Jamukha wrote:
On 1/12/09, Alex Budiyanto <[email protected]> wrote:
Rekan,
IMHO, Linux itu kernel dan butuh dukungan software lain [yang kebanyakan
open source] untuk bisa dipakai sehari-hari, baik yang berlisensi GNU/GPL,
CDDL, dsb itu alasan kenapa sebaiknya linux ditulis dengan GNU/Linux. CMIIW
Misalnya saja untuk running Desktop Environment, Linux butuh GNome, KDE,
XFCE dsb. untuk shell/terminal saja linux juga butuh GNU Bash, ataupun shell
yang lain, apalagi untuk dukungan multimedia baik itu Xine, Songbird, Totem
dsb.
So, kalau mau bikin dokumentasi hanya tentang Linux, maka dalam film
tersebut hanya membahas tentang kernel linux saja, tanpa GNU Bash, GNU C
Compiler, dsb.
Kalau menurut saya, sebaiknya kita berikan persepsi yang benar ke
masyarakat apa itu Open Source, apa itu Linux, karena Open Source != Linux,
tapi linux itu Open Source. CMIIW
Lex lex... nggak ngeflame nih ya, tapi kalu filmnya keberatan macam
gitu, saya mending milih ngorok deh. terlalu berat, terlalu tidak
simpel.
Kalopun ada yang nonton, paling geek yang ndak ada kerjaan laen,
itupun nontonnya sambil lalu.
Pangsa pasar di indonesia lebih suka kisah macam: Buruan Cium Gue
Sambil Ngoprek Kernel atau Hantu Pasar Elektronik Mangga Dua Yang Mati
Kesetrum Komputer Yang Keinstall Fedora.
Om...om, bisa dibuat simple kok, menurut saya sih yang penting, definisi
yang benar tentang open source, untuk nanti di dalam-nya hanya membahas
tentang linux saja sebagai contoh open source nggak masalah kok, yang
penting masyarakat tahu apa itu open source dan apa itu linux, karena
sekali lagi Open Source != Linux, tapi Linux itu open source.
Dengan pemeran utama om blek, ah saya mah yakin, ntar banyak cewek-cewek
yang histeris, waktu melihat kembaran si nikolas saputra maen film
dokumenter tentang Open Source ;-)
--
Alex Budiyanto
Campus Ambassador Coordinator
Community Development Officer
Sun Microsystems Indonesia
http://alexbudiyanto.web.id
--
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis