Tergesernya Mesin Cetak Foto Analog




Link

Oleh RONY SIMANJUNTAK


Masuknya teknologi digital dalam dunia fotografi saat ini ternyata tidak hanya akan menggeser produk analog seperti kamera, nasib yang sama juga akan dialami oleh mesin cetak foto atau minilab analog. Benarkah demikian?

"Pasti akan terjadi kompetisi harga digital. Otomatis mesin analog bisa bubar. Artinya tidak ada lagi konsumen baik amatir maupun profesional mau mencetak di mesin analog," tegas Ir Andreas Wijaya, regional sales manager PT Perdana Bangun Pusaka Tbk.

Oleh para produsen minilab out printing teknologi adalah yang utama. Aneka inovasi mereka usung di era digital dewasa ini untuk merebut pasar. Bahkan menurut Wijaya secara garis besar minilab digital untuk saat ini memiliki 2 sistem yang berbeda. Antara lain: Pertama sistem laser. Sistem ini dibuat khusus dengan menunjuk sebuah perusahaan tertentu.atau O.E.M. (Overseas Export Market) untuk diadopsi ke dalam mesin cetak yang notabene sudah digital. "Fuji adalah salah satu yang menggunakan sistem laser ini. Jadi fuji tidak membuat sendiri," jelas Wijaya

Kemampuan cetak dengan sistem laser ini hingga sekarang baru mencapai 300 dpi. Maksudnya, dalam 2.5 cm x 2.5 cm (panjang) titik-titiknya ada 300 (dot). Sebagai catatan: semakin tinggi dpi berarti dotnya lebih banyak.

Kedua sistem IED. Teknologi ini mengalami perkembangan cukup pesat. Konica menggunakannya pada mesin cetak digitalnya. Begitu juga tahapan perkembangan yang sangat dinamis. Terakhir apa yang disebut teknologi BCH (Beam Convergence Head) dipakai pada mesin RI Super Konica.

Ternyata teknologi mesin cetak tidak berhenti di situ saja. Belum lama ini Konica yang saat sekarang telah merger dengan Minolta memperkenalkan lagi teknologi terbarunya di tahun 2004, yaitu SEAD (Solid State-Electro-Optic Shutter Array Device). Sesungguhnya teknologi ini ditemukan oleh Minolta, pasalnya, menurut Wijaya, Minolta memang sangat jago di optik.

Teknologi SEAD dibuat sedemikian rupa, yang memungkinkan warna-warna yang tidak diperlukan bisa tertahan (shutter), dan hanya warna-warna yang diperlukan saja yang diekpose untuk dicetak di kertas foto.

Teknologi SEAD ini juga punya satu kelebihan lain, misalnya ukuran cetak sampai 10 R mau diekspan seluas apa pun bisa dilakukan saat ini. Katakanlah mesin minilab R II ukuran 25 x 38, RI Super (20 x 30), dpi RII Super terbaru resolusinya mencapai 400 dpi.

Resolusi ini jelas akan menghasilkan gambar cetakan lebih halus dari yang 300 dpi. Ada lagi resolusi dengan besaran 800 dpi (world class resolution). Dengan mesin ini paper yang lewat ditembak dalam 2.5 cm ke bawah itu bisa 800 x tetapi turunnya 2,5 cm.

Tentunya berbagai merek minilab yang diluncurkan punya kelebihan dan kekurangannya. Contoh, minilab dengan teknologi laser, di samping merupakan O.E.M produk, life time nya relatif pendek. Artinya kemampuan kualitas cetak mesin dibatasi sampai 2.5 juta cetakan. Untuk LED, seperti BCH RI Super life time-nya mencapai 6.750.000 print. Sedangkan RII Super yang sudah gunakan teknologi SEAD bisa mencapai 5.570.000 print. Kemampuan keduanya berbeda tergantung penggunaan teknologi tadi.

Sementara itu, mengenai biaya penggantian part untuk laser head itu lebih kurang 15.000-20 ribu dollar AS. Sedangkan untuk teknologi LED (BCH/Sheets) lebih kurang 10 ribu dollar AS. Diprediksikan akan terjadi kompetisi harga seperti halnya "zaman" mesin analog. Di tiap kota mulai tingkat provinsi hingga kota madya terjadi perang harga antar pemilik lab. Begitu juga antarmerek satu dengan lainnya akan saling mengungguli. Otomatis image selama ini mengenai cetak digital yang lebih mahal sedikit dibandingkan analog bukan masalah lagi bagi konsumen. Ini akan terjadi seperti minilab analaog.

"Nah, kalau sudah terjadi kompetisi harga digital sama dengan analog akibatnya mesin otomatis akan bubar. Jika pekerjaan mesin analog yang ada sekarang akan berhenti dan diarahkan ke mesin digital. Nantinya kapasitas kerja mesin digital mirip dengan mesin analog," tegas Wijaya.

Sebagai contoh, sejak tahun 2004 Hong Kong tidak menggunakan lagi mesin analog. Begitu juga dengan Vietnam. Sedangkan di Indonesia sendiri, fotografi digital mulai dikenal tahun 2000, lalu geliat digital baru dirasakan sejak tahun 2002.

Meski demikian, terang Wijaya, masalah yang perlu diperhatikan investor adalah faktor Life Time-nya alias masa pakai. Menurutnya, canggih tidaknya sebuah minilab digital sangat ditentukan oleh out printing. Out printing yang baik hanya bisa dipenuhi jika minilab itu mampu memberikan 3 hal berikut :

- DPI yang tinggi. Semakin tinggi dpi maka hasil outputnya semakin halus
- File memori makin besar memori mesin digital untuk hasil printingnya jauh lebih halus. Kerapatannya jauh lebih presisi.
- Besarnya megapixel kamera. Semakin tinggi pixelnya maka semakin baik hasilnya.





Yahoo! Mail goes everywhere you do. Get it on your phone.

Webmilis : http://lensa.multiply.com
Archive  : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Posting  : [email protected]

-----------------------------------
Berbagi untuk memberi pengetahuan & pengalaman dalam dunia fotografi baik yang pro maupun pemula.
Silahkan kirimkan hasil photo & pengalaman anda.
-----------------------------------

* WARNING: No SPAM & No SARA in This Mailing List




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke