On Fri, 11 Feb 2000, Flory Katriena wrote:
> Karena itulah selalu Flory katakan paling enak ngerjain pasar yg udah
> terbentuk seperti ini..... Konsumen benar-benar tidak memiliki penawaran
Mungkin enak, tapi tidak maju. Pernah perhatikan kapan Mac masuk ke
Indonesia? IMHO, mulai terdengar sekitar 1994, setidaknya saat dealer Mac
ada di Jkt. Itu kan Indonesia tertinggal 10 tahun. Sialnya, saat pengguna
Mac mulai ada, di Amriknya Apple punya problem, baik dalam produksi
(terlalu banyak jenis h/w) dan juga pemasaran (tidak fokus, CEO
ganti-ganti -- tapi IMHO, salah utamanya adalah karena pemegang sahamnya
mendepak Steve Jobs; tapi do'i udah balik lagi sih, Mac jadi cool
lagi...). Seandainya masyarakatnya bisa berpikir lain saat itu, mungkin
penggunaan komputer (terutama OSnya) tidak hanya dimonopoli satu sistem
saja.
> untuk 'menentang' arus. Nah, kondisi ini walau lambat mungkin bisa
> dipatahkan oleh gelombang open-source(oleh sebagian orang masih dianggap
> sebagai eforia/trend sementara) yg melanda negeri ini sejak dua-tiga tahun
> lalu. Open-source seperti membuka mata konsumen untuk tidak saja
> menggunakan tapi juga ikut menentukan produk apa yg layak dikonsumsi......
Sebenarnya sih tidak perlu patah-mematahkan; pengguna Windows akan tetap
ada, pengguna Linux akan semakin banyak. Yang saya sesalkan adalah bahwa
kebanyakan orang Indonesia berpikir dalam "clueless-mode", maunya hanya
ikut orang lain.
IMHO, pengguna Linux tak mungkin demikian, bagaimana bisa? Linuxnya
mungkin tidak bisa terinstal.
Oki
--------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]