Sebagaimana member list ini, saya yakin tidak sedikit yang menggantungkan
urusan dapurnya pada bisnis OS ini (seperti juga saya), tapi apakah kita
akan membiarkan lembaga ini (KPLI), menjadi lembaga yang diperebutkan
anggotanya karena mereka tahu bahwa dibalik non-profitnya komunitas ini
tersimpan value bisnis yang tidak terbayangkan nilainya.
Menurut pandangan saya, sebuah organisasi, apa pun itu, baru akan jalan
kalo memang ada kepentingan di dalamnya. Lihat aja partai-partai
politik, kenapa mereka bisa aktif??? Karena memang ada banyak
kepentingan orang didalamnya. Ya yang mau jabatan, ya yang mau uang,
juga yang emang idealis namun lewat partai.
Jadi (menurut saya) KPLI pun harus memfasilitasi berbagai kepentingan
anggotanya, nah karena intinya hidup manusia ini adalah mencari makan
(hemmm...uang mungkin cocoknya, dan dengan uang bisa beli makan sama
mobil sama rumah), ya KPLI harus bisa memfasilitasi itu. tapi bukan
dalam arti ada segelintir orang yang menguasai KPLI untuk
kepentingannya, tapi lebih kepada bagaimana membantu anggotanya untuk
dapat hidup lewat organisasi itu.
Misal, dengan yang KPLI-Jakarta sudah dan akan lakukan, ada orang
namanya A dan B yang daftar jadi anggota, A mahasiswa dan B pengusaha
(karyawan) perusahaan IT, KPLI-Jakarta menyediakan tempat untuk A dan B
agar bisa ngoprek, lengkap dengan buku-buku dan akses internet 24 jam
(ini sisi sosialnya), kemudian agar bisa bayar gedung, akses, dan staff,
KPLI-Jakarta mencari orang lain yang mau belajar Linux. Nah, karena
butuh pengajar KPLI-Jakarta memfasilitasi A agar bisa ngajar dan dapat
uang (supaya A bisa traktir dan ngajak meried pacarnya). Kemudian
ternyata si peserta ini karyawan perusahaan "Mana Saja" yang butuh
solusi namun takut pake M$ Window$, maka KPLI-Jakarta menawarkan pada B
untuk mengerjakan proyek migrasi PT "Mana Saja" itu. Nah si B harus tahu
diri dooongg....jadi sekian persen dari keuntungannya harus masuk ke
KPLI. Nah dari "uang tahu diri" inilah KPLI-Jakarta bisa ngadain lagi
kegiatan lainnya. Misalnya buat Gathering di Puncak tanggal 6-7 April
ini (ikutan dooonnnngggg).
Dari uang "tahu diri" yang terkumpul ini, KPLI-Jakarta akan membeli
peralatan IT terbaru yang canggih-canggih buat riset dan bikin pinter
anggotanya, kalo perlu beli hak siaran di TV, trus bikin acara yang bisa
ngalahin acaranya si "selebritis ibu-ibu". Jadi lah Linux makin
memasyarakat, dan KPLI makin terkenal, dan makin banyak lagi yang masuk
KPLI, dan makin banyak lagi yang belajar Linux, dan makin banyak lagi
yang mau migrasi, dan makin banyak lagi proyek yang bisa dikerjain
anggotanya, dan makin banyak lagi "duit tahu diri" yang bisa digunakan
untuk mengembangkan teknologi buat bangsa ini.
Nah, tiap anggota KPLI-Jakarta punya kewajiban sama, sama-sama mau bagi
ilmu, belajar dan mengajarkan ilmunya ke orang lain, serta mau berkarya
buat nusa dan bangsa. Nah, jadi KPLI-nya akan sulit untuk bisa seperti
Micro$oft yang selalu komersil, karena ada idealisme anggota yang
menjaganya.
Nah, panjang banget dah e-mailnya...maaf gede-gedein box mailnya hi hi hi...
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Sedikit ingin diskusi soal KPLI.
Open Source (OS), atau katakanlah Linux, di Indonesia sekarang ini kan
lagi naik daun.
Tren ini tentu bagian dari dampak kemajuan komunitas dalam mensupport dan
mempromosikan penggunaan OS ini.
Saya agak kaget dengan adanya e-mail dari kawan di Semarang yang kira-kira
'menggugat' mantan ketua KPLI sana. Adanya riak seperti ini tentu saja
harus kita sikapi dengan positif, ini tandanya member peduli dengan
komunitasnya. Meski kita jangan menutup mata adanya riak seperti ini juga
karena ada unsur kepentingan diluar pengembangan OS, misalnya bisnis,
uang, dll.
Sebagaimana member list ini, saya yakin tidak sedikit yang menggantungkan
urusan dapurnya pada bisnis OS ini (seperti juga saya), tapi apakah kita
akan membiarkan lembaga ini (KPLI), menjadi lembaga yang diperebutkan
anggotanya karena mereka tahu bahwa dibalik non-profitnya komunitas ini
tersimpan value bisnis yang tidak terbayangkan nilainya.
Saya melihat KPLI seharusnya dijaga sebagai komunitas non-profit, dan
dipegang oleh orang yang memiliki integritas dan idealisme. Sehingga
perjalanannya kedepan tidak berubah bahkan menjadi seperti partai politik
yang disana-sini ada pertumpahan darah dalam suksesi kepemimpinannya.
Urusan operasional KPLI, pasti butuh duit. Tapi bukankah event yang
diadakan juga mengundang banyak investor, dan ada duit disana. Nah untuk
ini, saya sependapat dengan KPLI Jakarta untuk membuat lembaga / unit
bisnis diluar KPLI yang dikelola anggotanya yang aktif sehingga ketika ada
profit, sebagian kecil untuk sewa kantor, bandwidth & server +
administrasi. Intinya, jangan menjadikan KPLI ini sebagai business center.
Karena jika ini tidak ada yang mengendalikan, saya khawatir spirit Open
Source jadi hilang, yang kemudian kita sama saja dengan Gates yang
mengkapitalisasi keahliannya dengan uang. Yang akhirnya terjadi saling
claim, nggak puas, bikin komunitas baru, yang pastinya akan menurunkan
produktivitas.
Saya berkeyakinan, dengan besarnya KPLI di tiap daerah, ada tempat bagi
end user untuk berkonsultasi, belajar, ngoprek, dll. Sehingga OS di
Indonesia bisa berkembang dan ada dukungan support dari komunitas yang
tidak terlalu menjadikan uang sebagai tujuan operasionalnya.
Ada masukan ?
Salam,
Sulaeman
--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis