Kritik saya buat Mikrodata + kata pengantar pengasuh Mikrodata Juni 99 :)

=== 
Rasanya sudah lama sekali saya tidak membaca Mikrodata. Edisi Juni saya
beli di toko buku Gramedia sewaktu mencari Infokomputer, karena kebetulan
artikel saya dimuat di Mikrodata.

Saya menyayangkan kualitas pengerjaan Mikrodata yang menurun. Typo
berceceran dan penulisan ejaan salah dan tidak seragam. Artikel-artikel
utama terasa berupa terjemahan mentah dengan bahasa yang kaku. Bagaimana nih
kerja para editornya?

Tapi yang terutama saya sayangkan adalah komentar pengasuh tentang Linux di
edisi Juni. Pengasuh menyimpulkan tulisan di halaman depan dengan kalimat
"Working with Linux? No way!". Tapi tulisan tersebut ditulis oleh seseorang
yang terlalu awam dengan Linux (bahkan versi kernel Linux dan nama X tidak
disebutkan dengan benar) dan tidak adil bagi Linux dan bagi programmer yang
belum pernah mendengar tentang Linux sebelumnya. (Seingat saya, dari dulu
Mikrodata merupakan media-nya para programmer kan?) Bagi programmer,
"bekerja" bukan sekedar mengetik atau ber-Office ria, tapi lebih ke
mengotomasi dan membuat kode. Pengasuh belum menjelaskan (karena belum
mengalami sendiri?) sisi-sisi programmer-friendly Linux. Di sistem operasi
Windows, bagaimana cara memperoleh kompiler C gratis dengan mudah? Apakah
tersedia segudang programming dan debugging tools seperti grep, sed, awk,
make, cvs, ctags, perl, dll? Apakah COMMAND.COM/CMD.EXE bisa dibandingkan
dengan powerful command shell di Linux? Apakah Windows merupakan platform
yang stabil, cepat, dan scripting-friendly? Apakah Windows memungkinkan
kernel dimodifikasi dan dicoba-coba? Apakah di lingkungan Windows terasa
tradisi hacker yang kental?

Singkatnya, tulisan pengasuh tidak melihat Linux dari sisi yang seharusnya,
yaitu dari kacamata programmer.

Maaf kalau saya kedengarannya sinis. Pesan saya cuma satu, yaitu bagi
pengasuh: ayo tingkatkan lagi kualitas Mikrodata. Saya ingat dulu Mikrodata
pernah menjadi salah satu bacaan kesayangan dan panduan utama saya.

===
Working with Linux? No way!

Belakangan ini sebuah sistem operasi yang tergolong tua mulai di sukai
banyak orang. Alasan yang paling kuat ialah sistem operasi ini memiliki
performance yang bagus dan gratis. Tidak lain tidak bukan ialah Linux. Saat
ini Linux sudah mencapai versi 6 untuk Red Hat Linux.

Linux merupakan versi UNIX yang berjalan di atas PC. Karena dulu UNIX
dipakai pada mesin-mesin server yang tergolong mahal. Orang yang ingin
mencobanya sulit sekali kalau tidak bekerja di perusahaan tertentu atau
lembaga tertentu yang memakainya. Munculnya Linux sebagai sistem operasi
berbasis UNIX yang berjalan pada mesin PC menjadi hal baru yang unik.

Mulai digemarinya Linux di berbagai kalangan bisa dilihat dari banyaknya
artikel Linux yang muncul di majalah kesayangan kita ini. Bahkan artikel
mengenai Linux sudah bisa dipastikan ada setiap bulannya. Dengan
gembar-gembor yang tak kalah menyerah, akhirnya pemakai PC yang awam akan
UNIX mulai melirik Linux untuk dicoba.

Well, sayangnya Anda jarang menemukan artikel Linux yang berisi penilaian 
objektif. Jarang sekali yang terang-terangan membuka "boroknya" Linux.

Kalau Anda bertanya kepada perkumpulan Linux (di Indonesia namanya KPLI
atau Kelompok Pengguna Linux Indonesia), sulitkah memasang Linux? Jawabnya,
"mudah kok". Kalau Anda bertanya bisakah Linux bergaya seperti Windows yang
user friendly dan notabene sudah mendarah daging dengan masyarakat PC
Indonesia? Jawabnya, "Anda bisa pakai XWindows". Sayangnya kenyataan sering
berkata lain.

Pada beberapa kasus memasang Linux (saya mencobanya dengan Red Hat Linux),
tidak semudah yang Anda bayangkan dan pada beberapa kasus lain sangat mudah
sekali bahkan tanpa kesulitan sedikit pun. Mudah atau tidaknya bukan
kesimpulan yang saya ambil sendiri, tetapi pernyataan langsung dari orang
awam Linux yang memasangnya.

Hal yang membuat orang tertarik dengan Linux ialah XWindows-nya. Seperti
yang saya katakan tadi, orang Indonesia sudah terbiasa dengan Windows, dan
sekarang aplikasi mode teks sudah banyak ditinggalkan. Kalau mereka disuruh
balik lagi ke mode teks bersama Linux, pasti mereka lebih suka beralih ke
mesin tik. Karenanya XWindows-lah yang diincar.

Setelah XWindows di pasang, pada kenyataannya tidak sesuai dengan harapan
mereka. Dari segi tampilan memang XWindows lebih unik tapi tidak user
friendly. Cara pemakaian satu aplikasi dengan yang lainnya banyak yang tidak
sama. Bayangkan saja, tampilan scroll bar di beberapa aplikasi diletakkan di
sebalah kanan dan aplikasi lain di sebelah kiri. Cara pemakaian kedua scroll
bar ini pun agak sedikit berbeda. Sehingga pemakai harus menebak-nebak lagi
(bagi yang belum terbiasa).

Taskbar yang ada terkadang tidak dipakai secara efektif dan sering kali
membingungkan. Lalu title bar pada aplikasi yang ditandai dengan ikon
tertentu sering tidak berfungsi seperti pada umumnya. Misalnya, ikon "X"
pada aplikasi satu memang digunakan untuk menutup aplikasi tertentu. Tapi
pada aplikasi lain ikon tersebut menimbulkan bunyi "BIB" alias salah klik.
Lalu apa gunanya ikon tersebut ditampilkan? Yang lebih lucu lagi, beberapa
aplikasi muncul dengan ukuran maksimal sehingga title bar-nya pun tidak
tampak dan tidak bisa dipakai. Akhirnya menutup aplikasi terebut menjadi
momok.

Kalau orang bilang interface Windows lebih cacat dari Mac, maka interface
XWindows-nya Linux lebih cacat dari Windows. Bahkan Windows 3.x lebih saya
pilih dalam hal user friendly-nya. Singkatnya user interface XWindows memang
unik dan saya sendiri kagum. Tapi di lain hal saya tidak akan
merekomendasikannya untuk dipakai melakukan pekerjaan sehari-hari.


--sh
Bandung Perl Mongers mailing list:
http://bandung.pm.org/


--------------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]
Hosted by http://www.Indoglobal.com

Kirim email ke