121->317170 wrote: >Mungkin anda benar. Tapi sayangnya tidak semua orang >seperti itu. Biasanya untuk orang-orang awan (terutama >orang Indonesia), masih lebih suka dengan penampilan. >Jadi memang benar apabila mas Bona Simanjuntak (CMIIW) >pernah mengatakan bahwa untuk mempromosikan Linux ke >masyarakat Indonesia, biasanya lebih mudah apabila >menggunakan desktop KDE. Saya bicara di sini bukan >lantaran saya ini penggemar berat KDE atau GNOME (tapi >penggemar berat Valentino Rossi :p). Dan sayangnya >itulah kenyataan yang ada di masyrakat kita....... > >Soo......... Agak aneh rasanya bila kita >memperdebatkan kegemaran orang lain.
I don't think so, cybercatz..... :) http://www.gnomedesktop.org/article.php?sid=1795 http://www.serverwatch.com/news/article.php/3354021 http://www.osnews.com/comment.php?news_id=7635 ada harga yang harus dibayar oleh kde dengan "feature-feature keren"-nya itu. Harga itu adalah usability. orang-orang awam memang suka dengan penampilan tapi jangan lupa dengan faktor usability..... saya tidak pernah setuju dengan anggapan bahwa untuk mempromosikan linux sebagai desktop harus dengan satu desktop manager, baik dengan KDE doank atau Gnome doank..... Di windows kita cuma disuguhi satu "menu" doank, yaitu satu desktop manager doank. Kita tidak bisa mengganti desktop manager bawaan Windows. Penampilannya juga susah diubah kecuali memakai software seperti Object Dock, dll. Gnome dan KDE jauh lebih fleksibel dari desktop manager Windows. JIka di Windows orang disuguhi satu menu doank, kenapa di linux kita tidak menyuguhi dengan dua "sajian". Linux kan menggembar-gemborkan freedom. Masa cuma KDE doank yang kita sajikan. Memang too much choice will kill you. Tapi cuma dua kok. Tidak sampai belasan. Baik Gnome dan KDE masing2 memiliki sisi kuat dan sisi lemahnya. Biarkanlah end user yang memutuskan desktop mana yang lebih cocok buat mereka. JIka Anda memutuskan untuk menyuguhi satu sajian doank, yaitu KDE berdasarkan hasil survey yang menyatakan orang lebih familiar dengan KDE, itu benar2 "KDE banget deh". Menurut hasil polling, pengguna KDE memang lebih banyak dari pengguna Gnome tapi pengguna Gnome juga bukan minoritas. Pengguna Gnome itu sekitar katakanlah 30 sampai 40 %. Jadi berdasarkan hasil polling ini, artinya KDE tidak cocok untuk semua orang. Masa kita mau meng-"KDE"-kan mereka semua. Terus memang kenapa kalau KDE lebih mirip Windows? C'mon, guyz! Mereka datang dari Windows ke Linux. Ada pengguna yang merasa nyaman dengan desktop manager KDE yang mirip Windows tapi kenapa kita tidak menyuguhi desktop manager yang "lebih tidak mirip" Windows. Mungkin mereka selama ini tidak produktif dengan desktop manager Windows dan mungkin lebih produktif dengan pendekatan baru. Biarkan mereka memilih. Itu adalah pilihan mereka, bukan kita. Tapi back to original question, keputusan terakhir ada di tangan Pak Rus, sang maestro pembuat distro. Once again, dua desktop dalam satu distro.... What's the problem? Masa 800 MB tidak cukup? Terus kalau mau ekstrem, kita minta saja zeus ( sang pembuat theme Gartoon ) untuk membuat theme baik untuk Gnome dan KDE biar lebih unified. Just my 2 cents. Regards, PenguinMan -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

