jadi bukan sekedar "proyek" 8-) tapi saya lebih prefer ke Komunitas lah menjadi "pengontrol" bukan "birokrasi" sehingga semangat linuux tetap hidup. tapi ini cuma sekedar usul aja
ILF ----- Original Message ----- From: "Effendy Kho" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Cc: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, April 12, 2002 12:57 PM Subject: Re: [aktivis] Re: Pendirian Yayasan Linux Indonesia? Kayaknya Zen nih yang musti "bertanggung jawab" tapi gini ni cerita diskusi dari awalnya.... Kita tidak ingin nanti di Indonesia standard yang dipakai oleh swasta/pemerintah untuk urusan2 tender dsb itu memakai standard luar negeri seperti LPI, RHCE dsb. Dan hal ini sudah kejadian di negara2 luar, setiap ada proyek maka tenaga ahlinya harus certified. Karena kalau sudah terlanjur demikian maka tenaga2 profesional kita (dalam negeri) akan kesingkir duluan walaupun secara teknis dan kemampuannya tidak tentu kalah dengan yang sudah punya sertifikasi luar. Sedangkan untuk mendapatkan LPI dan RHCE itu dari segi biaya tidak murah sehingga hanya sedikit orang yang dapat memilikinya. YLI bertujuan membuat suatu sertifikasi yang baik dari kualitas dan harus terjangkau oleh semua lapisan masyarakat yang akan di akui oleh swasta/pemerintah dan menjadi standard nasional untuk tender2 proyek atau dasar untuk rekruitment tenaga ahli linux. Maka ide mendirikan YLI yang dicetuskan oleh Zen, ini di bawa ke forum diskusi KPLI Jakarta. Supaya sertifikasi di akui dan di dukung juga oleh Pemerintah maka kita perlu dukungan dari Badan2 dan Asosiasi2 yang sudah ada seperti BBPT, KADIN, dsb dengan tujuan bahwa hal ini bisa di bawa/di sosialisasikan ke anggota2 mereka (jadi lebih dari sisi pandang marketing dari pada "politis"). Karena YLI butuh modal kerja untuk bikin bank soal, aplikasi testing, administrasi dsb maka diperlukan modal yang harus di setor oleh founder member, founder member ini nanti dibedakan untuk corporate dan nonprofit org seperti KPLI (nilai setorannya beda). Founder member mempunyai priveledge bisa menjadi Authorized Certification testing Center tanpa harus bayar lagi (tentu saja harus memenuhi syarat2 teknis yang diwajibkan oleh YLI). Bagi perusahaan yang tidak menjadi founder member of YLI dan ingin menjadi authorized certification testing center nantinya harus membayar iuran tahunan. KPLI ini ingin diseret supaya kebagian getahnya gitu. Jadi kita maunya kpli2 bisa menjadi tempat untuk test sertifikasi yang dikeluarkan oleh YLI. Sedangkan soal sistem, bank soal, dsb itu kan disiapkan oleh YLI, urusan lokalnya di urus oleh kpli2 masing2. Soal kpli mau ngadain training atau workshop ya silahkan terserah ke kpli masing2. Tujuannya supaya kpli di daerah2 masing2 punya income dari kegiatan sertifikasi ini supaya bisa funding untuk kegiatan2nya yang lain. Ini harapan kita semua, tapi kalau kpli mau jadi founder member of YLI maka menurut undang2 yayasan maka kpli harus berbadan hukum. Menurut survey sementara untuk menjadi bahan hukum bagi kpli dibutuhkan biaya ke notaris sekitar 500 ribuan (mungkin bisa di check di masing2 daerah). Jadi YLI semata2 dibuat suatu yayasan non profit untuk membuat PRODUK TUNGGAL yaitu : Sertifikasi Nasional untuk LINUX, syukur2 nanti di akui di Asean dan luar negeri sekalian. Jadi soal konflik of interest dengan perusahaan2 training center dsb harusnya tidak terjadi karena perusahaan2 tersebut di beri kebebasan dan kesempatan untuk menjadi founder of YLI. Kalau kesempatan untuk jadi founder ini tidak di pakai maka lain kali kalau mau jadi Authorized Testing Center nya YLI harus bayar iuran tahunan ( yg pasti akan jauh lebih mahal dari jadi founder). Disinilah sebenarnya kenapa KPLI di harapkan mau jadi founder member of YLI supaya bisa kebagian duit dari program sertifikasi ini. Kalau ngak jadi founder member duit dari mana nanti untuk bayar iuran kalau kpli ingin jadi tempat testing nya kelak. Nah pertanyaan siapa yang mengontrol YLI, tentu saja menurut undang2 yayasan ya para founder2nya dan pasti bukan pemerintah. Makanya menurut saya kalau ada perusahaan "linux" yang tidak jadi anggota YLI akan rugi sendiri. Salam, Ase PT. LINUXINDO TOTAL SOLUSI 100% Linux Training Center http://www.linuxindo.com Authorized Indonesia Linux Certification Center Founder of Indonesia Linux Foundation (secara bisnis, menjualkan ?) On Friday 12 April 2002 11:32 am, you wrote: > Sori, banyak tanya.... soalnya hampir deadline menyiapkan bahan diskusi di > Makassar..... > Kalau materi kurang siap, aku takutnya, jawaban spontan dari anggota > adalah.... "NO" :-( Dan kalau sudah begini, sulit untuk dibahas > kedua-kalinya (entar aku dikira ngeyel, hehehe) > > Pengen nanya soal "positioning" Yayasan Linux Indonesia, dengan lembaga > kursus yang sudah ada. > > Saat ini, sudah ada lembaga-lembaga lokal yang membuat > * Kursus Linux > * Ujian Linux > * Hasil 2 point di atas, ekor-ekornya ada "sertifikat" yang didapatkan oleh > peserta. > > Di Makassar, kursus dan sertifikat ini ada yang senilai beberapa ratus ribu > rupiah, dan ada yang sampai jutaan rupiah :-) > > Nah, dalam hal ini, apakah Yayasan Linux Indonesia: > a. Selevel dengan mereka? > b. membuat materi kursus / ujian / sertifikat untuk mereka > c. Men-sertifikasi mereka? > > Kalau kita ikut yang (a), apakah kita tidak jadi bersaing dengan mereka? > Rasanya ini nurun-nurunin pandangan orang tentang KPLI > > Kalau ikut yang (b), apa mereka mau? Di Makassar, ada yang ngambil > kurikulum Linux dari Luar negeri, dan mereka bangga dengan itu. > Kalau ada tempat kursus/diploma yang tidak mau, apakah kita tidak kembali > ke point (a) ? > > Point (c), aku kalah sebelum bertanding..... ada lembaga kursus yang punya > nama cukup besar, dan lebih mampu dari LUGU. Mereka punya banyak jagoan > linux yang dibayar full untuk urusan ini, sedangkan kita cuman volunteer. > > Salam, > Adi Nugroho -- Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3 -- Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

