Hakikat Sebuah Rumah Tangga I
Definisi Rumah Tangga.
Rumah tangga adalah sebuah susunan atau jaringan yang hidup. Yang merupakan
pusat dari denyut-denyut pergaulan hidup yang menggetar. Dia adalah alam
pergaulan manusia yang sudah diperkecil yang ditunjukan untuk mengekalkan
keturunan. Kemudian daripadanya nanti akan terbentuklah ebuah keluarga,
yaitu suatu jama'ah yang bulat, teratur dan sempurna. Dia bukan sekedar
tempat tinggal belaka. Tetapi rumah tangga sebagai lambang tempat yang aman,
yang dapat menenteramkan jiwa, sebagai tempat latihan yang cocok untuk
menyesuaiakan diri, sebagai bentang yang kuat dalam membina keluarga dan
merupakan arena yang nyaman bagi orang yang menginginkan hidup bahagia,
tentram dan sejahtera.
Begitulah arti sebuah rumah tangga meskipun belum begitu tepat seluruhnya
karena memang amat sukar merumuskan secara lengkap istilah rumah tangga itu.
Namun demikian juga dengan keterangan diatas, sudahlah dapat digambarkan
bagaimana rupa dan bentuk rumah tangga yang mesti harus dibangun dan
dijalani oleh setiap orang. Kepastian membangun dan membina sebuah rumah
tangga oleh setiap manusia itu bukanlah sekedar karena naluri atau tabi'at -
dimana setiap manusia itu membutuhkan sebuah hidup untuk berkumpul bersama
karena terdorong oleh suatu kebutuhan - akan tetapi agamapun memerintahkan
didunia semuanya menganjurkan supaya orang itu setelah tiba masanya agar
cepat berumah tangga. Terlebih-lebih agama Islam yang dalam misinya
mengemban beban berat untuk mebentuk manusia yang berbudaya berdasarkan
wahyu Ilahi yang tertuang dalam kitab suci Al-Qur'an dan Hadist Nabi SAW.
Maka manusia yang dalam keberadaannya sebagai organ masyarakat perlu
membangun rumah tangga. Sebab rumah tangga sebagaimana disebutkan diatas
merupakan tempat yang aman, yang dapat menentramkan jiwa. Bilamana setiap
manusia telah menyadari akan hal ini lalu mendorong mereka dalam membangun
rumah tangga, maka jelaslah bahwa nantinya ketentraman masyarakat dapat
diharapkan. Dan ketentraman masyarakat inilah yang dijadikan sebagai modal
utama untuk membangun masyarakat yang berbudaya dalam naungan suatu negara.
Anjuran menikah sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah hadist
berarti anjuran untuk berumah tangga. Rasulullah SAW juga memperingatkan
kepada umatnya jangan sampai menghindari. Sebab ditakutkan bila kita
menghindari sebuah kebutuhan biologis kita untuk menikah dalam hidup maka
dapat menimbulkan penyelewengan sexuil.
Terbentuknya Sebuah Rumah Tangga
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas bahwa sebuah rumah tangga merupakan
suatu unit terkecil dari masyarakat. Ini berarti bahwa didalam masyarakat
itu banyak terdapat rumah tangga atau kumpulan orang-orang yang sudah
membentuk rumah tangga dalam kehidupannya. Apa yang terjadi ini sesuai
dengan tabi'at manusia yang oleh Aristoteles disebut " ZOON POLITIKON ",
yang artinya manusia adalah Makhluk Sosial yang hanya menyukai hidup
bergolongan atau sedikitnya mencari teman untuk hidup bersama.
Kehendak untuk suka hidup bergolongan atau mencari teman untuk hidup bersama
dengan seseorang yang menjadi pilihannya dalam suatu rumah tangga itu karena
didorong oleh hasrat yang berdasarkan pada naluri (kehendak yang diluar
pengawasan akal) untuk memelihara sebuah hubungan dan keturunan untuk bisa
memiliki anak dimana kehendak ini akan memaksa manusia mencari istri atau
suami yang kemudian nantinya akan terbentuklah sebuah rumah tangga.
Selain teori tersut diatas, kita juga tidak boleh mengenyampingkan adanya
kehendak manusia untuk hidup enak, saling tolong menolong dan
bergotong-royong didalam menghdapai pekerjaan yang harus kelakukan karena
adanya dorongan ssuatu kebutuhan hidup. Sebagai seorang pria yang
dilahirkan/ diciptakan dalam beberapa kelebihannya dibandingkan seorang
wanita secara naluri pula akan terasa didalam jiwanya suatu perasaan ingin
bertanggung jawab untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, sesuai dengan
bentuk tubuhnya yang memang lebih kekar daripada seorang wanita. Sementara
itu keberahasilannya didalam ingin mendapatkan imbalan terhadap tersedianya
beberapa kebutuhan yang bisa mendorong ke arah keberhasilannya dalam
melaksanakan tugas-tugas berat itu, yang tak mungkin dapat dilakukan sendiri
secara serentak. Dilain pihak wanita merasa bahwa dirinya lemah dan
membutuhkan seseorang untuk dapat melindunginya dari segala sesuatu hal yang
dapat membahayakan dirinya, maka dari itu kemudian terbentuklah dalam
jiwanya sebuah keinginan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai
dengan kemampuannya yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh seorang
laki-laki. Maka terjadilah suatu paduan timbal balik yang saling melengkapi
antara pria dan wanita. Pria bekerja sedangkan wanita menyediakan segala
sesuatu hal yang dibuthkan pria untuk menunjang keberhasilan kerjanya.
Kiranya dari hal semacam inilah yang membuat mereka kemudian saling
menyatukan kasih hidup guna menggalang, membina dan membentuk sebuah rumah
tangga
Kendatipun demikian satu hal yang paling menonjol dan mendorong manusia
untuk membina sebuah kehidupan rumah tangga adalah unsur cinta yang dibawa
sejak lahir. Dalam hal ini, maka secara alami seorang pria dan wanita akan
merasa saling tertarik antara satu dengan yang lain.
Unsur cinta ini memang belum kelihatan bila manusia ini masih dalam taraf
kanak-kanak. Akan tetapi ia pasti akan timbul bila ia sudah sampai pada
masanya. Sebab pada diri manusia itu terdapat energi yang dapat menggerakkan
tubuh untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya orang lapar pasti ia kan makan,
orang haus pasti ia akan minum dan begitu pula dengan orang yang merasa
kesepian, maka ia akan merasa bahwa hidupnya menjadi hampa dan tiada
berarti, untuk itu ia pasti akan mencari seseorang yang bisa dijadikan
sebagai teman hidup untuk dijadikan sebagai seorang istri dan lain-lain.
Perasaan yang mengerahkan energi ini disebut ego. Dan ego yang mengarahkan
energi sehingga bisa menimbulkan syahwat antara pria dan wanita. Wanita
mencintai pria dan begitu pula sebaliknya pria mencintai wanita. Maka cinta
inilah yang menjadi dasar dalam terbentuknya kehidupan berumah tangga
diantara mereka.
Perasaan cinta kepada lawan jenisnya yang tertanam dalam jiwa setiap manusia
ini didalam Al-Qur'an telah ditegaskan dalam Surat Ali-Imron ayat 14, yang
artinya
" Dan dijadikanlah indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap apa-apa
yang dingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak . . . ."
Bila kita perhatikan dengan seksama ayat diatas, maka diantara sekian banyak
kecintaan manusia, yang pertama-tama adalah rasa kecintaannya terhadap lawan
jenisnya yaitu wanita. Ini tentu saja menyangkut perasaan seorang wanita
yang sudah pasti akan mencintai seorang pria sebagai lawan jenisnya.
Pada ayat tersebut diatas, kecintaan kepada para wanita itu kemudian disusul
dengan kecintaan kepada anak-anak. Ini merupakan suatu rentetan hidup yang
saling berkaitan, bahwasannya perpaduan cinta antara pria dan wanita pasti
akan membuahkan sebuah hubungan batin dan perasaan antara keduanya.
Namun demikian sebuah rumah tangga tidak mutlah hanya terwujud dengan
berbekal oleh perasaan cinta saja, kecuali harus disertai dengan pernikahan
yang dilaksanakan secara sah baik menurut agama maupun negara dan yang
disertai oleh dua orang saksi.
----
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]