2009/6/15 Yuda Nugrahadi <[email protected]>:
> Pada 13 Juni 2009 16:22, Resza Ciptadi<[email protected]> menulis:
>> Lalu gimana ?? yang paling penting dan paling utama tentu saja kita
>> secara pribadi berusaha tidak demikian, bila mana mungkin bisa membawa
>> orang lain tidak demikian juga. Nilai2 pembebasan sangat sulit dan
>> tidak umum untuk di terima oleh main stream masyarakat kita, jadi
>> misalnya wajar kalau kebanyakan orang kekeh sama Window$ yang notabene
>> user friendly meskipun harus berlumur dosa karena haram(untuk
>> kebanyakan yang membajak, sol) tapi sebenarnya sangat terbatas,
>> dibandingkan kebebasan tiada batas yang dapat di dapat dari bash, ash,
>> ksh.
>>
>
> di kalangan pengguna "aplikasi2 itu", alasan utama yang mereka
> kemukakan kalau diminta ganti aplikasi kurang lebih seperti ini : "Wah
> klo harus ganti aplikasi berarti belajar lagi dong".
> Tapi klo diminta pakai yang legal : "Wah trus makan pake duit apa klo
> harus bayar segitu mahal".
>
> Padahal kayak gini bisa disiasati. Belajar dulu, sambil masih make
> yang "itu". Kalau sudah mahir baru lah pindah. Jadi ga usah bayar
> mahal. Lagipula masih banyak juga yang mengandalkan tool untuk membuat
> sesuatu. Katakanlah coding php masih banyak yang mempercayakan
> eclipse, padahal pake vim juga bisa *ini hanya analogi saja*.
>
> --

Jadi keinget ... betapa senangnya kita kalo dapet stand Linux di
sebuah pameran ... gratis .... Termasuk di dalamnya adalah ketika kita
gencar melobi pengelola pameran untuk dapet stand ... gratis,
pass-card ... gratis, konsumsi ... gratis, dll ..

Apa itu termasuk mental gratisan juga ndak yah?

*pemikiran yang tau-tau muncul*


-- 
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Alvonsius Albert N

-- 
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke