Maaf pak moderators, mau update data peserta dari beberapa anggota milis yang sudah daftar semoga ngga keberatan.
Up date peserta yang sudah terdafatar:
Berikut adalah teman-teman dari beberapa milis yang sudah daftar:
Arung Jeram Jakartabiz:
01..
02..
Cosmopolitan Indonesia:
01. Diana
02. Anita (teman Diana)
03. Dana (teman Diana)
04. Ida (teman Diana)
05..
06.
Highcamp:
01. Yudi
02. Hendri
03. Franz
04. Siska
05. Lusi
06..
07..
Indonesia Geographic:
01. Vita
02. Teman Vita
03..
04..
Jalan-jalan:
01..
02..
Jejak Petualangan:
01..
02..
Lensa:
01.
02.
Merbabu.com:
01.
02.
National Geographic Indonesia:
01.. Rudi
02..
03..
Nature Trekker:
01. Wati
02. Tisa
03. Indah (teman Wati)
04. Eda (teman Wati)
05. Pak Arif
06..
07..
Pangrango:
01.
02.
Photography Indonesia:
01.
02.
Sabtuminggu:
01..
02..
Luar milis:
01. Ogun
02. Vita
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
CYBER COMMUNITIES OFFROAD ADVENTURE
Trip to Cipta Gelar 2006
Terlebih dahulu saya berterima kasih pada moderator milis-milis karena telah mengizinkan posting event lintas milis ini.
Dibantu oleh bang Lody Karua (Bossnya Arus Liar) dan didukung AVTECH, terciptalah kegiatan lintas milis yaitu Cyber Communities Offroad Adventure- Trip to Cipta Gelar 2006. Kegiatan ini diadakan dengan maksud menyambung kegiatan CyberCamp tahun baru lalu biar kita-kita yang telah kenal pada event cyber camp bisa ketemu lagi. Diharapkan teman-teman untuk ikut event yang cukup komplit aktifitasnya, ada perjalanan offroad dengan mobil 4WD Land Rover, terus camping di tengah hutan dipinggir sungai ala offroader, dan wisata budaya ke kampung Cipta Gelar serta ketemu dengan tokoh terkenal Abah Anom. Teman-teman bakal ngerasain perjalanan seru ala
offroader dan yang penting bisa duduk manis tanpa desak-desakan. Dan yang suka photography ngga bakalan nyesel ikut karena kamu bakal menemukan objek-objek foto yang indah dan menarik.
Detail Kegiatan
Waktu : 14-16 April 2006 (3 hari 2 malam)
Biaya : Rp.790.000,- /orang (pembayaran dicicil 2 kali)
Kegiatan : Offroad Trip, Camping ala Offroader, Wisata Budaya
Fasilitas : Kendaraan 4WD (Land Rover),
Tenda,
Penginapan di Cipta Gelar,
Konsumsi (makan pagi, siang dan malam),
Pertunjukan Budaya,
Souvenir.
Peserta terbatas hanya : 65 orang.
Pendaftaran ditutup begitu sampai pada quota peserta yang ditetapkan.
Pendaftaran
Untuk pendaftaran silahkan isi form dibawah ini dan kirim ke email [EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED]
[copy paste mulai dari sini]
Nama :
Email :
Hp :
Telp :
Milis yang diikuti :
[batas copy paste mulai dari sini]
Pembayaran & Pembatalan
Pembayaran cicilan pertama sebesar Rp 200.000,- paling lambat tgl. 22 Maret 2006.
Pembayaran cicilan kedua sebesar Rp 590.000,- paling lambat tgl. 7 April 2006.
Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer ke :
BANK BCA a/n Nurwati ; 2281369140
Bukti transfer di fax ke nomor : 021-5223685 up Nurwati
Refund untuk pembatalan hanya dapat dilakukan untuk cicilan pertama saja, paling lambat tgl. 29 Maret 2006.
Jika acara dibatalkan karena tidak tercapainya quota peserta maka seluruh biaya dikembalikan.
Yang harus dibawa oleh peserta (tidak disediakan panitia)
Pakaian ganti
Perlengkapan tidur (Sleeping bag, matrass)
Perlengkapan mandi
Obat-obat pribadi
Snack dan minum
Jaket (karena suhunya cukup dingin disana)
Senter
Dan lainnya yang dianggap perlu
ITINERARY:
JUMAT 14 April 2006
07:00 : Peserta kumpul di meeting point (tempat ditentukan nanti), pembagian kelompok permobil, packing/loading dan berkenalan dengan driver serta sarapan.
08:00 : Meninggalkan Jakarta
12:00 : Makan siang di Citarik atau pelabuhan ratu (tergantung
waktu kita mencapai daerah ini).
13:00 : Menuju Cipta Rasa
15:00 : Tiba di Cipta Rasa, istirahat sebentar.
15:30 : Meninggalkan Cipta Rasa
17:00 : Tiba di Camp Cibareno, mendirikan tenda.
19:00 : Makan Malam, acara bebas, Istirahat
SABTU 15April 2006
07:00 : Sarapan dan bongkar tenda.
08:00 : Meninggalkan Camp Cibareno
10:00 : Tiba di Cipta Gelar, pembagian akomodasi
12:00 : Makan Siang
14:00 : Skill Games, Jalan-jalan sekitar Cipta gelar, Baksos
(sembako/buku/pakai dan lainnya).
19:00 : Makan Malam, acara bebas, Istirahat
MINGGU 16 April 2006
07:00 : Sarapan
08:00 : Berbincang-bincang dengan Abah Anom, sekalian pamitan
09:00 : Jalur kembali menggunakan jalur Cicadas.
12:00 : Tiba di Pelabuhan Ratu, makan siang
14:00 : Menuju Jakarta
18:00 : Tiba di Jakarta
Agar teman-teman semua bisa mengetahui progres event ini maka disetiap milis akan kami postingkan list peserta yang ikut.
----------------------------------------------------------------------------------------
Sekilas Cipta Gelar yang diambil dari Sinar Harapan online:
Langit adalah Bapak, Bumi sebagai Ibu
"LANGIT adalah bapak, bumi sebagai ibu kami." Demikian keyakinan masyarakat Kesatuan Adat Banten Kidul Kasepuhan Cipta Gelar terhadap keberadaan alam semesta. Interaksi yang kuat dengan hutan sekitarnya melahirkan konsep turun-temurun masyarakat adat tentang keseimbangan dalam menggunakan sekaligus melindungi hutan. UNTUK itu, dalam beraktivitas, yang berkaitan langsung dengan alam, warga harus bertanya dan meminta izin terlebih dulu kepada sesepuhnya. Abah Anom, Ketua Adat Kasepuhan Cipta Gelar, menguraikan, masyarakat setempat hanya boleh menebang pohon untuk kebutuhan sehari-hari, seperti membangun rumah. "Warga kami tidak boleh menjual kayu, tetapi hanya boleh menggunakan kayu untuk kebutuhan rumah tangga dan membangun rumah," ujarnya. Dalam membuka lahan untuk dijadikan kebun maupun huma (lading), warga harus mengikuti aturan adat, yaitu warga dilarang membuka lahan di areal hutan titipan maupun hutan kolot atau primer, kecuali membuka lahan di luar kedua areal itu. Mereka
juga dilarang membuka lahan di areal sumber air yang disebut sirah cai dan tempat-tempat yang rawan erosi, baik dijadikan lahan pertanian ataupun permukiman. Abah Anom menambahkan, masyarakat adat setempat mengenal tiga jenis hutan, yaitu hutan titipan, tutupan, dan garapan. Leuweung titipan atau hutan titipan adalah hutan yang dititipkan para leluhur untuk dijaga, sehingga dianggap keramat dan tidak boleh digunakan tanpa seizin sesepuh mereka. Hutan tutupan adalah hutan yang ditetapkan sebagai hutan lindung, taman nasional, hutan suaka dan sejenisnya, oleh pemerintah melalui perundang-undangan. Adapun hutan garapan adalah hutan yang bisa dibuka dan digunakan untuk berladang. "Hanya hutan garapan yang dibuat lahan untuk menanam padi dan berkebun," papar Abah Anom. Hutan adat yang disebut leuweung titipan dikenal dengan hutan Ciawitali karena lokasinya terletak di daerah Ciawitali. Luas hutan adat Ciawitali seluruhnya sekitar 200 hektar dengan aneka ragam tumbuhan. Rumpun bambu yang
terdapat di dalam hutan Ciawitali mempunyai luas sekitar 40 hektar dengan jenis tali, mayan, dan gombong. Manfaat hutan adat itu sendiri bagi warga adalah sebagai sumber air yang merupakan warisan bagi generasi mendatang. Sejauh ini, tidak ada batasan bagi warga kasepuhan dalam membuka lahan. Kendati demikian, areal lahan yang dibuka biasanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Umumnya, setiap keluarga hanya mengikutsertakan anggota keluarganya dalam pengolahan lahan. Beberapa warga ada yang hanya memiliki lahan pertanian seluas seperempat hektar, bahkan ada yang tidak memiliki lahan sama sekali. Kehidupan sehari-hari masyarakat Kasepuhan Cipta Gelar sangat tergantung pada sistem pertanian tradisional. Mereka memanfaatkan hutan dan lahan sekitarnya dalam berbagai cara, antara lain huma atau ladang, sawah, kebun. Setelah menebang pohon, lahan yang telah dibersihkan itu kemudian dijadikan huma atau ladang selama beberapa tahun. Di dataran tinggi, padi ditanam
sebagaimana halnya sayur-sayuran, seperti jagung, singkong, atau kacang-kacangan. Padi dipanen setahun sekali, sedangkan sayur-sayuran bisa lebih dari sekali jika kondisi airnya masih baik. Setelah panen, tergantung pada kondisi tanah, masyarakat memutuskan apakah berladang lagi atau tidak. Keputusan mereka didasarkan pada kondisi kandungan air yang tergenang di atas tanah dalam lahan itu. Apabila air mencukupi, mereka mengubah lahan itu menjadi sawah. Apabila air tidak mencukupi, lahan itu akan diubah menjadi jami untuk satu atau dua tahun. Di lahan ini, padi tidak ditanam sama sekali, tetapi jenis tanaman tahunan yang ditanam. Setelah lahan menjadi jami, ada dua alternatif yang akan dipakai. Pertama, meninggalkan lahan tanpa dipotong atau dibersihkan. Semak dibiarkan selama tiga atau empat tahun, yang disebut "reuma ngora". Semak yang dibiarkan selama lebih dari empat tahun disebut reuma kolot. Pembagian ini berdasarkan pada tahapan suksesi tumbuhan. Setelah itu, lahan tertutup
secara alami menjadi hutan sekunder dengan pepohonan tinggi. Jadi, siklus penggunaan hutan telah berakhir. Alternatif kedua, masyarakat menggunakan lahan untuk kebun, yaitu setelah jami dipanen. Di kebun ini, tanaman tahunan ditanam untuk kebutuhan sehari-hari. Misalnya, buah-buahan seperti pisang, duren, anakan pohon alami, dan pohon-pohon yang pertumbuhannya cepat yang digunakan untuk konstruksi rumah. KEBERADAAN Kasepuhan Banten Kidul di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) mengundang polemik. Cara hidup masyarakat adat yang berpindah-pindah mengikuti wangsit dari leluhur, dikhawatirkan merusak lingkungan hutan karena mereka akan membuka hutan untuk dijadikan tempat tinggal dan bercocok tanam. Mereka juga membutuhkan tumbuh-tumbuhan di hutan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebelumnya, sejumlah kasepuhan adat Banten Kidul berada di sekitar hutan lindung itu. Wilayah Taman Nasional Gunung Halimun mencakup tiga kabupaten, yaitu Bogor, Sukabumi, dan Lebak, yang terbagi dalam 13
kecamatan dan terdiri dari 52 desa. Jumlah penduduk di dalam dan sekitar kawasan TNGH lebih dari 160.000 jiwa, termasuk masyarakat adat Banten Kidul, antara lain Kasepuhan Citorek, Cicarucub, Cisungsang, Ciptarasa, Ciptagelar, Cisitu I, dan Cisitu II. Namun, sejak diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan pada 10 Juni 2003 lalu, sejumlah kasepuhan adat itu berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Dalam surat keputusan itu disebutkan, kawasan Taman Nasional Gunung Halimun dan kelompok hutan Gunung Salak seluas sekitar 113.357 hektar menjadi Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Ini berarti ada penambahan lahan seluas lebih dari 70.000 hektar karena semula luas kawasan TNGH hanya sekitar 40.000 hektar. Menurut Kepala Sub-Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Lucky Wahyu Muslihat, perluasan kawasan taman nasional itu bertujuan merehabilitasi kawasan hutan di sekitar TNGH dan kawasan hutan Gunung Salak yang telah habis ditebang. Selama
ini, sebagian areal lahan itu dikelola Perhutani setempat. "Perlu adanya perubahan fungsi dari hutan produksi jadi hutan lindung," kata dia. Sejauh ini, Lucky melihat keberadaan masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul itu belum menjadi ancaman bagi kelestarian lingkungan di hutan lindung itu. Hal ini terkait dengan adanya pandangan bahwa hutan sebagai titipan leluhur sehingga masyarakat adat itu tidak berani menebang kayu untuk dijual. "Kalau memang masyarakat adat itu mengancam kelestarian hutan, kami terpaksa melarang mereka menetap di kawasan taman nasional," katanya. Pada praktiknya, masyarakat kasepuhan itu justru menanam dan menjaga anakan pohon dan pepohonan di kebun-talun atau talun mereka. Menurut Abah Anom, sejauh ini belum ada bukti yang menunjukkan cara hidup mereka yang berpindah-pindah itu mengakibatkan perusakan lingkungan hutan. "Kalau warga ingin merusak, ya, hutan di sini sudah habis. Kami sudah 365 tahun ada di daerah sini. Kami justru menyelamatkan hutan yang
dititipkan para leluhur. Abah Anom mengungkapkan, selama ini perusakan lingkungan di kawasan hutan lindung justru dilakukan oleh masyarakat pendatang. Mereka menebang pohon di hutan dan hasilnya dijual ke luar daerah itu. "Kalau sudah demikian, adat mana dulu yang merusak hutan. Hutan-hutan yang ada di wilayah adat justru dirusak oleh oknum pendatang," ujarnya. Sebagai langkah nyata pelestarian lingkungan di kawasan taman nasional itu, pihak Balai TNGH membangun program seperti program zona penyangga atau program penanaman pohon berguna. Mereka juga membentuk satuan petugas pengamanan hutan dari masyarakat adat bekerja sama dengan pengelola taman nasional itu. "Jadi, kalau ada perusakan hutan, masyarakat adat akan melaporkan kejadian itu kepada kami," kata Lucky. Interaksi kuat antara masyarakat adat dan alam sekitar ternyata telah menimbulkan kecintaan mereka terhadap hutan sekitar. Kini, mereka secara resmi dikukuhkan sebagai penjaga hutan. Mereka pun menjaga hutan seperti merawat
orangtua sendiri karena bumi adalah ibu yang senantiasa mereka kasihi. (EVY/OKI)
Terimakasih...
PUTRI RINJANI
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
Webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Posting : [email protected]
-----------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan & pengalaman dalam dunia fotografi baik yang pro maupun pemula.
Silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda.
-----------------------------------
* WARNING: No SPAM & No SARA in This Mailing List
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "lensa" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
