggap murtad dan sesat, sama 
derajat kemurtadan dan kesesatannya seperti Gulam Mirza Ahmad Al Qadiani, nabi 
Ahmadiah. 

Jadi saya kira, tidak perlulah kita atau pemilis lain mengisi list 
nama-nama filosof lain yang selist dengan Ibnu Rusd dan selist dengan Imam Al 
Ghazali, tetapi cukuplah dipahami sesiapa yang telah derail dari rel ucapan dua 
kalimah syahadat:Tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar sembah selain Allah 
(SWT) dan (Nabi Besar) Muhammad (SAW), Rasulullah, maka mereka itu telah bisa 
dilistkan kedalam list Ibnu Rusd dan begitulah sebaliknya yang tetap berjalan 
dengan kehati-hatian diatas rel ucapan dua kalimah syahadat: Tiada Tuhan yang 
disembah dengan sebenar sembah selain Allah (SWT) dan (Nabi Besar) Muhammad 
(SAW), Rasulullah, maka akan dilistkanlah kedalam listnya Imam Al Ghazali, 
sebagai sistimatis, fullstop!

Memang saya ada membaca sebuah buku (terjemahan) dari sarjana Mesir, yang 
dikatakan sebagai: Filsafat Islam, mengkritik disana dan menyifatkan Imam Al 
Ghazali sebagai orang yang telah memundurkan (kebudayaan) Islam, dikarenakan 
ingatan beliau terhadap kesekularis-an bacaan kefilsafatan mereka, yang bisa 
membahayakan akidah ummat Islam dan Islam itu sendiri dimasa akan datang, 
dimasa setelah ketiadaan pengkritik lain sebagaimana beliau, walaupun sehingga 
hari ini, "khazanah" pengkritikan itu, diwarisi juga oleh Rima Gulam Pawoun dan 
Gulam Pawoun si-anak dan si-bapak!

Vendra Djamaluddin sisingkan lengan baju anda dan gulungkan kaki celana anda 
sehingga kesetinggian kedua mata kaki, masuklah ke-arena diskusi (agama) 
pluralisme dan fundamentalisme, apalagi Reza Idra Ché Guavara masih tertakut 
dan terkecut, seperti keadaan Young Sumatra dan Young Ambon setelah 
diberitahukan bahwa, apa yang diucapkan ikrar bersama dengan 
Pemoeda-Pemoeda Komoenis, pada 28 Oktober, 1928, sebagai sesuatu yang diluar 
pengetahuan awal mereka sehinga mereka:  Young Sumatra dan Young Ambon tertakut 
dan terkecut sakit perut pada masuk 
kakus-toilet.................................................... buang sampah!  

Jadi anda Vendra Djamaluddin, hadir selalulah kalau perlu tuliskan email anda 
dengan "cahaya bening" saja agar email Vendra Djamaluddin jangan kecapeaan, 
seperti keletihan dan kecapeaan yang dialami Novendra Djamaluddin doeloe!

Kita pun tidak mau kalau saudaraku Winwannur juga terus membebel, 
tetapi sambilan terus pergi menjauh, meninggalkan panti asuhannya: (agama) 
pluralisme dan fundamentalisme!

Saudaraku Wanwinnur, selain saya sedang menyiapkan kerja peng-overhaul-an 
tulisan ajo Indra Jaya Piliang dari Dewan Penasehat Indonesia Institut dengan 
Jupe-nya, saya juga sedang menunggu responan dari saudara Alcaf, anak Achèh 
yang kini berdomisili di Leeds, United Kingdom, yang oleh Taufik Al Mubarak, 
anak Achèh Pungo itu, telah menyerang Alkaf dan mensejajarkannya pula Alkaf itu 
dengan Hitler atau Zionisme Orthodok yang sangat kelewat itu, lewat Achèh 
Institut.

Omar Putéh
Meunasah Reudeuëp
Achèh Rajeuk 






________________________________
From: Vendra.dj <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, May 2, 2010 10:35:13 AM
Subject: RE: |IACSF| Anco Aceh lon...

  
Salam..
Maaf! Saya baru nimbrung dalam diskusi ini.. setelah lama berjalan, keliatannya 
semakin alot. Semoga ide-ide segar dapat terus mengalir disini.
Menarik menyikapi tawaran Rima untuk memgurai tema diskusi yang lebih 
sistematis, sehingga tidak terjebak dalam debat kusir yang tak jelas 
juntrungannya. .
 Seb
Ada baiknya daftar pemikiran para filosof yang diklaim rancu oleh Al Ghazali 
dilist. Juga mengajukan list kerancuan pemahaman Al Ghazali terhadap pemikiran 
para filosof yang dikritik Ibn Rush. Pastinya kita tidak hendak membela 
keseluruhan pemikiran Al Ghazali, atau berada dibarisan Ibn Rush untuk membela 
seluruh ktitikannya tehadap Al Ghazali. Ini tawaran ku… 
From:ia...@yahoogroups. com [mailto:IACSF@ yahoogroups. com] On Behalf Of Teuku 
Zulkhairi
Sent: Wednesday, April 28, 2010 9:40 PM
To: ia...@yahoogroups. com
Subject: Re: |IACSF| Anco Aceh lon...
 
  
@Gulam Pawon
Tdk juga bang...
pada dasarnya Imam Ghazali tdk menuduh Ibn Rushd sudah sesat... beliau hanya 
menjelaskan beberapa kerancuan, ya wajar saja kan krn Ibnu Rushd tdk maksum? 
bukan Nabi...
pun sebaliknya ketika Ibnu Rushd menjwab ulang pemikiran Al-Ghazali.. krn 
Al-Ghazali juga manusia seperti Ibnu Rushd...
Kalau Abg bilang mereka berdua laksana Air dan Oli mungkin tdk juga bang..
Imam Ghazali juga seorang Filsuf meski ditangannya banyak lahir karya2 yg 
orientasinya ke Tasawuf... begitu juga Ibnu Rushd, meski beliau seorang filsuf 
namun ditangan beliau juga lahir Bidayatul Mujtahid(fikih) ...
Sy lebih melihat Imam Ghazali menekankan agar kita lebih berhati-hati saja, 
bukan melarang... Nah, apkh salah jika kita hanya diminta hati-hati?
benar nalar umat Islam telah sekian lama mengalami stagnasi yg cukup parah, 
namun benarkan Imam Al-Ghazali yg menjadi penyebabnya? disinilah sy pikir kita 
jangan melihat secara subjectif, harus objectif...
Sebagai umat Islam, tugas kita adlh mengumpulkan kebenaran yg berserakan itu, 
lalu kita hidangkan ke hadapan Umat...
@Win Wan Nur
kalo dibilang Win Wan Nur sy cuma menghafal teks2 ulama Timur Tengah saja tdk 
juga koq, faktanya sy juga belajar pemikiran non Timur Tengah..
jika win wan nur melihat sy anti filsafat, sy pikir tdk juga, alhamdulillah sy 
sangat senang belajar filsafat, beberapa karya Roger Garudy habis sy baca di 
bangku SLTP.. beberapa kitab filsafat juga pernah habis sy hafal matannya...( 
pernyataan ini hanya pleidoi utk Win Wan Nur seorang) 
dan sy memang berbasis dayah, tapi sangat banyak pula pemikiran santri dayah yg 
sy kritik, cuma sy lebih memilih jalur yg tdk mengakibatkan konfrontasi 
langsung... 
saleum
Teuku Zulkhairi

--- On Thu, 4/29/10, Gulam Pawoun <gulam.pawoun@ gmail.com> wrote:

From: Gulam Pawoun <gulam.pawoun@ gmail.com>
Subject: Re: |IACSF| Anco Aceh lon...
To: ia...@yahoogroups. com
Date: Thursday, April 29, 2010, 4:08 AM
  
Ah ... Saya rasa sikap "ambil jalan tengah" dan "bersopan-manis"
diantara perdebatan ide dari figur2 ternama Islam masa lalu dah ga'
jamannya lagi ... Apalagi kalo kemudian sikap-sopan dimaksud malah
mematikan "diskursus" itu sendiri ...

Saya tertarik dengan gagasan jalan tengah yang Zulkhairi sebutkan,
cuman ga tau persis gimana maujud sebenarnya ... Saya membayangkan
perbedaan antara oli dan air, apa ada bentuk antaranya? Hehehe

Karenanya saya menghimbau Zulkhairi dan juga Bang Win, mari kita
debatkan lebih baik perkara ini .. Untuk keduanya saya mintakan
tolong, sila urai butir2 perdebatan "Ghazel Vs Averoes" yang
diketahui, untuk memudahkan kami para audiense menyimak dan berperan
...

Sila wahai rakan dan serinen ku ...

On 4/28/10, Teuku Zulkhairi <khairi_panglima@ yahoo.com> wrote:
>
>
> Win Wan nur, biar bagaimana pun umat Islam sudah semestinya lebih melihat
> sisi positif yg dimiliki Imam Ghazali, bukan sisi negatifnya.. .
> Imam Ghazali sudah berbuat banyak bagi umat Islam... kalo anda Win? kira2
> apa aja sumbangsih yg telah bung win berikan? masih kalah kan sm Imam
> Ghazali?(begitu juga saya) tapi gak tahu juga lah, mungkin menurut bang Win
> dirimu lebih berjasa terhadap umat Islam dan khazanah keilmuannya drpd Imam
> Ghazali... hak dirimu juga sich utk merasa demikian..
> Sy pribadi berpikir begini, dlm konflik antara 2 Imam besar ini, kita lebih
> baik ditengah aja win, Imam Ghazali hebat, Ibn Rushd juga hebat, sama2 sudah
> berbuat banyak utk umat Islam...
> jadi biar umat tdk bingung, langkah yg mungkin dan lebih baik kita lakukan
> adalah menghimpun berbagai kebaikan dan kebenaran yg berserak itu utk
> kemudian kita sajikan ke hadapan umat... jadi kita tdk hanya menjadi
> pengacau, pentaklid buta, tendensius dan egois krn hanya mengggap pendapat
> Ibn Rushd lah sebagai kebenaran mutlak....krn kebenaran mutlak hanya milik
> Allah...
> sy tdk pernah memposisikan Imam Ghazali layaknya Nabi, itu fantasi liarmu
> aja kali bung win... tapi Ibn Rushd bagi bung win sudah layaknya Nabi kan?
> he he he
> bagi sy, kedua ulama tsb harus dihargai...
> tdk bijak jika kita hanya sibuk menghujat Imam Ghazali dgn realita berbagai
> ketertinggalan umat dewasa ini sementara sumbangsih kita juga masih begitu
> minim(atau bahkan mungkin masih nol ?)...
> faktor ketertinggalan umat Islam sangat panjang utk kita kupas... sy lebih
> tertarik kita buat dlm suatu seminar aja insya Allah, atau dlm suatu
> penelitian ilmiah....
> tdk memada lewat milist ini sepertinya.. . atau bisa juga kita diskusi
> langsunng aja kalo bung win ingin mengetahui lebih jauh pandangan sy terkait
> hal ini...
> sy pikir menghujat dan saling menyalahkan tdk akan pernah bisa menyelesaikan
> permaslaahan. . begitu win..
> --- On Wed, 4/28/10, Win Wan Nur <winwan...@yahoo. com> wrote:
>
>
> From: Win Wan Nur <winwan...@yahoo. com>
> Subject: Re: |IACSF| Anco Aceh lon...
> To: ia...@yahoogroups. com
> Date: Wednesday, April 28, 2010, 11:45 AM
>
>
>
>
>
>
>
> @ Teuku Zulkhairi
>
> Sebenarnya, sejujurnya saya tidak yakin kalau Plagiat yang anda lakukan
> kemarin adalah kekhilafan,  alasan dari ketidak yakinan saya ini adalah
> pengalaman sebelumnya, saat saya meneukan anda memang terbiasa menghalalkan
> segala cara untuk membenarkan pendapat anda.
> Misalnya di beberapa tulisan anda yang lain, anda pernah dengan sadar
> merekayasa fakta, untuk menyanjung diri anda sendiri dan menjatuhkan lawan
> anda.
>
> Tapi sudahlah, saya setuju dengan anda, memang kekhilafan pasti bisa terjadi
> pada siapa saja. Cuma yang lucu adalah orang yang baru tertimpa 'kekhilafan'
> tiba-tiba langsung berkhotbah soal pentingnya moral, seolah-olah sebelumnya
> tidak pernah bersalah apa-apa.
>
> Oh ya...saya masih menunggu jawaban anda atas Tahafut al-Falasifah dan
> Al-Ghazali yang anda puja-puja layaknya nabi. Tulisan anda yang di
> kompasiana soal Al-Ghazali itu sangat pendek dan tidak membantah apapun
> argumen saya,  tulisan anda itu lebih mirip seperti rengekan dari seorang
> anak manja.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> From: Teuku Zulkhairi <khairi_panglima@ yahoo.com>
> To: ia...@yahoogroups. com
> Sent: Wed, April 28, 2010 4:44:21 PM
> Subject: Re: |IACSF| Anco Aceh lon...
>
>
>
>
>
>
>
> Tdk juga koq win....dan tdk seperti yg bang win pikirkan tentunya....
> plagiat menjadi salah ketika referensinya tdk dicantumkan, kalo ada disebut
> referensinya ya tdk masalah kan?...cuma manusia kdn lupa, no body is
> perfect, kekhilafan bisa menimpa siapa saja, baik saya, dosen sy, bang
> Djuanda Jamal(ya ndak bang? he he he), juga win wan nur sendiri... tapi gak
> tahu juga apa bung win ini pernah lupa.... he he he
>
> --- On Tue, 4/27/10, Win Wan Nur <winwan...@yahoo. com> wrote:
>
>
> From: Win Wan Nur <winwan...@yahoo. com>
> Subject: Re: |IACSF| Anco Aceh lon...
> To: ia...@yahoogroups. com
> Date: Tuesday, April 27, 2010, 5:23 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
> @ Juanda...
>
> he he he...beginilah kalau Plagiator alias Maling nggak tau malu, ngomong
> soal Moral. Lucu jadinya, maunya mengalihkan perhatian, tapi malah jadi
> bahan tertawaan.
>
> Untuk orang-orang seperti Teuku Zulkhairi ini, waktu dia masih netek, Iwan
> Fals udah buat lagu yang judulnya Bento.
>
> Khotbah soal moral, ngomong keadilan, sarapan pagiku....kata Iwan Fals di
> lagu itu. Persis kan!
>
> Maklumlah,  Teuku Zulkhairi ini kan politisi gagal, jadi sekarang ya 'jual
> diri' supaya menarik perhatian, maksudnya biar di pemilu depan ada yang
> lirik.
>
>
>
> --- On Mon, 4/26/10, Wanda Wanda <wwand...@yahoo. com> wrote:
>
>
> From: Wanda Wanda <wwand...@yahoo. com>
> Subject: Re: |IACSF| Anco Aceh lon...
> To: ia...@yahoogroups. com
> Date: Monday, April 26, 2010, 10:19 AM
>
>
>
>
>
>
> heheh...Ajaran Islam diamalkan... untuk mengamalkannya maka perlu belajar,
> maka bacalah....hal- hal ini sudah jauh hari ada di Aceh, mengakar menjadi
> kebiasaan ureung Aceh, menjadi darah daging dalam hati sanubari dan
> membudayakan nilai dan ajaran Islam dalam bersosial, berekonomi dan
> berpolitik.. ..Orde baru mampu membungkus NKRI dalam nasionalisme semu,
> begitu juga mengaburkannya sejarah dan budaya Aceh...Operasi militer  makin
> menyuramkan fungsi meunasah sebagai basis bagi orang aceh belajar tentang
> akhlak, ilmu siyasah, dll...ditambah lagi pergerakan Islam modern yang
> berkembang dalam bentuk organisasi yang memiliki  interpretasi dan
> background yang berbeda, maka makin mempengaruhi rasionalitas dan logika
> berpikir kita ureung Aceh...Syariah Islam ditetapkan dalam UU Otonomi 2001,
> maka makin mengaburkan Islam yang pernah berkembang di Aceh, harapannya bisa
> meredam gerakan pemerdekaan, nyatanya melahirkan berbagai kontroversialitas
> yang
> menyebabkan pereduksian nilai-nilai Islam, pelecehan Islam dengan
> diskriminasi  pelaksanaannya dan diolok-olokkan oleh politisi.... ..
>
> Saat ini pemikiran- pemikiran Islam makin jauh dari terjemahan perkembangan
> masa...maka jadilah manusia yang merugi..bahkan saat ini kita hidup dengan
> terkotak-kotakan dalam mesjid masing-masing. ...
>
> Maka membacalah.. ...Supaya menjadi orang yang selamat..... .
>
> Juanda Djamal
>
>
>
>
>
> From: fani adi <fh...@yahoo. com>
> To: ia...@yahoogroups. com
> Sent: Mon, April 26, 2010 5:03:48 AM
> Subject: Re: |IACSF| Anco Aceh lon...
>
>
>
>
>
>
>
> sebenarnya mudah aja teungku2 ntelektual, kembalikan aja itu syariat madein
> jawakarta ke jakarta sana. terlalu banyakenergi terbuang sia sia
> untuk target yang ngak jelas.
>
>
>
>
> From: Teuku Zulkhairi <khairi_panglima@ yahoo.com>
> Subject: Re: |IACSF| Anco Aceh lon...
> To: ia...@yahoogroups. com
> Date: Sunday, April 25, 2010, 7:11 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Bang Abdullah, trimakasih banyak atas pemikiran konstruktifnya. .. insya
> Allah menjadi renungan bagi sy khususnya... . insya Allah sy pribadi akan
> melakukan apa yg bisa sy lakukan semaksimal mungkin..
> sebagai pemuda Aceh, tak sudi sy Aceh dijadikan seperti Bali....
> ya Allah ampunilah kami karena banyak yg belum kami lakukan....
>
> --- On Sun, 4/25/10, Abdullah <koded...@yahoo. com> wrote:
>
>
> From: Abdullah <koded...@yahoo. com>
> Subject: Re: |IACSF| Anco Aceh lon...
> To: ia...@yahoogroups. com
> Date: Sunday, April 25, 2010, 7:43 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
> Tengku ZUl,,, setiap orang itu bergerak sesuai pemahamannya. Orang2 yang
> tanpa malu melakukan maksiat di tempat-tempat keramaian adalah hal yang bisa
> dimaklumi. Karena pemahaman orang2 yang bermaksiat itu seperti itu. Bisa
> jadi mereka tidak tahu itu salah. Bisa jadi mereka tahu salah, tapi hati
> mereka telah ditutup oleh banyak noda hitam, sehingga tidak bisa bersikap
> sesuai pengetahuannya. Sejak kecil mereka dididik dengan tayangan2 televisi
> yang biasa menampilkan hal2 seperti yang mereka lakukan. Apa yang mereka
> baca, apa yang mereka dengar, semuanya membentuk cara pandang mereka.
>
> Intinya, yang orang-orang yang bermaksiat di keramaian memang salah. Tapi
> kita bisa memaklumi mereka dengan sejuta toleransi. Yang tidak bisa
> ditolerir adalah, orang2 yang tahu mereka salah, tapi orang2 tersebut tidak
> mencegah maksiat terang-terangan seperti ini. Karena orang2 yang tahu ini
> memiliki kewajiban untuk menyelamatkan orang-orang yang berbuat maksiat
> tersebut. Karena tidak ada maksiat dilakukan, kecuali maksiat tersebut akan
> menghancurkan pelakunya. Terkait hal ini, dalam suarat al-nisa Allah
> berfirman, "Wa man yaksib itsman fainnama yaksibuhu ala nafsihi." (Barang
> siapa yang melakukan dosa, maka sesungguhnya ia merugikan dirinya sendiri)."
> Dalam ayat lain Allah berfirman, "In ahsantum ahsantum lianfusikum, wain
> asaktum falaha." (jika kalian berbuat baik, maka sesungguhnya kalian telah
> berbuat untuk diri sendiri, dan barang siapa yang berbuat buruk maka
> keburukan itu juga akan menimpanya") .
>
> Oleh karena itu, orang2 yang mengetahui orang-orang yang berbuat maksiat itu
> menghancurkan diri sendiri dan masyarakatnya, bahkan bisa menghancurkan Aceh
> dan syariat Islamnya, maka telah seharusnya kita bergerak untuk memberantas
> hal-hal seperti ini hingga ke akar-akarnya, sesusai kapasitas kita
> masing-masing. Yang kapasitanya menulis, maka ia harus menuliskan solusi
> terhadap maksiat terang2ngan seperti ini. Bagi yang kapasitasnya dai,
> seharusnya lebih menggerakkan masyarakat. Dan gubernur Aceh juga sangat
> bertanggungjawab. Ia seorang pemimpin diam terhadap maksiat, maka saatnya
> Aceh evaluasi dan merancang pemimpin yang tidak pernah rela maksiat meraja
> lela di Serambi Makkah tercinta.
>
> by the way, makasih teuku zulkhairi atas keprihatinannya.
>
> --- On Sun, 4/25/10, Teuku Zulkhairi <khairi_panglima@ yahoo.com> wrote:
>
>
> From: Teuku Zulkhairi <khairi_panglima@ yahoo.com>
> Subject: |IACSF| Anco Aceh lon...
> To: "MILIST AI" <ia...@yahoogroups. com>
> Date: Sunday, April 25, 2010, 3:19 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Sebagian cafee-cafee di Aceh telah menjadi arena maksiat.. sebagian
> pemuda-pemudi( mahasiswa/ i) di Banda Aceh sudah tdk ada rasa malunya lagi
> bermesraan di depan khalayak ramai, nyan koen budaya tanyoe ureung Aceh...
> Na'uzubillahi min zalik... anco Aceh lon menyoe kondisi lagei nyoe ka ta
> biarkan....dan kaum intelektual harus bertanggung jawab....
> Apa langkah real yg harus dan bisa kita lakukan sekarang wahai bangsa lon?
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

-- 
Sent from my mobile device 
 
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 9.0.814 / Virus Database: 271.1.1/2833 - Release Date: 05/01/10 
11:27:00



      

Kirim email ke