2008/11/27 Harry Sufehmi <[EMAIL PROTECTED]>:
> 2008/11/26 Utian Ayuba <[EMAIL PROTECTED]>:
>>>> Ya, tapi kadang dalam ber "dakwah" kita tidak bisa langsung menembak
>>>> tujuan akhirnya.
>>>>
>>>> Kadang jalannya harus berbelok dulu beberapa kali, sebelum akhirnya
>>>> tiba di tujuannya.
>>>
>>> kalau ini saya setuju. sip sip. :)
>>
>> Pak Harry Sufehmi,
>> Bagaimana ya "kontrol" terhadap "da'i" ini untuk memastikan kalaupun
>> dia berbelok-belok dia pasti menuju tujuan yang benar?
>> Kemudian kira-kira berapa lama waktu ideal yang diperlukan untuk
>> sampai ke tujuan? saya kira harus direncanakan juga itu, karena kalau
>> kelamaan muter-muter malah ga nyampe-nyampe dan lagi-lagi ketinggalan
>> sama yang lain :D
>
> OK mungkin saya berikan saja satu contohnya, agar jadi agak jelas
> maksud saya diatas.
>
> Misalnya, pada saat ini ada banyak advokasi / promosi ke F/OSS dengan
> mengangkat topik "be legal"
>
> Nah, "be legal" itu sebetulnya kan bisa juga menggunakan software
> proprietary  :)  :)
>
> Tapi, ini adalah bagian dari strategi kita.
> Karena pada eksekusinya adalah sbb :
>
> 1. Kita jelaskan berbagai kelebihan F/OSS :
>
> == dari perspektif pribadi
> == dari perspektif institusi
> == dari perspektif negara
>
> 2. Kita jelaskan berbagai masalah dengan software proprietary
>
> == forced upgrades
> == data lock-in
> == vendor lock-in
> == dst
>
> Maka, otomatis jadinya mantra "be legal" itu menggiring mereka untuk
> migrasi ke F/OSS  :-)
>
> Ini namanya strategi.
>
> Memang tentu akan ada yang tetap memilih solusi proprietary. Misalnya,
> 5% dari audiens.
>
> Tapi, daripada kita ngotot ingin 100% ke F/OSS, tapi ternyata malah
> ditolak audiens 100% (karena mereka tidak suka dengan pendekatan kita
> yang terlihat ngotot) -- tentu conversion rate 95% jadi alternatif
> yang  jauh lebih baik.
>
> Pengalaman pribadi sih, namanya dakwah itu tidak bisa dan tidak baik
> dengan cara memaksakan. Atau semata-mata melihat dari kacamata /
> perspektif kita sendiri.
>
> Kita harus bisa empati dan simpati kepada obyek "dakwah" (hehe) kita.
> Hanya dengan itu maka ada harapan bahwa mereka akan bisa dan mau
> menerima yang kita sampaikan.
>
> Anyway, mengusung jargon "be legal" itulah yang kemudian membukakan
> jalan bagi Linux / F/OSS ke banyak institusi. Jadi, ya, kita coba
> manfaatkan kesempatan ini, dengan menggunakan strategi yang tepat.
>
Mas mungkin ini yang jadi awal pertanyaan si Utian. Menurut saya
strategi dakwah bisa jadi berbeda2 untuk setiap audiens/umat. Karena
kepentingannya pun beraneka ragam si audiens ini. Kebanyakan kita akan
cukup untuk sampai "be legal" terutama kalau konteksnya audiensnya
masyarakat umum. Tetapi menurut saya pribadi untuk yang dunia akademis
pendekatannya harus lebih puritan terutama kalau ke peserta ajar,
karena menurut saya penting untuk menyampaikan nilai di balik adanya
Linux(beyond Linux is foss movement) karena nilai2 inilah yang mungkin
mendorong kita sebagai bangsa bisa lebih maju dan merdeka sepenuhnya
(halah .... :P)

>
> Salam, HS
>
> --
> Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
> Arsip dan info: http://linux.or.id/milis
>
>



-- 
Resza

-- 
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke