Ahmadinejad, Pendulum Ekonomi Iran 
Purkon HidayatOleh: Purkon Hidayat 
Sejumput
rumput menyembul dari bola basket warna merah tua yang dikerat manis,
terpampang persis di samping tulisan selamat tahun baru, Sal-e Nou Mobarak.
Papan reklame sebuah perusahaan saus terbesar pendukung olahraga Iran
ini terbentang lebar di jalan raya Chamran, tepat menuju pintu gerbang
utara kantor IRIB, Radio dan Televisi Iran, tempat saya bekerja. Meski
bulan pertama tahun baru Iran sudah berjalan dua puluh hari, suasana
Tahun Baru Nouruz masih melekat di hati masyarakat Iran.
Seiring
merekahnya tangkai bunga dan hijaunya dedaunan di awal musim semi,
masyarakat Persia berbinar-binar memasuki tahun baru dengan gunungan
harapan. Dentang pergantian tahun menorehkan optimisme baru bagi bangsa
Iran, mulai dari supir taksi hingga presiden. Persis seperti sapaan
hangat di antara mereka yang sarat harapan, ‘Selamat tahun baru, semoga
menjadi tahun yang baik bagimu.'
Bagi
Presiden Iran, tahun 1389 Hs menjadi momentum yang tepat untuk merombak
struktur ekonomi negeri Persia ini. Ahmadinejad acapkali menyuarakan
urgensi reformasi ekonomi Iran. Tidak tanggung-tanggung, doktor
transportasi jebolan Universitas Elm va Sanat Tehran ini menggulirkan ide 
kontroversial, subsidi terarah, hadafmand kardan-e yaraneh.
Pria
bersahaja putra tukang besi ini gregetan menyaksikan besarnya anggaran
yang dikeluarkan pemerintah untuk mendanai impor bensin dari negara
lain. Belum lagi, negeri para Mullah ini, terus-menerus digencet
embargo ekonomi Gedung Putih, termasuk larangan ekspor bensin bagi
perusahaan-perusahaan AS ke Iran.
Produksi
bensin dalam negeri Iran hingga kini belum mampu memenuhi tingginya
kebutuhan bensin di negeri kaya minyak ini. Pasalnya, perang delapan
tahun yang dipaksakan rezim Baath Irak terhadap Iran
memporak-porandakan instalasi minyak dan produk olahannya. Belum lagi,
lonjakan kuantitas mobil-mobil pribadi yang berseliweran memadati
ruas-ruas jalan Tehran terus-menerus menguras gelontoran bensin dari
pom-pom bensin yang buka 24 jam. Prosentasi kepemilikan mobil di Tehran
terbilang fantastis. Konon, satu dari sembilan warga Iran di Tehran
memiliki satu buah mobil.Terang saja, kemacetan kian membengkak
menghantui kota metropolitan ini.
Lima
tahun lalu, bensin adalah komoditas yang lebih murah dari sebotol kecil
air mineral. Semenjak Ahmadinejad menjabat sebagai presiden Iran,
mantan walikota Tehran ini menerapkan kebijakan kontroversial dengan
menaikan harga bensin dari 80 toman menjadi 100 toman (sekitar 1.000
rupiah).
Tidak
hanya itu, dua tahun kemudian, Ahmadinejad malah menaikan harga dasar
bensin menjadi 400 toman. Meski harga bensin dinaikan, namun setiap
warga Iran yang memenuhi syarat diberi jatah subsidi bensin sebesar 100
liter perbulan dalam kartu bensin masing-masing. 
Sebagai
kompensasi kenaikan harga bensin, pria brewok kurus ini mengalokasikan
dana subsidi untuk perbaikan infrastruktur dan jaring pengaman sosial
di Iran, terutama di daerah. 
Di
Tehran utara, wilayah papan atas Iran, kebijakan Ahmadinejad memicu
protes dari kalangan menengah ke atas. Imbasnya, pada pilpres 2009
silam, perolehan suara Ahmadinejad di Tehran kota, terutama Tehran
Utara kalah tipis dari pesaing utamanya Mousavi. Namun, perolehan suara
mantan Walikota Ardabil di Tehran besar, terutama di wilayah menengah
ke bawah jauh mengalahkan mantan perdana menteri Iran itu. 
Putra
keluarga pandai besi ini senantiasa mendapat sambutan hangat rakyat
dalam setiap safari provinsinya. Bagi orang daerah, naiknya Ahmadinejad
adalah durian runtuh yang ditunggu-tunggu. Lima tahun menjabat sebagai
presiden, Ahmadinejad telah menyulap desa-desa Iran. Selama lima tahun,
pria yang membuat politisi Gedung Putih mencak-mencak ini, memfokuskan
pembangunan di daerah-daerah, terutama perbaikan fasilitas umum, hingga
ke desa-desa terpencil. Bagi Ahmadinejad, Iran bukan hanya untuk
Tehran, Iran untuk seluruh bangsa Iran.
Lebih
dari separuh bulan pertama tahun baru Iran dilalui. Penerapan program
subsidi terarah makin bergulir kencang. Koran Donya Eghtesad dalam
editorialnya baru-baru ini menyoroti penerapan subsidi terarah di Iran.
Harian ekonomi berbahasa Farsi terbesar di Iran ini menyebut
penyesuaian harga menjadi harga riil merupakan salah satu agenda utama
reformasi Iran. Harga riil komoditas yang dimaksud adalah titik equilibrium, 
pertemuan antara supplay dan demand.
Hingga kini, parlemen dan pemerintah masih membahas penerapan penuh
program itu.Pemerintahan Ahmadinejad bertekad menjalankan penuh program
subsidi terarah ini. 
Saat
menumpang metro membelah jantung kota Tehran, tidak sengaja saya
mendengarkan percakapan warga Iran yang datang dari daerah tentang
Ahmadinejad, Ou, mardom az jins mardom ast, dia adalah rakyat dari kalangan 
jelata. 
Sejatinya,
pembangunan, bagaimanapun adalah keberpihakan. Lalu, apa yang sedang
diperjuangkan dan yang sedang dibela oleh Ahmadinejad? Bagi jutaan
warga Iran di pelosok negara ini, Ahmadinejad adalah hero bagi mereka.
Di
tengah pro kontra mengenai penerapan penuh program subsidi terarah,
Ahmadinejad tetap optimis, penerapan penuh subsidi terarah adalah
terobosan besar bagi Iran yang akan membawa negara ini mengulang masa
keemasan dinasti Persia. Mungkinkan Ahmadinejad akan senasib dengan
Deng Xiaoping, program ekonominya dikecam sekolompok orang pada masa
hidupnya, dan dipuja setelah menutup hayatnya.Seperti
merekahnya Sabzi, hijaunya rumput dan membuncahnya harapan yang
sesekali diselipi kecemasan kecil, Iran terus membangun dengan caranya
sendiri di tengah himpitan sanksi negara-negara arogan global. Jika
Elvis Presley masih hidup, barangkali ia akan menghibur Ahmadinejad
dengan mengatakan, It's Now or Never, Tomorrow will be too late.


      

Kirim email ke