Menurut apa yang pernah saya amati, partner kerja berlainan jenis gender
(cowok berpartner dengan cewek) dalam suatu tugas kantor, lebih banyak
beresiko terjadinya mis-interprestasi hubungan kerja berubah menjadi
hubungan asmara sepihak (pihak si cowok atau si cewek saja) atau dua pihak,
bahkan berkelanjutan.
Bisa dimaklumi kalau si cewek bersikap menjaga jarak terhadap si cowok
(semisal anda) apalagi si cewek, menurut normal cowok pada umumnya,
tergolong cantik. Sudah kodratnya bahwa kalau ada cewek cantik di
sekitarnya, pasti banyak cowok yang berusaha mendekatinya (atau paling tidak
mengagumi kecantikannya) dan si cewek tahu serta sadar untuk itu.
Memang tepat sekali si cowok (baca : anda) tidak menjadikan cantik enggaknya
seseorang sebagai variabel penentu sikap dan tingkah laku kepada seseorang
(wanita).
Masalahnya, menurut saya, terletak kepada komunikasi verbal yang terjadi
antara si cewek dengan si cowok. Sejak awal bertemu mestinya telah terjadi
penggalian informasi tidak langsung atas identitas diri masing-masing,
terutama hal-hal yang bersifat personal.
Komunikasi verbal yang saya maksud seperti  :

Bukankah lebih baik menggunakan kata :
Si Cowok "Nanti kalau draft suratnya belum di-edit, biar nanti aja istri
saya yang akan saya minta tolong untuk meng-editnya di rumah"
Dan mestinya Si Cewek udah ngerti bahwa si cowok udah punya istri. Tanpa Si
Cewek harus bertanya lagi soal status Si Cowok. Demikian pula sebaliknya, Si
Cewek harus juga
mengungkapkannya secara tidak langsung pada awal-awal komunikasi verbal
terjadi.
Dan harus timbal balik. Bahasa anak muda "sama-sama tahu lah"

Masalah lain, komunikasi verbal yang formal dan yang bersifat personal,
sering tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya dalam rutinitas kerja
keseharian sepasang partner kerja. Hanya kalau komunikasi verbal lebih
banyak bersifat personal (lebih-lebih intensif-subyektif) yang berlebihan
ya.. tentu saja Si Cewek (yang normal) akan mendeteksi "ada something"
dibalik komunikasi itu. Si Cewek yang cantik itu toh udah "berpengalaman"
didekati banyak cowok semasa sebelumnya, jadi wajar dia menjaga jarak.
Jadi pertanyaan "Kalau senggang kamu ngapain ... ?", ya jelas Si Cewek tahu
arah pertanyaannya toh.

Soal komunikasi frontal-nya memang sepatutnya nggak terjadi, karena bisa
menjadi bumerang bagi Si Cowok. Karena bisa-bisa Si Cewek tersinggung dengan
ucapan Si Cowok. tentang "Gue nggak bakal cinta ama elu". Kasarnya, dalam
hati Si Cewek akan berkata "Banyak cowok ngejar-ngejar gue, ngapain juga gue
cinta ama elu" ... Lemparan bumerangnya udah berbalik ke Si Cowok dengan
sikap Si Cewek yang jaga jarak terus dalam keseharian. Sebagai partner kerja
jelas mengganggu sekali.

Soal cewek (yang tadi) takut dicintai ? Dari pengalaman sejarahnya, dia
pasti tahu mana dicintai beneran sama yang dicintai main-main aja.

Bagaimana pendapat anda ?
Ayo .. yang cewek, pada kemana anda semua ? Gimana pendapat anda ?


----- Original Message -----
From: --> Tom ! <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, October 11, 2001 10:11 PM
Subject: [love] takut dijatuhcintai



> Gue lalu ambil pikiran simpel aja, yaitu apa mungkin ya ini cewek takut
kalo
> gue suka sama dia ? Apa dia takut gue jatuh cinta sama dia ?
> Akhirnya gue secara frontal ajak dia ngobrol face-to-face, yang intinya
> adalah gue itu ingin kerja dengan dia itu ada hubungan manusiawinya,
> tapi untuk itu gue nggak akan sampe jatuh cinta ke dia.
> [kasarnya sih, .. eh, gue tuh nggak akan jatuh cinta ke elu, enggak !]
> Dia serius banget ngedengerin gue ... gue tanya apa dia ngerti,
> dia ngangguk. Tapi udahnya .. dan sampe hari ini gue belum melihat
> perbedaan yang signifikan. Apalagi malah gue harus kerja yang rada jauh
> dari dia sesudah itu.
> Pertanyaan gue, .. sebenarnya bijaksana nggak sih gue udah ngomong
> gitu ? Apakah omongan gue itu bisa diartikan sinis ?
> Khusus buat cewek, ... apakah bener kadang cewek itu bisa takut disukai ?
> Takut dijatuhcintai ?
>
> Tom




----
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke