Tulisan sebelumnya sudah dirusak oleh tangan jahil. Inilah tulisan aslinya.
Banyak juga yang mengaku beragama Islam tetapi sepakterjangnya macam orang
hipokrit saja. Mayoritas penguasa di Indonesia juga mengaku beragama Islam tapi
kerjanya tetap saja menzalimi orang Acheh - Sumatra, RMS dan West Papua. Allah
berfirman: "Dan diantara manusia ada yang mengaku beriman kepada Allah dan hari
Akhirat padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang yang beriman (QS, al
Baqarah : 8)
Ahmadinejad mengajak penduduk Dunia agar memusnahkan seluruh senjata Nuklir
sebab senjata tersebut merupakan pembunuh manusia secara massal. Menurut Islam
sejati, agama yang terakhir diturunkan Allah untuk dipedomani manusia agar
selamat setelah punahnya dunia ini alias Kiamah, melarang terbunuhnya penduduk
sipil ketika berperang. Jadi jelas sekali bahwa senjata pemusnah massal itu
terkutuk menurut pandangan Allah, para Rasul, para Imam dan orang-orang yang
saleh. Justru itu ketika Ahmadinejad sebagai pribadi yang saleh mengajak
penduduk Bumi agar tidak siapapun dibenarkan memproduksikan senjata yang sangat
berbahaya tersebut, pastinya diterima oleh semua penduduk Bumi yang manusiawi
kecuali yang menolaknya sepertinya orang yang tidak manusiawi alias "reman".
Reman yang saya maksudkan adalah basyar, nyakni makhluk yang tega menzalimi
sesama makhluk Allah yang mendiami planet Bumi ini. Ketipa kita menyaksikan
orang Palestina dizalimi pihak zionis kita jangan picik sebatas itu saja
pikiran kita. Maksud saya secara ideo logis kita harus mampu mengenali
"zionis-zionis" type lainnya yang bertebaran diseluruh Dunia, senantiasa
menzalimi komunitas lainnya macam Indonesia terhadap komunitas West Papua,
Acheh - Sumatra dan RMS. Demikian juga prototype penindas lainnya dimana-mana.
Jadi kita harus mampu memahami setiap fenomena yang terpampang di depan mata
kita dengan kaca mata ideology atau secara filosofis.
Kalau komunitas komunitas yang terzalimi diatas dibiarkan tanpa perhatian
sedikitpun dari PBB, penghapusan senjata pemusnah massal tidak ada artinya bagi
kami komunitas yang terzalimi tersebut. Demikian juga fungsi Konferensi
Perlucutan Senjata di Tehran sebagai Upaya Baru Menghidupkan Kembali Harapan
Indah Umat Manusia juga tidak ada artinya bagi kami yang terzalimi, kenapa?
Pasalnya itu hanya menyentuh kepentingan penguasa-pengu asa dari negara yang
terlibat dalam konferensi itu saja, sementara diantara negara yang ikut
konferensi tersebut termasuk negara penindas komunitas kami yang mendambakan
kedamain Dunia.
Kalau kita mengaca pada petunjuk Pemilik Dunia ini, orang saleh harus memihak
kepoada kaum dhuafa. Sementara pesert konferensi tersebut tangan mereka masih
segar dari lumuran darah kaum dhuafa dari komunitas kami. Semoga peserta
konferensi tidak hanya bermanius mulut sesama mereka sementara kaum dhuafa di
Komunitas kami menderita lahir bathin, tetap saja tak tersentuh "percikan
harum" dari hasil konferensi tersebut. Bukankah munafiq namanya yang bermanis
mulut sesama penguasaa tetapi terabaikan kaum dhuafa di komunitas kami yang
kecil-kecil itu?
Sekali lagi: "Yang namanya orang saleh pasti memihak kepada kaum dhuafa bukan
kepada kaum mutakabbirun, penindas kaum dhuafa.
Opini Angku Meureudu di Ujung Dunia