> KR ... oh ... KR, kayaknya koran lokal Yogya ini kurang pro Open Source. > http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=140087&actmenu=36
> Yang dikutip pernyataan dari ketua Apkomindo DIY lagi ... > Saya berencana menulis di Pikiran Pembaca KR untuk menyatakan ketidaksetujuan atas pernyataan2 itu. Akhirnya, surat keberatan saya dimuat di Pikiran Pembaca KR. Berikut isinya: Tanggapan Berita "Wujudkan 'Be Legal' Jual-Gunakan Software" Menanggapi berita yang dimuat di KR edisi Rabu, 31 Oktober 2007, saya sebagai salah satu aktivis pengguna Linux dan perangkat lunak Open Source ingin mengungkapkan beberapa keberatan atas pernyataan Bp. Hadi Santono sebagai ketua Apkomindo DIY yang dikutip oleh KR. Beberapa pernyataan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Karena sifatnya yang non-komersial, sehingga terkesan dikembangkan 'seadanya', dan terhambat oleh keterbatasan dana dan pengembangan masih terbatas pada hobby saja. Tanggapan saya: pengembang open source tidak selalu identik dengan proyek hobby dan karena itu mengembangkan piranti lunak secara seadanya. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa piranti lunak open source memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan dengan piranti lunak proprietary. Salah satu contoh yang dapat diberikan adalah web server Apache (open source) yang jauh lebih banyak digunakan daripada web server IIS produk Microsoft (sumber: netcraft.com). Bahasa pemrograman web PHP jauh lebih populer dibandingkan dengan ASP. Bahkan situs resmi KR (kr.co.id) juga berjalan di atas web server Apache yang diperlengkapi dengan skrip PHP. Tentunya KR tidak mau situs resminya dijalankan di atas piranti lunak yang dikembangkan seadanya, bukan? 2. Di lapangan, para pengguna (user) banyak menghadapi kendala, tetapi tidak tahu ke mana harus meminta dukungan teknis karena memang tidak ada. Tanggapan saya: Linux dan piranti open source justru memiliki pendukung yang paling banyak di dunia. Hampir di setiap kota besar ada komunitas Linux yang siap untuk memberikan dukungan teknis, di samping itu kini telah banyak media dan perusahaan yang khusus bergerak di bidang Linux. Silakan lihat di www.linux.or.id. Dari sisi sebaliknya, apakah benar pengguna piranti lunak proprietary yang membeli secara resmi tidak mendapatkan kesulitan untuk meminta dukungan teknis? Apakah pengguna Microsoft di Yogya dapat dengan mudah mendapatkan dukungan teknis, sementara tidak ada kantor cabang Microsoft di Yogya? 3. Tidak tersedia driver yang cocok, program yang sudah usang, maupun perkembangan hardware yang sedemikian cepat tidak dapat diimbangi oleh program open source. Tanggapan saya: Linux dan piranti lunak open source justru merupakan piranti lunak yang paling cepat dan up to date perkembangannya. Masalah driver, hampir semua perangkat keras model baru dapat dikenal di Linux, termasuk WiFi, printer, dan VGA Card yang notabene paling cepat perkembangannya. Sementara itu banyak program yang dapat menyaingi bahkan menggantikan program-program aplikasi proprietary, seperti Firefox yang dapat menggantikan IE dan OpenOffice yang dapat menggantikan Microsoft Office. Jadi program-program di Linux sama sekali tidak bisa dibilang usang. Demikian sedikit unek-unek dan tanggapan saya, semoga ini dapat meluruskan kembali stereotype yang salah mengenai piranti lunak open source. Kami juga mengundang masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai event-event tentang Linux dan piranti Open Source agar pemahaman tentang Linux makin bertambah dan dengan demikian mempermudah proses migrasi ke Open Source. Regards, Ir. Yahya Kurniawan ===================== Penulis Buku Komputer y4hy4.blogspot.com ===================== -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

