Kalau aku sih suami harus bertanggungjawab penuh untuk urusan ekonomi 
rumahtangga. Jadi istri bekerja atau nggak tuh tergantung keadaan. Hitung 
untung ruginyalah! Kalau pendapatan suami nggak cukup terus istri ngebantu  
itu sih sedekah istri buat keluarga. Suami nggak boleh keenakan dan harus 
terpacu untuk mencukupi sendiri kebutuhan keluarganya. Bukannya malah bikin 
aturan istri bayar rekening listrik/air/telpon, suami bayar kredit 
rumah/mobil misalnya.
Tapi kalau kena musibah misalnya diPHK seperti banyak terjadi 
sekarang-sekarang ini sih....bagus sekali kalau istri juga dapat ikut 
menopang keluarga selama suami berusaha bangkit kembali.

Lalu kalau pendapatan suami cukup ya harus dilihat lagi bagaimana dengan 
urusan anak? Kalau suami dan istri bekerja tapi akibatnya anak nggak terurus 
ya mendingan istri berhenti aja bekerja atau mengurangi jam kerjanya (part 
time aja gitu ....).
Satu lagi yang perlu dipikir juga apa pekerjaan istri berguna banget buat 
masyarakat atau nggak. Kalau pekerjaan istri itu pekerjaan langka yang 
pentiiing banget untuk masyarakat maka suami juga harus mendukung bagaimana 
caranya supaya istri tetap bisa mengamalkan ilmunya itu, walaupun sudah 
punya anak dan secara ekonomi tidak ada masalah bila istri tak bekerja.


Yang juga penting, rasanya kita harus bisa menghargai secara seimbang buat 
istri yang memilih bekerja full time di rumah untuk mengurus rumah serta 
mengasuh anak dan yang memilih bekerja di luar rumah. Andai bisa 
dilaksanakan dengan baik sih sama tinggi derajatnya. Sekarang-sekarang ini 
kan karena istri bekerja cenderung lebih disorot media dan dirasa lebih 
bergengsi baik bagi si istri sendiri juga bagi suami sehingga kalau ada yang 
cuma di rumah dipandang remeh seolah jadi manusia yang nggak produktif. 
Beberapa temenku yang sudah jadi istri dan nggak kerja di luar rumah sering 
stress lho waktu ada yang nanya pekerjaannya apa? Oooo nggak kerja ya cuma 
jadi ibu rumahtangga saja ya?  Kasihan kan mereka. Sebenarnya kerja di rumah 
bila benar-benar dilakukan dengan "professional" itu sulit sekali. Ibuku 
nggak kerja soalnya jadi bisa ngeliat bahwa karir rumahtangga juga bukan 
urusan gampang. Jadi nggak boleh dianggap remeh dan atau kalah gengsi dengan 
kerja di luar rumah.

Kalau untuk keperluan sosialisasi kan tidak harus dengan bekerja resmi. Bisa 
saja istri bantu-bantu di kegiatan sosial yang non-profit alias tak bergaji.


Untuk urusan rekening sih kalau aku mah uang hasil kerja istri ya biar 
disimpan istri di rekening tersendiri yang nggak bercampur dengan uang 
rumahtangga. Itu kan uang pribadinya dia. Kalau istri menggunakan uangnya 
untuk keperluan keluarga ya itu sih terserah istri saja. Malah sebaiknya 
uang itu untuk keperluan pribadi istri sendiri atau disimpan untuk keadaan 
gawat darurat saja. Terus dari pendapatan suami sebagian besar harus masuk 
ke rekening keluarga yang penggunaannya dikelola istri dengan sepengetahuan 
suami. Suami tentu lebih baik kalau punya rekening sendiri lagi untuk 
keperluan tak terduga. Tapi yang inipun sebaiknya diperlihatkan pada istri 
secara berkala biar nggak ada rasa curiga.Damai di rumahtangga! Mimpi 
nih....duh kapan ya bisa ngerasainnya?


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com

Kirim email ke