Penampakan Penyakit melalui Fotografi


Link

RONY SIMANJUNTAK

Kontribusi fotografi dalam dunia kedokteran dewasa ini tidak bisa dianggap enteng. "Penampakan" atau perkembangan dari suatu penyakit misalnya dapat disajikan sesuai dengan apa yang tampak oleh mata manusia sehingga seorang dokter dapat mengetahui dan bertindak lebih jauh lagi dalam menangani kondisi sang pasien.

Ada tiga hal penting dalam fotografi kedokteran agar foto yang dihasilkan bisa dimanfaatkan sesuai dengan tujuannya, yakni cahaya, latar belakang dan penyajian. Tahapan suatu penyakit harus bisa disajikan sesuai dengan apa yang tampak oleh mata. Bila cahaya itu dipergunakan berbeda, latar belakangnya tidak sama dan penyajiannya tidak seragam, penilaian tahapan penyakit itu tentu bisa keliru.

Perjalanan penyakit kuning (hepatitis) bisa diikuti dengan melihat perkembangan warna kulit. Bila kulit ini kita potret dengan cahaya matahari pagi sebelum pukul 8 atau cahaya matahari sore sesudah pukul 4, maka warna kulit itu akan nampak lebih kuning dari aslinya. Pemotretan yang dibuat dengan cahaya lampu kilat biasanya akan menghasilkan foto yang lebih baik. Walaupun demikian apabila subjek di foto dalam kamar yang temboknya dicat kuning atau banyak gorden yang berwarna-warni, maka foto yang dihasilkan akan berbeda jauh dari aslinya.

Penyajian yang keliru juga akan mempengaruhi pemikiran mereka yang melihat foto itu. Memotret muka secara close up dengan lensa standar 50 mm sering menyebabkan distorsi, sehingga hidung nampak lebih besar. Bila foto ini adalah foto dokumentasi hasil operasi plastik pada hidung, bisa jadi si dokter akan sangat kecewa.

Cahaya yang baik ialah cahaya yang suhu warnanya mirip dengan cahaya matahari di siang bolong atau antara pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore. Memotret pasien di luar dengan menggunakan cahaya matahari mungkin kurang etis, sehingga pemotretan di dalam ruangan dengan lampu kilat lebih dianjurkan.

Memotret dengan satu lampu kilat akan menghasilkan foto yang cukup baik, namun sayang subjek depat "tenggelam" dalam latar belakang bayangan yang gelap. Apabila lampu kilat itu dipasang pada kamera, maka foto yang kita peroleh akan terlihat datar dan tanpa nuansa tekstur apabila lampu kilat itu dilepas dari kamera, dan dipegang dengan tangan kiri, maka foto yang dihasilkan akan lebih hidup, karena punya kesan tiga dimensi akibat highlight dan bayangan. Jerawat yang ada di muka akan mengesankan lebih menonjol.

Foto kedokteran sebaiknya dibuat dengan paling sedikit dua lampu kilat yang dioperasikan secara bersamaan, baik dengan penyambung kabel maupun dengan bantuan slave unit (synchro-slave). Lampu kilat yang kedua disebut lampu pengisi, yang berguna untuk mengurangi kegelapan di bagian bayangan, sehingga kesan jerawat yang lebih menonjol tak akan terjadi. Penggunaan slave unit akan lebih praktis, karena tidak bergantung kepada panjang kabel yang kita pasang. Akan tetapi apabila "mata" dari alat itu tertutup sesuatu, alat ini tak akan bekerja, sehingga subjek hanya tersinari oleh satu lampu saja.

Foto close-up bisa dibuat dengan penataan lampu kilat ini, namun mesti diingat cahaya yang dikeluarkan sangat kuat, sehingga akan sangat menyilaukan. Ini bisa diatasi dengan memasang beberapa lambar kain kasa hidrofil di depan lampu kilat. Lampu kilat gelang (ringflash) yang khusus dibuat untuk keperluan ini mungkin lebih praktis, tetapi tetap harus waspada.

Cahaya liar yang tak dikehendaki sering masuk ke dalam kamera secara tidak sengaja, misalnya akibat pantulan dari instrumen logam yang turut kena cahaya lampu kilat. Risiko ini bisa kita kurangi dengan memasang tudung lensa (lens hood) di depan kamera. Jika kebetulan benda itu tidak ada, maka telapak tangan kita bisa dipakai sebagai gantinya sambil memperkirakan dari arah mana cahaya liar akan datang. Hanya perlu diingat jangan sampai tangan ini menutupi lensa dan menghalangi cahaya masuk.


Latar Belakang
Latar belakang sangat penting dalam foto kedokteran. Pada fotografer amatir pemula sering sekali melupakan latar belakang ini. Mereka hanya memusatkan perhatiannya kepada subjeknya saja, sehingga latar belakang yang tak ada sangkut pautnya dengan tujuan foto ikut terekam. Para senior biasanya menyebut foto yang demikian dengan "ribut".

Pada foto biasa latar belakang ini bisa ditata dengan berbagai cara. Sudut pandangan bisa diubah, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang atau bahkan ke atas. Co Rentmeister, fotografer majalah Life yang kawakan memotret tari kecak di Bali dari atas. Bukan dengan menggunakan helikopter tetapi menyuruh orang membuat menara khusus untuk itu. Pengalaman ini penting untuk pemotretan di kamar bedah. Di rumah sakit pendidikan biasanya ada balkon di atas kamar operasi yang dipakai oleh para mahasiswa atau asisten bedah untuk mengikuti jalannya operasi. Di beberapa fakultas kedokteran cara ini sudah diganti dengan kamera video yang lebih praktis, namun kemampuan lebih terbatas dalam menyajikan gambar dengan kualitas prima.

Fotografer kedokteran mungkin memerlukan tangga seperti yang biasa dipakai oleh juru kamera di Hollywood atau seperti tangga tukang listrik PLN yang biasa dipakai untuk mengganti lampu jalan yang mati. Pilihan lensa, penggunaan filter efek dan berbagai cara lainnya bisa dimanfaatkan untuk menghilangkan latar belakang yang tak ada relevansinya dengan subjek yang kita potret.

Pada pemotretan pasien di studio, latar belakang bisa ditata dengan memasang layar di belakang subjek. Demikian pula dengan foto makro yang akan kita buat dari sediaan patologi. Latar belakang bisa ditata dengan menaruh objek itu di atas selembar kain. Latar belakang yang berwarna putih seringkali memantulkan cahaya yang menyilaukan, sebaliknya latar belakang hitam akan menenggelamkan subjek dalam kegelapan. Warna kelabu adalah warna netral yang bisa menghasilkan foto yang baik, baik hitam putih maupun warna. Warna ini tidak akan mempengaruhi warna subjek.

Dalam kamar bedah warna merah darah akan lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan warna lainnya. Latar belakang hijau atau biru muda akan memantulkan 50 - 75 % cahaya yang menimpa padanya, sehingga akan nampak tak terlalu pekat, sehingga warna merah itu akan terkesan lebih baik pada mata.

Latar belakang bisa disiapkan terlebih dahulu. Jika mungkin dibuat dari bahan yang disposable atau mudah disterilkan. Warnanya bisa dipilih sehingga harmonis dengan subjeknya. Kadang-kadang latar belakang itu diperlukan sebagai skala atau alat pembanding besarnya objek. Sebuah penggaris skala milimeter cocok untuk sediaan patologi, akan tetapi kesan yang diperoleh tidak terlalu cepat. Dengan menaruh sebatang jarum pentul atau sebatang korek api kesan skala akan segera tertangkap.

Walaupun bukan yang utama, komposisi, estetika dan harmoni penting diperhatikan dalam foto kedoketran. Keseimbangan massa pada foto makro sediaan patologik hendaklah diperhatikan. Jangan sampai penggaris 30 cm dipotret bersama dengan sediaan yang panjangnya 5 cm. Ada baiknya disediakan potongan penggaris 10 cm, 20 cm dan seterusnya.

Warna-warna objek kedokteran itu pada umumnya primer. Warna merah adalah warna yang mendominasi dunia kedokteran. Bila dibuat komposisi dengan biru pekat, maka kontras akan sangat bertambah. Kontras akan menyakitkan mata, oleh karena itu sebaiknya dicampur dengan warna sekundernya seperti biru muda atau biru telor asin.

Pencetakan foto juga harus diperhatikan. Foto mengkilat (glossy) akan tampak cemerlang, artinya yang merah sesuai aslinya. Namun sayang tak banyak laboratorium foto yang menyediakan lkertas gossy ini. Slide akan lebih menguntungkan bila ada rencana untuk diterbitkan sebagai misalnya "Dermatology in Picture". Proses dalam percetakan tak akan banyak mempengaruhi perubahan warna.

Foto yang baik sering menjadi rusak akibat bingkai yang salah. Format bingkai perlu diperhatikan, misalnya bila mau menyajikan poster dalam suatu pameran ilmiah. Benda padat yang bulat bisa dibingkai dengan bentuk bujur sangkar. Foto close up muka sebaiknya dibingkai dengan format vertikal dengan sedikit bagian kosong di bagian atas, sehingga bila digantung akan mengesankan, bahwa di bagian bawah kepala itu ada tubuh dengan massa yang berat. Foto bayi tentu saja harus dipotret dan dibingkai dalam format horisontal. Bila dibuat dalam format vertikal, maka akan mengesankan bahwa bayi itu sudah bisa berjalan tegak.

Cahaya, latar belakang dan penyajian nampaknya remeh dan sepele, tetapi bila tak diperhatikan nilai foto akan jauh menurun. Investasi mahal yang telah dikeluarkan akan sia-sia. Sayang sekali, bukan?




Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

Webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive  : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Posting  : [email protected]

-----------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan & pengalaman dalam dunia fotografi baik yang pro maupun pemula.
Silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda.
-----------------------------------

* WARNING: No SPAM & No SARA in This Mailing List




SPONSORED LINKS
Indonesian languages Indonesian language learn Kamera digital


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke