Sat, June 26, 2010 4:31:38 PM
Re: |IACSF| BUKTI PENGKHIANATAN MALEK MAHMUD DAN ZAINI ABDULLAH CS.TERHADAP 
WALI.
From: omar puteh <[email protected]> View Contact 
To: [email protected]   
________________________________

  


Omar Putéh

Buat apa dipaparkan skripsi "drama" dibawah ini? 

Dipagi hari penanda tangani naskah MoU Helsinki, Findlandia, 15 Agustus, 2005, 
saudara Fadlon Musa, menelepon saya dan mengatakan sesuatu yang tidak 
sepatutnya dikeluarkan. ......... ......... ......... ......... ......... .

Tetapi saya tetap memberikan respon mendatar, walaupun rakan saya itu masih 
juga memberikan back-up, saya ada ini dan itu dengan Jakarta dan Sofyan Daod.

Rakan saya itu, tidak tahu bahwa, saya tahu siapa di Jakarta itu serta tahu 
siapa Sofyan Daod I dan siapa Sofyan Daod II dan juga tahu dari mana beliau itu 
memdapatkan kiriman "dokumen", cuma saya hanya membilangkan: 

Kamu baru 2 (baca: dua) hari dalam Achèh Merdeka sudah....... ......... 
......... ......... ......... ......... ........

Rakan saya Fadlon Musa, kemudian sudahpun ber - MoU Helsinki, Findlandia dan 
juga sudah bersama Sofyan Daod I dan Sofyan Daod II dan telah juga memohon 
ma'af kepada saya........ ......... ......... ......... ......... ......... 
.tutup cerita.

Dan kepada rakan saya, Dr Yusra Habib Abdul Gani, telah dijelaskan bahwa, saya 
tidak pernah tahu dan tidak pernah kontak dengan PM Tengku Malik Mahmud, Menlu 
Dr Zaini Abdullah MD dan Jurubicara Negara Achèh Sumatra, Bakhtiar Abdullah, 
malahan tidak pernah diberitahukan hal dimaksud, sambilan menjelaskan sikap 
saya seperti dulu, ketika menjadi pembantu/staff beliau di Kuala Lumpur, 
Malaysia, yang tidak pernah suka menanyakan ini dan itu, pada hal mungkin jiwa 
saya terbenam dalam "tangisan" semacam tergila (sock) ketika itu dan 
mungkin melebihi dari yang pernah dirasakan oleh beliau. 

Mengapa tidak?  Karena "puluhan tahun" kami berdua yang bekerja dilapangan 
ketika itu, setelah Wali Negara, Negara Achèh Sumatra (almarhum) 
Tengku Muhammad Hasan di Tiro, memberikan mandat kepada Dr Yusra Habib Abdul 
Gani, sedang yang lain seperti segan tak mau! 

Tetapi kesemua mereka yang pernah segan tak mau itu, ramai kini telah 
menjauhkan diri dari Dr Yusra Habib Abdul Gani, mantan Kepala Pemerintahan 
ad-intrim Negara Achèh Sumatra di Kuala Lumpur, Malaysia dan ramai kini 
berlagak sebagai orang yang paling berjasa dalam berjuang!

Di sebuah klimak ditanyakan: Siapakah dari ASNLF/GAM yang tahu dan merasakan 
bagaimana mendebarnya, sa'at-sa'at rumah kediaman Dr Yusra Habib Abdul 
Gani dikepung oleh Special Branch/Cawangan Khas atau Polisi Federal Malaysia, 
menjelang pertemuan kami dengan Timothy Perrit,  Amnesty International, 
Ketua masalah Asia/Pacific? 

Itulah Dr Yusra Habib Abdul Gani dan keluarga {yang sudah tiga bulan tidakpun 
pernah lagi disantuni pendapatan untuk makan dan untuk minum sekeluarga, selain 
(almarhum)} Razali Hamid, Kubang Abèe.

Ini ikut juga saya rasakan dipetang itu, disekitaran jam 16.30   itu, ketika 
saya dimintakan oleh Dr Yusra Habib Abdul Gani, agar membuatkan sebuah ketikan 
laporan petang itu, ke UNCHR, Kuala Lumpur, Malaysia, dikarenakan beliau tidak 
mungkin lagi keluar pintu, yang akan siap-tangkap!

Sebagaimana dimaklumi, petang itu, adalah petang terakhir Polis Di 
Raja Malaysia, yang esoknya, akan merayakan hari ulang tahunnya ke 191 atau 26 
Maret, 1807 - 26 Maret, 1998 atau persis dihari ulang tahun ke 125 (26 Maret, 
1873 - 26 Maret, 1998 penyerangan KNIL Belanda terhadap kedaulatan Kerajaan 
(Negara) Achèh, dengan seal tumpahan darah-merah putra-putra Achèh terbaik 
(syuhada-syuhada) di Detention Camp, Semenyih, Selangor, Malaysia.   Ingat 26 
Maret, 1873, hari KNIL Belanda menyerang Achèh! 

Walaupun begitu, saya menyokong MoU Helsinki, Findlandia itu, dikarenakan saya 
tahu seluruh bacaan politis dan ragamnya, sekalipun hiba dan tangis terbawa 
sama. 

Dan kepada yang mengirim tulisan "drama" ini, saya sudah jelaskan bahwa, siapa 
orang terdekat Wali Negara, Negara Achèh (almarhum) Tengku Muhammad Hasan din 
Tiro, yang telah mengkhianati beliau, yang bukan PM Tengku Malik Mahmud dam 
bukan Menlu Dr Zaini Abdullah MD, tetapi DH dan HH, sebagaimana Wali 
Negara, Negara Achèh Sumatra mengatakan langsung kepada saya, dikediaman beliau 
di Swedia, sebelum keberangkatan saya mengunjungi Dr Yusra Habib Abdul Gani di 
Danmark dan termasuk dalam hal ini, sipengirim tulisan "drama" ini.

Tulisan "drama" seperti itu sebenarnya tidak perlu didramakan!

Diharapkan kepada anda sekalian sekorps, lebih baik kalian menyampaikan paparan 
dari Markaih Komando atau dari Ir Asnawi Ali Pintô Kuta, Texas, USA, agar tidak 
bersimpang siur dari garis kefalsafahan perjuangan beliau. 

Omar Putéh,
Meunasah Reudeuëp,
Achèh Rajeuk


      

Kirim email ke