Hira coba lihat di http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Harry Surjadi
> Bung Ambara,
>
> SAya agak ketinggalan cerita tukang kayu (saya cari di list tidak ada).
> Tetapi saya setuju dengan beberapa point anda, bahwa tidak semua orang
> barat yang kita kritik. Sebenarnya yang saya kritik adalah paradigmanya,
> terutama mengenai pembangunan dan kapitalisme, serta politik mereka
> terhadap dunia ketiga. Dalam hal ini, banyak LSM luar negeri yang setuju.
> Bahkan Greenpeace, misalnya, dalam hal pelepasan organisme hasil rekayasa
> genetika, itu mengkritik pemerintah AS dan uni Eropa yang ingin dumping
> bahan hayati hasil rekayasa ke dunia ketiga. Ada beberapa jaringan LSM
yang
> bergerak dalam bidang ini, dan terdiri dari LSM dunia ketiga serta dari
> negara maju.
>
> Nah, memang adil bila kita juga mengkritik yang terjadi di dalam negeri,
> terutama kebrutalan aparat seperti yang baru-baru ini terjadi terhadap
> mahasiswa yang menentang RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya. Bagi yang
> mengkritik paradigma barat, memang menjadi riskan karena dilihat secara
> sepotong-sepotong dan kemudian dianggap sebagai kelompok yang pro dengan
> kebijakan pemerintah. Padahal, dengan mengkritik paradigma barat, kita
juga
> mengkritik elit serta pemerintah yang menganut paradigma tersebut tanpa
> melihat dampaknya pada masyarakat. Atau bahkan dianggap sebagai nasionalis
> dalam arti sempit yang anti barat dan anti keterbukaan. SEbaliknya,
> beberapa paradigma universal seperti ham dan demokrasi (saya tidak setuju
> bila dikatakan konsep demokrasi adalah konsep barat) diabaikan bahkan
> dilanggar tidak saja oleh pemerintah kita tetapi oleh beberapa
pemerintahan
> barat dalam hubungannya dengan negara dunia ketiga.
>
> Terakhir, hampir semua LSM kita memang menerima dana dari negara maju
> (Barat), ada yang tanpa ikatan apapun, ada yang tanpa sadar menganut
agenda
> donor dan ada yang memang diciptakan agar agenda donor tersebut tercapai.
> Seperti semua elemen bangsa kita, LSMpun beragam dan disitulah sebenarnya
> kekuatan kita, asalkan kita mau menerima dan menghormati perbedaan.
>
> Sekian dulu
> Salam
> ----------
> > From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: '[EMAIL PROTECTED]'
> > Subject: [lingkungan] Tukang Kayu...
> > Date: Saturday, September 25, 1999 8:01 AM
> >
> >
> > Komentar-komentar yang cukup menarik dan tajam dari Mbak Hira dan
> > Qwerty...dan juga cerita tentang pak Tukang kayu dari Galilea
benar-benar
> > memberikan pencerahan bagi saya....
> >
> > Tapi justru karena membaca cerita pak Tukang Kayu itu.. saya malah
> bertanya
> > balik.. apakah "kerasnya/tajamnya kritikan" kita kepada pihak Barat
sudah
> > merupakan "kritikan yang adil"? Ingat bahwa yang kita "kritik"
sebenarnya
> > bukan "semua yang berasal dari barat" atau bukan semua orang Barat.. dan
> > juga bukan semua pemerintahan/negara-negara barat. Yang kita kritik
> > sebenarnya adalah "para intreprenurs/usahawan" multinasional yang "tidak
> > berhati nurani" yang menguras kekayaan negara-negara miskin.. Tapi tidak
> > semua multinational intreprenurs bersifat serakah/tamak...
> >
> > Sama seperti "orang Australia" yang mengkritik akan kejamnya seluruh
> > orang-orang Indonesia (padahal maksudnya cuma militer Indonesia yang
> > bertindak brutal di TIMTIM. Militer inipun juga tidak semuanya.
> >
> > Sepanjang kritikan itu "fair", terarah, tepat sasaran, (tidak asal
> tembak),
> > tidak terlalu luas, spesifik, dan membangun... maka kritikan itu tidak
> akan
> > mendatangkan kebencian dan tantangan... dan kritikan semacam ini akan
> > bermanfaat bukan hanya bagi yang mengkritik tapi juga buat yang
> dikritik..
> >
> > Mungkin LSM-LSM Indonesia perlu bekerjasama dengan LSM-LSM di luarnegeri
> > yang punya ide-ide yang serupa dalam rangka mewujudkan "pemerataan
> keadilan,
> > kebersamaan, keberpihakan kepada mereka yang lemah, pelestarian
> lingkungan,
> > pelestarian adat-budaya dan nilai-nilai luhur.
> >
> > Kemudian kritikan kita yang tajam kepada pihak Barat menurut saya juga
> mesti
> > diimbangi dengan kritikan yang tidak kalah tajamnya kepada kita sendiri.
> Di
> > negeri kita sendiri masih banyak orang-orang
> > (penguasa/pejabat/orang-per-orang) yang berjiwa sangat rakus, perampok
> dan
> > pemerkosa harta/kekayaan alam dan kekayaan rakyat. Menyerang dan
> mengkritik
> > dengan keras tentang penyakit orang lain mesti kita ikuti dengan
> memperbaiki
> > dan menyembuhkan borok-borok penyakit disekujur tubuh kita.
> >
> > Salam
> >
> > Gede Ngurah Ambara
> > KALTIM
> >
> > > ----------
> > > From: Qwerty November[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > > Sent: Friday, September 24, 1999 12:48 PM
> > > To: [EMAIL PROTECTED]
> > > Subject: Re: [lingkungan] Re : Your Comment ? Letter from London
> > >
> > > Salam,
> > >
> > > Saya setuju dengan pendapat mba Hira.
> > > Sebagian dari kita masih berjiwa inlander, masih menggunakan standar
> Barat
> > > (Eropa &Amerika) dalam bertindak, bahkan menganggapnya yang terbaik
> yang
> > > harus diikuti.
> > > Padahal Barat -yang sering disebut-sebut sebagai biang demokrasi-
> > > menggunakan standar ganda dalam tingkah-lakunya.
> > >
> > > Hal ini banyak ditemukan dalam kegiatan/ hal pemanfaatan sumberdaya
> alam.
> > >
> > > Barat mendukung proyek investasi pemanfaatan (pengurasan) sumberdaya
> alam
> > > di
> > > negara D III dengan tuntutan persyaratan baku mutu yang tinggi,
segera,
> > > dan
> > > kontinu yang kadang-kadang membuta-tulikan aspek sosial politik dan
> > > lingkungan.
> > > Ketika lingkungan rusak, mereka menuntut pelestarian sumberdaya
> tersebut.
> > > Mengapa, karena Barat telah terlebih dulu melakukan pengurasan dan
> > > perusakan
> > > sumberdaya alam setempat.
> > >
> > > Dalam hal pematenan. Seringkali resep-resep tradisional (obat,
pangan,
> > > dll.) yang telah dimiliki turun-temurun dari nenek moyang dan
merupakan
> > > pengetahuan umum di tengah komunitas masyarakat adat (biasanya di D
> III)
> > > diambil dengan dalih penelitian/ eksplorasi dsb., dipatenkan, dan
> diakui
> > > sebagai hasil penemuan mereka. Setelah itu mereka masih tebal muka
> dengan
> > > merasa bahwa merekalah yang paling berhak menjual produk tersebut,
yang
> > > lain
> > > tidak boleh (jika tetap menjual disebut pembajakan, pencurian hak
> cipta,
> > > dll., monopoli ceritanya...), dengan harga jual yang sangat tinggi,
> jauh
> > > lebih tinggi daripada ketika resep itu masih hidup di masyarakat
> (gratis
> > > dengan bonus senyum ramah yang tulus...). Di sini berlaku pembajak
> teriak
> > > pembajak.
> > > Padahal mungkin yang paling berhak memperoleh benefit adalah
masyarakat
> > > adat
> > > yang telah memelihara resep tesebut sejak dulu.
> > >
> > >
> >
> > ---------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >
> >
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]