Saya setuju aja dengan pendapat saudara Ambara.
Namun satu hal yang ingin tanyakan, apakah selama ini
LSM-LSM yang ada di Indonesia itu tidak bekerja sama dengan
LSM dari luar negeri. Thanks
//novy

>From: "Ambara, Gede Ngurah (KPC)" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: "'[EMAIL PROTECTED]'" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [lingkungan] Tukang Kayu...
>Date: Sat, 25 Sep 1999 09:01:05 +0800
>MIME-Version: 1.0
>From lingkungan-return-208-novy_l Fri Sep 24 18:04:32 1999
>Received: from [202.146.0.241] by hotmail.com (2.1) with ESMTP id 
>MHotMailB9B56A9A004DD820F3B5CA9200F145DF0; Fri Sep 24 18:04:32 1999
>Received: (qmail 10144 invoked by uid 508); 25 Sep 1999 01:08:21 -0000
>Mailing-List: hubungi/contact [EMAIL PROTECTED]
>Precedence: bulk
>X-Provider: http://www.indoglobal.com
>Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED]
>Received: (qmail 10138 invoked from network); 25 Sep 1999 01:08:20 -0000
>Received: from mail.kpc.co.id (HELO halmahera.kpc.co.id) (202.154.45.3)  by 
>merpati.indoglobal.com with SMTP; 25 Sep 1999 01:08:20 -0000
>Received: by HALMAHERA with Internet Mail Service (5.5.2448.0)id 
><TGACWJS5>; Sat, 25 Sep 1999 09:01:07 +0800
>Message-ID: <19FCA6998820D311BBB600A0C9F496BDC52463@HALMAHERA>
>X-Mailer: Internet Mail Service (5.5.2448.0)
>
>
>Komentar-komentar yang cukup menarik dan tajam dari Mbak Hira dan
>Qwerty...dan juga cerita tentang pak Tukang kayu dari Galilea benar-benar
>memberikan pencerahan bagi saya....
>
>Tapi justru karena membaca cerita pak Tukang Kayu itu.. saya malah bertanya
>balik.. apakah "kerasnya/tajamnya kritikan" kita kepada pihak Barat sudah
>merupakan "kritikan yang adil"? Ingat bahwa yang kita "kritik" sebenarnya
>bukan "semua yang berasal dari barat" atau bukan semua orang Barat.. dan
>juga bukan semua pemerintahan/negara-negara barat. Yang kita kritik
>sebenarnya adalah "para intreprenurs/usahawan" multinasional yang "tidak
>berhati nurani" yang menguras kekayaan negara-negara miskin.. Tapi tidak
>semua multinational intreprenurs bersifat serakah/tamak...
>
>Sama seperti "orang Australia" yang mengkritik akan kejamnya seluruh
>orang-orang Indonesia (padahal maksudnya cuma militer Indonesia yang
>bertindak brutal di TIMTIM. Militer inipun juga tidak semuanya.
>
>Sepanjang kritikan itu "fair", terarah, tepat sasaran, (tidak asal tembak),
>tidak terlalu luas, spesifik, dan membangun... maka kritikan itu tidak akan
>mendatangkan kebencian dan tantangan... dan kritikan semacam ini akan
>bermanfaat bukan hanya bagi yang mengkritik tapi juga buat yang dikritik..
>
>Mungkin LSM-LSM Indonesia perlu bekerjasama dengan LSM-LSM di luarnegeri
>yang punya ide-ide yang serupa dalam rangka mewujudkan "pemerataan 
>keadilan,
>kebersamaan, keberpihakan kepada mereka yang lemah, pelestarian lingkungan,
>pelestarian adat-budaya dan nilai-nilai luhur.
>
>Kemudian kritikan kita yang tajam kepada pihak Barat menurut saya juga 
>mesti
>diimbangi dengan kritikan yang tidak kalah tajamnya kepada kita sendiri. Di
>negeri kita sendiri masih banyak orang-orang
>(penguasa/pejabat/orang-per-orang) yang berjiwa sangat rakus, perampok dan
>pemerkosa harta/kekayaan alam dan kekayaan rakyat. Menyerang dan mengkritik
>dengan keras tentang penyakit orang lain mesti kita ikuti dengan 
>memperbaiki
>dan menyembuhkan borok-borok penyakit disekujur tubuh kita.
>
>Salam
>
>Gede Ngurah Ambara
>KALTIM
>
> > ----------
> > From:       Qwerty November[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent:       Friday, September 24, 1999 12:48 PM
> > To:         [EMAIL PROTECTED]
> > Subject:    Re: [lingkungan] Re : Your Comment ? Letter from London
> >
> > Salam,
> >
> > Saya setuju dengan pendapat mba Hira.
> > Sebagian dari kita masih berjiwa inlander, masih menggunakan standar 
>Barat
> > (Eropa &Amerika) dalam bertindak, bahkan menganggapnya yang terbaik yang
> > harus diikuti.
> > Padahal Barat -yang sering disebut-sebut sebagai biang demokrasi-
> > menggunakan standar ganda dalam tingkah-lakunya.
> >
> > Hal ini banyak ditemukan dalam kegiatan/ hal pemanfaatan sumberdaya 
>alam.
> >
> > Barat mendukung proyek investasi pemanfaatan (pengurasan) sumberdaya 
>alam
> > di
> > negara D III dengan tuntutan persyaratan baku mutu yang tinggi, segera,
> > dan
> > kontinu yang kadang-kadang membuta-tulikan aspek sosial politik dan
> > lingkungan.
> > Ketika lingkungan rusak, mereka menuntut pelestarian sumberdaya 
>tersebut.
> > Mengapa, karena Barat telah terlebih dulu melakukan pengurasan dan
> > perusakan
> > sumberdaya alam setempat.
> >
> > Dalam hal pematenan.  Seringkali resep-resep tradisional (obat, pangan,
> > dll.) yang telah dimiliki turun-temurun dari nenek moyang dan merupakan
> > pengetahuan umum di tengah komunitas masyarakat adat (biasanya di D III)
> > diambil dengan dalih penelitian/ eksplorasi dsb., dipatenkan, dan diakui
> > sebagai hasil penemuan mereka.  Setelah itu mereka masih tebal muka 
>dengan
> > merasa bahwa merekalah yang paling berhak menjual produk tersebut, yang
> > lain
> > tidak boleh (jika tetap menjual disebut pembajakan, pencurian hak cipta,
> > dll., monopoli ceritanya...), dengan harga jual yang sangat tinggi, jauh
> > lebih tinggi daripada ketika resep itu masih hidup di masyarakat (gratis
> > dengan bonus senyum ramah yang tulus...).  Di sini berlaku pembajak 
>teriak
> > pembajak.
> > Padahal mungkin yang paling berhak memperoleh benefit adalah masyarakat
> > adat
> > yang telah memelihara resep tesebut sejak dulu.
> >
> >
>
>---------------------------------------------------------------------
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]



Kirim email ke