On Fri, 11 Feb 2000, Flory Katriena wrote:
> Kalau hal itu benar terjadi disini maka itu adalah tugas berat bagi produsen
> untuk memenuhi pasar. Bahasan ini menarik dan juga sering pula menjadi sub
> topik bahasan diskusi kami di kampus.
Idealnya sih begitu, tapi di pasaran software, khususnya OS, kan yang
terjadi adalah monopoli. Dan biasanya jika sudah terjadi seperti itu,
bukannya pasar yang mengendalikan produsen, tapi produsennya yang
mengendalikan pasar. Mungkin monopoli ada baiknya, misalnya monopoli
protokol yang ada di Internet (TCP/IP); yang tanpa itu, mungkin Internet
tidak akan pernah sebesar yang sekarang. Problemnya, bagaimana jika
monopoli tersebut dikendalikan oleh perusahaan yang pada dasarnya adalah
mencari untung; mudahnya, Microsoft. Mungkin bagus bagi pemegang saham,
tapi bagi kemajuan teknologi, IMHO, monopoli tadi malah mengakibatkan
lambatnya kemajuan (contoh: MS lambat masuk ke Internet, suport buat
TCP/IP di Windows kan awalnya bukan dari MS).
TCP/IP adalah merupakan "open-source" produknya IETF, dimana spesifikasi
protokolnya terbuka untuk umum dan masing-masing produsen software boleh
mengimplementasikannya pada produk akhirnyanya (end-product). Dari sini
terlihat bahwa "bisnis-model" semacam ini bisa jalan juga, malah menjadi
suatu kunci penting didalam "menjalankan" suatu jaringan yang besar
seperti Internet. IETF memang tidak untung (memang bukan perusahaan),
model seperti ini mungkin tidak bisa diterapkan pada perusahaan, kecuali
mungkin jika perusahaannya cukup besar sehingga mampu menjadi pelopor
dalam suatu bidang teknologi.
Contoh yang disebutkan terakhir ini adalah Sun. Bisa kita lihat bagaimana
dia membuka spesifikasi untuk teknologi Java-nya (Java language), dimana
semua orang boleh mengimplementasikan spesifikasi-nya, tanpa harus
membayar royalti pada Sun. Mungkin kalau Sun merupakan start-up company di
Indonesia yang baru muncul, dia tak akan bisa hidup. Tapi sebagai
perusahaan yang sudah lama malang-melintang dalam urusan jaringan, dia
bisa menjadi pelopor di situ.
IMHO, model bisnis seperti ini memang butuh keyakinan dan "otot" yang
kuat. Bagaimana tidak, dengan dikeluarkannya spesifikasi tersebut, berarti
Sun secara tidak langsung membuka peluang munculnya kompetitor di lahan
yang dibuatnya. Akan tetapi, seperti kita lihat sendiri, ternyata suport
untuk Java malah bisa meluas dengan adanya berbagai produk yang tersedia
dari berbagai vendor; malah Java sendiri menjadi "lem" yang merekatkan
berbagai teknologi (mis: dg. Java support di Oracle sebagai trigger &
stored procedure, tentunya kita bisa "menyambungkan" relatif secara lebih
langsung antara JavaBeans -- yang mungkin sudah dalam bentuk third-party
library -- dengan data kita yg. ada di database server. Sebelumnya, kalau
mau bikin stored-procedure di Oracle, ya kita tergantung sama PL/SQL.)
Dengan munculnya berbagai suport ini, secara tak langsung Sun juga
diuntungkan, karena produk yang dikeluarkannya akan lebih banyak
"kawan-kawannya".
"Open-source" (pake kutip, soalnya bisa berarti source-code maupun
spesifikasi) bisa jadi merupakan model bisnis yang akan diikuti oleh
banyak perusahaan terutama yang berkecimpung di Internet. Tinggal sejauh
mana mau membukanya, bisa di tingkat spesifikasi maupun end-product. Kalau
produk akhir, mungkin tak semua perusahaan bisa atau mau, tapi masih
memungkinkan; jika, memang dari awalnya sudah demikian, misalnya ya Linux
itu. Kalau spesifikasi, tergantung, perusahaannya mapan apa tidak; kalau
tidak, ya siapa yang mau mengikuti. Spek kan biasanya keluaran organisasi
non-profit yang menginternasional (ISO).
Oki
--------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]