Mohon maaf, saya juga mau ikut nimbrung. Maaf selama ini saya kurang aktif
terlibat dalam mengemukakan pikiran melalui milis ini akan tetapi membaca
beberapa e-mail berturut turut dari Mas Bowie, Mas Rahmat dan Mas Subijanto.
Perkenalkan nama saya Martua Sirait, bekerja pada lembaga penelitian yang
berhubungan dengan pertanian dan kehutanan di Bogor.

Mengikuti discorse ttg Wilayah Kelola Rakyat terutama dalam Kawasan
Konservasi, saya rasanya ingin mengemukakan dua hal:

1. Tentang konsep Segregate vs. Integrate
Kelihatannya dalam pengelolaan sumber daya alam kita terjebak pada konsep
segregas, dimana dipisahkan secara total mana yang akan dilinlindungi atau
di konservasi dengan yang apa mau di ekspolitasi, dibudidaya maupun di
usahakan. Konsep ini membawa kita pada satu ekstrim dimana dalam kawasan
konservasi, semuanya dikonservasi, manusia dianggap musih bagi kelestarian
dll. Dititik ekstrim lain kawasan yang dieksploitasi dan diusahakan , apapun
bentuk eksploitasi dapat dilakukan, pola tebang habis, IPK, eksploitasi
tambang  dll. Konsep Segregasi hanyalah khayalan manusia yang diterjemahkan
dalam peraturan perundang-undangan dan tidak pernah berhasil. Konsep
tandingannya adalah Integrasi, dimana konservasi dan pembudidayaan serta
pengusahaan dilakukan bersama dalam konteks Pengelolaan sumber daya alam.
Konsep ini maih belum sepenuhnya diterima oleh para pengambil kebijakan
walaupun telah bayak dipraktekan oleh masyarakat. Mungkin ini yang di
sampaikan oleh Mas Bowie dan Mas Rahmad sebagai Wilayah Kelola Rakyat. Yang
menarik selanjutnya adalah Konsep penyebaran/luasan  secara ruang (spatial).

2. Tentang  Konsep Penyebaran/Luasan secara Spatial : Skala Besar vs Skala
Kecil
Masa lalu bahkan sampai saat ini pola pengelolaannya masih berskala besar
sehingga penyebaran ruangnya mengumpul pada suatu tempat dengan konsep
segregasi. Bisa dibayangkan apa yang terjadi. Kawasan Konservasi yang
luasnya jutaan hektar serta kawasn hutan produksi maupun luasan hutan
tanaman serta konversi hutan dalam jutaan hektar untuk kegiatan eksploitasi,
usaha perkebunan, pertanian dll. Konsep ini ternyata, kembali hanya khayalan
manusia saja yang secara nyata tidak pernah terjadi. Yang ada adalah luasan
kecil dengan jumlah banyak dan tersebar. Dalam konteks pengelolaan sumber
daya alam lebih kompetitif dan efisien. Luasan skala kecil belum dapat
diterima oleh para pengambil kebijakan sebagai suatu bentuk pengelolan
sumber daya alam yang baik karena diidentik dengan tradisionil, tidak
mencerminkan skala industri dll.

Gabungan kedua konsep yaitu integrasi dan skala kecil merupakan jawaban atas
pengelolaan sumber daya alam dimasa depan dimana telah dibuktikan oleh
rakyat kita pengelola sumber daya alam diberbagai wilayah di Indonesia
seperti Repong Damar di Krui, Tembawang di Kalimantan Barat, Hutan-Kebun
Kemenyan di Sumut, dll.
Bagaimana dengan Kawasan Konservasi kita? Kiranya saatnya untuk mereposisi
enjai kawasan konseravasi dengan luasan yang memadai dengan jumlah yang
tersebar dengan tidak membatasi secara kaku atas kegiatan ekploitasi dan
konservasi tetapi memasukannya dalam konteks pengelolaan wilayah yang lebih
luas
trims, martua

-----Original Message-----
From: Dwi R. Muhtaman <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Friday, October 06, 2000 11:56 AM
Subject: Re: [lingkungan] Re: Wilayah Kelola Rakyat


>
>Menurut saya jawaban atas dua pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
>
>1.  Pertanyaan pertama ini sebetulnya jawabannya tidak hitam putih.  Iya
>kawasan konservasi biodiversitas (KKB) tidak hanya feasible ada jika
>memberi manfaat langsung.  Jadi ada atau tidak ada manfaat langsungnya
>perlu ada konservasi itu.  Tetapi harus dilihat konteksnya (sosial,
>politik, ekonomi dsb) juga.  Kalau dilihat konteksnya maka KKB jadi tidak
>feasible karena tidak memberi manfaat langsung.  KKB bisa luluh lantak,
>seperti kita saksikan, karena eksistensi KKB melupakan konteks: hak
>masyarakat diabaikan, ketergantungan masyarakat terhadap KKB dipotong,
>pemerintah daerah seolah tak dianggap sebagai sebagai pihak yang mestinya
>mendapat manfaat.  Pendeknya KKB justru tidak membangun perkawanan, malah
>sebaliknya menumbuhkan banyak musuh untuk menjaga sterilitas KKB dari dunia
>nyata sekitarnya.  Karena itu KKB jadi jelas tidak fiseable.  Bagaimana
>kita bisa menjaga KKB--yang memang amat penting itu-- kalau selalu
>diganggu.  Dan itu situasi real di Indonesia.  Ia akan hancur.  Kecuali
>kalau mau membangun tembok ala dinding raksasa China yang mengelilingi KKB.
> Atau minta TNI (yang ini lembaganya serdadu beneran lho) untuk menjaga
KKB.
>
>2.  Untuk pertanyaan yang kedua, manfaat untuk masyarakat saya kira bisa
>menjadi strategi untuk KKB.
>
>Ini adalah sebuah diskusi.  Dalam diskusi isu yang kontroversialpun
>mestinya ya tidak mengapa.  Berbeda pendapat ya tidak apa-apa.
>
>Soal kaidah.  Ya setuju ia harus dalam posisi untuk selalu membuktikan diri
>konsistensinya dan sifat universalitasnya.  Tetapi suatu kaidah tidak
>berarti abadi.  Kalau terbukti tidak tepat lagi maka ia akan "digantikan"
>dengan kaidah baru.  Nah kaidah baru untuk manajemen KKB ini yang perlu
>dicari.  Kaidah, mungkin (tidak tahu pasti) sama dengan paradigma.
>
>Demikian.
>
>Salam
>
>Dwi Rahmad
>================
>
>At 06:34 AM 10/6/00 +0700, you wrote:
>>
>>Perlu sedikit pencerahan :
>>
>>1. Apakah kawasan konservasi biodiversitas hanya 'feasible' untuk ada bila
>>dia dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat ('popular
utilitarian')?
>>
>>Atau dibalik pertanyaannya (bila dianggap elitis dan kurang lugas)
>>
>>2. Dalam 'management' (kalau kata pengelolaan dianggap bisa berkonotasi
>>lain) kawasan konservasi apakah posisi pendekatan manfaat bagi masyarakat
>>merupakan tujuan atau merupakan cara/strategi ('objective or means')?
>>
>>Bila dianggap kontroversial dan tidak relevan harap tidak
>>diklarifikasi/ditanggapi.
>>Pendulum selalu berayun ke arah yang berlawanan, sementara suatu kaidah
>> harus selalu dalam posisi untuk membuktikan diri apakah memang memiliki
>>sifat  universal (tidak ada hubungannya dengan popularitas).
>>Johannes Subijanto
>>
>
>
>
>## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>
>
>



## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke