walaupun ditempat saya, cost dalam artian harga beli tidak menjadi
faktor utama, karena sebenarnya post-sale cost itu yang lebih
dipertimbangkan, belum lagi learning-curve, bla..bla.. tapi saya
dengan Pak Firdaus perihal SLA. ditempat saya juga begitu, SLA sering
kali juga berarti siapa yang bisa menjadi kambing-hitam. nah, mungkin
kita2 yang sebelah kaki di oss dan sebelah kaki di proprietary ini
sering mendapati hal ini. kalau oss, yang sang empunya SLA-nya sapa
ya? siapa yang bisa ditelpon dan diomelin kalau barangnya ga jalan.
dan siapa yang berani menjamin produk oss-nya.

2009/8/26 Firdaus Tjahyadi <[email protected]>:
> Pada 26 Agustus 2009 15:18, Alfian Danarto<[email protected]> menulis:
>> setuju dengan Pak Yahya bahwa perspesi termasuk salah satu yang harus
>> dibenahi kalau ingin meng-open-sourcekan Indonesia. tapi menurut aku
>> yang tidak kalah penting adalah bagaimana open source bisa menunjukan
>> hal lain, selain: murah/tidak berbayar. seperti SLA, telahaans studi
>> bisnis, contoh kasus pada beragam industri vertikal, dll.
>
> Company pasti melihat cost pak
>
> Itu No. 1
>
> Astra menilai bahwa menggunakan M$ murah (karena discount dll)
> dibandingkan dengan OSS
>
> SLA dll itu omong kosong
>
> Manajemen Big Company cuma ingin cari "kambing hitam" kalo ada trouble
> siapa Companynya
>
> Kalo mereka ngga bisa juga ya tinggal bilang ke Top Manajemen Belum
> Disupport, disertificate dll sm M$, SAP, HP, IBM dll
>
> hehehehe apa itu ngga omong kosong
>
> Thanks
>
> Regards
>
> --
> Berhenti langganan: [email protected]
> Arsip dan info: http://linux.or.id/milis
>
>



-- 
Cherio - Alfian

“Tindak kekerasan adalah bentuk lain dari kemalasan. Ia digunakan oleh
orang-orang yang tidak mau bergumul dengan karunia akalnya. Mereka
enggan menempa diri dengan belajar, menganalisis persoalan secara
cermat, berargumen, apalagi berdialog.”  - Prof. Dr. Khaled Abou El
Fadl

--
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke