2009/7/2 Fajran Iman Rusadi <[email protected]> > > catatan: email ini sengaja saya teruskan hanya ke linux-aktivis. > > > Kalau memang kompas berniat untuk membagi isi kompas cetak dalam > bentuk digital seperti sekarang, maka seharusnya akses untuk > mendapatkannya dibuat semudah2nya. Tidak perlu menggunakan teknologi > "tambahan" seperti ini. Gunakan saja HTML/Javascript dan kawan-kawan. > Tidak perlu yang lain.
+ 10000 HTML dan JavaScript itu jalan satu-satunya. Bukan Flash apalagi JavaFX. Ada banyak library JavaScript yang sekarang ini menawarkan interaksi ala desktop, a.k.a RIA, seperti SproutCore. Untuk kebutuhan epaper, lebih cocok menurutku memakai HTML 5. Fitur HTML5 yang menurutku bisa mengakomodir tingkat interaksi ala epaper: * Dengan Canvas tag (embed SVG) * Immediate Mode (sekali load, tidak perlu dirender lagi saat harus scroll down/up). JavaFX dan Silverlight "suck kuadrat" di urusan ini. Cek saja LiveHTTPHeader anda saat loading Silverlight app :) * Multimedia playback. * Moda berlangganan bisa pakai Offline Storage. Jadi bisa dibaca meski tidak ada koneksi internet. Seperti Google Gears itu. Keuntungan lain HTML, dan paling besar dari semua, adalah bisa disearch dan bisa memiliki URI yang unik. Ujung-ujungnya, publisher (i.e Kompas) dan reader sama-sama untung. > > Namun memang, kalau yang saya lihat, epaper ini tidak sekedar > menampilkan gambar. Pengguna juga bisa memilih tulisan yang ada di > dalamnya walau tetap tidak bisa copy/paste (ini yg saya lihat di > Tribun Timur). Kalau memang seperti ini, menurut saya lebih baik > menggunakan PDF sekalian. Setidaknya PDF itu sudah menjadi standar > ISO. Nah, berhubung tingkat adopsi HTML 5 masih relatif kecil, hanya modern WebKit-based browser dan Gecko-based, ditambah lagi tool masih sangat sedikit, PDF itu jalan tengahnya. Namun meski relatif masih kecil tingkat adopsinya, Safari 4 dan Firefox 3.5 dan Opera 10 (beta) saya yakin akan mempercepat adopsinya. -- Andry -- Berhenti langganan: [email protected] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

